Last updated on October 31, 2025 by Bilson Simamora
Kepercayaan (trust) dibutuhkan dalam pengambilan keputusan yang mengandung persepsi resiko (Bhattacharya et al., 1998; Jøsang & Presti, 2004). Kesediaan menerima situasi rentan resiko (vulnerability) karena mempercayakan suatu tanggung jawab kepada orang lain adalah aspek dasar kepercayaan (Hill & O’Hara O’Connor, 2005; Knight & Chervany, 1996; Sobel, 2002). Namun, dalam percayaan, pemercaya (Trustor) harus yakin bahwa Trustee akan melakukan tanggung jawabnya agar terbangun kepercayaan (Adams, 2005). Jadi, kepercayaan adalah keyakinan kognitif (cognitive believe) yang dihasilkan evaluasi informasi tentang Trustee (Hill & O’Hara O’Connor, 2005; Mayer et al., 1995; O’Hara, 2010).
Kepercayaan ada hanya kalau ada resiko yang menyertai kepercayaan berupa kemungkinan kinerja yang dipercaya (Trustee) tidak seperti yang diharapkan pemercaya (Trustor) (Bhattacharya et al., 1998; De Jager, 2017; Jøsang & Presti, 2004; Mclain & Hackman, 1999; Sobel, 2002). Misalnya, dalam transaksi online, pembeli sudah mengirimkan uang (pembeli percaya). Resiko yang dihadapi pembeli adalah kemungkinan penjual tidak mengirimkan barang atau barang dikirimkan tetapi tidak sesuai spesifikasi yang disepakati (resiko). Kekhawatiran akan resiko itulah yang disebut persepsi resiko (Jacoby & Kaplan, 1972; Murray & Enang, 2022).
Beberapa peneliti menggunakan kesediaan menerima resiko ini sebagai esensi dasar kepercayaan. Misalnya, Chow (2012) menyatakan kepercayaan sebagai kesedian Trustor untuk menerima situasi rentan resiko sebagai akibat realisasi tanggung jawab, janji atau perilaku Trustee berada di luar kendali Trustor (“The willingness of a trustor to become vulnerable to a trustee whose behavior is beyond his control”). Pengertian ini juga dinyatakan Jøsang dan Presti (2004) yang menyatakan kepercayaan sebagai tingkat kesediaan satu pihak untuk bergantung pada pihak lain dalam situasi tertentu, yang disertai perasaan relatif aman, walaupun konsekuensi negatif tidak terabaikan. Selengkapnya:
”The extent to which one party is willing to depend on the other party in a given situation with a feeling of relative security, even though negative consequences are possible”.
Hill dan O’Hara O’Connor (2005) menyatakan bahwa semua peneliti kepercayaan setuju situasi rentan (vulnerability) Trustor sebagai aspek dasar kepercayaan. Namun, menurut mereka, selain aspek tersebut, juga dibutuhkan aspek lain.
Para ahli berbeda pandangan tentang aspek lain apa yang dimaksud. Sebagian ahli (antara lain: Hill & O’Hara O’Connor, 2005; Mayer et al., 1995; O’Hara, 2010) menganggapnya sebagai keyakinan kognitif (cognitive believe), yang diperoleh dengan cara mengevaluasi informasi tentang Trustee terlebih dahulu sebelum memutuskan percaya ataupun tidak percaya. Seperti dikatakan Adams (2005) dan Hoy & Tschannen-Moran (1999), walaupun menempatkan diri dalam posisi rentan resiko, Trustor harus meyakinkan diri bahwa Trustee akan melakukan tindakan, tugas ataupun janji yang dipercayakan.
Dalam pandangan ini, keyakinan (belief) adalah bahan dasar pembentuk kepercayaan. Misalnya, dalam bidang politik, Winsvold et al. (2023) mengartikan kepercayaan politik sebagai keyakinan bahwa para aktor dan institusi politik akan memperhatikan minat dan nilai-nilai masyarakat saat membuat keputusan atau mengambil tindakan politik atau
“The belief that political actors and institutions will look after citizens’ interests and values when it comes to making political decisions and taking political action”.
