Strategi dan Taktik Harga

Manajemen Harga:

  1. Langkah-langkah Penetapan Harga
  2. Strategi Harga
  3. Taktik Harga
  4. Pertimbangan-pertimbangan Khusus

A. Langkah-langkah Penetapan Harga

  1. Langkah I: Analisis Situasi Pasar
    1. Bentuk Pasar
    2. Perilaku harga konsumen menurut teori ekonomi dan menurut teori pemasaran.
    3. Analisis Persaingan
  2. Langkah II: Identifikasi Faktor Pembatas Harga
  3. Langkah III: Menetapkan Sasaran
  4. Langkah IV: Analisis Potensi Keuntungan
  5. Langkah V: Menetapkan Harga Awal

B. Strategi Harga

  1. Ringkasan Eksekutif
  2. Strategi Harga
    1. Strategi Harga Berdasarkan Penetapan Harga Produk Baru
      1. Skimming Pricing Strategy
      2. Penetration Pricing Strategy
    2. Product Mix Pricing Strategy
      1. Product-line pricing
      2. Optional-feature pricing
      3. Captive-product pricing
      4. Two-parts pricing
      5. Byproduct pricing
      6. Product-bundling pricing
  3. Strategi Harga Berdasarkan Struktur Biaya dan Akses 
      1. Freemium Pricing
      2. Subscription Pricing
      3. “Pay-as-you go” Pricing
  4. Strategi Harga Berdasarkan Kondisi Pasar dan Kompetisi (Market-Oriented Pricing)
  5. Strategi Harga Berdasarkan Persepsi Konsumen (value-based pricing, prestige-pricing, affordability-based pricing, fairness-based pricing)
  6. Strategi Harga Berdasarkan Biaya
  7. Strategi Harga Berdasarkan Harga Pesaing

C. “IF THEN” Strategi Harga

C. Taktik Harga

A. Psikologi Harga

B. Price Adaptation

1. Geographical pricing

2. Price discount and allowance

3. Promotional pricing

4. Differentiated Pricing

Strategi Harga

Ringkasan Eksekutif 

Dokumen ini memetakan lima klasifikasi utama strategi penetapan harga (pricing strategy) dalam manajemen pemasaran modern, yaitu berdasarkan produk baru (New Product Pricing), bauran produk (Product Mix Pricing), struktur biaya dan akses (Two-Part Tariff & Usage Pricing), kondisi pasar (Market-Oriented Pricing), serta aspek psikologis dan nilai (Psychological & Value Pricing). Melalui pendekatan komprehensif ini, perusahaan dapat mengonfigurasi model harga yang adaptif terhadap dinamika kompetisi pasar, sekaligus mampu mengoptimalkan volume penjualan dan menjaga loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

1.  Strategi Harga Berdasarkan Penetapan Harga Produk Baru (New Product Pricing)

Sebagaimana telah disebutkan, strategi adalah keputusan atau rencana strategik yang dirumuskan untuk mencapai tujuan. Keputusan-keputusan tersebut dapat dibuat dalam bentuk poin-poin pernyataan, bisa pula dibuat dalam satu rumusan. Keputusan tentang harga ada yang strategik, ada pula yang non-strategik. Ingat kembali ciri-ciri keputusan strategik di sini (link masih dibuat). Bagi sebuah merek mobil yang baru masuk ke Indonesia, misalnya, maka penentuan harga atau rentang harga merek mobil itu adalah keputusan strategik. Namun,  diskon yang diberikan adalah non-strategik karena mudah ditiadakan, diturunkan ataupun dinaikkan.

Selama ini, banyak perusahaan yang menggunakan harga sebagai komponen strategi, berdasarkan mana para ahli merumuskan teori strategi harga, seperti dipaparkan berikut ini.

Sebuah perusahaan dapat meluncurkan produk baru dengan harga tinggi (skimming pricing) ataupun harga rendah (penetration pricing).

