Menulis Latar Belakang Penelitian Akademik

Pendahuluan

Dalam bahasa Inggris konsepnya adalah research background. Walaupun terjemahan langsungnya adalah latar belakang penelitian, kebanyakan kampus dan penulis menggunakan istilah latar belakang masalah. Namun, perbedaan istilah bahasa Indonesia tidak perlu dipersoalkan sepanjang maksudnya sama. Selama ini banyak penelitian akademik yang belum didasarkan pada latarbelakang yang baik. Sebenarnya apakah latar belakang penelitian itu dan bagaimana menuliskannya? Berikut ini diberikan penjelasannya.

Lihat foto di atas. Yang ingin ditonjolkan pada foto adalah gambar sepeda motor.  Dengan latar belakang berwarna putih gambar sepeda motor jelas. Saat latar belakangnya abu-abu, gambar sepeda motor menjadi kurang jelas.

Latar belakang penelitian akademik berisikan “sesuatu” yang menimbulkan keingintahuan (curiosity) atau membutuhkan penjelasan  dan perlu penelitian untuk menjelaskannya (Cooper & Schindler, 2014; Malhotra, 2021). Sesuatu dimaksud bisa berupa  fenomena yang belum dijelaskan sepenuhnya, kontradiksi, keunikan konteks penelitian tertentu , keraguan atas hasil penelitian sebelumnya, perbedaan antara fenomena yang diharapkan dan kenyataan, serta kesenjangan teori dan metodologi saat ini. Latar belakang dimaksud memungkinkan peneliti menjelaskan kenapa penelitian penting dilakukan dan apa kontribusi ilmiah maupun praktis penelitian.

Contoh-contoh yang diberikan di bawah ini adalah versi sangat ringkas. Dalam penelitian yang sebenarnya penulisan latar belakang harus lebih detil.

Fenomena sebagai Latar Belakang Penelitian

Fenomena yang Belum Banyak Diteliti

Fenomena yang belum atau sudah dikenal, penting diketahui dan belum diketahui sepenuhnya, dapat dijadikan sebagai latar belakang penelitian.  

          Contoh 1

Saat ini Cryptocurrency adalah uang elektronik yang sudah diterima sebagai salah satu alat penyimpan nilai dan alat pertukaran di berbagai negara. Sebagian kalangan sudah menggunakan alat uang ini sebagai tujuan investasi dan alat tukar. Namun, sampai saat ini kalangan yang menggunakan cryptocurrency sebagai nilai tukar dan lahan investasi masih terbatas. Masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui, belum menggunakan, dan tidak tertarik pada uang elektronik tersebut. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan tingkat pengetahuan  serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penerimaan (acceptability) cryptocurrency pada kalangan mahasiswa.

         Contoh 2

Arwana adalah ikan asal Kalimantan yang memiliki nilai estetika dan nilai spritual bagi sebagian kalangan. Nilai-nilai dimaksud tidak sama antara ikan arwana yang satu dan yang lain. Masalahnya, belum banyak diketahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi nilai-nilai dimaksud. Inilah masalah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Kesenjangan antara Das Sollen dan Das Sain

Latar belakang sebuah penelitian bisa berupa adanya  kesenjangan antara sesuatu yang diharapkan (das sollen) dengan kenyataan (das sain), yang menimbulkan pertanyaan ‘mengapa demikian’ atau ‘apa sebabnya demikian’.  Titik berangkatnya adalah logika, argumen atau teori yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau prinsip, yang disebut premis mayor. Premis mayor tersebut dibandingkan dengan premis minor, yaitu fakta tentang objek yang diteliti. Perbandingan tersebut menghasilkan harapan. Apabila harapan sama berbeda dari kenyataan, terjadilah kesenjangan penelitian. Contoh:

  1. Premis mayor: Konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai konsumen (ustomer value) yang lebih tinggi.
  2. Premis minor: Nilai produk X lebih tinggi dari dua saingan terdekatnya, yaitu produk H dan Y.
  3. Harapan (das sollen): Penjualan produk X lebih tinggi dari produk H dan Y.
  4. Kenyataan (das sain): Penjualan produk X lebih rendah dari produk H dan Y.