Bhattacharya et al. (1998) juga menyatakan pendapat sama bahwa kepercayaan adalah harapan akan hasil positif (atau bukan negatif) yang dapat diterima pemercaya (trustor) berdasarkan harapan atas tindakan pihak lain dalam interaksi yang ditandai oleh ketidakpastian.
“An expectancy of positive (or nonnegative) outcomes that one can receive based on the expected action of another party in an interaction characterized by uncertainty.”
Kalau harapan negatif maka konsumen mengalami ketidakpercayaan (distrust).
Pertanyaannya, apa yang membuat Trustor yakin? Menurut Hoy dan Tschannen-Moran (1999), yang dilihat Trustor adalah tingkat dapat dipercaya (trustworthiness) Trustee dan kemampuan mereka untuk melakukan tugas yang dipercayakan, seperti dinyatakan dalam definisi ini:
“Kepercayaan adalah kesediaan individu maupun kelompok untuk menerima keadaan rentan resiko dengan memperpercayai pihak lain berdasarkan keyakinan bahwa pihak yang dipercaya adalah baik (benevolent), siap sedia (reliable), mampu (competent), jujur (honest), dan terbuka (open).
Persepsi Resiko dalam Pemasaran
Para peneliti (antara lain: R. A. Bauer, 1960; He & Rucker, 2023; Horvath et al., 2021; G. Kim & Koo, 2016) percaya bahwa konsumen menghadapi ketidakpastian terkait merek, produk dan layanan. Lebih jelasnya, konsumen menghadapi resiko dalam pembelian produk-produk yang kualitasnya baru dapat diketahui setelah produk dipakai beberapa waktu (Kotler & Keller, 2021). Demikian pula dalam pembelian layanan (service) (Isaeva et al., 2020; Kotler & Keller, 2021).
Bauer (1960) menyatakan bahwa perilaku konsumen tidak terlepas dari resiko, dalam arti bahwa setiap tindakan, ada konsekuensi yang tidak bisa mereka antisipasi dan sebagian di antaranya tidak menyenangkan.
“Consumer behavior involves risk in the sense that any action of a consumer will produce consequences which he cannot anticipate with anything approximating certainty, and some of which at least are likely to be unpleasant.”
Terkait kepercayaan, resiko adalah besarnya kemungkinan pihak yang dipercaya (Trustee) tidak atau gagal melaksanakan sesuatu yang dipercayakan padanya (Bhattacharya et al., 1998; Challender et al., 2019; Chow et al., 2012; Nooteboom, 2011; Rousseau et al., 1998).
Pertanyaannya, dapatkah ‘kemungkinan’ tersebut dinyatakan secara numerik, misalnya 20% atau 0.20? Kalau tidak bisa, maka sebenarnya resiko adalah ketidakpastian (uncertainty), yang artikan Horvath et al. (2021) sebagai persepsi ketidakjelasan keadaan di masa depan yang tidak bisa diprediksi atau diantisipasi karena kurangnya informasi. Jika demikian, bukankah resiko lebih tepat dinamakan sebagai perceived uncertainty?
Cunningham (1967) tidak mempermasalahkan operasionalisasi konsep resiko sebagai ‘kemungkinan’ akan terjadinya hal buruk atau ketidakpastian karena dampaknya penggunaan istilah kecil dan dapat diabaikan.
Lebih jauh lagi, Murray dan Enang (2022) tidak lagi fokus pada diketahui atau tidaknya peluang terjadinya kejadian buruk, akan tetapi pada faktor psikologis dalam diri individu. Menurut mereka, resiko adalah keadaan psikologis individu yang dilanda keraguan, ketidakpastian, atau kekhawatiran terhadap hasil suatu peristiwa.
Pandangan persepsi resiko sebagai kekhawatiran telah dinyatakan Jacoby dan Kaplan (1972) dalam gagasan jenis-jenis resiko yang dihadapi konsumen, yaitu:
- Resiko fungsional, yaitu kekhawatiran bahwa produk tidak berfungsi sesuai janji atau seharusnya. Resiko ini makin besar untuk produk yang kualitasnya tidak bisa dibuktikan segera atau butuh waktu lama untuk membuktikannya (high credence quality). Sebagai contoh, kualitas suplemen kesehatan kulit tidak bisa dibuktikan pada waktu pembelian, akan tetapi setelah beberapa minggu pemakaian.