Skimming Pricing Strategy

Skimming pricing strategy (strategi penetapan harga skimming) yang biasa juga disebut price skimming, adalah menetapkan harga awal yang tinggi untuk sebuah produk baru atau inovatif. Tujuan strategi ini  adalah  “menjaring” segmen pasar pembeli awal yang bersedia membayar harga premium. Untuk menarik lebih banyak perlanggan yang lebih sensitif terhadap harga, harga diturunkan secara bertahap. Dengan strategi ini, perusahaan dapat memaksimalkan keuntungan dari para pembeli awal atau pelopor, sebelum menurunkan harga untuk menangkap segmen pasar tambahan.

Aspek-aspek utama dari strategi penetapan harga skimming meliputi:

  • Harga Awal yang Tinggi:Harga awal yang tinggi atau harga premium untuk produk baru merupakan aspek mendasar dari strategi penetapan harga skimming.  Para pembeli awal adalah kalangan yang menghargai eksklusivitas dan fitur-fitur mutakhir dan bersedia membayar harga premium untuk memperolehnya. Harga tinggi perlu untuk menutup biaya riset serta pengembangan produk secepatnya.  Dengan harga tinggi, perusahaan dapat berjaga-jaga terhadap kemungkinan kekeliruan penetapan harga.  Kalau harga awal ketinggian tinggal diturun saja. Menurunkan harga lebih mudah daripada menaikkan harga.
  • Produk yang Inovatif atau Unik:Produk yang inovatif atau unik sangat penting bagi strategi penetapan harga skimming. Produk-produk demikian biasanya meenggunakan teknologi mutakhir, fitur-fitur yang khas atau kualitas unggul secara keseluruhan, yang dapat menjadi alasan untuk menetapkan harga premium.  Para pembeli awal umumnya bersedia membayar harga lebih mahal untuk memperoleh eksklusivitas atau kecanggihan produk. Konsep konsumsi status (status consumption) dapat dipakai untuk menjelaskan motif pembelian produk-produk skimming. Ketika pasar semakin dewasa (mature) dan persaingan meningkat, harga dapat diturunkan untuk menarik segmen yang lebih luas dengan tetap mempertahankan pesepsi nilai produk.
  • Penurunan Harga Bertahap:Penurunan harga bertahap dan terencana dari waktu ke waktu merupakan aspek utama dari strategi penetapan harga skimming. Awalnya, produk diluncurkan dengan harga tinggi untuk menargetkan para pembeli awal yang bersedia membayar lebih mahal. Ketika permintaan dari segmen ini mulai jenuh, harga secara bertahap diturunkan untuk menarik lebih banyak pelanggan yang sensitif terhadap harga. Penurunan bertahap ini memungkinkan perusahaan untuk memaksimalkan pendapatan dari berbagai segmen pasar dan membentuk basis pelanggan yang lebih luas.

Ringkasan. Strategi harga skimming sukses bila konsumen awal tidak sensitif terhadap harga, akan tetapi lebih memperhatikan keunikan-keunikan produk yang terkait dengan kualitas, brand image, personil maupun layanan tambahan. Setelah non-price sensitive customer terlayani, perusahaan dapat membuat versi lebih murah untuk melayani price-sensitive customer.  Keputusan demikian dapat bersamaan dengan strategi perluasan lini produk ke hilir (down-ward stretching) dengan meluncurkan produk-produk berbiaya lebih rendah.  Misalnya, sebuah penerbit awalnya menjual buku edisi hard-cover. Untuk menjangkau segmen yang lebih sensitif pada harga, penerbit tersebut  meluncurkan edisi soft-cover yang lebih murah.

Kondisi lain yang dibutuhkan agar strategi ini berjalan baik adalah adanya hambatan masuk (entry-barrier) yang tinggi untuk pesaing.  Teknologi, investasi awal yang besar, hak paten maupun konsumen yang loyal dapat menjadi penghambat masuknya pesaing.  Kalau pesaing mudah masuk, strategi harga tinggi justru akan menghancurkan perusahaan, sebab pesaing berkesempatan meluncurkan produk dengan harga lebih murah.

