Persepsi Konsumen


Citation:

Simamora, B. (2025, November 28). Persepsi Konsumen. Zenodo. https://doi.org/10.5281/zenodo.17743667


Daftar Isi

  1. Tingkat-tingkat Kognisi
  2. Pengertian Persepsi
  3. Sensasi
  4. Perceptual Process
  5. Konsep-konsep yang Sering Disalahartikan sebagai Persepsi
  6. Terminologi yang Kacau

Tingkat-tingkat Kognisi

Kognisi adalah proses berpikir. Persepsi adalah  kognisi tingkat rendah. Selain manusia, beberapa binatang, seperti anjing juga melakukan proses persepsi. Bahkan burung gagak (crows) memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving).

Tingkat-tingkat Kognisi
  1. Kognisi tingkat rendah mencakup proses mental dasar, yang berhubungan langsung dengan informasi sensorik, seperti sensasi,  persepsi, dan perhatian.
  2. Kognisi tingkat menengah mencakup memori, pembelajaran, dan pemahaman dasar — ​​pemrosesan dan pengorganisasian informasi.
  3. Kognisi tingkat tinggi mencakup penalaran kompleks, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan penilaian — proses yang memerlukan evaluasi, perbandingan, dan integrasi berbagai informasi.

Kognisi tingkat rendah adalah berupa pemrosesan stimuli yang ditangkap indera (sensory receptors), seperti pada persepsi.

Pengertian Persepsi

Persepsi adalah proses pemilihan (selection), pengorganisasian (organizing) dan interpretasi (interpretation) informasi sensorik yang kompleks untuk memahami lingkungan sekitar kita. Definisi ini didasarkan pada mekanisme bottom-up, dalam mana individu pasif dan indera (sensory receptors) dibombardir oleh berbagai stimulus dari lingkungan di mana individu berada.

Gambar 1. Overall Perceptual Process

Selain mekanisme bottom-up, kita juga bisa dengan sengaja mengarahkan indera kita pada pada stimuli tertentu (distall stimulus) atau mekanisme top-down, di mana perhatian kita dipusatkan pada atribut stimuli tertentu (proximal stimulus). Pada mekanisme bottom-up, proses persepsi digerakkan oleh stimuli, sedangkan pada

Kategori StimuliArtiContoh
Distal stimuliStimulus pada dunia nyataRendang
Proximal stimulusAtribut tertentu stimulusRasa garam rendang

Sensasi

Sensasi adalah proses proses alami, saat mana organ-organ indera kita (sensory receptors) mendeteksi rangsangan dari lingkungan, menangkap, kemudian mengirimkannya ke otak. Sensasi dianggap sebagai proses “bottom-up“, artinya sensasi terjadi karena terpaan informasi sensorik mentah yang berasal dari lingkungan.

  • Deteksi (detection): Sensasi terjadi ketika reseptor sensorik khusus di mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit kita diaktifkan oleh suatu stimulus. Misalnya, retina mata Anda terstimulasi oleh cahaya, atau reseptor sentuhan di kulit Anda terstimulasi oleh tekanan.
  • Transduksi (transduction): Setelah deteksi,  energi fisik suatu stimulus (seperti gelombang cahaya, gelombang suara, atau molekul kimia) dikonversi menjadi sinyal saraf elektrokimia yang dapat ditransmisikan ke otak.
  • Pengiriman sinyal (relaying Signals): Sinyal saraf ini kemudian dikirim melalui jalur spesifik ke otak untuk diproses lebih lanjut. Sinyal itu sendiri merupakan data; sinyal tersebut belum memiliki makna inheren.

Faktor-faktor yang memengaruhi sensasi adalah:

Faktor Stimulus

  • Absolute threshold: Intensitas minimum stimulus yang dapat dideteksi indera (sensory receptors) kita. Jika stimulus terlalu lemah atau samar-samar tidak dapat dideteksi sensory receptor, sehingga sensasi tidak terjadi. Perbedaan stimuli dengan lingkungannya juga termasuk dalam absolute threshold. Bila kita berbisik kepada teman di sebuah konser, tentu bisikan kita menjadi tidak jelas karena kalah oleh hingar-bingar musik. Lain halnya kalau berbisik di tengah malam sepi, bisikan kita akan terdeteksi oleh telinga. Perbedaan dengan lingkungan juga terjadi antar produk. Apabila mirip dengan produk lain, produk kita tidak mudah dikenali, bahkan bisa dianggap sebagai produk yang mirip itu.

