Metoda Ilmiah: Dari Teori sampai Kerangka Pemikiran

Pendahuluan | Teori | Konsep | Konstruk | Definisi | Variabel | Preposisi dan Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Pendahuluan

Banyak pengertian sains. Secara umum, sains dapat diartikan sebagai penjelasan atas sesuatu yang  dibuktikan melalui pengamatan dan eksperimen yang dapat dikonfirmasi oleh ilmuwan lain. Penjelasan yang tidak dapat didasarkan pada bukti empiris bukanlah bagian dari ilmu pengetahuan (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 1999). Sains dapat pula diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang dikembangkan melalui proses ilmiah (NSW Department of Education, 2019).

Pada frase ‘dikembangkan melalui proses ilmiah’ berarti sains tidak terjadi dengan sendirinya. Perkembangan ilmu pengetahuan bermula dari adanya keingintahuan atas berbagai fenomena yang menarik perhatian, yang diikuti usaha menjelaskan fenomena tersebut secara ilmiah. Berpikir ilmiah adalah pencarian pengetahuan yang dilakukan secara rasional, yang meliputi  pengajuan pertanyaan, menguji hipotesis, melakukan pengamatan, mengenali pola, dan membuat kesimpulan berdasarkan fakta (Jirout, 2020; Kuhn, 2002).

Teori adalah ujung pencarian ilmiah yang berlangsung melalui proses evolusi. Ada kalanya pencarian ilmiah berhenti, yaitu pada saat teori sudah menjadi fakta, misalnya teori evolusi dan gravitasi (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 1999). Selama masih ada ketidakpastian (uncertainty) dan ambiguitas (ambiguity), para ilmuwan atas terus melakukan pemikiran ilmiah, menghasilkan teori baru atau menolak, memperkuat atau merevisi  teori yang sudah ada (Kuhn, 2002).

Jadi, seperti dikatakan Jirout (2019), pemikiran ilmiah (sientific thinking) adalah pencarian pengetahuan yang dilakukan secara rasional, yang meliputi  pengajuan pertanyaan, menguji hipotesis, melakukan pengamatan, mengenali pola, dan membuat kesimpulan berdasarkan fakta (Jirout, 2020; Kuhn, 2002).

Pendahuluan | Konsep | Konstruk | Definisi | Variabel | Preposisi | Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Teori

United States National Academy of Sciences menjelaskan theory sebagai berikut:

“Some scientific explanations are so well established that no new evidence is likely to alter them. The explanation becomes a scientific theory. In everyday language a theory means a hunch or speculation. Not so in science. In science, the word theory refers to a comprehensive explanation of an important feature of nature supported by facts gathered over time. Theories also allow scientists to make predictions about as yet unobserved phenomena.”

“A scientific theory is a well-substantiated explanation of some aspect of the natural world, based on a body of facts that have been repeatedly confirmed through observation and experimentation. Such fact-supported theories are not “guesses” but reliable accounts of the real world. The theory of biological evolution is more than “just a theory.” It is as factual an explanation of the universe as the atomic theory of matter (stating that everything is made of atoms) or the germ theory of disease (which states that many diseases are caused by germs). Our understanding of gravity is still a work in progress. But the phenomenon of gravity, like evolution, is an accepted fact.”

Dari uraian di atas, kita dapat menangkap beberapa makna sebagai berikut:

  • Teori adalah penjelasan dari fenomena alam. Teori bukan prediksi, namun kita dapat  menggunakan teori untuk membuat prediksi tentang sesuatu yang belum teramati.
  • Cara berpikir ilmiah ditahbiskan menjadi teori apabila dikonfirmasi oleh fakta berulang-ulang. Apabila fakta tidak pernah menyimpang,  teori  menjadi fakta (contoh: teori gravitasi).
  • Teori bisa berubah melalui proses yang panjang dan sulit. Agar berubah, teori harus ada banyak pengamatan atau bukti yang tidak dapat dijelaskan oleh teori tersebut.
  • Teori bukan spekulasi atau pernyataan tidak berdasar. Ungkapan “ah hanya teori” yang sering dilontarkan seseorang yang skeptis pada pertanyaan orang lain, tidak dikenal dalam dunia sains. Teori  bukan hanya ide atau angan-angan seseorang tentang sesuatu.

Dalam investigasi ilmiah (scientific investigation), teori membantu kemampuan berpikir induktif dan deduktif periset. Bagi seorang periset, teori adalah petunjuk, sebagaimana rambu-rambu lalu lintas bagi seorang sopir. Tanpa teori, seorang periset bisa tersesat. Tidak mampu merumuskan masalah, tidak mampu mendesain rencana penelitian, tidak mampu menganalisis data, dan tidak mampu mengambil kesimpulan.

Ilmu pengetahuan terdiri dari seperangkat teori. Di dalam teori, kita bisa menemukan seperangkat proposisi, model, definisi dan konsep (construct) yang berhubungan satu sama lain. Kemudian, berdasarkan teori, seorang periset dapat mengembangkan hipotesis dan variabel penelitian. Berikut ini penjelasan unsur-unsur teori tersebut.

Pendahuluan | Teori | Konstruk | Definisi | Variabel | Preposisi | Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Konsep

Konsep adalah generalisasi ide tentang kelas objek, atribut, kejadian, atau proses (Zikmund et al., 2010). Konsep adalah sekumpulan pengertian (a bundle of meanings) atau karakteristik yang bisa diasosiakan dengan even, objek, keadaan, situasi atau perilaku tertentu (Cooper & Schindler, 2014).  Rambu-rambu lalu lintas di samping adalah simbol yang memiliki arti ‘dilarang membunyikan klakson’ dan karena itu termasuk konsep. Kata ‘setengah baya’ juga konsep, karena punya arti. ‘Ufe omi sugenatra’ adalah frase yang tidak punya arti dan tidak termasuk konsep.

Ada konsep yang mudah dimengerti dan diukur, ada pula yang sulit. Umur, jenis kelamin dan tinggi badan adalah konsep yang mudah didefinisikan dan diukur. Tetapi, loyalitas, kepribadian dan kelas sosial adalah contoh konsep yang sulit didefinisikan dan diukur.