- Resiko keuangan (financial risk), yaitu kekhawatiran kehilangan uang apabila produk tidak berfungsi atau janji tidak ditepati. Misalnya, dalam transaksi online, anda mentransfer uang sebelum barang diterima. Ada kekhawatiran apakah barang tidak dikirim sesuai janji, sehingga uang anda hilang sia-sia.
- Resiko fisik, yaitu kekhawatiran bahwa produk berbahaya bagi tubuh. Misalnya, terhadap bedak wajah yang belum dikenal, terdapat kekhawatiran bedak tersebut dapat merusak kulit wajah kalau tidak cocok.
- Resiko psikologi, kekhawatiran bahwa produk merusak atau menurunkan harga diri (self-esteem) atau citra diri (self-image). Sewa gedung kelurahan murah, namun banyak orang tidak mau menggunakannya kelurahan sebagai tempat resepsi pernikahan. Salah satu alasannya adalah resiko psikologi, apa nanti kata orang? Muka mau ditaruh di mana?
- Resiko sosial, yaitu kekhawatiran terhadap sikap negatif orang-orang sekitar terhadap diri kita terkait produk yang kita beli. Banyak perilaku kita yang mendapat perhatian dari kelompok sosial, termasuk dalam pembelian produk. Misalkan anda tinggal di rumah sederhana. Karena mampu secara keuangan, anda membeli mobil Mercedes Benz seharga tujuh milyar. Resiko yang anda hadapai adalah gunjingan tetangga.
Kategorisasi resiko Jacoby dan Kaplan (1972) di atas berangkat dari perspektif produk sebagai barang. Dalam teori tersebut, apabila dihubungkan dengan teori kepercayaan, barang dan produsen memiliki posisi sama sebagai Trustee.
Dengan keberadaan resiko, apabila memutuskan percaya, pemercaya (trustor) bersedia menempatkan dirinya pada posisi rentan terhadap resiko kerugian apabila yang dipercaya (trustee) tidak bertindak sesuai harapan pemercaya (Bhattacharya et al., 1998; Challender et al., 2019; Chow et al., 2012; Rousseau et al., 1998). Akibat keberadaan peluang dirugikan tersebut, McLeod (2023) menyatakan bahwa kepercayaan adalah sesuatu yang berbahaya (trust is dangerous).
Perimbangan Harapan dan Resiko
Persentase pada Gambar 1 menunjukkan harapan, yaitu probabilitas keberhasilan Trustee memenuhi harapan, sesuai dengan pandangan kepercayaan kognitif. Dalam garis propabilitas tersebut, kepercayaan dan resiko berada dalam sebuah keseimbangan (Jøsang & Presti, 2004) dengan total persentase 100%. Kalau harapan adalah 70%, maka persepsi resiko adalah 30% (Gambar 1). Angka 70% ini hanya kira-kira (judgment), makanya disebut perceived trust.

Sumber: Jøsang, A., & Presti, S. L. (2004). Analysing the Relationship between Risk and Trust. In C. Jensen, S. Poslad, & T. Dimitrakos (Eds.), Trust Management (Vol. 2995, pp. 135–145). Springer Berlin Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-540-24747-0_11
Apabila persepsi persepsi resiko adalah 0%, maka harapan adalah 100%, apakah kepercayaan 100%? Seperti telah disampaikan, pada umumnya para ahli (antara lain: (Bhattacharya et al., 1998; Jøsang & Presti, 2004; Mclain & Hackman, 1999; Sobel, 2002) menyatakan, apabila even di masa depan dapat diprediksi 100% atau resiko 0%, maka kepercayaan bukan isu yang relevan lagi. Pernyataan ini terkesan kontradiktif. Bukankah kepercayaan 100% berarti sangat kuat? Kenapa dikatakan tidak relevan?