 

Pada gambar ini, misalnya, Rodeo sengaja memiripkan produk dengan Oreo dengan harapan tidak tercapai absolute threshold, sehingga Rodeo dianggap Oreo.

  • Terminal threshold: Intensitas maksimum suatu stimulus yang dapat diterima oleh sistem sensorik. Intensitas terlalu tinggi, seperti suara terlalu keras, tidak menghasilkan sensasi yang diharapkan atau memicu sensasi yang lain, seperti terlalu bising.
  • Intensity (intensitas) di antara absolute threshold dan terminal threshold. Semakin tinggi intensitasnya, semakin mudah stimulus ditangkap sensory receptors. Hubungan intensitas dan kemudahan ditangkap ini tidak linier, tetapi nonlinier.
  • Sensory adaptation (adaptasi sensorik): Sebuah fenomena di mana indera kita menjadi kurang responsif terhadap stimulus yang konstan dan tidak berubah seiring waktu. Misalnya apabila kita mencium bau busuk pertama kali, maka rasanya menusuk. Namun, seiring berjalannya waktu, baunya terasa berkurang karena indera penciuman kita beradaptasi.

Untuk perubahan sebuah stimulus, faktor yang memengaruhi adalah differential threshold, yang disebut juga just noticable difference (J.N.D), yaitu perbedaan minimal stimuli yang sama (sebelum dan setelah perubahan) yang dapat dideteksi stimuli.

Dalam pemasaran, yang dipertanyakan dengan konsep ini adalah apakah konsumen menyadari perubahan atau tidak. Ada dua perubahan, yaitu perubahan positif dan negatif. Perubahan positif adalah perubahan yang mendapat respon positif dari konsumen, seperti pemberian insentif (diskon, kupon, suku bunga rendah dan lain-lain), peningkatan kualitas produk dan lain-lain. Perubahan negatif adalah perubahan yang mendapat respon negatif dari konsumen, seperti penaikan harga, penghapusan insentif, penurunan kualitas dan lain-lain.

Biasanya perubahan positif perlu dideteksi konsumen. Karena itu besarnya perubahan harus mencapai differential threshold atau di atasnya. Sebaliknya,  perubahan negatif idealnys tidak dapat dideteksi oleh konsumen agar mereka tidak kecewa, karena itu, besarnya perubahan sebaiknya lebih kecil dari atau tidak mencapai differential threshold.Untuk mengurangi dampaknegatifnya, biasanya perubahan negatif dilakukan bersama perubahan positif. Misalnya, penaikan harga dilakukan bersamaaan dengan product improvement.

Hukum Weber tentang perubahan menyatakan bahwa konsumen tidak fokus pada nilai nominal tetapi nilai relatif perubahan, yaitu nilai nominal perubahan dibanding stimuli awal. Misalnya, besarnya diskon mobil adalah Rp 500.000. Apabila harga awal mobil adalah Rp 650.000.000, maka nilai relatif diskon adalah 0.07%.

Apalah artinya diskon sebesar0.07% untuk pembelian mobil? Tentu konsumen akan mengabaikannya. Lain halnya untuk pembelian TV LCD seharga Rp 4.000.0000. Diskon Rp 500.000 lebih terasa karena 500.000 : 4.0000.0000=12.5%.

Faktor Penerima Stimulus:

  • Usia: Kualitas indera penglihatan, penciuman, pendengaran dan lain-lain seiring bertambahnya usia.
  • Kelelahan: Kelelahan fisik dan mental dapat mengurangi kemampuan persepsi sensori. Individu yang lelah mungkin melewatkan hal-hal yang biasanya mereka perhatikan.
  • Kesehatan dan penyakit: Berbagai kondisi medis, termasuk gangguan neurologis, ketidakseimbangan elektrolit, dan penyakit kronis, dapat mengganggu fungsi sensorik. Demikian pula, obat-obatan dapat meningkatkan atau mengurangi kemampuan seseorang untuk merasakan rangsangan.
  • Kesehatan reseptor sensorik: Kesehatan dan integritas reseptor sensorik spesifik sangat penting. Kerusakan sel-sel ini, seperti sel-sel rambut di koklea akibat paparan suara keras, dapat secara langsung mengganggu sensasi.