Selain itu, ada konsep yang umum, ada pula yang spesifik. Kenapa spesifik? Bisa saja karena terkait dengan budaya tertentu. Misalnya, konsep ‘mangalahat horbo’ hanya ada pada budaya Batak dan jelas tidak mengerti orang Bugis. Namun, ayah adalah konsep yang dikenal di semua budaya di dunia awalaupun dinyatakan dalam bahasa yang berbeda-beda.

Kekhususan konsep bisa pula karena baru diperkenalkan. Misalnya, konsep aura merek. Konsep ini mengambil istilah aura dari bidang metafisika yang berarti energi metafisik yang dipancarkan oleh setiap benda. Tetapi, karena masih baru, konsep ‘aura merek’ belum dipahami oleh publik, bahkan di kalangan pemasaran sendiri.

Manfaat Konsep Untuk Riset. Dasar semua bentuk komunikasi adalah konsep. Model komunikasi menempatkan dua pelaku, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Pesan yang disampaikan adalah sesuatu yang mengandung arti (konsep). Apabila arti yang ditangkap receiver sama dengan konsep yang disampaikan sender, maka tujuan komunikasi tercapai. Tujuan ini tidak akan tercapai apabila pesan yang disampaikan sender tidak jelas atau receiver salah mengartikan pesan.

Di dalam penelitian, konsep juga harus jelas. Dengan konsep yang jelas, pertama, kita bisa mengembangkan hipotesis. Misalnya, kita buat hipotesis seperti ini: “Semakin tinggi pendapatan pengemudi mobil pribadi, semakin tidak sensitif mereka terhadap kenaikan harga bahan bakar”. Tentu, hipotesis ini tidak bisa dibentuk kalau kita tidak mengerti apa yang dimaksud dengan pendapatan, pengemudi mobil pribadi, sensitif dan harga.

Kedua, kita menjadi tahu variabel apa yang diukur. Hipotesis di atas dapat diuji dengan mencari korelasi pendapatan dengan preferensi harga. Analisis korelasi dapat dilakukan kalau ada data-data pendapatan dan preferensi konsumen. Data-data dapat dikumpulkan kalau konsep pendapatan dan preferensi konsumen dibentuk menjadi variabel penelitian. Soal bagaimana membentuk-nya, lihat pada bagian yang mengulas variabel penelitian. Kalau melakukan riset perilaku konsumen, misalnya, periset harus dapat mengartikan apa yang dimaksud dengan  perilaku konsumen dan bagaimana mengukurnya. Untuk itulah perlu kerangka teori. Karena itu pula, pada bab ‘kerangka teori’ laporan riset, tidak perlu dimasukkan teori-teori yang tidak relevan dengan riset yang dilakukan.

Pendahuluan | Teori | Konsep | Definisi | Variabel | Preposisi | Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Konstruk 

Konstruk (construct) adalah konsep yang bersifat abstrak yang tidak bisa diukur secara langsung. Persepsi kualitas layanan adalah konsep yang bersifat abstrak karena itu dinamakan konstruk. Untuk mengukurnya, konstruk perlu dijabarkan ke dalam dimensi, selanjutnya dimensi dijabarkan menjadi variabel, seperti dilakukan Parasuraman et al. (1988) di bawah.

Kadang konsep ada, tetapi konstruk tidak ada. Kalau situasinya demikian, konstruk dapat dibentuk dengan mengombinasikan konsep-konsep yang berkaitan. Misalnya, dalam berbahasa, ada kemampuan berbicara, membaca dan penguasaan kosa kata. Semua itu kita namakan konsep. Lalu, kalau kita ingin ada satu istilah yang mewakili ketiganya, maka kita dapat memakai ‘kemampuan berbahasa’. Itulah konstruk.

Kuis ‘Komunikata’ di TPI mirip pembentukan konstruk. Pada kuis itu ada empat peserta. Pembawa acara menunjukkan sebuah kata kepada pesarta pertama, misalnya ‘komputer’. Lalu, peserta pertama akan berusaha memperkatakan sejumlah konsep terkait, misalnya ‘disket’, ‘keyboard’, ‘CPU’, dan ‘screen’. Harapan, dengan konsep-konsep yang disebutkan peserta pertama, peserta kedua dapat menebak kata ‘komputer’. Kalau benar, peserta kedua melanjutkan hal yang sama dengan istilah-istilah yang berbeda. Kalau peserta terakhir (keempat) dapat menebak kata komputer, maka tim peserta dapat nilai.

Konstruk juga bisa mendahului konsep. Konsep SERVQUAL adalah konstruk kualitas layanan (service quality). Konstruk kualitas layanan sudah lama, setua layanan (service) sebagai disiplin ilmu. Pada tahun 1988, Parasuraman, Berry dan Zeithalam membentuk konsep baru yang mereka namakan SERVQUAL. Proses pembentukan konsep itu dimulai tahun 1983 dengan mengumpulkan 100 item kualitas service. Kemudian, melalui analisis faktor mereka menemukan 10 dimensi yang mendasari 100 item tersebut. Kemudian, melalui berbagai penyempurnaan, pada tahun 1988, mereka mempublikasikan SERVQUAL yang berisikan lima dimensi yang mewakili 22 item atau variabel.

Kadang-kadang kita mudah membentuk konstruk, seperti ‘kemampuan berbahasa’ di atas, tetapi kadang-kadang sulit. Untunglah ada metodanya. Di dalam analisis faktor, memang kita mencari faktor yang mewakili beberapa variabel. Sesungguhnya, faktor yang dimaksud adalah konstruk. Jadi,analisis faktor dapat digunakan untuk mengidentifikasi konstruk.

Tabel 1.  Konsep: SERVQUAL
Konstruk: Kualitas Layanan
Reliability
  1. Kesesuaian layanan  dengan yang dijanjikan.
  2. Kemampuan memberi jalan keluar masalah layanan pelanggan.
  3. Ketepatan layanan yang diberikan sejak awal.
  4. Kebebasan layanan dari kesalahan.
  5. Kesediaan layanan  pada  waktu yang dibutuhkan.
Responsiveness 
  1. Kecepatan menanggapi permintaan pelayanan pelanggan.
  2. Kemauan  untuk  membantu pelanggan.
  3. Kesiapan untuk menanggapi permintaan pelanggan.
Assurance
  1. Kemampuan karyawan untuk menciptakan kepercayaan pelanggan.
  2. Kemampuan membuat pelanggan merasa aman dalam transaksi mereka.
  3. Kesopanan karyawan dalam pelayanan.
  4. Kemampuan karyawan menjawab pertanyaan pelanggan.
Emphaty
  1. Pemberiaan perhatian   secara personal.
  2. Kepedualian karyawan terhadap pelanggan.
  3. Pemahaman atas keinginan pelanggan.
  4. Pemahaman atas kebutuhan pelanggan.
Tangibles
  1. Kepemilikan atas peralatan yang berkualitas.
  2. Kepemilikan  karyawan berpenampilan rapih dan profesional.
  3. Kepemilikan materi visual yang menarik terkait dengan layanan.