Penetration Pricing Strategy

Dengan strategi ini, perusahaan meluncurkan produk baru dengan harga rendah dengan harapan akan memperoleh volume penjualan yang besar dalam waktu yang relatif singkat.   Dengan volume besar, tentu biaya rata-rata akan menurun.  Selanjutnya, biaya rendah ini dapat menghambat masuknya pesaing.  Keunggulan biaya inilah yang disebut sebagai strategi cost-leadership oleh Porter (1985).

Strategi ini masuk hitungan kalau pasar sensitif terhadap harga.  Itu yang pertama.  Yang kedua, terdapat korelasi negatif antara kenaikan volume penjualan dengan biaya, di mana volume penjualan yang tinggi akan akan menurun biaya.  Ketiga, harga rendah bisa menjadi keunggulan bersaing.  Sekali lagi, untuk kondisi ketiga ini, pasar harus sensitif terhadap harga.  Kalau pesaing bisa mendidik pasar menomorduakan harga dalam mengambil pertimbangan, maka strategi ini lebih baik dilupakan.

 2. Product Mix Pricing Strategy

Untuk bagian ini, sekali lagi, marilah kita bayangkan perusahaan PT. UNIJAYA memasarkan beberapa item atau varian produk.  Kalau harga produknya disamakan semua, walaupun dari segi biaya tidak masalah, resikonya akan terjadi kanibalisasi produk.  Artinya, produk-produk PT. UNIJAYA justru bersaing satu sama lain.  Jadi, harga sekumpulan produk dari satu perusahaan harus diatur sedemikian untuk memperoleh keuntungan yang optimal. Praktek-praktek product mix pricing adalah:

  • Penetapan harga lini produk (product-line pricing),
  • Penetapan harga berdasarkan opsi fitur (Optional Feature Pricing)
  • Penetapan harga untuk sekumpulan produk sekaligus (product-bundling pricing).
 Product-line pricing

Umumnya perusahaan menawarkan beberapa item produk sekaligus.  Perusahaan otomotif dari Korea Hyundai, misalnya, langsung menawarkan 12 item produk pada awal expansinya.  Produk-produk tersebut kalau diamati dapat diurutkan mulai dari yang paling sederhana (bottom-line) ATOZ M/T sampai yang paling mewah (upper-line) Grandeur 3.0 A/T.

Manajemen tentu menetapkan selisih harga yang teratur (price-steps) mulai dari item sederhana sampai ke yang paling mewah.  Adapun selisih harga itu perlu mempertimbangkan perbedaan biaya antar tipe, evaluasi perbedaan fitur dan harga-harga pesaing.  Jika jarak harga terlalu rendah, maka pembeli akan cenderung membeli versi yang lebih mewah.  Sebaliknya, kalau terlalu jauh, maka versi lebih sederhana menjadi pilihan.

Optional Feature Pricing

Teknik ini merupakan penawaran harga akhir yang didasarkan pada perlengkapan tambahan (fitur) yang diinginkan pembeli. Banyak produk yang harga akhirnya ditentukan berdasarkan perlengkapan tambahan yang diinginkan pembeli.  Misalnya, harga mobil Kijang standar adalah Rp 115.000.000.  Harga itu bisa meningkat menjadi Rp 125.000.000, misalnya, dengan tambahan tanduk depan, electric window, power steering, dan air conditioner.

Price-bundling strategy

Beberapa produk yang dijual sekalgus umumnya lebih murah dibanding kalau dijual satu-satu.  Misalnya, tiket terusan ke Ancol lebih murah dibanding total harga semua fasilitas.  Sering pula barang yang berbeda dikemas menjadi satu bungkusan, kemudian dijual dengan satu harga.  Katakanlah deterjen Daia 1 kg harganya Rp 7500, Giv harganya Rp 1000, dan Omo Biru harganya Rp 2500.