Berdasarkan kesenjangan antara harapan (poin 3) dan kenyataan (poin 4), dalam bentuk sangat ringkas, contoh penulisan latar belakang masalah adalah sebagai berikut:

Menurut Kotler dan Keller (2016), dalam mengambil keputusan, konsumen memilih produk merek yang memberikan nilai tertinggi. Woodruf (1997) serta Sinha dan DeSarbo (1998) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah perbandingan antara kualitas produk dengan harga yang dibayarkan konsumen. Berdasarkan  review yang dilakukan oleh tabloid MotorPlus, dengan skor akhir 254, produk X unggul dibanding dua pesaing terdekatnya, yaitu produk H (skor 239) dan produk Y (skor 243), namun penjualannya dalam dua tahun terakhir (12.000 unit), kalah dibanding merek H (37.000 unit) dan merek Y (48.000 unit). Fenomena ini berbeda dari teori yang menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai tertinggi. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Penelitian sebelumnya Sebagai Latar Belakang Masalah

Perbedaan Konteks Penelitian

Sudah ada sejumlah penelitian sebelumnya, namun peneliti ingin melakukan penelitian yang sama (model penelitian sama) dengan konteks yang berbeda, seperti di bawah ini.

Dalam penelitian mereka di Amerika Serikat, Muniz dan O’Guin (2001) menemukan bahwa komunitas merek sepeda motor Harley Davidson Owners Group (HOG) dibentuk oleh para pemuja merek (brand adorers), yaitu konsumen yang memiliki loyalitas sangat tinggi pada merek itu. Schembri (2008) memperoleh temuan yang sama dalam studinya terhadap komunitas motor besar HOG chapter Australia. Pertanyaannya, bagaimana dengan di Indonesia, apakah komunitas merek Harley Davidson juga dibentuk oleh anggota-anggotanya juga yang memiliki loyalitas sangat tinggi pada merek itu?

Hasil Penelitian Terdahulu yang Berbeda-beda

Sudah ada sejumlah penelitian sebelumnya namun hasilnya berbeda satu sama lain. Peneliti melakukan penelitian kembali dengan konteks yang sama atau berbeda dengan maksud melakukan perbandingan dengan penelitian-penelitian terdahulu.

Contoh 1

Diambil dari Zhang et al. (2020):

Previous studies indicate that brand relationship can increase brand loyalty (Chaudhuri and Holbrook, 2001) and brand equity (Faircloth et al., 2001), and can also affect attitude loyalty (Nyffenegger et al., 2014; Sreejesh and Roy, 2015). However, brand relationship was proven to be positively correlated with brand loyalty in some studies, while not correlated with brand loyalty in other studies (Lombart and Louis, 2016; Charton-Vachet and Lombart, 2018; Coelho et al., 2018). Is this unclear relationship between brand relationship and brand loyalty caused by certain mediating factors? This study constructs the relevant mediating factors between brand relationship and brand loyalty, trying to clarify this research gap.

Contoh 2

Dalam studi pada kalangan konsumen individu dan rumah tangga di Malaysia, Lau (2010) menemukan adanyaan efek positif keberagamaan (religiosity) pada konsumsi bertanggung jawab sosial (socially responsible consumption). Namun, pada studinya di Belanda, Graafland (2017) menemukan hasil yang berbeda, di mana keberagamaan tidak berpengaruh pada permintaan pada produk-produk bertanggung jawab sosial. Pertanyaannya, bagaimana dengan di Indonesia? Apakah keberagamaan berpengaruh pada perilaku konsumsi bertanggung jawab sosial? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Hasil Penelitian Terdahulu yang Bertentangan Satu Sama Lain

Dua hasil yang bertentangan artinya adalah bertolak-belakang, bukan sekedar berbeda.  Sebagaimana diketahui, ada dua model achievement goals yang populer, yaitu model trikotomus dan model 2X2. Sebagian menemukan bahwa model trikotomus lebih bagus, sebagian menyatakan model 2X2 lebih baik. Pertentangan pendapat ini menjadi latar belakang penelitian Simamora dan Mutiarawati (2021):

In its operationalization, scientists reuse the approach and avoidance valences of motivation. With this new approach, in addition to Ames’s mastery and performance goals [19], Elliot and Harackiewicz [20] introduced the third goal called performance-avoidance goals, and build a trichotomous model that consists of three-goal orientations. First, mastery goals are purposed to develop competence or skill used to master the task. Second, performance-approach goals, are activated by the willingness to show off one’s performance or ability. Third, performance-avoidance goals are driven by the willingness to avoid the status of being looser or viewed as incompetent. High self-efficacy people should own the first two goals, and the third goal is generally related to low efficacy people [20]. There are vast numbers of studies that confirm this model [17].