Parasuraman, A., Zeithaml, V.A. and Berry, L.L. (1988). SERVQUAL: A multiple-item scale for measuring consumer perceptions of service quality. Journal of Retailing, 64, 12-40.

Kadang-kadang kita mudah membentuk konstruk, seperti ‘kemampuan berbahasa’ di atas, tetapi kadang-kadang sulit. Untunglah ada metodanya. Di dalam analisis faktor, memang kita mencari faktor yang mewakili beberapa variabel. Sesungguhnya, faktor yang dimaksud adalah konstruk. Jadi,analisis faktor dapat digunakan untuk mengidentifikasi konstruk.

Variabel pengamatan adalah variabel yang disesuaikan dengan konteks penelitian. Misalnya, variabel ‘kepemilikan peralatan yang berkualitas’. Pada konteks maskapai penerbangan Lion Air, maka variabel penelitian adalah ‘kepemilikan pesawat penumpang yang berkualitas’. Item pertanyaannya adalah: Apakah Lion Air memiliki pesawat penumpang yang berkualitas. Kalau dalam bentuk pernyataan: ‘Lion Air memiliki pesawat penumpang yang berkualitas’.

Pendahuluan | Teori | Konsep | Konstruk | Variabel | Preposisi | Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Definisi

Pemasaran merupakan kegiatan yang dilakukan sebuah perusahaan terhadap pasarnya. Benarkah demikian? Ya, benar. Tetapi, pengertian itu bukan definisi. Sebab, kalau orang lain ditanyakan istilah yang sama, pengertiannya belum tentu seperti itu. Pengertian yang berbeda berbahaya bagi sebuah riset. Oleh karena itu, untuk mengartikan konsep dalam sebuah penelitian, diperlukan definisi. Definisi terdiri dari definisi kamus dan definisi operasional.

Definisi Kamus, biasanya digunakan agar dapat dipakai seluas mungkin dalam komunikasi secara umum. Di dalam kamus, pengertian pemasaran dibuat sedemikian, sehingga orang keuangan, akuntansi, operasional, dokter, dan tentara dapat memahaminya.

Definisi operasional adalah definisi yang dibuat spesifik sesuai dengan kriteria pengujian atau pengukuran. Tak peduli konsepnya nyata ataukah abstrak, definisi harus dibuat sedemikian, sehingga mencerminkan karakteristik dan cara pengukurannya. Tujuannya agar pembaca lain juga memiliki pengertian sama.

Definisi operasional dibentuk dengan mencari indikator empiris konsep. Misalnya, konsep produk baru. Apa kriteria sebuah produk dikatakan baru atau lama? Menurut Kotler, kriterianya adalah seberapa baru produk tersebut di mata konsumen. Jadi, indikator empirisnya adalah persepsi konsumen tentang kebaruan produk.

Ada kalanya satu konsep membutuhkan satu indikator empiris, seperti contoh di atas. Tetapi, ada kalanya juga dibutuhkan beberapa indikator empiris untuk mengoperasional definisi suatu konsep. Misalnya, konsep pasar potensial. Indikator empirisnya adalah konsumen ‘memiliki keinginan’, ‘daya beli yang cukup’ dan ‘dapat dijangkau atau diakses’.

Indikator empiris tidak selalu dapat menjelaskan konsep secara sempurna. Hubungan antara konsep dan indikator empirisnya disebut korelasi epistemik. Nilainya positif, berkisar antara 0 sampai 1. Lihat contoh-contoh di bawah ini.

  • Bukan definisi operasional: Konsumen yang loyal adalah konsumen yang setia terhadap suatu merek. Di sini tidak ada kriteria ketiaan.
  • Definisi operasional: Konsumen yang loyal adalah konsumen yang dalam lima pembelian terakhir selalu membeli merek yang sama. Di sini indikator empiris adalah membeli merek yang sama dalam lima kali pembelian terakhir. Sedangkan variabel penelitian adalah nama merek yang dibeli dalam lima pembelian terakhir.
  • Bukan definisi operasional: Fresh graduate adalah lulusan perguruan tinggi yang baru lulus.
  • Definisi operasional: Fresh graduate adalah lulusan perguruan tinggi yang lulus setahun yang lalu atau kurang.

Apakah definisi kamus ataukah definisi operasional yang dipakai, putuskan sesuai keperluan. Kalau diperlukan dalam pengukuran dan pengujian, gunakanlah definisi operasional. Akan tetapi, kalau bertujuan untuk menjelaskan, pakailah definisi kamus.

Membuat definisi operasional konsep yang konkrit lebih mudah. Akan tetapi, pada konsep yang abstrak pun dapat dibuat definisi operasional. Misalnya, komitmen pelanggan. Konsep ini dapat didefinisikan secara operasional dengan membuat skala komitment.

Konsep berbeda dari definisi operasional. Definisi operasional lebih sempit daripada konsep. Selain itu, sebuah konsep bisa memiliki lebih dari satu definisi operasional, karena dikembangkan orang yang berbeda atau orang yang sama untuk suatu maksud. Apabila definisi operasional yang berbeda dari satu konsep berkorelasi secara signifikan, dapatlah kita yakin bahwa definisi operasional yang beragam itu mengukur konsep yang sama. Sebaliknya, kalau korelasi tidak signifikan, kita pantas ragu apakah definisi operasional-definisi operasional itu sudah dibentuk dengan baik ata belum.

Membuat definisi operasional konstruk lebih sulit. Sebab, konstruk lebih abstrak. Contoh, kelas sosial. Bagaimana kita bisa membuat kriteria kelas sosial? Kalau langsung pada konstruk memang sulit. Untuk mempermudah, kita buat definisi operasional konsep-konsep yang mendukungnya. Kalau konsep-konsep pendukungnya banyak, kita bisa membuat pembatasan. Misalnya, untuk kelas sosial tadi, kita pakai pendapatan, pendidikan dan kepemilikan mobil sebagai indikator.

