Kepercayaan sebagai Konsep Multidimensi

Pengertian awal menyatakan kepercayaan adalah kesediaan Trustor menghadapi situasi beresiko (vulnerable) sehubungan dengan harapan positif pada pihak lain (Trustee). Nooteboom (2011) menggambarkannya dalam kalimat: “I trust when I am vulnerable to actions of another but I believe that no significant harm will be done.” Terjemahan bebasnya: “Saya percaya dan bersedia menghadapi resiko bahwa pihak yang saya percaya tidak melakukan tindakan yang dipercayakan atau dijanjikan, tetapi saya kepercayaan saya tidak akan disia-siakan orang yang saya percaya.” Pandangan ini bersifat unidimensi dan pada awalnya mewarnai pengertian kepercayaan (Legood et al., 2021).

Dalam perkembangannya, para ahli semakin menerima bahwa kepercayaan adalah konsep multidimensi yang berisikan unsur kognitif (cognitive), afektif (affective) dan moral atau etika  (Jones & George, 1998; Knight & Chervany, 1996; Lewicki & Brinsfield, 2012). Keempat dimensi tersebut dapat menyusun kepercayaan secara bersama-sama dan membentuk kepercayaan menyeluruh (overall trust) (Halliburton & Poenaru, 2010). Namun, berdasarkan peran masing-masing dimensi, para ahli mengajukan sub-konsep kepercayaan kognitif (cognitive trust) (Hancock et al., 2023; Legood et al., 2021; McAllister, 1995), kepercayaan afektif (affective trust) (Hancock et al., 2023; Legood et al., 2021; McAllister, 1995) dan kepercayaan berbasis moral (moral-based trust) (Baron, 1998; Tariverdi, 2024; Uslaner, 2001b). Yang dominan di antara ketiganya adalah kepercayaan kognitif (Isaeva et al., 2020).

Kepercayaan Kognitif

Kepercayaan kognitif adalah kepercayaan yang dibangun berdasarkan penilaian rasional atas kualitas Trustee, seperti kemampuan dan keandalan, yang dinilai berdasarkan hasil interaksi sebelumnya dan penilaian profesional pihak lain. Penilaian rasional didasarkan pada pengetahuan. Pengetahuan Trustor terhadap Trustee berkisar dari tidak tahu sama sekali (pengetahuan nol) sampai mengetahui secara sempurna. Menurut Johnson dan Grayson (2005) dan  McAllister (1995), apabila pengetahuan Trustor terhadap Trustee sempurna (complete knowledge), tidak diperlukan kepercayaan, sedangkan apabila nol, tidak ada dasar untuk membangun kepercayaan kognitif. Karena itu, menurut mereka, yang diperlukan adalah pengetahuan yang cukup (tidak nol dan tidak sempurna) dengan mana Trustor dapat memprediksi dengan yakin bahwa Trustee akan melakukan atau menyelesaikan tidakan yang dipercayakan.

Kepercayaan Afektif

Kepercayaan afektif adalah kepercayaan yang dibentuk berdasarkan afeksi yang mewarnai   hubungan interpersonal antara Trustor dan Trustee (Johnson & Grayson, 2005). Kepercayaan afektif ditandai dengan perasaan aman dan hubungan yang kuat. Inti kepercayaan afektif adalah ketergantungan Trustor pada Trustee secara emosi. Menurut Johnson dan Grayson (2005), apabila hubungan emosional sangat dalam, kepercayaan pada Trustee bisa tidak sesuai dengan akal sehat. Selain relasi, faktor lain yang mempengaruhi kepercayaan afektif adalah reputasi dan motif Trustee. Motif Trustee yang terkesan tidak mencari keuntungan sendiri dan sebaliknya mengutamakan kepentingan Trustor dapat menciptakan kepercayaan afektif (Johnson & Grayson, 2005; McAllister, 1995).