Perlu diingat bahwa harapan atau keyakinan (belief) tanpa situasi rentan resiko (vulnerable) bukan kepercayaan (O’Hara, 2010). Jadi, kalau resiko adalah 0%, maka kepercayaan tidak relevan digunakan.
Berangkat dari pendapat O’Hara (2010), apabila di pagi hari kita menyatakan: “Saya yakin siang ini matahari bersinar terik” dan kita tidak menghadapi resiko apapun kalau ternyata pada siang hari turun hujan, maka pernyataan itu hanya prediksi atau harapan, bukan kepercayaan.
Lain halnya apabila diikuti perilaku beresiko, maka pernyataan itu adalah kepercayaan. Misalnya, karena yakin siang nanti matahari bersinar terik, kita menjemur padi di pagi hari. Resiko yang kita hadapi adalah padi basah kalau ternyata siang turun hujan. Pada konteks ini, karena mengandung resiko, maka pernyataan “Saya yakin siang ini matahari bersinar terik” adalah kepercayaan.
Kepercayaan Memengaruhi Persepsi Resiko atau Persepsi Resiko Memengaruhi Kepercayaan?
Ada lima pandangan tentang hubungan antara kepercayaan dengan resiko.
- Pertama, kepercayaan dan resiko tidak memiliki hubungan. Eckel dan Wilson (2004) tidak menemukan hubungan statistik antara sikap terhadap resiko dan keputusan untuk percaya. Kepercayaan tidak menurunkan resiko, akan tetapi meningkatkan kesediaan Trustor menerima resiko atau menghilangkan resiko dari pertimbangan mereka (Cazier, 2007; Isaeva et al., 2020).
- Kedua, hubungan antara kepercayaan dan resiko ada, tetapi belum sepenuhnya dimengerti (Hong, 2015; Mclain & Hackman, 1999). Bukti-bukti empiris menunjukkan hasil yang beraneka ragam tentang hubungan antara kepercayaan dan resiko (De Jager, 2017). Pada sisi lain, menurut Hong (2015) resiko dan keputusan berkaitan erat namun tidak jelas bagaimana keduanya berhubungan. Tidak jelas apakah resiko sebagai anteseden kepercayaan, kepercayaan itu sendiri ataukah hasil (outcome) kepercayaan (Mayer et al., 1995).
- Ketiga, persepsi resiko mempengaruhi trust (Ansori & Nugroho, 2024).
- Keempat, kepercayaan dan resiko memiliki hubungan dua arah (bidirectional). Artinya, keduanya saling mempengaruhi, di mana resiko memengaruhi kepercayaan dan kepercayaan memengaruhi resiko. Keduanya memiliki pengaruh sama kuat terhadap perilaku individu (G. Kim & Koo, 2016).
- Kelima, trust mempengaruhi persepsi resiko (D. J. Kim et al., 2008; Lee & Song, 2013).
You may want to read:
- Pengertian Kepercayaan
- Trustor dan Trustee
- Kepercayaan sebagai Konsep Multidimensi
- Faktor-faktor Pembentuk Kepercayaan
- Tipe-tipe Kepercayaan
- Trust, Distrust, dan Mistrust
- Trust dan Trustworthiness
Referensi
- Adams, B. D. (2005). Trust vs. Confidence. Humansystem Incorporated; DRDC Toronto No. CR-2005-203. https://apps.dtic.mil/sti/tr/pdf/ADA630696.pdf
- Ansori, A. D., & Nugroho, S. S. (2024). The Role of Trust on the Continuance Usage Intention of Indonesian Mobile Payment Application. Gadjah Mada International Journal of Business, 26(2). https://doi.org/10.22146/gamaijb.70452
- Bauer, P. C. (2013). Clearing the Jungle: Conceptualizing and Measuring Trust and Trustworthiness. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.2325989
- Bauer, R. A. (1960). Consumer Behavior as Risk Taking. In Dynamic Marketing for a Changing World, Proceedings of the 43rd (Hancock, R.S., Ed, pp. 389–398). Conference of the American Marketing Association.