Membuat definisi operasional konsep-konsep pendukungnya ini lebih mudah. Memang akan ada pertanyaan apakah kelas sosial cukup diwakilkan oleh pendapatan, pendidikan dan kepemilikan mobil. Untuk meyakinkannya, kita lakukan korelasi di antara konsep-konsep itu. Kalau memang berkorelasi, dapatlah kita yakin bahwa konsep-konsep pendukung itu menjelaskan konstruk secara bersama-sama.

Pendahuluan | Teori | Konsep | Konstruk | Definisi | Preposisi | Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Variabel

Dalam definisi operasional, sebenarnya sudah tersirat variabel variabel. Kita ambil salah satu contoh definisi di atas: “Fresh graduate adalah lulusan perguruan tinggi yang lulus setahun yang lalu atau kurang”. Kalau ingin mengetahui seseorang itu fresh graduate atau tidak, kita dapat mengukur lama kelulusannya. Pada contoh ini, kelulusan setahun lalu atau kurang adalah indikator empiris, sedangkan lama kelulusan merupakan variabel penelitian.

Variabel adalah segala sesuatu yang bisa memiliki beragam nilai (Malhotra, 2020). Atau, karakteristik, sifat atau atribut yang diukur, atau suatu simbol yang kepadanya nilai-nilai diberikan (Zikmund, 2000). Berdasarkan kedua pendapat ini, disimpulkan bahwa variabel adalah karakteristik, sifat atau atribut yang memiliki beragam nilai.

Sebagai variabel, ‘lama kelulusan’ perlu dibentuk menjadi item-item pernyataan atau pertanyaan (disebut juga instrumen penelitian), yang bentuknya tergantung skala instrumen yang digunakan. Penjelasan tentang skala instrumen di sini.

Variabel adalah bagian dari konstruk atau sub-konstruk (dimensi). Ini variabel penelitian yang merupakan bagian dari konstruk. Adakalanya sebuah konstruk (Tabel 2) atau sub-konstruk (Tabel 1) diwakili oleh beberapa variabel, bisa pula oleh hanya satu variabel (Tabel 3).

Tabel 2. Contoh Konstruk dengan Variabel Ganda

KonstrukVariabel PenelitianItem pertanyaan
Maksud pembelian (purchase intention)Kemungkinan membeli produk melalui websiteKemungkinan membeli produk melalui website ini adalah tinggi
Peluang mempertimbangkan pembelian produk melalui websitePeluang saya mempertimbangkan pembelian produk dari website ini adalah tinggi
Keinginan membeli produk melalui websiteKeinginan saya membeli produk dari website ini adalah tinggi
Niat membeli produk melalui websiteSaya berniat membeli produk dari website ini

Sumber: Didaptasi dari Gao dan Bai (2014)

Tabel 3. Contoh Konstruk dengan Satu Variabel

KonstrukVariabel penelitianItem
Perceived behavioral controlKeyakinan dapat melaksanakan keputusan menghindari rokokSaya yakin dapat menghindari rokok apabila saya memutuskan demikian

Sumber: Simamora (2021).

Perbedaan istilah. Pada saat berhadapan dengan model analisis, kita tidak akan temukan istilah konstruk atau item. Pada model struktural misalnya, dikenal istilah variabel dan indikator. Dalam regresi, dikenal variabel dependen (Y) dan variabel independen (X). Sebenarnya, yang dimaksud variabel dalam regresi adalah konstruk atau subkonstruk. Dalam path analysis, yang dinamakan variabel dependen, indipenden, mediasi dan intervening, adalah konstruk atau subkonstruk. Dalam SEM, variabel eksogen dan endogen juga demikian. Nah, makna variabel pada model struktural jangan disamakan dengan variabel sebagai bagian konstruk.

Istilah indikator dalam model-model analisis juga berbeda dari indikator empiris dalam pendekatan teoritis, seperti dibicarakan di atas. Indikator dalam model analisis, misalnya SEM, menyatakan variabel pengamatan yang menjadi bagian dari variabel. Singkatnya, variabel dan indikator dalam model-model analisis berbeda dari pengertian teoritis.

Pendahuluan | Teori | Konsep | Konstruk | Definisi | Variabel | Hipothesis | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Preposisi

Menurut Cooper dan Schindler (2013), preposisi adalah sebuah pernyatan tentang konsep atau hubungan antar konsep, yang kebenarannya dapat dinilai melalui fenomena yang dapat diamati. Bentuk hubungan antar konsep bermacam-macam, bisa kausal (sebab-akibat), fungsional ataupun korelasional. Preposisi yang terbukti melalui data empiris dinamakan dalil (setentific law). Pernyataan-pernyataan berikut ini adalah contoh preposisi:

    1. Rasa takut terhadap kematian, yang distimulasi dengan penyakit berbahaya, dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pola hidup sehat  orang-orang yang memiliki self-esteem tinggi (hubungan kausal).
    2. Iklan merupakan alat promosi paling efektif untuk produk-produk low-involvement (hubungan fungsional).
    3. Penduduk perkotaan lebih konsumtif dibanding penduduk pedesaan (hubungan korelasional).

Apabila dirumuskan sedemikian agar dapat diuji secara empiris, maka preposisi berubah menjadi hipothesis, seperti dijelaskan berikut ini.

Pendahuluan | Teori | Konsep | Konstruk | Definisi | Variabel | Preposisi | Model Teoritis | Kerangka Pemikiran

Hipotesis 

Hipotesis adalah preposisi yang ditampilkan dalam pernyataan yang dapat diuji secara empiris. Karena masih harus diuji, maka hipotesis merupakan kesimpulan sementara peneliti. Hipotesis dapat juga dikatakan sebagai pernyataan yang kita buat untuk mempertautkan variabel dengan kasus (case). Kasus adalah sebuah entitas yang tentangnya hipotesis memberikan gambaran. Kasus terdapat pada hipotesis deskriptif dan hipotesis relasional. Agar menjadi kesimpulan, hipothesis harus dikonfirmasi oleh data.