Kepercayaan berbasis Moral

Wolfensberger dan Wrigley (2019) menggarisbawahi adanya perdebatan tentang apakah percaya memiliki kandungan moral atau tidak. Keduanya menganggap bahwa kepercayaan memiliki kandungan moral dengan dua alasan. Pertama, pelanggaran kepercayaan biasanya menimbulkan perasaan dikhianati pada Trustor, seperti biasa dirasakan pada kasus-kasus yang berkaitan dengan moralitas. Kedua, apabila dipercaya, Trustee memiliki kewajiban moral untuk menjaga kepercayaan itu.  Tariverdi (2024) menyatakan tidak ada kewajiban moral untuk percaya. Yang ada adalah kewajiban moral untuk dipercaya (trustworthiness) dengan sifat-sifat jujur, adil, sopan dan setia pada janji. Jadi, tidak ada kewajiban moral untuk percaya (Tariverdi, 2024), yang ada adalah kewajiban moral menjaga kepercayaan (Wolfensberger & Wrigley, 2019).

Dalam hubungan personal, kepercayaan adalah hal yang baik (trust) dan kecurigaan (distrust) adalah hal yang tidak menyenangkan bagi yang dicurigai  (Knight & Chervany, 1996). Baron (1998) menyatakan bahwa kepercayaan adalah suatu kebajikan, bukan sekedar keyakinan (trust is a virtue, not just a belief). Menurutnya, kebajikan kepercayaan (the virtue of trust) adalah kecenderungan untuk mempercayai bahwa orang lain akan bertindak benar, sesuai dengan norma yang berlaku dalam dirinya dan orang lain.

Uslaner (2001b) menyatakan kepercayaan tidak hanya bergantung pada pengalaman kognitif dan afektif, akan tetapi juga nilai moral. Dengan kata lain, dimensi moral kepercayaan didasarkan pada pikiran positif bahwa orang lain akan melakukan apa yang dipercayakan padanya, sesuai prinsip: “Lakukan pada orang lain apa yang ingin orang lakukan pada diri anda (Uslaner, 2001a).

Kepercayaan strategik (strategic trust) mencerminkan harapan tentang bagaimana orang-orang berperilaku dalam hubungan percaya. Trustor harus percaya pada Trustee dan Trustee percaya pada Trustor. Kepercayaan moralistik (moralistic trust) berisikan pernyataan normatif tentang bagaimana sebaiknya orang-orang berperilaku, yaitu lakukan pada orang lain apa yang anda ingin orang lain lakukan pada anda (Uslaner, 2001b).

Behavioral Trust

Kepercayaan bukan sesuatu yang statis. Artinya, ada tindakan yang dilakukan pemercaya (Trustor) setelah menyatakan atau memutuskan percaya (De Groote & Bertschi-Michel, 2021; Dumouchel, 2005). Misalnya, anda mau ke rumah teman sore nanti dengan motor. Setelah mengamati keadaan cuaca, anda percaya sore nanti akan hujan. Dengan kepercayaan itu, anda tidak diam saja (do nothing), tetapi mempersiapkan diri menghadapi hujan sore nanti, misalnya menyiapkan membungkus barang bawaan dengan material tahan air, menyiapkan mantel hujan, sarung tangan tahan air dan sepatu bot. Tindakan yang mengikuti kepercayaan itulah yang disebut behavioral trust (De Groote & Bertschi-Michel, 2021). Jadi, kepercayaan adalah konsep yang aktif karena ada tindakan yang mengikutinya.

Dalam konteks jejaring sosial, Adali et al. (2010) menyatakan, behavioral trust dapat diidentifikasi melalui pola komunikasi antara mereka yang terhubung dalam jejaring. Maksudnya, relasi sosial tidak selalu membutuhkan kepercayaan. Namun, menurut mereka, pola komunikasi timbal-balik (dyadic communication) antar anggota yang saling mempercayai dan tidak adalah berbeda. Mereka juga menyatakan bahwa komunikasi dalam relasi sosial yang berlandaskan kepercayaan akan lebih intensif dibanding yang tidak.

