All about Tagline

Tagline atau slogan atau brand mantra adalah kalimat pendek yang terdiri dari beberapa kata yang menjelaskan posisi suatu merek atau misi suatu perusahaan. Bagi merek korporasi, tagline dimaksudkan untuk menciptakan atau mempertahankan  brand image.  Sedangkan untuk merek individu, tagline diperlukan untuk menciptakan atau menegaskan brand position.  Sebagai contoh, slogan Daihatsu di Indonesia adalah “Daihatsu Sahabatku” (Gambar 1). Slogan ini dimaksudkan untuk mencipatakan atau mempertahankan image Daihatsu sebagai sahabat. Merek individunya Terios memiliki slogan: DNA (Daily New Adventure) …  read more

Dunia Ciptaan Budaya

Apa sih panas dalam itu? Menurut Nadesul (n.d) (link-nya di sini), dalam dunia medis,  tidak ada penyakit ‘panas dalam’. Lebih tepatnya, menurut Iswandiary (2017) (link-nya di sini), panas dalam bukan penyakit tetapi gejala suatu penyakit.  Lalu, kenapa banyak perusahaan mengiklankan produknya sebagai anti panas dalam, termasuk perusahaan bereputasi semacam global Unilever (iklannya di sini)?  Apakah perusahaan itu begitu bodoh sampai tidak tahu bahwa penyakit ‘panas dalam’ tidak ada dalam dunia medis? Tunggu dulu.

Sebenarnya fenomena ini hanya penegasan dari konsep McCracken (1986) tentang dunia yang diciptakan budaya (culturally constituted world atau CCW).  Menurutnya, dunia yang kita sehari-hari adalah dunia yang diciptakan budaya. Dalam dunia demikian, fenomena ada karena budaya menyatakannya ada, sebaliknya menjadi tidak ada kalau budaya tidak mengenalnya.  Panas dalam yang tidak ada dalam dunia medis menjadi ada karena budaya menyatakannya ada.  Demikian pula dengan konsep-konsep lain, seperti masuk angin, angin duduk, naga, monster lochness, bigfoot, Yeti dan lain-lain. Sebaliknya, suatu fenomena yang benar-benar ada dianggap tidak ada kalau budaya tidak mengenalnya.

Panas dalam yang tidak ada dalam dunia medis menjadi ada karena budaya menyatakannya ada.  Demikian pula dengan konsep-konsep lain, seperti masuk angin, angin duduk, naga, monster lochness, bigfoot, Yeti dan lain-lain. Sebaliknya, suatu fenomena yang benar-benar ada dianggap tidak ada kalau budaya tidak mengenalnya.

Kita menilai segala sesuatu berdasarkan keyakinan, standar, aturan dan argumen yang terdapat dalam CCW. Untuk menyederhanakannya, McCracken (1986) menyatakan bahwa bahwa segala makna (meaning) tersimpan dalam CCW.  Ruang penyimpanannya adalah memori publik (Zaltman dan Zaltman, 2008).  Jadi, segala konsep, ukuran, kategori dan kriteria tentang segala sesuatu berasal dari dunia budaya.  Apa yang dinamakan cantik, tampan, sukses, gagal, membanggakan, dan ribuan bahkan jutaan konsep lain, berasal dari CCW. Tidak heran apabila suatu konsep bisa berbeda … read more

Tentang Saya

Beberapa buku dan tulisan saya yang pernah diterbitkan  (lihat daftarnya di sini), diperbaharui dan dipublikasikan online melalui situs ini. Untuk materi yang berisikan proses ‘know-how‘ disertakan link data dan video (sedang dibangun secara bertahap), sehingga selain membaca materi, pengunjung situs  bisa memraktekkan proses dimaksud.  Anda bisa menghubungi saya di sini atau melalui bilson.simamora@kwikkiangie.ac.id. Salam. Dr. Bilson Simamora.

The Best Way to Predict The Future is To Create IT

Peter Drucker on Management

Menulis Latar Belakang Riset Akademik

Setiap penelitian akademis dimulai dari latar belakang masalah. Banyak penelitian selama ini belum didasarkan pada latarbelakang yang baik. Sebenarnya apakah latar belakang penelitian itu dan bagaimana menuliskannya? Berikut ini diberikan penjelasannya. Latar belakang tesis berisikan alasan kenapa (why) penelitian dilakukan.  Alasan tersebut bisa berupa  keadaan belum tahu dan keraguan yang menimbulkan keingintahuan (curiosity), perbedaan antara keadaan yang diharapkan dan kenyataan, dan kekurangan penelitian dan teori saat ini.  Di bawah diberikan beberapa contoh. Harap diingat bahwa contoh-contoh latarbelakang masalah yang disajikan adalah dalam versi sangat ringkas.   Fenomena bukanlah masalah penelitian, akan tetapi gejala (symptoms) atau kenyataan yang mengindikasikan adanya masalah yang perlu diteliti.  Jadi, penjualan yang rendah, banyaknya konsumen yang tidak puas, masa pakai produk yang singkat dan lain-lain, adalah fenomena, bukan masalah penelitian. Sama seperti dalam ilmu kedokteran, panas yang naik-turun, timbulnya bintik-bintik merah pada kulit, hemoglobin yang turun drastis, bukanlah penyakit, melainkan gejala penyakit demam berdarah … read more