In 2001, Elliot and McGregor [18] added the fourth dimension called mastery avoidance, a goal through which an individual avoids failure to master a skill or competence. The new model has two focuses (mastery and performance) and two valences (approach and avoidance). It is called the 2×2 model. In detail, this model consists of a mastery approach, mastery-avoidance, performance approach, and performance-avoidance goals. Many studies confirmed the validity of this model [15].

The question is, which is the better one, the trichotomous model or the 2X2 model? There is no unified answer to this question. Some researchers proved that the 2X2 model is valid and reliable [15, 21]. However, it may not be easy to conceptualize the mastery-avoidance goal [22]. This category is less adaptive and tends to be detrimental [23]. Moreover, generating hypotheses about the relationship between mastery-avoidance goals and performance is challenging [24]. Therefore, the trichotomous model is the primary choice in many studies [25].

This study aims to solve this scientific dispute and emphasizes that students’ expectancy and self-efficacy should be accounted for in the validation. As stated before, mastery-approach and performance-approach goals are owned by high self-efficacy people [13, 19, 20], and mastery-avoidance and performance-avoidance goals correlate with low self-efficacy [26]. Therefore, the 2X2 model should be evident in a lower self-efficacy segment, and the trichotomous model should be relevant in the higher self-efficacy people.

Mengajukan Gagasan yang Berbeda

Adakalanya peneliti tidak setuju dengan hasil penelitian sebelumnya. Karena itu, peneliti mengajukan gagasan baru yang melatarbelakangi penelitiannya, seperti pada contoh berikut ini:

Skirberkk et al. (2020) menemukan bahwa negara-negara yang memiliki indeks keberagamaan (religisoty index) tinggi menghabiskan sumberdaya alam lebih banyak dan menghasilkan gas rumah kaca yang lebih tinggi dibanding negara-negara yang memiliki indeks keberagamaan yang tinggi. Penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa pemakaian sumberdaya yang lebih banyak dan pengeluaran gas rumah kaca yang lebih tinggi pada negara-negara dimaksud disebabkan oleh tingkat ekonomi yang lebih tinggi, bukan oleh tingkat keberagamaan. Secara lebih spesifik, dengan tingkat ekonomi lebih tinggi, tingkat produksi dan konsumsi di negara-negara (yang memiliki indeks keberagamaan yang rendah)  adalah lebih tinggi dibandingkan negara-negara yang memiliki tingkat ekonomi lebih rendah  (yang umumnya memiliki tingkat keberagamaan yang tinggi). Penelitian ini bermaksud untuk membuktikan gagasan ini.

Ranah Penelitian yang Belum Diteliti

Kesenjangan penelitian dapat berupa ranah  yang belum diteliti. Untuk menemukan kesenjangan penelitian demikian, peneliti perlu menginventarisasi hasil penelitian-penelitian terdahulu selengkap mungkin, sampai ditemukan ranah yang belum diteliti.

