Perumusan Masalah Penelitian

Para penulis (misalnya: Farrugia et al., 2010; Malhora, 2022; Mattick et al, 2018) menamai bagian ini sebagai problem formulation. Perumusan masalah adalah proses merumuskan masalah penelitian. Rumusan masalah adalah pertanyaan-pertanyaan penelitian (research questions) yang perlu di jawab (Farrugia et al, 2010; Mattick et al, 2018), dengan mana peneliti dapat menjelaskan latar belakang masalah.  Istilah lain yang digunakan adalah pertanyaan penelitian.

Perumusan masalah memerlukan kemampuan teoritis serta pengetahuan tentang konteks masalah (arrugia et al., 2010; Malhora, 2022). Untuk itu, dalam perumusan masalah, peneliti perlu mempelajari teori, diskusi dengan pihak-pihak yang dianggap menguasai konteks permasalahan, menganalisis data sekunder dan membuat riset pendahuluan atau kombinasinya. Jadi, pertanyaan-pertanyaan penelitian tidak muncul begitu saja, namun dilandasi kronologi ilmiah dan konteks masalah yang jelas. Contoh  berikut ini adalah rumusan masalah yang tidak tepat.

Perumusan Masalah dengan Teori

Contoh yang tidak tepat:

Latar Belakang Masalah

Saat ini Cryptocurrency adalah uang elektronik yang sudah diterima sebagai salah satu alat penyimpan nilai dan alat pertukaran di berbagai negara. Sebagian kalangan sudah menggunakan alat uang ini sebagai tujuan investasi dan alat tukar. Namun, sampai saat ini kalangan yang menggunakan cryptocurrency sebagai nilai tukar dan lahan investasi masih terbatas. Masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui, belum menggunakan, dan tidak tertarik pada uang elektronik tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan tingkat pengetahuan  serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penerimaan (acceptabilitycryptocurrency pada kalangan mahasiswa.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian di atas, rumusan masalah adalah:

1. Bagaimana tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap cryptocurrency?
2. Bagaimana ketertarikan mahasiswa terhadap cryptocurrency?

Kenapa contoh di atas tidak tepat? Karena muncul begitu saja tidak didahului perumusan. Memang jawaban atas kedua pertanyaan dapat memberi penjelasan terhadap latar belakang masalah, namun karena tidak didasarkan pada teori dan konteks yang jelas, berpotensi tidak valid.

Sebagaimana diketahui, pengetahuan dan tingkat penerimaan inovasi atau teknologi adalah konstruk. Agar rumusan masalah lebih terperinci, konstruk perlu dijabarkan terlebih dahulu ke dalam dimensi-dimensinya. Nantinya, di dalam uraian tentang metoda penelitian, dimensi inilah yang dijabarkan  ke dalam variabel-variabel pengamatan.  Dengan prosedur demikian, penulisan rumusan masalah di atas, dengan menggunakan bantuan teori,  adalah seperti berikut ini.

Contoh yang Tepat

Labar Belakang Masalah

Saat ini Cryptocurrency adalah uang elektronik yang sudah diterima sebagai salah satu alat penyimpan nilai dan alat pertukaran di berbagai negara. Sebagian kalangan sudah menggunakan alat uang ini sebagai tujuan investasi dan alat tukar. Namun, sampai saat ini kalangan yang menggunakan cryptocurrency sebagai nilai tukar dan lahan investasi masih terbatas. Masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui, belum menggunakan, dan tidak tertarik pada uang elektronik tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan tingkat pengetahuan  serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penerimaan (acceptabilitycryptocurrency pada kalangan mahasiswa.

Perumusan Masalah

Menurut Cocolli et al. (2013), pengetahuan memiliki empat dimensi bertingkat, yaitu faktual, konseptual, prosedural, dan metacognitif. Pada tingkat faktual, individu memiliki pengetahuan tentang konsep dan dapat menjelaskan bagian-bagiannya. Pada tingkat konseptual, individu dapat membuat klasifikasi dan kategori, melakukan generalisasi, dan mengenal model-model terkait konsep. Terkait cryptocurrency, dalam penelitian ini, dimensi ini menyangkut: (1) kemampuan menjelaskan arti cryptocurrency dan (2) kemampuan menyebut mata uang cryptocurrency.

Pada tingkat konseptual, individu dapat membuat klasifikasi dan kategori, melakukan generalisasi, dan mengenal model-model terkait konsep. Dalam penelitian ini, pengetahuan konseptual dicirikan oleh: (1) pengetahuan tentang nama-nama perusahaan yang bergerak di bidang jual-beli  cryptocurrency, (2) kemampuan menjelaskan keuntungan dan kerugian menggunakan cryptocurrency sebagai alat tukar dan penyimpan nilai. 