Ketiga merek dikemas dalam satu bungkusan kemudian dihargai Rp 10.000.  Selain merangsang konsumen untuk membeli lebih banyak, tujuan bundling pricing ini adalah untuk memperkenalkan item kurang laku, yang didomplengkan dengan item yang laku.  Produk baru sering didomplengkan dengan produk lama yang laku.

Pure Bundling (Bundling Murni)

Dalam strategi ini, perusahaan hanya menjual produk-produk tersebut dalam bentuk satu paket kesatuan (disebut juga paket kombo). Konsumen tidak memiliki pilihan untuk membeli barang-barang di dalam paket secara terpisah atau eceran.

  • Mekanisme: Produk A dan Produk B wajib dibeli bersamaan sebagai Paket AB. Anda tidak bisa membeli Produk A saja atau Produk B saja.
  • Tujuan Utama: Memaksimalkan volume penjualan dari produk yang kurang populer dengan cara mengikatnya secara mutlak pada produk yang sangat populer, atau menyederhanakan lini produk.
  • Contoh Nyata:
    • Provider TV Kabel Zaman Dulu: Anda wajib membeli paket saluran olahraga, berita, dan anak-anak sekaligus. Anda tidak bisa berlangganan saluran olahraga saja.
    • Pembelian Kendaraan: Paket mobil baru yang sudah dilengkapi dengan sistem pendingin udara (AC) dan pemutar audio bawaan pabrik. Anda tidak bisa meminta potongan harga dengan alasan “membeli mobil tanpa AC”.

Mixed Bundling (Bundling Campuran)

Dalam strategi ini, perusahaan menjual produk-orang tersebut dalam bentuk paket, tetapi pada saat yang sama tetap menyediakan opsi bagi konsumen untuk membeli setiap produk secara terpisah (eceran) dengan harga normal. [7, 8, 9]

  • Mekanisme: Konsumen bisa membeli Paket AB dengan harga diskon (misal: Rp15.000). Namun, jika mau, mereka juga diizinkan membeli Produk A saja (Rp10.000) atau Produk B saja (Rp8.000).
  • Tujuan Utama: Menangkap segmen pasar yang lebih luas (price discrimination). Perusahaan bisa menjaring konsumen yang hanya butuh satu produk tunggal, sekaligus merangsang konsumen lain untuk membeli paket karena merasa “hemat” (surplus konsumen meningkat). [10, 11, 12]
  • Contoh Nyata:
    • Restoran Cepat Saji: Anda bisa membeli “Paket Kombo” (Burger + Kentang + Minum) seharga Rp45.000, atau Anda bisa memesan Burgernya saja seharga Rp35.000.
    • Software / Perangkat Lunak: Adobe menawarkan paket “Creative Cloud All Apps” (semua aplikasi seharga Rp800.000/bulan), tetapi Anda tetap bisa berlangganan Photoshop saja seharga Rp300.000/bulan jika tidak membutuhkan aplikasi lainnya.

Tabel Ringkasan Perbandingan

Karakteristik Pure BundlingMixed Bundling
Opsi Pembelian EceranTidak Ada (Wajib Paket)Ada (Bisa Paket / Eceran)
Fleksibilitas KonsumenSangat RendahSangat Tinggi
Harga Paket vs EceranTidak bisa dibandingkan karena tidak ada harga eceran.Harga paket selalu lebih murah dibanding total harga eceran digabung.
Risiko BisnisDapat membuat konsumen batal beli jika mereka merasa dipaksa membeli barang yang tidak mereka butuhkan.Lebih rumit dalam menentukan struktur harga agar opsi eceran tidak mematikan minat beli paket.