Preposisi pertama di atas, yang diturunkan dari Terror Management Theory belum dapat dikatakan sebagai hipothesis karena belum jelas indikator empiris dari penyakit berbahaya, kesadaran, dan pola hidup sehat. Apabila dinyatakan  seperti ini: “Apabila diingatkan akan tingginya jumlah kematian akibat covid-19, individu yang memiliki self-esteem tinggi akan menunjukkan penurunan keinginan mengonsumsi junk food (hubungan kausal),” maka preposisi itu sudah berubah menjadi hipothesis.

Pada preposisi kedua, sebagai variabel independen, iklan belum dijelaskan apakah iklan cetak, audio, ataukah audio visual. Kedua, klaim ‘paling efektif’ belum jelas, apa indikator empiris efektif? Karena itu, preposisi ini belum bisa diuji secara empiris, sehingga belum dapat dikatakan sebagai preposisi. Pada preposisi ketiga juga patut dipertanyakan ukuran perilaku konsumtif, sehingga preposisi ini juga tidak dapat dikatakan sebagai hipothesis.

Ada tiga jenis hipotesis, yaitu: hipotesis deskriptif, hipothesis korelasional dan hipothesis kausal  (Cooper & Schindler, 2013). Hipotesis deskriptif adalah preposisi yang menyatakan keberadaan, ukuran, bentuk atau distribusi suatu variabel, yang merupakan jawaban sementara atas masalah deskriptif.

Masalah penelitian deskriptif:

  1. Bagaimana sikap karyawan Astra terhadap Kijang?
  2. Berapa persen pendapatan yang dibelanjakan konsumen untuk keperluan transportasi?
  3. Bagaimana keterlibatan konsumen dalam pembelian mobil (purchase involvement)?

Hipothesis deskriptif:

  1. Sikap karyawan Astra terhadap Kijang adalah positif.
  2. Pendapatan yang dibelanjakan konsumen untuk keperluan transportasi adalah 20%.
  3. Keterlibatan konsumen dalam pembelian mobil (purchase involvement) tergolong tinggi.

Hipotesis Relasional. Apabila di dalam suatu hipotesis dijelaskan hubungan antara dua variabel, tetapi tidak ada maksud untuk menyatakan variabel yang satu mempengaruhi variabel yang lain, maka hipotesis itu disebut hipotesis korelasional. Contohnya:

  1. Penduduk pedesaan memiliki sikap yang lebih baik terhadap TPI dibanding penduduk perkotaan.
  2. Dibanding laki-laki, perempuan lebih suka acara telenovela.

Hipothesis Kausal. Pada hipotesis-hipotesis di atas, memang ada dua variabel. Tetapi kedua variabel dapat kita katakan sekedar memiliki hubungan, sehingga kita namakan hipothesis korelasional. Kalau memiliki hubungan fungsional, di mana satu variabel mempengaruhi variabel lain, maka hipotesisnya kita namakan hipotesis kausal. Dalam hipotesis seperti ini, terdapat variabel dependen (VD) dan variabel independen (VI).

Hipothesis yang menyatakan arah:

  1. Kecerdasan  berpengaruh positif terhadap nilai rata-rata raport  anak-anak sekolah.
  2. Loyalitas terhadap toko berpengaruh positif terhadap sikap konsumen terhadap private brand toko itu.
  3. Nilai produk  berpengaruh negatif terhadap sensitifitas konsumen pada kenaikan harga produk itu.

Hipothesis yang menjelaskan:

  1. Semakin tinggi kecerdasan, semakin tinggi nilai rata-rata raport anak sekolah.
  2. Semakin tinggi loyalitas terhadap toko, semakin tinggi pula sikap konsumen terhadap private brand toko itu.
  3. Semakin tinggi nilai, semakin tidak sensitif konsumen pada kenaikan harga produk itu.

Hipothesis yang menggabung arah dan penjelasan:

  1. Kecerdasan  berpengaruh positif terhadap nilai rata-rata raport  anak-anak sekolah. Semakin tinggi kecerdasan, semakin tinggi nilai rata-rata raport anak sekolah.
  2. Loyalitas terhadap toko berpengaruh positif terhadap sikap konsumen terhadap private brand toko itu. Semakin tinggi loyalitas terhadap toko, semakin tinggi pula sikap konsumen terhadap private brand toko itu.
  3. Nilai produk  berpengaruh negatif terhadap sensitifitas konsumen pada kenaikan harga produk itu. Semakin tinggi nilai, semakin tidak sensitif konsumen pada kenaikan harga produk itu.

Hubungan Bisa Korelasional atau Fungsional

Sebuah hubungan bisa korelasional, bisa pula fungsional, sesuai keyakinan peneliti. Dalam model tradisional sikap misalnya, digambarkan bahwa kognisi, afeksi dan konasi adalah tiga komponen sikap dan ketiganya saling mempengaruhi. Artinya, afeksi dapat mempengaruhi kognisi, sebaliknya, kognisi juga bisa mempengaruhi afeksi, sehingga hubungan keduanya korelasional. Hubungan keduanya bisa fungsional kalau peneliti yakin mana yang mempengaruhi mana sesuai konteks penelitian. Misalnya, dalam mengevaluasi laptop baru, peneliti dapat membuat kedua hubungan korelasional kalau tidak yakin mana mempengaruhi mana:

  • Persepsi kualitas berkorelasi dengan afeksi pada laptop X

Kalau peneliti yakin bahwa responden memiliki need for cognition yang tinggi, yang mengelaborasi informasi dulu baru membentuk afeksi, maka hipothesisnya menjadi:

  • Persepsi kualitas berpengaruh positif terhadap afeksi pada laptop X

Bisa pula afeksi mempengaruhi persepsi kualitas kalau peneliti yakin para responden mengelaborasi simbol-simbol (misalnya merek, harga, nama toko), bukan informasi, untuk menilai kualitas. Hipothesis (fungsional) menjadi:

  • Afeksi berpengaruh positif terhadap persepsi kualitas laptop X

Fungsi Hipotesis

Beberapa fungsi hipotesis adalah:

  1. Memberikan arahan riset. Artinya, melalui hipotesis, menjadi jelas apa yang diteliti.
  2. Mengidentifikasi fakta yang relevan dan tidak relevan. Pada hipotesis: “Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin tinggi porsi pendapatan yang ditabung”, maka fakta yang relevan adalah tingkat pendapatan dan porsi pendapatan yang ditabung. Fakta tentang jumlah istri tidak relevan.
  3. Mengarahkan desain riset yang sesuai. Misalkan, pada hiporesis: “Suami dan istri memiliki peranan yang berbeda pada pembelian produk-produk rumah tangga”. Untuk membuktikan hipotesis ini, sudah terbayang bahwa subjek penelitian (pasangan yang menikah) dan masalah yang diteliti (peranan dalam pengambilan keputusan pembelian produk-produk rumah tangga).
  4. Memberikan kerangka untuk mengorganisasikan kesimpulan riset. Pada hipotesis: “Suami dan istri memiliki peranan yang berbeda pada pembelian produk-produk rumah tangga”, hanya ada dua kesimpulan yang mungkin. Yakni: “Terdapat perbedaan peranan suami dan istri dalam pengambilan keputusan pembelian produk-produk rumah tangga”. Atau: “Tidak terdapat perbedaan peranan suami dan istri dalam pengambilan keputusan pembelian produk-produk rumah tangga”. Jadi, memang, dengan hipotesis, kesimpulan menjadi terarah. Karena itulah, riset sedapat mungkin diusahakan memiliki hipotesis.

Agar hipotesis baik,  syarat-syarat berikut ini perlu diperhatikan:

  1. Hipotesis disusun dalam kalimat deklaratif. Kalimat bersifat positif dan tidak normatif. Jangan memakai kata-kata sebaiknya atau seharusnya dalam hipotesis. Yang berikut ini bukan hipotesis: “Harga sebaiknya terjangkau agar konsumen membeli produk”. Yang ini baru hipotesis: “Semakin rendah harga, semakin tinggi permintaan konsumen terhadap suatu produk”.
  2. Variabel –variabel yang disertakan dalam hipotesis adalah variabel operasional, yang dapat diamati dan diukur.
  3. Hipotesis menunjukkan hubungan tertentu di antara variabel-variabel.

Hipotesis Nol dan Hipotesis Alternatif

Untuk pengujian statistika, hipotesis kerja dijabarkan menjadi hipotesis statistika. Pengujian hipotesis kerja membutuhkan keputusan. Untuk keperluan pengujian, maka hipotesis kerja dijabarkan menjadi hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesis nol berisikan pernyataan yang meragukan hipotesis. Sedangkan hipotesis alternatif, merupakan kesimpulan yang diinginkan peneliti. Tidak selalu hipotesis alternatif terbukti. Ada kalanya, hipotesis nol yang diterima.

Uji statistika dimaksudkan menguji Ho. Karena itu, keputusan uji adalah menerima dan menolak Ho. Kalau menerima, maka pernyataan yang diwakili Ho yang diterima. Kalau Ho ditolak, pernyataan yang menyertai Ha yang diterima.

Sebagai contoh, hipotesis ‘Untuk jenis makanan, waktu, dan tempat makan yang sama,  porsi makan siang laki-laki lebih tinggi dari  perempuan.’, dapat dituliskan ke dalam bentuk berikut ini:

Ho: Untuk jenis makanan, waktu, dan tempat makan yang sama, porsi makan siang laki-laki dan perempuan adalah sama.
Ha: Untuk jenis makanan, waktu, dan tempat makan yang sama,  porsi makan siang laki-laki lebih tinggi dari  perempuan.

Penulisan Ho dan Ha kadang-kadang digabung dengan notasi teknik analisis yang digunakan. Untuk menguji hipothesis di atas, misalkan kita menggunakan uji-t, maka penulisan Ho dan Ha adalah sebagai berikut:

Ho: μ1 = μ2
Ha: μ1 > μ2

Bisa juga digabung dengan penjelasan seperti ini.

Ho: μ1 = μ2 atau porsi makan laki-laki sama (μ1) dengan perempuan (μ2)
Ha: μ1 > μ2 atau porsi makan laki-laki (μ1) lebih tinggi dari perempuan (μ2)

Model Teoritis

Istilah model sering kita temui. Model ditemukan pada berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Karena itu, berbagai defenisi model juga bisa kita temukan. Cooper dan Schindler (2013) menyatakan bahwa model adalah representasi suatu sistem yang dibentuk untuk mempelajari sebagian atau seluruh sistem.

Tidak seperti teori, model tidak bersifat menjelaskan, melainkan hanya menggambarkan suatu sistem. Melalui model, kita dapat lebih mudah memahami bagaimana suatu sistem bekerja. Namun, untuk mengetahui hubungan antar komponen dalam model, perlu dukungan teori.

Lihat model berikut ini. Model ini menjelaskan tahap-tahap yang dilalui seseorang dalam pengambilan keputusan pembelian. Kalau hanya mengamati gambarnya, sulit untuk memberikan penjelasan. Akan tetapi, kalau disertai dengan pengetahuan tentang teori perilaku konsumen, model ini mudah diinterpretasi.

Gambar 1. Model Generik Pengambilan Keputusan Konsumen

Pendahuluan | Teori | Konsep | Konstruk | Definisi | Variabel | Preposisi | Hipothesis | Model Teoritis 

Kerangka Pemikiran

Model adalah representasi suatu sistem. Sistem adalah suatu kerangka yang menghubungkan berbagai komponen yang saling berinteraksi satu sama lain. Komponen itu bisa bersifat fisik ataupun konseptual.

Dalam model konseptual, sebenarnya model adalah sistem yang menyatakan hubungan antar berbagai konsep. Karena pernyataan hubungan antar konsep adalah proposisi, maka model juga bisa diartikan sebagai sejumlah preposisi yang diletakkan dalam sebuah sistem, yang mana komponen-komponennya, saling terkait satu sama lain.

Konsep dan preposisi adalah bagian dari teori. Kita ketahui teori adalah generalisasi berbagai fenomena atau kejadian. Karena berupa generalisasi, adakalanya teori perlu disesuaikan agar sesuai dengan sebuah keadaan yang spesifik.

Adakalanya peneliti membangun model penelitian atau kerangka pemikiran sendiri. Dalam pendekatan demikian, peneliti perlu merujuk pada model teoritis sebagai model atau teori dasar. Dalam kerangka pemikiran tentang proses pembelian mulai dari evaluasi alternatif sampai pembelian, maka model teoritisnya (disebut juga model klasik) adalah model generik pengambilan keputusan konsumen (Gambar 1).

