Faktor-faktor Pembentuk Kepercayaan

Faktor-faktor yang membentuk kepercayaan berasal dari trustee, trustor dan konteks (Carr, 2014; Fischer-Hübner et al., 2012; Hancock et al., 2023). Faktor-faktor yang bekerja bisa dari satu, dua atau tiga sumber sekaligus.

Faktor-faktor terkait Trustee

Faktor-faktor terkait trustee terkait dengan jawaban atas pertanyaan: “Kenapa dapat trustee dipercaya?” Jawabannya mungkin macam-macam, tetapi dapat digolongkan ke dalam tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan moral atau kombinasi dua atau tiga di antara ketiga aspek. Kepercayaan kognitif didasarkan pada penilaian rasional atas kualitas, seperti kemampuan dan keandalan trustee, yang dibangun berdasarkan hasil pengalaman interaksi sebelumnya dan penilaian tentang kesamaan dan kualifikasi profesional pihak lain (Legood et al., 2021). Dengan kata lain, menurut McAllister (1995), perlu ada alasan bagus (good reasons) untuk mempercayai trustee. Kepercayaan afektif dibentuk oleh hubungan emosional antara trustee dan trustor (McAllister, 1995). Kepercayaan bisa terbentuk karena sikap hormat pada trustee, yang membuat kerpecayaan terhadap trustee sebagai kewajiban moral (Isaeva et al., 2020).  Misalnya, bagi umat Katolik, Paus adalah pemimpin yang sangat dihormati. Percaya pada Paus dapat menjadi kewajiban moral dan tidak percaya dapat menimbulkan rasa bersalah.

Faktor-faktor terkait Trustor

Terkait pembentukan kepercayaan, Carr (2014) menyatakan tidak semua orang rasional. Dalam situasi total ignorance, kepercayaan terhadap trustee bisa muncul tanpa pengetahuan (McAllister, 1995). Selain karena trustee dapat dipercaya (trustworthiness), kepercayaan bisa muncul karena pemercaya (trustor) punya sifat kepribadian mudah percaya (propensity to trust) (Hancock et al., 2023).  Jadi, sekali lagi, trustor juga bisa percaya pada trustee walaupun irasional, sekalipun tingkat kepercayaan demikian yang muncul adalah rendah. Sebagai tambahan, seseorang bisa juga percaya karena paksaan atau tidak ada pilihan lain (Carr, 2014). Dalam behavioral trust, kepercayaan adalah kecenderungan berperilaku (Carr, 2014; Isaeva et al., 2020). Kepercayaan demikian dapat dideteksi berdasarkan pola komunikasi antara trustor dan trustee (Adali et al., 2010).

Faktor-faktor Kontekstual

Konteks adalah konsep yang tidak spesifik (Carr, 2014). Konteks bisa komunitas yang menjadi tempat hidup, bernaung (belong to) atau sumber identitas Trustor, bisa pula bagian hidup Trustor (Carr, n.d.). Lainnya adalah tingkat saling ketergantungan, komunikasi antar manusia (human to human communication, tanggung jawab, integritas, konsistensi perilaku dan emosi, yang digambarkan melalui saluran komunikasi non-verbal, serta kesamaan ras dan agama (Hancock et al., 2023). Menurut Hancock et al. (2023) pengaruh kontekstual ini dapat berubah apabila interaksi antara Trustor dan Trustee semakin intensif.

Knight dan Chervany (1996), keputusan percaya bisa disebabkan oleh situasi (situational decision to trust), bukan oleh faktor-faktor terbaik Trustor dan Trustee. Dikatakan bahwa keputusan percaya yang didorong oleh situasi dilakukan kalau peluang manfaat percaya lebih besar dari resiko kerugian percaya.

You may want to read:

  1. Pengertian Kepercayaan
  2. Trustor dan Trustee
  3. Kepercayaan sebagai Konsep Multidimensi
  4. Tipe-tipe Kepercayaan
  5. Trust, Distrust, dan Mistrust
  6. Trust dan Trustworthiness

Referensi

  1. Adali, S., Escriva, R., Goldberg, M. K., Hayvanovych, M., Magdon-Ismail, M., Szymanski, B. K., Wallace, W. A., & Williams, G. (2010). Measuring behavioral trust in social networks. 2010 IEEE International Conference on Intelligence and Security Informatics, 150–152. https://doi.org/10.1109/ISI.2010.5484757
  2. Carr, L. J. (2014). Trust – distinguishing forms, kinds, and degrees: I [Academic paper]. Philosophy Department Rivier University. Retrieved June 15, 2024, from https://www2.rivier.edu/faculty/lcarr/Trust%20-%20distinguishing%20kinds,%20forms%20and%20degrees.%20Part%20I.pdf
  3. Fischer-Hübner, S., Katsikas, S., & Quirchmayr, G. (Eds.). (2012). Trust, Privacy and Security in Digital Business: 9th International Conference, TrustBus 2012, Vienna, Austria, September 3-7, 2012. Proceedings (Vol. 7449). Springer Berlin Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-32287-7
  4. Hancock, P. A., Kessler, T. T., Kaplan, A. D., Stowers, K., Brill, J. C., Billings, D. R., Schaefer, K. E., & Szalma, J. L. (2023). How and why humans trust: A meta-analysis and elaborated model. Frontiers in Psychology, 14, 1081086. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1081086
  5. Isaeva, N., Gruenewald, K., & Saunders, M. N. K. (2020). Trust theory and customer services research: Theoretical review and synthesis. The Service Industries Journal, 40(15–16), 1031–1063. https://doi.org/10.1080/02642069.2020.1779225
  6. Knight, H. D., & Chervany, N. L. (1996). The Meanings of Trust. Carlson School of Management University of Minnesota. https://www.academia.edu/26734531/The_Meanings_of_Trust
  7. Legood, A., Van Der Werff, L., Lee, A., & Den Hartog, D. (2021). A meta-analysis of the role of trust in the leadership- performance relationship. European Journal of Work and Organizational Psychology, 30(1), 1–22. https://doi.org/10.1080/1359432X.2020.1819241
  8. McAllister, D. J. (1995). Affect and cognition-based trust as foundations for interpersonal cooperation in organizations. Academy of Management Journal, 38(1), 24–59. https://doi.org/10.2307/256727