Secara umum, dalam teori pemasaran modern, mixed bundling dinilai jauh lebih efektif dalam menghasilkan keuntungan maksimal karena tidak menolak permintaan konsumen yang hanya menginginkan satu produk spesifik.

Jika Anda tertarik, saya bisa menjabarkan simulasi matematis sederhana tentang bagaimana mixed bundling bisa menghasilkan keuntungan (profit) yang lebih tinggi bagi perusahaan dibandingkan pure bundling. Bagaimana menurut Anda?

3. Berdasarkan Struktur Biaya dan Akses 

Strategi ini memecah biaya menjadi beberapa komponen pembayaran guna memaksimalkan keuntungan dari tingkat pemakaian konsumen:

Freemium Pricing

Menyediakan versi gratis untuk menjaring massa besar, lalu menarik biaya untuk fitur lanjutan (seperti studi kasus Jotform).

Subscription Pricing

Subscription pricing (strategi harga berbasis langganan) adalah model bisnis di mana konsumen membayar biaya secara berkala (biasanya bulanan atau tahunan) untuk mendapatkan akses terus-menerus ke suatu produk, layanan, atau konten. Berbeda dengan model tradisional “beli putus” (one-time purchase), konsumen tidak memiliki produk tersebut selamanya, melainkan hanya menyewa hak akses selama masa langganan aktif.

Cara Kerja

Akses Kontinu: Konsumen membayar di awal periode (misal: setiap tanggal 1) untuk menggunakan layanan selama satu bulan ke depan.

  • Pembaruan Otomatis (Auto-Renewal): Tagihan biasanya akan didebit otomatis dari kartu kredit, dompet digital, atau rekening konsumen di akhir periode kecuali konsumen memilih untuk berhenti (cancel).
  • Fleksibilitas Paket (Tiered Tiers): Perusahaan biasanya membagi langganan menjadi beberapa tingkatan harga berdasarkan fitur atau jumlah pengguna (Contoh: Paket Basic, Standard, dan Premium).

Keuntungan

Bagi Perusahaan:

  • Pendapatan yang Dapat Diprediksi (Predictable Revenue): Perusahaan bisa memproyeksikan arus kas ke depan dengan melihat jumlah pelanggan aktif (Metrik: Monthly Recurring Revenue / MRR).
  • Retensi Pelanggan Lebih Tinggi: Mengunci konsumen dalam jangka panjang dan mengurangi biaya untuk terus-menerus mencari pelanggan baru

 Bagi Konsumen:

  • Biaya Awal Rendah (Low Upfront Cost): Konsumen tidak perlu keluar uang jutaan rupiah di awal untuk menikmati software atau layanan mahal; cukup bayar puluhan ribu per bulan.
  • Selalu Mendapat Update: Konsumen otomatis mendapatkan versi software atau konten terbaru tanpa biaya tambahan.

Contoh:

  • SaaS & Software: Adobe Creative Cloud (Photoshop/Illustrator tidak bisa dibeli putus lagi, wajib langganan bulanan), Microsoft 365, dan Canva Pro.
  • Hiburan & Streaming: Netflix, Spotify, Disney+, dan YouTube Premium
  • Jaringan wifi: Indihome, MyRepublic, FirstMedia
“Pay-as-you go” Pricing

Pay-as-you-go (PAYG) pricing (juga dikenal sebagai usage-based pricing atau consumption-based pricing) adalah strategi harga di mana konsumen hanya membayar berdasarkan volume penggunaan aktual terhadap suatu produk atau layanan. Berbeda dengan model “beli putus” tradisional atau paket “langganan tetap” (flat-rate subscription), model ini tidak memiliki biaya bulanan yang kaku. Skema penagihannya dianalogikan persis seperti tagihan listrik atau air—jika Anda memakai banyak, tagihan naik; jika Anda tidak memakainya sama sekali dalam satu bulan, tagihannya adalah nol.

