Apa itu Validitas? Perbandingan Discrete View dan Unified View

  1. Pendahuluan
  2. Pekembangan Teori Validitas
  3. Discrete View of Validity
  4. Kelemahan Pandangan Diskrit
  5. Unified View of Validity
  6. Apakah Semua Bukti Harus Diperiksa?
  7. Menginterpretasi Nilai Akhir Validitas
  8. Perbandingan Discrete View vs Unified View of Validity
  9. Mana yang Lebih Disukai?
  10. Kesimpulan

Pendahuluan

Riset akademik dalam bidang bisnis dan manajemen sejak lama menghadapi masalah serius berupa penolakan atau ketidakpedulian dari kalangan praktisi. Dalam pemasaran, misalnya, ribuan jurnal telah menerbitkan puluhan ribu artikel yang hampir selalu mencantumkan kontribusi praktis maupun akademis. Namun, hasil penelitian tersebut jarang diperhatikan atau diadopsi oleh praktisi (Hughes et al., 2018; Maiken, 1979; November, 2004).

November (2004) merinci tujuh alasan mengapa praktisi pemasaran tidak menghargai riset akademik. Salah satu alasan utama adalah reduksionisme: penelitian akademik umumnya menggunakan sampel, bukan populasi, sehingga tidak ada jaminan bahwa hasilnya merepresentasikan konsumen nyata. Pertanyaan praktisi seperti “Apakah sampel Anda merepresentasikan konsumen saya?” tidak dapat dijawab secara meyakinkan. Selain itu, masalah akurasi muncul akibat presisi data yang rendah, baik karena keterbatasan alat ukur maupun metode pengumpulan data. Kedua persoalan ini berpangkal pada satu isu mendasar: validitas.

Perdebatan mengenai validitas telah berlangsung lama di kalangan akademisi. Sejak tahun 1950-an, para ahli pendidikan dan psikologi berusaha menyatukan pandangan tentang teori validitas. Namun hingga kini, belum ada konsensus. Pertanyaan apakah validitas merupakan konsep tunggal (unified view) atau terdiri dari berbagai dimensi terpisah (discrete view) masih menjadi perdebatan. Akibatnya, terjadi degradasi makna validitas: banyak penelitian menganggap bahwa lolos uji validitas konstruk sudah cukup, padahal validitas memiliki cakupan yang lebih luas dan kompleks.

Artikel ini bertujuan untuk dua hal. Pertama, menjelaskan validitas menurut dua paradigma utama, yaitu pandangan diskrit (discrete view) dan terpadu (unified view). Kedua, menilai paradigma mana yang lebih relevan dan aplikatif bagi dunia praktik, khususnya dalam menjembatani kesenjangan antara riset akademik dan kebutuhan praktisi.

Pekembangan Teori Validitas

Pada masa-masa awal pemunculannya, pengertian validitas masih berpusat pada pengukuran (measurement) atau uji (test). Pada tahun 1927, dalam catatan Borsboom et al. (2004), Kelley menyatakan sebuah tes atau instrumen adalah valid kalau mampu mengukur apa yang mau diukur (a test is valid if it measures what it purports to measure). Uji validitas adalah sebuah proses untuk memastikan ‘apakah anda mengukur apa yang mau diukur? (“Do you measure what you want to measure?”) (Ruch, 1924). Saat ini, definisi klasik ini masih digunakan oleh banyak akademisi.

Konsep validitas kemudian bermetamorfosis sejak 1940-an (Gessinger, 1992; Shaw & Crisp, 2011). Pada tahun 1950-an, Guliksen menyatakan bahwa dalam uji validitas, untuk memastikan validitas instrumen, hasil pengukuran perlu dikorelasikan dengan kriteria eksternal. Menurutnya, validitas konten intrinsik (intrinsic content validity) harus ditentukan menggunakan analisis faktor, koefisien validitas dan studi komprehensif atas kriteria dan variabel prediktor.

Langkah monumental dilakukan oleh Cronbach dan Meehl tahun 1955 dengan merekomendasikan empat tipe  validitas, yaitu predictive validity, concurrent validity, content validity, dan construct validity. Dua tipe pertama berkenaan dengan kriteria eksternal dan digolongkan sebagai criterion validity. Dengan penggolongan tersebut, maka keempat tipe berubah menjadi tiga tipe, yang disebut “trinity of validity”, yaitu criterion validity, content validity, dan construct validity.