Kita meniru penelitian secara utuh termasuk model penelitiannya (direct replication). Bisa juga menggunakan model penelitian sama untuk konteks yang berbeda (systematic replication) atau meniru dengan merubah variabel independen,  mediasi atau moderasi (constructive replication). Bisa juga dengan membangun model analisis yang sama sekali baru. Apapun kategori yang digunakan, peneliti perlu merujuk model analisis pada teori atau model dasar, yang biasa disebut teori atau model klasik.

Bagaimana model analisis ditampilkan? Ada berbagai model analisis, namun tiga yang paling umum adalah model matematika, model verbal dan model grafis (Malhotra, 2010).

Model matematika

Dalam model matematika, peneliti menggambarkan hubungan antar variabel dalam persamaan matematika. Misalnya, pengaruh persepsi kualitas, daya tarik harga terhadap harapan membeli merek ABC  dinyatakan dalam regresi linier berganda sebagai berikut:

Y= α+ β1X12X2

di mana Y=harapan membeli merek ABC, X1=persepsi kualitas merek ABC, X2=daya tarik harga merek ABC, α=konstanta, β1=koefisien X1, β2=koefisien X2,dan ε=error.

Model Verbal

Model deskripsi  dipakai untuk dua tujuan. Pertama, menjelaskan langkah-langkah suatu proses yang berlangsung secara tahap dalam sebuah sistem. Model generik pengambilan keputusan konsumen (Gambar 1) termasuk sebagai model deskripsi. Kedua, menjelaskan

Gambar 2. Conceptual framework of children surviving and thriving. Sumber: Unicef. (1990). All children surviving and thriving: re-envisioning UNICEF’s conceptual framework of malnutrition. The Lancet Global Health. https://www.thelancet.com/journals/langlo/article/PIIS2214-109X%2820%2930122-4/fulltext

Model Grafis

Model grafis, yang disebut juga model struktural, menjelaskan variabel-variabel yang relevan pada studi dan hubungan antar variabel-variabel tersebut.

Model Struktural Sederhana 

Model struktural sederhana menyatakan hubungan fungsional dua jenis variabel, yaitu variabel variabel independen (X) dan variabel dependen (Y) dalam bentuk hubungan positif, negatif dan dua arah. Jumlah variabel independen bisa satu (single) atau banyak (multiple). Contoh berikut ini adalah model sederhana satu variabel independen.

Tanda positif (+) menyatakan hubungan fungsional X terhadap Y adalah positif. Hipothesisnya misalnya adalah adalah ‘lama belajar berpengaruh positif terhadap nilai rapor’. Tanda negatif (-) menyatakan pengaruh negatif, yaitu ‘semakin lama waktu yang dipakai untuk main game, semakin rendah nilai rata-rata rapor’. Uji statistika yang digunakan adalah satu arah. Panah tanpa tanda arah menyatakan bahwa arah pengaruh X terhadap Y tidak dinyatakan secara spesifik, bisa positif dan bisa negatif. Uji statistika yang digunakan untuk model demikian adalah uji dua arah. Misalkan hipothesisnya adalah ‘nilai rata-rata rapor berpengaruh terhadap motivasi belajar’. Bagi mereka yang nilai rapornya di bawah standar naik kelas, berlaku hipothesis negatif, di mana semakin rendah nilai rapor, semakin tinggi motivasi belajar agar bisa naik kelas. Bagi mereka yang bercita-cita masuk ke ranking elit kelas, berlaku pengaruh positif, di mana semakin tinggi nilai rapor, semakin tinggi motivasi belajar.

Model Mediasi Sederhana

Model mediasi menampilkan variabel mediasi, yang memediasi (meneruskan) pengaruh satu variabel dengan variabel lain. Ada mediasi sederhana, ada pula mediasi kompleks. Di bawah ini disajikan contoh model mediasi sederhana. Mediasi kompleks sangat umum ditemukan pada structural equation modelling (SEM).

(A) AEOP (X) ________>Self-Efficacy ________>Achievement Goals (Y)

Gambar: Contoh Model Mediasi Sederhana

Pada model mediasi sederhana di atas, model A digunakan untuk hubungan X dan Y yang dimediasi sepenuhnya (full-mediation) oleh M. Untuk membuktikannya dapat digunakan path analysis. Model B digunakan kalau terdapat tiga kemungkinan, yaitu tidak ada mediasi (no mediation), mediasi sebagian (partial mediation), dan mediasi penuh (full mediation). Teknik analisis yang digunakan paling umum adalah dari Baron dan Kenny (1986).

Model Stuktural dengan Variabel Moderasi

Variabel moderasi adalah variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah suatu hubungan. Mari kita periksa hubungan berikut: “Kalau tingkat kepuasan meningkat, maka loyalitas pelanggan terhadap suatu merek juga meningkat”. Apa selalu benar demikian?

Pada orang-orang yang tidak peduli merek, kepuasan tidak selalu diikuti loyalitas. Akan tetapi, kalau merek terkait produk yang setelah konsumsi kualitasnya memerlukan waktu lama untuk dibuktikan (high credence quality), misalnya bengkel mobil, maka hipotesis demikian bisa diterima. Dengan demikian, hipotesis tadi bisa dipertegas menjadi: Kalau tingkat kepuasan meningkat, maka loyalitas pelanggan terhadap suatu merek juga meningkat, terutama untuk produk-produk yang memerlukan waktu lama untuk pembuktian kualitas.

Gambar 4. Contoh Model Stuktural Sederhana dengan Variabel Moderasi Positif

Dalam pernyataan ini, variabel independen adalah kepuasan (X), variabel dependen adalah loyalitas (Y) dan variabel moderasi adalah waktu pembuktikan kualitas (M). Moderasi dilakukan secara positif. Artinya bila M meningkatkan, maka pengaruh X terhadap Y semakin kuat. Sebaliknya, bila M semakin rendah, maka pengaruh X terhadap Y semakin rendah. Untuk formalnya, hipothesis dapat ditulis seperti ini: “Waktu pembuktian kualitas memoderasi pengaruh kepuasan terhadap loyalitas secara positif, di mana semakin lama waktu pembuktian kualitas, semakin kuat pengaruh kepuasan terhadap loyalitas.”

Ada pula moderasi negatif, di mana kalau M meningkat, maka pengaruh X terhadap Y menurun. Sebaliknya, kalau M menurun, maka pengaruh X terhadap Y meningkat. Misalnya, perilaku mencari variasi (variety seeking behavior) menurunkan pengaruh kepuasan terhadap loyalitas (Gambar 5).