Contoh

Keyakinan atas nilai simbolik maupun fungsional yang dapat diperoleh melalui kastemisasi  dapat disejajarkan dengan keyakinan (beliefs) dalam Theory-of-Reasoned Action dari Fishbein dan Azjen (1975) dalam Chang (1998).  Menurut Bagozzi dan Dholakia (2002), keyakinan baru mencakup faktor kognitif dari perilaku. Sesungguhnya selain oleh faktor kognitif, perilaku juga dimotivasi oleh aspek afektif. Untuk perilaku di masa depan, aspek afektif tersebut adalah antisipasi emosi (Perugini dan Bagozzi 2001; Baumeister, Vosh, Dewall,  dan Zhang, 2007).  Oleh karena itu, selain harapan keluaran simbolik dan harapan fungsional, antisipasi emosi perlu juga dikaitkan dengan kastemisasi produk di masa depan. Apakah ketiga studi sebelumnya telah memenuhi syarat-syarat yang diuraikan di atas? Syarat pertama dipenuhi oleh Schembri (2008) dan Schau et al. (2009). Kedua penelitian ini dilakukan pada anggota-anggota komunitas merek. Penelitian Katz dan Schau (2005) belum memenuhi syarat ini. Dari sisi nilai yang dihasilkan, Katz dan Sugiyama (2005) dan Schembri (2008) memberi perhatian pada keluaran simbolis (Tabel 1). Pada sisi lain, Schatz et al. (2009) tidak menjelaskan nilai kastemisasi yang diperoleh namun secara tidak langsung. Karena itu, dibutuhkan penelitian untuk membuktikan bahwa keterlibatan dalam komunitas merek menstimulasi munculnya harapan terhadap nilai fungsional dan simbolik kastemisasi sepeda motor.

Tabel 1. Ringkasan Hasil Penelitian Sebelumnya

Seperti ditampilkan Tabel 1, penelitian-penelitian tentang kastemisasi produk masih fokus pada keluaran fungsional, emosional, dan sosial. Sebagaimana diketahui, kastemisasi produk umumnya dilakukan oleh konsumen yang tergabung dalam komunitas merek. Namun, pengaruh lanjutan keluaran fungsional, emosional dan sosial terhadap keterikatan individu dengan komunitas mereknya belum belum diteliti. Inilah masalah yang melatar-belakangi penelitian ini.

Kekurangan Metoda Penelitian Terdahulu

Metoda dimaksud dapat berupa desain, teknik pengambilan sampel dan teknik analisis data. Apabila metoda penelitian-penelitian terdahulu memiliki kelemahan, kita dapat menjadikan kelemahan tersebut sebagai latar belakang masalah penelitian.

Contoh 1

Dalam menganalisis perkembangan preferensi pilihan responden terhadap calon pemimpin pemerintahan, para ahli selama ini membandingkan hasil dari dua atau lebih penelitian orang atau lembaga berbeda, yang dilakukan pada waktu yang berbeda. Pendekatan ini dapat diterima apabila sampel yang digunakan penelitian yang berbeda tersebut sama-sama mewakili populasi dan instrumen yang digunakan juga sama.  Namun, pada survai selama ini tidak terdapat jaminan bahwa kedua syarat ini dipenuhi karena lembaga yang melakukannya tidak pernah menjelaskan karakteristik responden dan menunjukkan instrumen penelitian yang dipakai.  Jadi, untuk mengetahui tingkat keterpilihan (preferensi) seorang kepala daerah, diperlukan penelitian dengan desain longitudinal, dengan mana dilakukan pengumpulan data pada dua atau lebih titik waktu untuk responden yang sama. Keperluan itulah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Contoh 2

Kebanyakan penelitian selama ini menggunakan model Theory of Planned Behavior (Azjen, 1980) dalam memprediksi perilaku melalui sikap. Menurut Perugini dan Bagozzi (2001), model ini kurang akurat karena belum memperhitungkan antisipasi emosi konsumen. Diperlukan model yang lebih baik, yaitu model of goal-directed behavior (MGB) dari Perugini dan Bagozzi (2001) untuk memprediksi perilaku konsumen. Keperluan itulah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Replikasi Konstruktif Model Penelitian Sebelumnya

Menambah atau mengubah jalur pada model structural peneliti sebelumnya dapat dijadikan sebagai latar belakang masalah. Gambar 1 adalah model penelitian yang direplikasi dengan menambahkan jalur antara brand image dan purchase intention.

Gambar 1

         Contoh

Replikasi Gambar 1

Rebecca et al. (2022) menemukan bahwa sebagai brand ambassador Shopee, Blackpink meningkatkan brand image Shopee dan niat konsumen berbelanja online melalui Shopee. Namun, belum diketahui apakah brand image memediasi pengaruh Blackpink terhadap niat berbelanja online konsumen. Berdasarkan model Attitude toward Ad Gardner (1985), penelitian ini menganggap bahwa brand image Blackpink berpengaruh pada niat berbelanja pada Shopee. Dengan demikian, selain melalui efek langsung (direct effect), pengaruh kekuatan Blackpink terhadap niat berbelanja pelanggan melalui Shopee juga dimediasi oleh brand image Shopee.