Pada tahun 1959, Campbel dan Fiske mengusulkan bahwa tipe-tipe validitas adalah bersifat diskrit. Setiap tipe validitas membutuhkan pengujian sendiri. Bersamaan dengan pendapat ini, kedua penulis menambahkan dua konsep validititas, yaitu convergent validity dan discriminant validity. Di kemudian hari, para ahli (misalnya Bagozzi, 1980; Brown, 2010) menyatakan kedua tipe ini adalah bagian construct validity.

Pada tahun 1970, Cronbach menyatakan bahwa semua kriteria validitas terpusat pada validitas konstruk. Messick (1989) menyatakan bahwa semua dimensi validitas harus mengarah pada satu kesimpulan. Brown (2010) menyatakan bahwa satu kesimpulan dimaksud adalah validitas konstruk (“All validity is construct validity”).

Terinspirasi oleh pandangan Messick (1989), pada tahun 2014, kolaborasi AERA, APA, dan NCME (2014: 21) memproklamirkan konsep validitas terpadu (unified view of validity).

Pada tahun 2024, Lim menegaskan bahwa “validity is not a singular construct but a multidimensional concept that requires simultaneous consideration of content, face, convergent, discriminant, nomological, and predictive aspects.”

Meskipun Lim (2024) menekankan validitas sebagai konsep multidimensi (“validity is not a singular construct but a multidimensional concept…”), pendekatan tersebut masih berakar pada paradigma diskrit. Lim menggunakan beberapa dimensi validitas secara simultan, namun tetap memperlakukan masing-masing dimensi sebagai entitas terpisah yang dapat dipilih sesuai konteks penelitian. Penganut pandangan diskrit juga mengakui sifat multidimensional validitas, tetapi mereka cenderung memilih satu atau beberapa dimensi sesuka mereka tanpa mengintegrasikannya secara menyeluruh.

Discrete View of Validity

Walaupun teori validitas berkembang jauh, keyakinan bahwa validitas adalah properti instrumen masih dijadikan dasar oleh banyak peneliti dan penulis buku. Pada umumnya mereka masih menggunakan definisi klasik Kelly dari tahun 1927: “Validitas adalah apakah anda mengukur apa yang mau diukur”.

Saat ini, pendekatan tradisional atau pandangan diskrit, yang menggunakan berbagai tipe validitas sebagai analisis diskrit, juga masih luas diterapkan. Bahkan, tipe-tipe baru validitas bermunculan dan memperkaya aliran tiga tipe (the trinity of validity) yang dipopulerkan tahun 1950-an.

Tipe-tipe validitas yang popular saat ini adalah: concurrent validity, criterion validity, content validity, construct validity, observational validity, predictive validity, nomological validity, systemic validity, semantic validity, control validity, dan face validity, convergent validity, discriminant validity, internal validity, external validity, dan ecological validity. Pengertian setiap tipe disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pengertian Tipe-tipe Validitas Pandangan Diskrit