Pengetahuan prosedural berkaitan dengan tata-cara  penggunaan konsep, mengembangkan kriteria, mengevaluasi, serta menentukan prosedur terbaik. Dalam penelitian ini, pengetahuan prosedural dijabarkan menjadi: (1) kemampuan melakukan jual-beli cryptocurrency dan (2) cara berinvestasi menguntungkan pada kemampuan melakukan jual-beli cryptocurrency.

Tahap tertinggi adalah metakognitif, di mana individu dapat membangun pengertian atau teori sendiri tentang konsep. Dalam penelitian ini, dimensi metagonitif dijabarkan menjadi: (1) kemampuan menjelaskan peranan cryptocurrency dalam perekonomian dunia, (2) status hukum cryptocurrency di berbagai negara dan (3) masa depan cryptocurrency.

Berdasarkan Davis (1987) dan Giovanny et al. (2014), tingkat penerimaan cryptocurrency diindikasikan oleh: (1) persepsi manfaat atau kegunaan (perceived utility), persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) dan (3) kelayakan penggunaan (technical feasibility).

Tingkat pengetahuan berpengaruh pada tingkat penerimaan inovasi (Attour et al., 2021).  Berdasarkan pernyataan ini, ditambah dimensi-dimensi pengetahuan dan tingkat penerimaan yang telah dijelaskan, maka pertanyaan penelitian adalah:

  1. Bagaimana kemampuan menjelaskan arti cryptocurrency?
  2. Bagaimana kemampuan menyebut nama-nama mata uang cryptocurrency?
  3. Bagaimana kemampuan menjelaskan peranan cryptocurrency dalam perekonomian dunia?
  4. Bagaimana kemampuan menjelaskan status hukum cryptocurrency?
  5. Bagaimana kemampuan menjelaskan masa depan cryptocurrency?
  6. Bagaimana persepsi manfaat atau kegunaan (perceived utility) cryptocurrency?
  7. Bagaimana persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) cryptocurrency?
  8. Bagaimana persepsi kelayakan penggunaan (technical feasibility) cryptocurrency?
  9. Bagaimana pengaruh pengetahuan terhadap tingkat penerimaan cryptocurrency?

Perumusan Masalah Menggunakan Teori dan Riset Pendahuluan

Sebagian penelitian membutuhkan studi pendahuluan (preliminary research) untuk merumuskan masalah penelitian. Dalam riset pendahuluan, bantuan teori diperlukan untuk mengetahui menjelaskan fenomena, mengenali data yang diperlukan, mengarahkan cara  berpikir, merumuskan pertanyaan-pertanyaan riset yang diperlukan dalam penelitian konklusif, dan melakukan prediksi (Jirout, 2020; Kuhn, 2002; Malhotra, 2020; Reeves et al., 2008).

Contoh 1

Arwana adalah ikan asal Kalimantan yang memiliki nilai estetika dan nilai spritual bagi sebagian kalangan. Nilai-nilai dimaksud tidak sama antara ikan arwana yang satu dan yang lain. Berikut ini daftar harga ikan arwana menurut laporan Chairunnisa (2021):

  1. Arwana Brasil Rp 2.000.000.
  2. Arwana Banjar Rp 2.000.000.
  3. Arapaima (Rp2.880.000)
  4. Arwana Jardini (Rp4.000.000)
  5. Arwana Hijau (Rp4.000.000)
  6. Red-tail golden Rp 4.500.000.
  7. Arwana Hitam (Rp5.000.000)
  8. Arwana Black Golden Rp 18.000.000.
  9. Arwana Cross Back Golden Rp18.000.000
  10. Arwana Batik (Rp56.000.000)
  11. Arwana Platinum (Rp5.700.000.000)

Harga mencerminkan nilai produk (Kotler dan Keller, 2016). Produk yang harganya mahal memiliki nilai lebih tinggi dibanding yang harganya murah. Pertatayaan menarik adalah faktor-faktor apa yang mempengaruhi nilai ikan arwarna, sehingga harganya berbeda-beda? Inilah masalah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Perumusan Masalah

Nilai adalah segala sesuatu yang berharga bagi konsumen yang diperoleh dari produk atau layanan saat mereka menggunakannya (value-in-use). Sebuah produk disebut berharga apabila memiliki nilai-nilai fungsional, hedonik, dan ekspresi diri (Aaker, 1991; Sulhaini, 2021) dan sacred value  (Afiff et al., 2021; Rinallo et al., 2019).