- Bhattacharya, R., Devinney, T. M., & Pillutla, M. M. (1998). A Formal Model of Trust Based on Outcomes. The Academy of Management Review, 23(3), 459. https://doi.org/10.2307/259289
- Blaze, M., Feigenbaum, J., Ioannidis, J., & Keromytis, A. D. (1999). The Role of Trust Management in Distributed Systems Security. In J. Vitek & C. D. Jensen (Eds.), Secure Internet Programming (Vol. 1603, pp. 185–210). Springer Berlin Heidelberg. https://doi.org/10.1007/3-540-48749-2_8
- Butler, J. V., Giuliano, P., & Guiso, L. (2016). THE RIGHT AMOUNT OF TRUST: The Right Amount of Trust. Journal of the European Economic Association, 14(5), 1155–1180. https://doi.org/10.1111/jeea.12178
- Carr, L. J. (2014). Trust – distinguishing forms, kinds, and degrees: I [Academic paper]. Philosophy Department Rivier University. https://www2.rivier.edu/faculty/lcarr/Trust%20-%20distinguishing%20kinds,%20forms%20and%20degrees.%20Part%20I.pdf
- Cazier, J. A. (2007). A Framework and Guide for Understanding the Creation of Consumer Trust. Journal of International Technology and Information Management, 16(2). https://doi.org/10.58729/1941-6679.1227
- Challender, J., Farrel, P., & McDermott, P. (2019). Building Collaborative Trust in Construction Procurement Strategies (First Edition). John Wiley & Sons, Ltd.
- Chow, P. T., Cheung, S. O., & Chan, K. Y. (2012). Trust-building in construction contracting: Mechanism and expectation. International Journal of Project Management, 30(8), 927–937. https://doi.org/10.1016/j.ijproman.2012.03.002
- Cobern, W. W. (2015). Beliefs. In R. Gunstone (Ed.), Encyclopedia of Science Education (pp. 117–117). Springer Netherlands. https://doi.org/10.1007/978-94-007-2150-0_353
- Cunningham, S. M. (1967). The Major Dimensions of Perceived Risk. In Risk Taking and Information Handling in Consumer Behavior (Cox, D.F., Ed, pp. 82–108). Harvard University Press.
- De Jager, C. E. (2017). A Question of Trust: The Pursuit of Consumer Trust in the Financial Sector by Means of EU Legislation. Journal of Consumer Policy, 40(1), 25–49. https://doi.org/10.1007/s10603-016-9334-8
- Delgado-Ballester, E., & Munuera-Alemán, J. L. (2005). Does brand trust matter to brand equity? Journal of Product & Brand Management, 14(3), 187–196. https://doi.org/10.1108/10610420510601058
- Eckel, C. C., & Wilson, R. K. (2004). Is trust a risky decision? Journal of Economic Behavior & Organization, 55(4), 447–465. https://doi.org/10.1016/j.jebo.2003.11.003
- Faulkner, P. (2015). The attitude of trust is basic. Analysis, 75(3), 424–429. https://doi.org/10.1093/analys/anv037
- Frazier, M. L., Johnson, P. D., & Fainshmidt, S. (2013). Development and validation of a propensity to trust scale. Journal of Trust Research, 3(2), 76–97. https://doi.org/10.1080/21515581.2013.820026
- Griffin, D., & Tversky, A. (1992). The weighing of evidence and the determinants of confidence. Cognitive Psychology, 24(3), 411–435. https://doi.org/10.1016/0010-0285(92)90013-R
- He, S., & Rucker, D. D. (2023). How uncertainty affects information search among consumers: A curvilinear perspective. Marketing Letters, 34(3), 415–428. https://doi.org/10.1007/s11002-022-09657-0
- Hertzberg, L. (1988). On the attitude of trust. Inquiry, 31(3), 307–322. https://doi.org/10.1080/00201748808602157
- Hill, C. A., & O’Hara O’Connor, E. A. (2005). A Cognitive Theory of Trust. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.869423
- Hong, I. B. (2015). Understanding the consumer’s online merchant selection process: The roles of product involvement, perceived risk, and trust expectation. International Journal of Information Management, 35(3), 322–336. https://doi.org/10.1016/j.ijinfomgt.2015.01.003