Teori sebagai Latar Belakang

Teori dapat dijadikan sebagai latar belakang penelitian. Tujuan penelitian adalah mengonfirmasi maupun memperkaya teori.

Pengujian Preposisi

Sebuah penelitian akademik dapat dilator-belakangi preposisi yang telah diajukan oleh peneliti atau ilmuwan.

Contoh 1

Keller (2013) menyatakan bahwa semakin kuat merek, dalam promosinya, merek tersebut harus memberi penekanan yang lebih kuat pada nilai emosional daripada nilai utilitarian. Sebaliknya, merek baru atau merek yang belum kuat harus memberi penekanan pada nilai utilitarian daripada nilai emosional.  Pertanyaannya, benarkah iklan produk baru yang memberi penekanan pada nilai fungsional lebih efektif dibanding yang memberi tekanan pada nilai emosional? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Contoh 2

Endorser adalah seseorang atau sekelompok orang yang citranya digunakan untuk mengangkat citra suatu merek (Kotler dan Keller, 2016). Misalnya, artis Agnes Monica dipakai sebagai endorser mobil DFSK Glory 580. Sirgy (2001) menyatakan bahwa keberhasilan endorser ditentukan oleh kesesuaian (congruence) antara citra dirinya dengan citra merek yang di-endorse. Pertanyaannya, apakah citra Agnes Monica sesuai dengan Citra DFSK Glory 580? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Pengajuan Teori Baru

Teori baru adalah konsep, konstruk,atau preposisi baru untuk menjelaskan suatu fenomena. Agar mampu menghasilkan konsep baru, peneliti perlu mempelajari teori utama dan turunannya. Penelitian yang bertujuan membuktikan teori baru disebut riset dasar (grounded research). Idealnya, mahasiswa doktoral yang melakukan penelitian seperti ini.

Contoh:

Emotion  is  central  component  of  consumer  behavior. This concept,  that  is  borrowed  from psychology, is now widely and applied studied in marketing. Two major approaches used by marketing researchers are, first, behavior causes emotions and second, emotions cause behavior. In the second approach, marketing researchers study anticipated emotions of the actors and their consequences on the actors’ behavior. The interesting question, how is anticipated emotion of others on the actor’s behavior? This the question that motivates this research that is purposed to formulate and confirm the theory of anticipated emotions of others.

Perumusan Masalah Penelitian

Tujuan penelitian adalah mencari solusi atas, menjelaskan atau membuktikan keingintahuan, kesenjangan fenomena, perbedaan atau pertentangan hasil penelitian sebelumnya, kesenjangan metodologi penelitian sebelumnya dan pengajuan teori baru. Solusi, penjelasan atau pembuktian dimaksud dilakukan melalui hasil penelitian. Untuk memperoleh hasil penelitian yang mampu menjelaskan latar belakang, diperlukan pertanyaan-pertanyan penelitian. Upaya memperoleh pertanyaan-pertanyaan yang tepat dinamakan perumusan masalah. Caranya dijelaskan di sini.

References

Cooper, D. and Schindler, P. (2014). Business Research Methods. 12th Edition. Boston: McGraw-Hill/Irwin.

Simamora, B., & Mutiarawati, E.V. (2021). Is the 2X2 model better than the Trichotomous model?
Achievement goals validation and comparison in the new versus old student segments. International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE), 10 (1), 142-149. DOI: 10.11591/ijere.v10i1.20869

Malhotra, N. K. (2021). Marketing Research: An Applied Orientation. 7th Edition. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hal

Zhang. S., Peng. M.Y.-P., Peng. Y., Zhang. Y., Ren. G. & Chen. C.-C. (2020). Expressive brand relationship, brand love, and brand loyalty for tablet PCs: Building a sustainable brand. Frontiers in Psychology. 11:231. DOI: 10.3389/fpsyg.2020.00231