Lebih Jauh tentang Sasaran (Objectives)

Alkisah, salah satu perang terkenal pada perang dunia kedua adalah perang Afrika Utara, yang disebut Africa Campaign. Perang itu dimulai dengan inisiatif Italia menyerang kota Alexandria di Mesir. Niatnya adalah mengusir Inggris dari Mesir. Serangan itu dapat dipukul mundur dan Italia terdesak sampai ke Libya. Untung bagi Italia, Hitler  mengirimkan bala bantuan lengkap dengan  jenderal terbaik Nazi Jerman: Erwin Rommel. Gabungan Italia dan Jerman berhasil melakukan serangan balik. Sekutu terbirit-birit sampai El Alamein, yang jaraknya hanya ”sepelemparan” batu dari Kairo. Di kota kecil ini Inggris dan sekutunya, yang dikomandoi Jenderal Auchinleck, bermaksud menahan gerak maju tentara gabungan Italia dan Jerman. El alamein adalah celah gurun sempit. Di utara terdapat laut Mediterania dan di selatan adalah cekungan Qattara. Celah itu dianggap ideal sebagai lokasi bertahan. Bagi Rommel, Inggris dan sekutunya harus segera dikalahkan, sebelum pihak lawan memperoleh bala bantuan ….. read more

Dari Latar Belakang ke Masalah Penelitian

Seperti telah disampaikan di sini,  latar belakang adalah uraian yang memperjelas masalah penelitian. Maksudnya, latar belakang masalah disusun untuk menyatakan adanya masalah yang perlu diteliti, yang disebut masalah pokok, masalah utama (main problem) atau masalah penelitian (research problem) saja.  Ketiganya istilah ini memiliki arti yang sama, namun ada tradisi di berbagai perguruan tinggi untuk menggunakan istilah tertentu saja. Tetapi, ada juga perguruan tinggi yang membebaskan mahasiswa menggunakan istilah mana saja.  Dalam tulisan ini digunakan istilah ‘masalah pokok penelitian’. Masalah pokok penelitian menjadi dasar untuk menurunkan atau menjabarkan pertanyaan-pertanyaan penelitian (research questions).  Dalam penulisannya, masalah pokok penelitian dibuat setelah latar belakang penelitian dalam sebuah sub-bab khusus.  Kemampuan menulis peneliti perpengaruh dalam perumusan ini. Adakalanya diperlukan riset pendahuluan untuk memperjelas masalah pokok penelitian …. read more

Brand Positioning

Bilson Simamora, 16 April 2018

Menurut Kotler dan Keller (2016), positioning adalah tindakan untuk mendesain tawaran dan citra perusahaan agar menempati tempat berbeda  dalam benak konsumen (the act of designing company offering and image to occupy distinctive place in consumer mind).  Manusia memiliki need to know.  Dalam Gestalt Psychology, sebuah cabang psikologi yang mempelajari cara otak bekerja, diyakini bahwa manusia selalu berusaha berusaha melakukan pengelompokan terhadap stimuli yang diterimanya (Schifman dan Kanuk, 2007).  Tujuannya semata-mata untuk memudahkan interpretasi, sehinggam dapat memberikan gambaran tentang stimuli.

Dalam pengelompokan tersebut, memori bekerja seperti hard-disk komputer yang berisikan berbagai folder. Setiap folder dapat dianggap sebagai satu kategori dan setiap kategori berisikan satu merek. Sebagai contoh, kategori ‘minuman isotonik pengganti ion tubuh’ adalah satu folder tentang minuman dalam benak konsumen dan isinya adalah Pocari Sweat. Saat  Fatigon Hydroplus yang manfaatnya sama muncul, ia harus menciptakan ‘folder’ yang baru, yaitu ‘minuman isotonik pengganti ion tubuh alami’.  Folder tersebutlah yang disebut ‘position’. Uniknya …. read more

Consumer Motivation

There are various understandings of motivation. Several researchers proposed the situation in which motivation works instead of the definition of motivation itself. For example, Maslow (1943) stated that motivation is a result of a willingness to fulfill needs. He suggested that there are five levels of human needs; they are (from bottom to top): physiological, security, social, self-esteem, and self-actualization needs. If a particular need is not fulfilled yet, people will motivate to fulfill it, but lower-level needs should have been fulfilled. For Schifman and Kanuk (2012), motivation is a driving force that impels a subject to action. Graham and Weiner (1996: 63) in Berliner and Calfee (1996) defined motivation as “the study of why people think and behave as they do.” They said that in the beginning, researchers tried to develop a general theory of motivation. In its development, the theories of motivation did not move to the more unified but more diverse points of view. The differences  …  read more