Kesimpulan: Semua faktor fisik mengarah pada satu kesimpulan, yaitu kemampuan indera kita menangkap stimuli.

Faktor Kontekstual dan Psikologis

  • Perhatian: Meskipun berkaitan dengan proses persepsi (perceptual process), perhatian juga dapat memengaruhi sensasi,  dengan menentukan stimulus mana yang diprioritaskan oleh indra kita. Fokus kita dapat meningkatkan kepekaan kita terhadap stimulus tertentu sekaligus membuat kita mengabaikan stimulus lainnya. Seorangf tester makanan akan memusatkan perhatian pada aspek-aspek makanan (rasa, tekstur, aroma) dan mungkin mengabaikan pemandangan sekitar.
  • Motivasi: Motivasi seseorang dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk mendeteksi stimulus. Misalnya, orang tua seringkali lebih sensitif terhadap tangisan anaknya di malam hari dibandingkan suara-suara lain.
  • Lingkungan eksternal: Kondisi seperti pencahayaan, suhu, dan kelembapan dapat memengaruhi sifat-sifat stimulus, sehingga memengaruhi kemampuan kita untuk mendeteksinya. Karena itulah di pusat perbelanjaan cahaya dibuat terang, suhu pas dan musik dipasang tidak keras agar kita lebih mudah menemukan barang yang dicari.

Perceptual Process

Seperti telah disampaikan, sensasi adalah proses proses alami, saat mana organ-organ indera kita (sensory receptors) mendeteksi rangsangan dari lingkungan, menangkap, kemudian mengirimkannya ke otak.

Setelah sinyal saraf elektrokimia stimuli ditransmisikan ke otak dimulailah proses dalam mana kita memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan informasi yang ditangkap indera untuk membentuk gambaran dunia (lingkungan) yang bermakna.

Stimuli yang ditangkap sensory receptors dan dikirim ke otak pada tahap sensasi, belum tentu memasuki proses persepsi. Sebuah stimulus baru diproses oleh otak kalau lolos proses selection, dalam mana otak memberikan perhatian pada suatu stimulus. Karena itu, tahap ini juga disebut attention.

Memilih (selection) —> mengorganisasikan–> menginterpretasi

Setelah mendapat perhatian, selanjutnya otak mengorganisasikan stimulus untuk menghasilkan “percept”, yaitu representasi realitas dalam pikiran. Tidak diperlukan kemampuan verbal pada tahap ini, karena itu binatang pun, seperti anjing, burung gagak, lumba-lumba, simpanse dan lain-lain dapat mengenali pola stimulus (misalnya lingkaran) walaupun tidak punya konsep tentang lingkaran.

Gambar 2. Contoh Stimuli Visual. Sumber: Javanica. (2020). Foto Gugusan Awan yang Membentuk Citra Mirip Karakter Film Kartun Winnie the Pooh. https://web.facebook.com/penerbitjavanica/posts/ini-adalah-foto-gugusan-awan-yang-membentuk-citra-mirip-karakter-film-kartun-win/857476127992695/?_rdc=1&_rdr#.  Keterangan: Ijin pemuatan kembali tidak diperlukan karena Javanica adalah grup Facebook terbuka.

Apabila indera penglihatan kita gambar ini (Gambar 1), maka dalam seleksi,  otak kita akan fokus pada awan, kemudian dalam pengorganisasian, otak tidak sekedar menyimpannya sebagai gulungan awan berwarna putih, namun membentuk sebagai suatu pola. Realitas, yaitu gulungan awan yang terpola itulah yang disebut “percept“. Para ilmuwan akan melihatnya tetap sebagai awan karena mereka menggunakan pendekatan ilmiah, tetapi individu biasa akan memolakannya dalam pikiran karena persepsi  bukan proses ilmiah, tetapi subjektif.