You may want to read:

  1. Pengertian Kepercayaan
  2. Trustor dan Trustee
  3. Faktor-faktor Pembentuk Kepercayaan
  4. Tipe-tipe Kepercayaan
  5. Trust, Distrust, dan Mistrust
  6. Trust dan Trustworthiness

Referensi

  1. Adali, S., Escriva, R., Goldberg, M. K., Hayvanovych, M., Magdon-Ismail, M., Szymanski, B. K., Wallace, W. A., & Williams, G. (2010). Measuring behavioral trust in social networks. 2010 IEEE International Conference on Intelligence and Security Informatics, 150–152. https://doi.org/10.1109/ISI.2010.5484757
  2. Baron, J. (1998). Trust: Beliefs and morality. In A. Ben-Ner & L. Putterman (Eds.), Economics, Values, and Organization (1st ed., pp. 408–418). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9781139174855.017
  3. De Groote, J. K., & Bertschi-Michel, A. (2021). From Intention to Trust to Behavioral Trust: Trust Building in Family Business Advising. Family Business Review, 34(2), 132–153. https://doi.org/10.1177/0894486520938891
  4. Dumouchel, P. (2005). Trust as an Action. European Journal of Sociology, 46(3), 417–428. https://doi.org/10.1017/S0003975605000160
  5. Halliburton, C., & Poenaru, A. (2010). The Role of Trust in Consumer Relationships. ESCP Europe Business School.
  6. Hancock, P. A., Kessler, T. T., Kaplan, A. D., Stowers, K., Brill, J. C., Billings, D. R., Schaefer, K. E., & Szalma, J. L. (2023). How and why humans trust: A meta-analysis and elaborated model. Frontiers in Psychology, 14, 1081086. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1081086
  7. Isaeva, N., Gruenewald, K., & Saunders, M. N. K. (2020). Trust theory and customer services research: Theoretical review and synthesis. The Service Industries Journal, 40(15–16), 1031–1063. https://doi.org/10.1080/02642069.2020.1779225
  8. Johnson, D., & Grayson, K. (2005). Cognitive and affective trust in service relationships. Journal of Business Research, 58(4), 500–507. https://doi.org/10.1016/S0148-2963(03)00140-1
  9. Jones, G. R., & George, J. M. (1998). The Experience and Evolution of Trust: Implications for Cooperation and Teamwork. The Academy of Management Review, 23(3), 531. https://doi.org/10.2307/259293
  10. Knight, H. D., & Chervany, N. L. (1996). The Meanings of Trust. Carlson School of Management University of Minnesota. https://www.academia.edu/26734531/The_Meanings_of_Trust
  11. Legood, A., Van Der Werff, L., Lee, A., & Den Hartog, D. (2021). A meta-analysis of the role of trust in the leadership- performance relationship. European Journal of Work and Organizational Psychology, 30(1), 1–22. https://doi.org/10.1080/1359432X.2020.1819241
  12. Lewicki, R., & Brinsfield, C. (2012). Measuring trust beliefs and behaviours. In Handbook of Research Method on Trust (Fergus Lyon, Guido Mollering&Mark Saunders, pp. 29–37). Edward Elgar Publishing.
  13. McAllister, D. J. (1995). Affect and cognition-based trust as foundations for interpersonal cooperation in organizations. Academy of Management Journal, 38(1), 24–59. https://doi.org/10.2307/256727
  14. Nooteboom, B. (2011). The Dynamics of Trust: Communication, Action and Third Parties. Comparative Sociology, 10(2), 166–185. https://doi.org/10.1163/156913311X566553
  15. Tariverdi, A. (2024). Trust from Ethical Point of View: Exploring Dynamics Through Multiagent-Driven Cognitive Modeling (arXiv:2401.07255). arXiv. http://arxiv.org/abs/2401.07255
  16. Uslaner, E. M. (2001a). The Moral Foundations of Trust (1st ed.). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511614934
  17. Uslaner, E. M. (2001b). Trust as Moral Value. Department of Government and Politics University of Maryland. https://www.researchgate.net/publication/237268768_Trust_as_a_Moral_Value
  18. Wolfensberger, M., & Wrigley, A. (2019). Trust in Medicine: Its Nature, Justification, Significance, and Decline (1st ed.). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/9781108763479