Is the 2X2 Model better than the Trichotomous Model? Achievement Goals Validation and Comparison in the New versus Old Student Segments

Bilson Simamora              Elisabeth Vita Mutiarawati

Achievement motivation evolved fast in the educational field. In this development, the trichotomous and the 2X2 models received myriad attention from the educational specialist. However, there is a debate about which is better between the two models. This study aims to intercede this debate and argue that the study’s duration should be accounted for in the validation. Approach goals will dominate new students’ achievement goals, and old students’ achievement goals will show the balance of approach and avoidance goals. For these reasons, this study gathers the data from 350 new students and 203 old students. Confirmatory factor analysis reveals that the trichotomous is the best model for new student segments. While for the old student segment, the 2X2 model shows its efficacy. Therefore, for the new students’ segment, achievement goals consist of mastery-approach, performance-approach, and performance-avoidance goals. For the old students, besides those three-goal orientations, mastery-avoidance goals are also included. As expected, the independent sample t-test reveals that new students have higher mastery-approach and performance-approach goals than old students have.  Self-efficacy is more influential in the new than old student segments as shown by simple linear regression. This study is still stuck to a single cross-sectional design. Further researches can utilize longitudinal research with segmental-based analysis and pay attention to gender, major, social class, or other potential variables moderation …. will be published in the International Journal of Evaluation and Research in Education (indexed in Sinta 1, Scopus, and Eric).

Modeling Goal-Directed Choice Quality: A University Context

Can we detect future student loyalty at the moment of university choice? Based on the expectancy-value belief theory, the author develops the model of goal-directed student decision quality to answer that question. The premise is that decision quality determines loyalty intention, and the achievement goals impact both. Therefore, the objectives of this study are; first, to investigate the dimensions of student decision quality and the structural relationships among them, and second, to investigate the influence of achievement goals on the dimensions. The study confirms that decision confidence, positive affect, and decision satisfaction are present-oriented, and attitudinal loyalty intention is future-oriented of decision quality. Mastery goals positively influence, and conversely, performance-approach goals and performance-avoidance goals negatively influence all of the student quality dimensions. Therefore, high mastery goals are the key to high attitudinal loyalty intention and low switching likelihood. On the other hand, a high performance-approach and performance-avoidance goals should be the early indications of a low attitudinal loyalty intention and high switching likelihood and vice versa. Future researchers can consider a longitudinal research design to detect the change in achievement goals and their impacts within a period …. read more in the International Review of Management and Marketing, Vol. 10, Issue 5, pp 35-45. https://doi.org/10.32479/irmm.10088.

Modeling Passionate Decision

Passion has known widely as a factor that influences motivation positively. However, its operation-alization in decision-making remains unclear. To fill this gap, the author develops the concept and model of the passionate decision through which one can predict future inclination to a choice. Us-ing university choice as a research context, the data from 350 respondents reveals that the model is robust and has good nomological validity. As expected, the passionate decision can explain 98% of future loyalty. The construct is also able to represent 93% of positive affect, decision confidence, and self-efficacy, usually used as the indicators of decision quality. Decision justifiability and mastery goals contribute positively to the passionate decision, whereas performance-avoidance goals show the adverse contribution, and performance-approach goals show no contribution. This research still uses harmonious passion. Further research can use obsessive passion to investigate whether both have the same or different capability in explaining future choice engagement ….. will be published in Management Science Letter journal (Scopus-indexed Q2).

How Proponents and Opponents Influence Achievement Motivation: The Role of Anticipated Emotions of Others

There are countless studies about the influence of others’ emotions on individuals’ behavior. However, the influence of proponents’ and opponents’ future emotions on achievement motivation remains unclear. This study aims to fulfill this gap. Therefore, departed from emotional intelligence theory, the author materializes anticipated emotions of others concept and tests it in a static group experimental design with success and failure scenarios involved 203 participants chosen judgmentally. When reminded with proponents’ joyfulness caused by their success, the Mann Whitney test with normal approximation supported by Monte Carlo estimation shows that mastery-avoidance, performance-approach, and performance-avoidance goals of the experimental group are enhanced. Whereas, when reminded that they would be envied and make the opponents feel distressed, performance-approach goals are improved. In the failure scenario, when the participants were directed at proponents’ distress in responding to their failure, the four components of achievement goals are increased: mastery-approach, mastery-avoidance, performance-approach, and performance-avoidance goals. However, opponents’ joyfulness, anticipated as a malicious schadenfreude to participants’ failure, is only successful in stimulating performance-avoidance goals.  Bayesian estimation with 5000 times bootstrapping reveals that self-efficacy mediates the influence of anticipated proponents’ joyfulness on mastery-approach fully and on performance-approach goals complementarily. Complementary mediation is also apparent in the impact of proponents’ distress on mastery-approach and mastery-avoidance goals. Above all, love for the proponents is more potent than hatred from social environments in increasing achievement motivation. Further research is encouraged to replicate the study in different social behaviors … will be published soonly in a Scopus-indexed journal