Selection

Dalam pemilihan stimuli ini berlaku premis:

  • Selective exposure, yaitu  mekanisme sadar dan tidak sadar dengan mana individu mencari informasi yang sejalan dengan keyakinan, sikap, dan nilai-nilai yang mereka miliki, dan menghindari informasi yang menantang mereka secara sadar atau tidak sadar.  Ini adalah proses penyaringan informasi bahkan sebelum mencapai tahap atensi.
  • Perceptual defense, yaitu fenomena psikologis di mana seseorang secara tidak sadar mengabaikan atau mendistorsi stimulus yang mereka anggap mengancam, menyinggung, atau mengganggu secara psikologis. Ini adalah bentuk persepsi selektif yang berfungsi sebagai mekanisme perlindungan untuk melindungi individu dari tekanan emosional atau psikologis.
  • Perceptul blocking, adalah tindakan bawah sadar untuk “menghindari” atau menyaring stimulus dari kesadaran. Hal ini terjadi ketika seseorang dibombardir dengan terlalu banyak informasi, dan akibatnya, pikirannya hanya memblokir beberapa stimulus untuk melindungi diri dari kelebihan informasi.
  • Selective retention, yaitu mekanisme yang  menggambarkan kecenderungan seseorang untuk mengingat informasi yang mendukung keyakinan mereka dan melupakan informasi yang bertentangan.
  • Perceptual set adalah kecenderungan bahwa pengalaman, motif, atau konteks masa lalu  memengaruhi  seseorang dalam mempersepsikan stimulus dengan cara tertentu. Ini berarti pola pikir seseorang dapat memengaruhi stimulus mana yang mereka pilih untuk diperhatikan. Pada Gambar 1 misalnya, kenapa kita fokus pada awan? Jawabnya, karena di masa lalu kita pernah mengenal suatu objek yang mirip.

Organizing Sensory Information 

Informasi sensorik harus diorganisir karena mengorganisir banyaknya data yang diterima oleh indera kita, otak kita akan kewalahan, sehingga mustahil diinterpretasi secara efektif. Proses ini sangat penting untuk menciptakan pemahaman yang koheren dan bermakna tentang lingkungan kita. Begini cara otak  otak mengelompokkan sensory information yang masuk secara otomatis.

  • Figure-ground: Otak mengatur bidang visual dengan memisahkan titik fokus (“figur”) dari latar belakangnya (“latar belakang”). Cara ini memungkinkan kita membedakan suatu objek dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, ketika melihat iklan, maka pesan adalah figure dan aspek-aspek lain adalah ground untuk memperkuat pesan.
  • Proximity: Objek yang berdekatan akan dianggap sebagai satu kelompok. Deretan tiga titik yang terpisah namun berjarak dekat akan dianggap sebagai satu set tiga titik, sementara deretan titik yang berjarak jauh akan dianggap sebagai objek individual.
  • Similarity: Benda-benda yang memiliki kesamaan warna, bentuk, ukuran, atau fitur lainnya dikelompokkan bersama. Saat menonton pertandingan sepak bola, Anda menganggap semua pemain dengan seragam berwarna sama berada di tim yang sama.
  • Closure: Otak cenderung mengisi bagian-bagian gambar yang hilang untuk melihat objek yang utuh dan utuh. Contoh, Y*maha akan kita baca sebagai “Yamaha”.
  • Good continuation: Mata kita diarahkan untuk mengikuti jalur yang paling smooth saat mengamati garis. Misalnya, kita lebih mungkin melihat garis bersilangan sebagai dua garis yang berpotongan, bukan empat garis yang bertemu di satu titik.
  • Common fate: Elemen-elemen yang bergerak ke arah yang sama dengan kecepatan yang sama dipersepsikan sebagai satu kelompok. Anda mempersepsikan sekawanan burung yang terbang bersama sebagai satu kesatuan, bukan sekumpulan burung terpisah yang (kebetulan) terbang ke arah yang sama.
Percept

Percept adalah hasil pengorganisasian stimuli. Misalnya anda mendeteksi benda (stimuli) berikut ini.  Untuk memahami percept, mari kita simak cerita berikut ini.

Gambar 3. Contoh Stimuli

Misalnya, anda melihat binatang ini di jalan, kemudian sesampainya,  anda diminta untuk mendeskripsikannya, maka anda akan menceritakan gambaran binatang itu yang anda ingat. Gambaran stimuli yang kita konstruksi dan tertinggal di otak itulah percept. Namun, berbeda dari citra (image), percept adalah representasi stimuli yang baru saja ditangkap sensory receptors.