Berdasarkan penelitian pendahuluan diketahui bahwa bagi pemiliknya, ikan arwana memiliki nilai estetika (hedonic value), menunjukkan status sosial (symbolic), dan dipercaya dapat mendatangkan rezeki (sacred value).  Nilai estetika ditentukan oleh jenis dan kecerahan warna dan motif kulit. Status sosial diindikasikan oleh ukuran, jenis, dan kelangkaan ikan. Nilai sacred terkait dengan jenis dan sumber ikan. Ikan asli dari sungai alami lebih bernilai dari hasil pembiakan.  Posisi di sungai juga berpengaruh. Ikan yang berasal dari hulu lebih mahal dibanding dari hilir.

Berdasarkan uraian di atas, maka pertanyaan penelitian adalah:

  1. Bagaimana pengaruh jenis warna sisik terhadap harga ikan arwana?
  2. Bagaimana pengaruh kecerahan warna terhadap harga ikan arwana?
  3. Bagaimana pengaruh motif sisik terhadap harga ikan arwana?
  4. Bagaimana pengaruh ukuran terhadap harga ikan arwana?
  5. Bagaimana pengaruh jenis terhadap harga ikan arwana?
  6. Bagaimana pengaruh kelangkaan terhadap harga ikan arwana?
  7. Bagaimana pengaruh jenis terhadap harga ikan arwana?
  8. Bagaimana pengaruh sumber terhadap harga ikan arwana?

Referensi

Afiff, A. Z., & Astuti, R.D. (2021). The addition of spiritual dimension on customer value to investigate the relationship of customer value, customer satisfaction and behavior intention on
Islamic Banks Saving Products in Indonesia,” ASEAN Marketing Journal, 1(1), 13-24.
DOI: 10.21002/amj.v1i1.1978

Attour, A., Dominiquez-Pery, C., & Bendavid, Y. (2021). Information technologies, knowledge and innovation in smart cities: Current and future trends for management research. Systèmes D’Information & Management, 26(4), 3-18.

Chairunnisa, S. (2021). 12 Jenis ikan arwana terpopuler yang cocok dipelihara. Ada yang berharga miliaran rupiah! 99.co [Personal Blog]. Retrieved October 21, 2022, from https://www.99.co/blog/indonesia/jenis-ikan-arwana/

Coccoli, M., Vercelli, G., & Vivanet, G. (2013). Semantic wiki for learning and teaching computer science. Journal of E-Learning and Knowledge Society9(2). https://doi.org/10.20368/1971-8829/839

Davis, F., 1987. User acceptance of information systems: The Technology Acceptance Model (TAM). 1st Edition [ebook]. Ann Arbor: University of Michigan. Available at: <http://deepblue.lib.umich.edu/bitstream/handle/2027.42/35547/b1409190.0001.001.pdf?sequence=2&isAllowed=y> [Accessed 15 October 2022].

Farrugia, P., Petrisor, B. A., Farrokhyar, F., & Bhandari, M. (2010). Practical tips for surgical research: Research questions, hypotheses and objectives. Canadian journal of surgery. Journal canadien de chirurgie53(4), 278–281

Giovanny, A.G., Eric, B., & Auguste, R. (2014).   Towards a method for acceptability analysis: Application to healthcare innovation. Conference: 2014 International Conference on Engineering, Technology and Innovation (ICE).  DOI: – 10.1109/ICE.2014.6871583

Jirout, J.J. (2020). Supporting early scientific thinking through curiosity. Frontiers in Psychology. 11:1717. DOI: 10.3389/fpsyg.2020.01717

Kuhn, D. (2002). What is scientific thinking, and how does it develop?. In Blackwell Handbook of Childhood Cognitive Development, ed. U. Goswami (Oxford: Blackwell Publishing.), 371–393. DOI: 10.1002/9780470996652.ch17

Malhotra, N. K. (2020). Marketing Research: An Applied Orientation. 7th Edition. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall

Mattick, K., Johnston, J.; de la Croix, A. (2018). “How to…write a good research question. The Clinical Teacher, 15 (2), 104–108. DOI:10.1111/tct.12776.

Reeves, S., Albert, M., Kupert, A.,  & Hodges, B.D. (2008). Why use theories in qualitative research? BMJ, 337:a949. http://dx.doi.org.offcampus.lib.washington.edu/10.1136/bmj.a949

Rinallo, D., & Oliver, M.M. (2019) The marketing and consumption of spirituality and religion. Journal of Management. Spirituality & Religion, 16(1), 1-5. DOI: 10.1080/14766086.2019.1555885