- Horvath, J., Gavurova, B., Bacik, R., & Fedorko, R. (2021). Identification of Uncertainty Factors in the Consumer Behaviour of the New Generation of Customers at the E-commerce Level: Reference: Horvath, J., Gavurova, B., Bacik, R. & Fedorko, R. (2021). Identification of Uncertainty Factors in the Consumer Behaviour of the New Generation of Customers at the E-commerce Level. Journal of Tourism and Services, 22(12), 168-183. doi: 10.29036/jots.v12i22.263. Journal of Tourism and Services, 12(22), 168–183. https://doi.org/10.29036/jots.v12i22.263
- Hoy, W. K., & Tschannen-Moran, M. (1999). Five Faces of Trust: An Empirical Confirmation in Urban Elementary Schools. Journal of School Leadership, 9(3), 184–208. https://doi.org/10.1177/105268469900900301
- Isaeva, N., Gruenewald, K., & Saunders, M. N. K. (2020). Trust theory and customer services research: Theoretical review and synthesis. The Service Industries Journal, 40(15–16), 1031–1063. https://doi.org/10.1080/02642069.2020.1779225
- Jacoby, J., & Kaplan, L. B. (1972). The Components of Perceived Risk. Proceedings of the Annual Conference of the Association for Consumer Research, 382–393.
- Johnson, D., & Grayson, K. (2005). Cognitive and affective trust in service relationships. Journal of Business Research, 58(4), 500–507. https://doi.org/10.1016/S0148-2963(03)00140-1
- Jøsang, A., Keser, C., & Dimitrakos, T. (2005). Can We Manage Trust? In P. Herrmann, V. Issarny, & S. Shiu (Eds.), Trust Management (Vol. 3477, pp. 93–107). Springer Berlin Heidelberg. https://doi.org/10.1007/11429760_7
- Jøsang, A., & Presti, S. L. (2004). Analysing the Relationship between Risk and Trust. In C. Jensen, S. Poslad, & T. Dimitrakos (Eds.), Trust Management (Vol. 2995, pp. 135–145). Springer Berlin Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-540-24747-0_11
- Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk. Econometrica, 47(2), 263. https://doi.org/10.2307/1914185
- Khan, F. I., Amyotte, P. R., & Amin, Md. T. (2020). Advanced methods of risk assessment and management: An overview. In Methods in Chemical Process Safety (Vol. 4, pp. 1–34). Elsevier. https://doi.org/10.1016/bs.mcps.2020.03.002
- Kim, D. J., Ferrin, D. L., & Rao, H. R. (2008). A trust-based consumer decision-making model in electronic commerce: The role of trust, perceived risk, and their antecedents. Decision Support Systems, 44(2), 544–564. https://doi.org/10.1016/j.dss.2007.07.001
- Kim, G., & Koo, H. (2016). The causal relationship between risk and trust in the online marketplace: A bidirectional perspective. Computers in Human Behavior, 55, 1020–1029. https://doi.org/10.1016/j.chb.2015.11.005
- Knight, H. D., & Chervany, N. L. (1996). The Meanings of Trust. Carlson School of Management University of Minnesota. https://www.academia.edu/26734531/The_Meanings_of_Trust
- Kotler, P., & Keller, K. (2021). Marketing Management, EBook, Global Edition (16th ed). Pearson Education, Limited.
- Lee, J.-H., & Song, C.-H. (2013). Effects of trust and perceived risk on user acceptance of a new technology service. Social Behavior and Personality: An International Journal, 41(4), 587–597. https://doi.org/10.2224/sbp.2013.41.4.587
- Lepelit, J. (2018). Help! Trust has become an obsession [Post]. LinkedIn. https://www.linkedin.com/pulse/help-trust-has-become-obsession-julien-lepetit-/
- Lund, M. S., Solhaug, B., & Stølen, K. (2010). Evolution in Relation to Risk and Trust Management. Computer, 43(5), 49–55. https://doi.org/10.1109/MC.2010.134
- Marsh, S. P. (1994). Formalising Trust as a Computational Concept. University of Stirling.