Apabila sudah memiliki kemampuan berpikir tinggi, anda bisa menceritakan percept, namun cerita itu sendiri bukan percept, melainkan verbalisasi verbalisasi percept.

Anak berumur dua tahun sudah mampu membentuk percept, walaupun belum mampu mendeskripsikannya. Lihat cerita berikut ini.

ContohSeorang bapak yang baru pulang bercukur memangku anaknya yang berumur dua tahun. Sesaat, anaknya menangis karena tidak kenal bapaknya yang dia kenal berjanggut lebat dan panjang.

Dalam cerita ini, saat melihat bapaknya, membentuk percept (representasi mental tentang wajah yang baru dilihatnya), kemudian membandingkannya dengan percept yang tersimpan di dalam otaknya, karena tidak sama, maka ia menangis.

Ingat percept bukan representasi realitas visual saja, tetapi bisa menyangkut:

  1. Auditory, yaitu  stimuli yanf berhubungan dengan indera pendengaran.
  2. Olfactory imagery, yaitu aroma atau bau yang menghadirkan keberadaaan produk dalam pikiran, walaupun stimulus yang bersangkutan tidak ada atau tidak terlihat. Bau roti yang wangi dapat memancing otak untuk membayangkan roti.
  3. Gustatory, yaitu  stimuli berupa rasa.
  4. Tactiles, stimuli yang ditangkap indra perabaseperti sentuhan (feeling of touch), suhu (temperature), perasaan gerakan (feeling of movement) dan tekstur (texture).
  5. Kinethetic, yaitu stimuli berupa  gerakan atau perpindahan orang, binatang, tumbuhan atau benda.
  6. Organic, yaitu kombinasi stimuli yang menggambarkan suasana atau perasaan, yaitu tenang, gembira, bernostalgia, takut, sedih, lapar, lelah, haus, dan seterusnya.

Pertanyaan: Apakah percept dapat dibentuk melalui komunikasi verbal?

Interpretation

Binatang apa itu? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui interpretasi. Interpretasi adalah tahap akhir dan paling subjektif dalam proses persepsi, dengan mana seseorang memberikan makna pada percept.  Ini adalah tahap di mana data sensorik mentah, setelah dipilih dan diorganisasikan, diproses menggunakan pengetahuan, keyakinan, dan ekspektasi unik seseorang untuk membentuk pemahaman yang utuh tentang stimuli.

Interpretasi dapat terjadi secara otomatis dan tanpa disadari, atau dapat menjadi proses yang lebih disengaja dan disadari, tergantung pada kompleksitas stimulusnya.

Mekanisme utama interpretasi melibatkan penggunaan struktur mental yang disebut schemata. Schemata adalah kerangka kognitif—seperti basis data informasi yang tersimpan—yang dikembangkan individu dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman masa lalu. Skema dapat mencakup individu, kelompok sosial, tempat, dan objek.

Schemata (singular: schema) adalah percept yang tersimpan (stored percepts), definisi, standar yang tersimpan dalam otak individu. Otak adalah gudang schemata.  Lebih sistematisnya, schemata terdiri dari:

  • Object schemata: pengetahuan (termasuk ingatan) tentang objek-objek fisik.
  • Self schemata: Keyakinan tentang diri-sendiri.
  • Role schemata: Harapan tentang peranan dan perilaku orang lain (teman, dokter, dosen dan lain-lain).
  • Event schemata (scripts): Harapan tentang bagaimana suatu evan berlangsung (misalnya, makan di restoran)

Interpretasi menghasilkan apa?

Interpretasi memiliki hasil langsung dan lanjutannya. Hasil langsung adalah berupa makna dan pengenalan (rekognisi). Hasil langsung ini bersampak pada perilaku, keputusan dan emosi.

Dampak langsung:

  • Makna atau arti suatu stimulus, misalnya anda diminta untuk menjelaskan apa yang anda lihat pada Gambar 3, lalu anda katakan makna tanda itu adalah “dilarang masuk” untuk kendaraan bermotor.