Gambar 5. Contoh Model Struktural Sederhana dengan Variabel Moderasi Negatif

Penulisan hipothesis adalah: “Perilaku mencari variasi memoderasi pengaruh kepuasan terhadap loyalitas secara negatif, di mana semakin tinggi perilaku mencari variasi, semakin rendah pengaruh kepuasan terhadap loyalitas.

Model Struktural Sederhana dengan Variabel Kontrol

Variabel kontrol (VC) adalah situasi atau kondisi yang membatasi di mana atau kapan sebuah hubungan berlaku. Oleh sebagian peneliti, VC dianggap sebagai VM atau VI, akan tetapi kebanyakan menganggapnya sebagai VE atau tidak menyertakannya dalam studi. Untuk pembelajaran, kita akan pakai contoh berikut ini. Apakah citra leasing berpengaruh pada keinginan untuk menggunakannya leasing tersebut dalam pembelian mobil? Secara logika ya, tetapi hanya untuk pembelian mobil yang memenuhi syarat (misalnya yang berumur 10 tahun atau kurang) dan yang pembeliannya dilakukan secara kredit. Dengan kata lain, apabila pembelian dilakukan secara tunai atau mobil sudah berumur di atas 10 tahun, pengaruh tersebut berlaku. Dengan demikian agar berlaku, variabel kontrol harus dilibatkan, yaitu umur mobil dan cara pembelian, seperti digambarkan berikut ini.

Dalam ekperimen, variabel kontrol adalah variabel yang harus dikontrol atau diusahakan kondisinya konstan agar eksperimen berjalan. Apabila tidak dikontrol, maka perubahan variabel tersebut dapat mempengaruhi hasil eksperimen, sehingga kesimpulan bias. Karena itu, dalam eksperimen, variabel kontrol juga disebut variabel extraneous atau variabel intervening atau constant.

Berikut ini contoh dalam eksperimen. Misalkan kita ingin mengetahui pengaruh kecepatan irama lagu dengan waktu yang dihabiskan pebelanja di sebuah ruangan eceran modern. Teori menyatakan bahwa setiap individu bereaksi terhadap irama musik. Semakin cepat irama musik, semakin cepat ritme kerja, demikian sebaliknya. Untuk membuktikannya, peneliti memanipulasi kecepatan musik dan mencatat waktu yang dihabiskan pebelanja dalam ruangan. Namun, agar eksperimen ini berlaku, maka variabel yang harus dikontrol atau dipastikan sama adalah: suhu ruangan, jumlah pengunjung, bau ruangan, dan jumlah jumlah pengunjung. Suhu yang terlalu dingin atau panas, ruangan yang berbau tak sedap, dan pengunjung yang terlalu ramai dapat membuat pebelanja tidak betah, sehingga eksperimen tidak berjalan baik.

Arti mengontrol adalah mengatur atau menjadikannya tetap sama. Pada contoh di atas, suhu ruangan dan aroma dapat diatur peneliti. Jumlah pengunjung tidak bisa diatur, namun peneliti dapat memilih  hari dan jam saat mana jumlah pengunjung relatif sama.

Sampai poin ini, kita baru membahas model struktural sederhana. Sebenarnya, terdapat model yang lebih kompleks, yaitu model struktural dengan variabel ganda, parallel mediation model, serial mediation model, moderated mediation model, dan gabungan semuanya dalam structural equation modeling.

Structural Equation Modeling

Model struktural kompleks memiliki bentuk yang sangat fleksibel, tergantung pada pola hubungan variabel-variabel penelitian. Semua model di atas dapat digabung dalam satu model. Sampai tingkat tertentu model kompleks masih bisa menggunakan path analysis. Namun, yang paling praktis adalah menggunakan structural equation modeling (SEM). Oleh karena itu, model struktural kompleks identik dengan model SEM. Berikut ini contoh model SEM.

Sumber: Simamora, B. (2021). Modeling goal-directed choice quality: A university context. International Review of Management and Marketing, 2020, 10(5), 35-45. DOI: https://doi.org/10.32479/irmm.10088

Bentuk elips menyatakan bahwa variabel tersebut diperlakukan sebagai konstruk, yang direfleksikan atau dibentuk oleh satu atau beberapa indikator (Catatan: dalam SEM variabel pengamatan disebut sebagai indikator). Dalam model di atas, hanya ada satu variabel eksogen, yaitu variabel yang belum ‘dikenai’ variabel manapun, yaitu self-efficacy. Delapan variabel sudah dikenai variabel lain dan disebut variabel endogen. Output SEM dapat memberikan informasi tentang jalur, mediasi, dan moderasi, yang tidak mungkin diperoleh melalui path analysis.


REFERENSI

Baron, R. M., & Kenny, D. A. (1986). The moderator–mediator variable distinction in social psychological research: Conceptual, strategic, and statistical considerations. Journal of Personality and Social Psychology, 51(6), 1173–1182. https://doi.org/10.1037/0022-3514.51.6.1173

Cooper, D.R., & Schindler, P.S. (2014) Business Research Methods. 12th Edition, McGraw Hill International Edition, New York.

Jirout, J.J. (2020). Supporting early scientific thinking through curiosity. Frontiers in Psychology. 11:1717. DOI: 10.3389/fpsyg.2020.01717

Kuhn, D. (2002). What is scientific thinking, and how does it develop?. In Blackwell Handbook of Childhood Cognitive Development, ed. U. Goswami (Oxford: Blackwell Publishing.), 371–393. DOI: 10.1002/9780470996652.ch17

National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. (1999). Science and Creationism: A View from the National Academy of Sciences. Second Edition. Washington, DC: The National Academies Press. https://doi.org/10.17226/6024.

Simamora B. (2021). Significant others anticipated emotions increase students intention to avoid smoking. Humaniora12 (2), 127-139

Simamora, B. (2021). Modeling goal-directed choice quality: A university context. International Review of Management and Marketing, 2020, 10(5), 35-45. DOI: https://doi.org/10.32479/irmm.10088

Unicef. (1990). Policy review. Strategy for improving nutrition of children and women in developing countries. The Lancet Global Health. Retrieved July 4, 2022, from http://www.ceecis.org/iodine/01_global/01_pl/01_01_other_1992

Zikmund, W. G., Babin, B. J., Carr, J. C., & Griffin, M. (2010). Business research methods. Mason: South-Western Cengage Learning.