- Mayer, R. C., Davis, J. H., & Schoorman, F. D. (1995). An Integrative Model of Organizational Trust. The Academy of Management Review, 20(3), 709. https://doi.org/10.2307/258792
- McAllister, D. J. (1995). Affect and cognition-based trust as foundations for interpersonal cooperation in organizations. Academy of Management Journal, 38(1), 24–59. https://doi.org/10.2307/256727
- Mclain, D. L., & Hackman, K. (1999). Trust, risk, and decision making in organizational change. Public Administration Quarterly, 23(2), 152–176. http://www.jstor.org/stable/40861778
- McLeod, C. (2023). Trust. In The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Fall 2023 Edition). Department of Philosophy, Stanford University. https://plato.stanford.edu/entries/trust/
- Murray, J., & Enang, I. (2022). What Is Risk? In J. Murray & I. Enang, Conceptualising Risk Assessment and Management across the Public Sector (pp. 1–16). Emerald Publishing Limited. https://doi.org/10.1108/978-1-80043-692-320221001
- Nooteboom, B. (2011). The Dynamics of Trust: Communication, Action and Third Parties. Comparative Sociology, 10(2), 166–185. https://doi.org/10.1163/156913311X566553
- O’Hara, E. A. (2010). Trustworthiness and Contract. In P. J. Zak (Ed.), Moral Markets (pp. 173–203). Princeton University Press. https://doi.org/10.1515/9781400837366.173
- Peter, J. P., & Tarpey, Sr., L. X. (1975). A Comparative Analysis of Three Consumer Decision Strategies. Journal of Consumer Research, 2(1), 29. https://doi.org/10.1086/208613
- Petrusic, W. M., & Baranski, J. V. (2003). Judging confidence influences decision processing in comparative judgments. Psychonomic Bulletin & Review, 10(1), 177–183. https://doi.org/10.3758/BF03196482
- Rashid, F., & Edmondson, A. C. (2011). Risky Trust: How Multi-Entity Teams Develop Trust in a High Risk Endeavor. SSRN Electronic Journal. https://doi.org/10.2139/ssrn.1768082
- Rousseau, D. M., Sitkin, S. B., Burt, R. S., & Camerer, C. (1998). Not So Different After All: A Cross-Discipline View Of Trust. Academy of Management Review, 23(3), 393–404. https://doi.org/10.5465/amr.1998.926617
- Sinha, S. K., & Verma, P. (2020). Impact of sales Promotion’s benefits on perceived value: Does product category moderate the results? Journal of Retailing and Consumer Services, 52, 101887. https://doi.org/10.1016/j.jretconser.2019.101887
- Sobel, J. (2002). Can We Trust Social Capital? Journal of Economic Literature, 40(1), 139–154. http://www.jstor.org/stable/2698596
- Solhaug, B., Delgesem, D., & Stølen, K. (2007). Why Trust is not Proportional to Risk. The Second International Conference on Availability, Reliability and Security (ARES’07), 11–18. https://doi.org/10.1109/ARES.2007.161
- Solhaug, B., & Stølen, K. (2012). Uncertainty, Subjectivity, Trust and Risk: How It All Fits together. In C. Meadows & C. Fernandez-Gago (Eds.), Security and Trust Management (Vol. 7170, pp. 1–5). Springer Berlin Heidelberg. https://doi.org/10.1007/978-3-642-29963-6_1
- Tanmoy Sinha. (2019). Risk Assessment and Management. Unpublished. https://doi.org/10.13140/RG.2.2.13427.48160
- Uslaner, E. M. (2001). The Moral Foundations of Trust (1st ed.). Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511614934
- Winsvold, M., Haugsgjerd, A., Saglie, J., & Segaard, S. B. (2023). What makes people trust or distrust politicians? Insights from open-ended survey questions. West European Politics, 1–25. https://doi.org/10.1080/01402382.2023.2268459
- Yamagishi, T., Akutsu, S., Cho, K., Inoue, Y., Li, Y., & Matsumoto, Y. (2015). Two-Component Model of General Trust: Predicting Behavioral Trust from Attitudinal Trust. Social Cognition, 33(5), 436–458. https://doi.org/10.1521/soco.2015.33.5.436