Karakteristik
  • Tanpa Kontrak Mengikat: Konsumen bebas menggunakan layanan kapan saja tanpa komitmen jangka panjang atau penalti pembatalan.
  • Adanya Metrik Pengukuran yang Jelas: Biaya dihitung berdasarkan satuan unit nilai yang terukur secara transparan (seperti gigabyte penyimpanan, menit durasi panggilan, atau jumlah transaksi).
  • Biaya Awal Rendah atau Nol: Konsumen tidak perlu mengeluarkan modal besar (capital expenditure) di awal untuk mulai menikmati layanan.
Contoh:
  • Cloud Computing & Infrastruktur IT: Layanan komputasi awan seperti Amazon Web Services (AWS), Google Cloud, Microsoft Azure, atau penyedia lokal seperti IDCloudHost. Pengguna menyewa kapasitas server dan hanya membayar per detik atau jam saat server tersebut menyala. [5, 7]
  • API & Layanan Pengembang: OpenAI (pencipta ChatGPT). Para pengembang aplikasi yang menggunakan teknologi AI mereka tidak membayar biaya bulanan tetap, melainkan membayar per jutaan token/kata yang diproses oleh sistem.
  • Transportasi & Fasilitas Umum: Sistem kartu transportasi JakLingko di Jakarta menggunakan fitur Pay-As-You-Go. Saldo kartu pengguna akan terpotong secara otomatis murni berdasarkan jarak kilometer perjalanan yang mereka tempuh.
  • Telekomunikasi: Kartu seluler prabayar tradisional. Pulsa terpotong murni per jumlah menit saat menelpon atau per MB kuota internet yang dikonsumsi.
Keuntungan dan Risiko

Bagi Konsumen:

  • Sangat Adil & Transparan: Biaya sejalan langsung dengan nilai yang mereka dapatkan (cost aligns with value).
  • Fleksibilitas Tinggi: Sangat cocok untuk bisnis rintisan (Startup) yang anggarannya terbatas dan pemakaian layanannya masih naik-turun tiap bulan.
  • Ketidakpastian Anggaran: Sulit bagi tim keuangan untuk memprediksi pengeluaran bulan depan karena tagihan berfluktuasi secara dinamis.

Bagi Perusahaan:

  • Menurunkan Hambatan Masuk (Barrier to Entry): Calon konsumen tidak takut mencoba karena mereka tidak dipaksa membayar paket mahal di depan.
  • Pendapatan Skala Besar: Ketika bisnis konsumen berkembang dan pemakaian mereka membengkak, pendapatan perusahaan ikut naik secara otomatis tanpa perlu melakukan teknik penjualan ulang.
  • Arus Kas Sulit Diprediksi: Kebalikan dari model langganan biasa (fixed subscription) yang pendapatannya stabil, arus kas perusahaan bermodel PAYG cenderung naik-turun mengikuti tren musiman konsumen

4. Berdasarkan Kondisi Pasar dan Kompetisi (Market-Oriented Pricing)

Strategi yang mengacu pada situasi ekosistem bisnis eksternal secara berkala:

  • Competition-Based Pricing: Menetapkan harga murni dengan memantau, menyamai, atau sedikit memotong harga yang dipasang oleh kompetitor terdekat.
  • Dynamic Pricing: Mengubah harga secara fleksibel dalam hitungan jam atau menit berdasarkan algoritma permintaan (supply and demand) real-time. Contoh: Tarif ojek online saat jam pulang kerja atau tiket pesawat menjelang liburan.

 5. Berdasarkan Persepsi Konsumen

  •  Value-Based Pricing: Menetapkan harga berdasarkan kalkulasi kepuasan dan nilai manfaat produk di mata konsumen, bukan dari biaya produksi.
  • Premium Pricing (Prestige Pricing): Sengaja mematok harga sangat tinggi demi membangun citra eksklusif, mewah, dan berkualitas tinggi agar konsumen merasa bangga memilikinya.
  • Fairness-based Pricing: Menetapkan harga berdasarkan persepsi keadilan atau fairness harga atau cara menetapkannya.
  • Affordability-based pricing: Menetapkan harga berdasarkan kemampuan konsumen membayarnya dan penerimaan konsumen atas harga tersebut berdasarkan daya beli dan persepsi tingkat harga.