Gambar 3. Tanda Dilarang Masuk

  • Rekognisi (recognition): Otak membandingkan percept dengan schemata. Untuk memahami konsep ini, penulis menyajikan dua contoh berikut ini:
    1. Dalam cerita di atas: “Seorang bapak yang baru pulang bercukur memangku anaknya yang berumur dua tahun. Sesaat, anaknya menangis karena tidak mengenal (not recognize) bapaknya yang dia kenal berjanggut lebat dan panjang. Si anak membandingkan percept (wajah tanpa janggut) dengan gambaran bapaknya yang tersimpan di otak (wajah dengan janggut lebat). Hasilnya tidak klop (not mach) dan si anak tidak mengenali bapaknya.
    2. Terkait awan putih pada Gambar 1, mekanisme interpretasi yang kita lakukan sama dengan contoh 1. Pertama-tama, kita memodelkan stimulus dalam otak sebagai  suatu pola, itulah percept. Makanya percept disebut juga model mental (mental model). Kemudian, percept dibandingkan dengan model mental serupa yang pernah kita kita alami sebelumnya (schemata). Kemudian kita menyatakannya: “Bentuk awan itu mirip seperti Winnie the Pooh”.

Kategorisasi

Dengan persepsi, kita dapat menggolongkan suatu stimuli ke dalam golongan yang kita kenal, misalnya:

  • Apel itu adalah apel Australia.
  • Jeruk itu berwarna kuning. Lanjutannya, seberapa kuning jeruk itu bukan persepsi, tetapi penilaian (judgment).

Dampak Lanjutan

  • Emosi. Rekognisi dapat menimbulkan emosi. Pada cerita ini: “Seorang bapak yang baru pulang bercukur memangku anaknya yang berumur dua tahun. Sesaat, anaknya menangis karena tidak mengenal (not recognize) bapaknya yang dia kenal berjanggut lebat dan panjang.” Dampak lanjutannya adalah dampak emosional si anak (misalnya takut) yang ditunjukkan dengan tangisan.
  • Sikap, Perilaku dan Keputusan: Misalkan anda masuk ke rumah, kemudian dihadang ibu anda dengan sikap seperti di gambar ini. Proses persepsi anda menginterpretasi sikap ibu anda dan menyimpulkan: “Ibu sedang marah”. Selanjutnya, kemungkinan anda akan takut (emosi) dan  masuk rumah (perilaku) dengan hati-hati (sikap) atau tidak masuk ke rumah (keputusan).

Konsep-konsep yang Sering Disalahartikan sebagai Persepsi

Judgment

Judgment adalah proses kognitif dalam membentuk opini, estimasi, atau kesimpulan setelah mengevaluasi informasi yang tersedia. Persepsi adalah penafsiran informasi sensorik. Judgment adalah penilaian suatu stimuli dan bagaimana menindaklanjutinya. Misalnya, seorang istri berkata pada suaminya: “Sayang, coba dulu masakanku ini, apakah garamnya sudah pas?” Sang suami mencicipi masakan istrinya kemudian berkata: “Rasa asinnya sudah pas, garam jangan ditambah lagi.

Judgment dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ingatan, pengalaman, dan pemikiran kritis. Sang suami dapat melakukan judgment karena berpengalaman sebagai koki di rumah makan padang.

Judgment dapat didasarkan pada persepsi tunggal (single perception) atau beberapa persepsi ganda (multiple perception), tergantung pada kompleksitas situasi dan informasi yang tersedia. Namun, jugment umumnya lebih komprehensif jika didasarkan pada persepsi ganda yang integratif.

Opini

Opini atau pendapat adalah penilaian subjektif atas suatu isu, bukan stimuli. Misalnya, seseorang berkata pada anda: “Coba jelaskan bagaimana keadaan demokrasi di negara kita saat ini.” Kemudian anda menjawab berdasarkan apa yang anda ketahui dan yakini. Jawaban anda itu adalah opini, bukan persepsi.

Terminologi yang Kacau

Dalam pemasaran, banyak konsep atau terminologi yang menggunakan kata persepsi, padahal sebenarnya adalah penilaian atau judgment, seperti perceived price, perceived quality, perceived fairness, dan perceived value. Sekali lagi, persepsi adalah proses menyeleksi, mengorganisasikan dan menginterpretasi stimuli untuk memberikan makna atau mengenali mereka.