7. Strategi Harga Berdasarkan Biaya

Acuan utama penetapan harga adalah biaya.  Terdapat dua teknik yang biasa digunakan, yaitu:

  • Mark-up pricing, yaitu dengan menambahkan mark-up yang diinginkan pada penjualan. Perhitungan berikut ini disajikan sebagai contoh.

Tingkat penjualan yang diinginkan= 50 unit produk
Biaya tetap= Rp 50.000
Biaya variabel= Rp 42.500
Biaya per unit = (50.000 + 42.500)/50= Rp 1850
Misalkan mark-up yang diinginkan adalah 20%, maka harga menjadi:

  • Target return pricing, yaitu penetapan harga yang didasarkan pada target pengembalian investasi yang diinginkan. Misalnya, perusahaan sudah menginvestasikan Rp 75.000 dan mampu menjual 50 unit produk. Kalau perusahaan menginginkan tingkat pengembalian 20%, maka harga dapat diutak-atik sebagai berikut:

  • Penetapan harga berdasarkan target volume titik impas.Katakanlah perusahaan memilih harga Rp 2300.  Pertanyaannya, pada tingkat harga tersebut, berapa produk yang harus dijual agar tercapai titik impas? Berdasarkan perhitungan di bawah ini, perusahaan harus menjual 35 produk agar tercapai titik impas.

8. Strategi Harga Berdasarkan Harga Pesaing

Harga ditetapkan berdasarkan harga yang sudah atau diperkirakan akan ditetapkan pesaing.  Dua teknik yang lazim digunakan adalah:

  • Menetapkan harga berdasarkan harga pesaing yang sudah ada, yaitu menetapkan harga sama, di bawah, ataupun di atas harga yang telah ditetapkan pesaing. Apabila menetapkan harga sama, perusahaan bersiap untuk bersaing langsung dengan pesaing. Harga di bawah pesaing memiliki resiko persepsi kualitas lebih rendah. Namun, selama perusahaan dapat meyakinkan kualitas produk, strategi ini dapat berhasil, terutama bila perbedaan harga signifikan dan konsumen sensitif terhadap harga. Penetapan harga di atas pesaing tentu bertujuan untuk menciptakan persepsi kualitas lebih tinggi.  Strategi ini perlu didukung jaminan kualitas. Apabila konsumen mengetahui bahwa kualitas produk kita sama saja dengan produk pesaing, tentu mereka akan berpikir dua kali untuk membeli produk kita yang lebih mahal.
  • Penetapan harga berdasarkan harga yang diperkirakan akan ditetapkan pesaing. Penetapan harga seperti ini sering terjadi pada tender.  Dalam tender setiap peserta membuat perhitungan harga secara tertutup lalu diekspos saat tender dilakukan.  Dalam proses tersebut tidak berarti bahwa harga terendah yang akan menang. Karena bagaimana pun harga terkait dengan kualitas pekerjaan.

    Yang perlu diketahui perusahaan adalah kualitas pekerjaan yang diinginkan pemilik proyek serta anggaran yang mereka sediakan.  Buatlah penawaran sesuai anggaran dan kualitas yang diinginkan pemilik proyek.

Tabel “IF THEN” Strategi Harga

KONDISI / SITUASI (IF)STRATEGI HARGA (THEN)DESKRIPSI SINGKAT TINDAKANKONTEKS YANG SESUAI (CONTOH)
Produk baru unik dan konsumen awal tidak sensitif harga.Skimming Pricing.Pasang harga awal tinggi lalu turunkan bertahap.Buku edisi hard-cover yang rilis pertama kali sebelum versi murah.
Pasar sangat sensitif harga dan volume menurunkan biaya.Penetration Pricing.Pasang harga rendah untuk kejar volume cepat.Strategi cost-leadership untuk menghambat masuknya pesaing.
Menjual banyak varian produk agar tidak saling kanibal.Product-line Pricing.Buat tangga selisih harga antar varian secara teratur.Urutan tipe mobil Hyundai dari tipe standar ke tipe termewah.
Harga akhir bergantung pada perlengkapan tambahan pilihan konsumen.Optional Feature PricingJual produk standar murah, tambah biaya untuk fitur opsiona.lMobil Kijang standar yang ditambah AC, power steering, dan aksesoris
Ingin memperkenalkan item kurang laku bersama produk lakuPrice-bundling StrategyKemas beberapa produk jadi satu dengan harga paket murahPaket tiket terusan Ancol atau gabungan paket tiga merek deterjen.
Produk utama butuh suku cadang/perlengkapan wajib khususCaptive-product PricingJual produk utama murah dan produk pelengkap mahalPrinter laser HP dengan toner original wajib merek HP
Memiliki komponen biaya tetap (abonemen) dan biaya variabelTwo-parts PricingTetapkan tarif tetap rendah ditambah biaya sesuai pemakaianTiket masuk pintu gerbang Ancol, atau tagihan PLN dan Telkom
Ingin menjaring massa besar lewat akses gratis awalFreemium PricingSediakan versi gratis dan tarik biaya untuk fitur lanjutanAplikasi perangkat lunak digital (seperti studi kasus Jotform)
Produk dipakai terus-menerusSubription PricingTentukan biaya berlangganan (subscription pricing) dengan mempertimbangkan  keseimbangan antara kebutuhan menutup biaya operasional dan kebutuhan menjaga agar harga tetap menarik bagi konsumen dalam jangka panjang.Konsumen membayar biaya secara berkala (biasanya bulanan atau tahunan) untuk mendapatkan akses terus-menerus ke suatu produk, layanan, atau konten.
Fokus murni memantau dan menyamai gerakan kompetitorCompetition-Based PricingPasang harga menyamai atau sedikit memotong kompetitorPersaingan ketat di ekosistem bisnis eksternal yang serupa
Permintaan pasar berubah sangat cepat secara real-timeDynamic PricingUbah harga fleksibel dalam hitungan jam atau menitTarif ojek online saat jam pulang kerja atau tiket pesawat liburan
Mengacu pada kepuasan dan manfaat di mata konsumenValue-Based PricingHitung harga dari nilai manfaat, bukan biaya produksiProduk dengan kepuasan tinggi tanpa memedulikan modal awal
Ingin membangun citra eksklusif, mewah, dan status sosialPremium / Prestige PricingSengaja mematok harga sangat tinggi demi gengsiBarang-barang bermerek mewah agar konsumen merasa bangga
Mengacu pada aspek keadilan di mata konsumenFairness-based Pricing)Tetapkan harga berdasarkan persepsi keadilan konsumenPenetapan harga transparan yang dinilai adil secara moral oleh pasar
Mengacu pada daya beli dan kemampuan bayar target pasarAffordability-based PricingSesuaikan tingkat harga dengan batas daya beli konsumenProduk massal yang menyasar masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah
Menginginkan margin keuntungan pasti dari total biaya per unitMark-up PricingTambahkan persentase keuntungan langsung pada biaya unitPerusahaan retail/dagang yang ingin profit instan per unit produk
Ingin mengembalikan investasi (ROI) sesuai target persentaseTarget Return PricingHitung harga berdasarkan target pengembalian nilai investasi).Perusahaan bermodal besar dengan target balik modal berkala (
Ikut serta dalam tender proyek atau lelang tertutupEstimated Competitor BiddingBuat penawaran rahasia sesuai anggaran pemilik proyekPengajuan proposal anggaran tertutup untuk memenangkan proyek fisik