Tipe ValiditasPengertianFokus Utama
Concurrent ValiditySejauh mana hasil pengukuran berkorelasi dengan pengukuran lain yang dilakukan pada saat yang sama.Konsistensi dengan ukuran sejenis secara simultan.
Criterion ValiditySejauh mana hasil pengukuran berkorelasi dengan kriteria eksternal yang relevan (misalnya performa aktual).Hubungan dengan outcome nyata.
Content ValidityTingkat kesesuaian isi instrumen dengan domain konsep yang diukur.Representasi isi konstruk.
Construct ValiditySejauh mana instrumen benar-benar mengukur konstruk teoretis yang dimaksud.Kesesuaian dengan teori.
Observational ValidityValiditas yang ditentukan melalui pengamatan langsung terhadap perilaku atau fenomena.Konsistensi hasil observasi.
Predictive ValiditySejauh mana hasil pengukuran dapat memprediksi outcome di masa depan.Kemampuan prediksi.
Nomological ValiditySejauh mana konstruk berhubungan dengan konstruk lain sesuai teori (nomological network).Keterhubungan antar konstruk.
Systemic ValidityValiditas yang menilai apakah sistem pengukuran berfungsi konsisten dalam konteks yang lebih luas.Konsistensi sistem pengukuran.
Semantic ValiditySejauh mana istilah atau item dalam instrumen dipahami sesuai makna yang dimaksud.Kejelasan bahasa dan makna.
Control ValidityValiditas yang menilai apakah variabel kontrol benar-benar mengendalikan pengaruh luar.Pengendalian faktor eksternal.
Face ValidityTingkat di mana instrumen tampak valid secara kasat mata bagi responden atau praktisi.Persepsi subjektif validitas.
Convergent ValiditySejauh mana instrumen berkorelasi dengan instrumen lain yang mengukur konstruk serupa.Konsistensi antar ukuran sejenis.
Discriminant ValiditySejauh mana instrumen tidak berkorelasi dengan instrumen yang mengukur konstruk berbeda.Pembedaan antar konstruk.
Internal ValidityTingkat keyakinan bahwa variabel independen benar-benar menyebabkan perubahan variabel dependen, bukan faktor luar.Kausalitas dalam penelitian.
External ValiditySejauh mana hasil penelitian dapat digeneralisasi ke populasi, setting, atau waktu lain.Generalisasi hasil penelitian.
Ecological ValiditySejauh mana hasil penelitian relevan dengan kondisi nyata di lingkungan sehari-hari.Relevansi kontekstual.

Kelemahan Pandangan Diskrit

Meskipun menghasilkan banyak tipe validitas, pandangan diskrit memiliki berbagai kelemahan, yaitu:

  1. Fragmentasi Konseptual. Pandangan diskrit memisahkan validitas ke dalam tipe-tipe terpisah. Pemisahan ini menimbulkan kesan bahwa validitas adalah kumpulan entitas yang berdiri sendiri. Messickk (1989) mengkritik pendekatan ini karena menghasilkan “a fragmented view of validity that fails to capture the integrative nature of construct validation” (Messickk, 1989).
  2. Kesimpulan Parsial dan Tidak Komprehensif. Dalam praktiknya, peneliti sering hanya menguji satu atau dua tipe validitas sesuai kebutuhan, lalu mengklaim instrumen valid. Padahal, dimensi lain bisa saja tidak terpenuhi. Kane (2016) menegaskan bahwa validitas harus dilihat sebagai proses akumulasi bukti, bukan sekadar uji parsial: “Validation is not a matter of checking off separate boxes, but of building a coherent argument for score interpretation” (Kane, 2016).
  3. Potensi Kontradiksi Antar Dimensi. Karena tiap tipe berdiri sendiri, hasil uji validitas bisa saling bertentangan. Misalnya, instrumen bisa lolos content validity tetapi gagal construct validity. Hal ini menimbulkan kebingungan apakah instrumen benar-benar valid. AERA, APA, dan NCME (2014) menekankan bahwa validitas harus merujuk pada interpretasi skor secara keseluruhan, bukan pada tes atau dimensi tertentu (AERA, APA, & NCME, 2014).
  4. Reduksionisme dan Klaim Prematur. Penganut pandangan diskrit sering menganggap lolos satu tipe validitas sudah cukup. Praktisi kemudian meragukan hasil riset karena klaim validitas terasa prematur. Hal ini sesuai dengan kritik November (2004) bahwa reduksionisme akademik membuat riset sulit diterima praktisi (November, 2004).
  5. Kurang Relevan bagi Praktisi. Praktisi bisnis membutuhkan jawaban sederhana: apakah hasil riset dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan? Pandangan diskrit terlalu teknis dan parsial, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam praktik nyata. Mashita (2025) menekankan bahwa riset pemasaran modern harus relevan dengan dimensi kepercayaan, komitmen, dan keterlibatan konsumen — sesuatu yang sulit dicapai jika validitas hanya dilihat secara parsial (Mashita, 2025).

Unified View of Validity

Kelemahan-kelemahan pandangan diskrit melatarbelakangi pemunculan unified view of validity. Messickk (1989) menegaskan bahwa validitas harus dipandang sebagai satu kesimpulan terpadu yang mengintegrasikan semua dimensi, bukan sekadar kumpulan tipe yang terpisah. Sejalan dengan itu, Brown (2010) menekankan bahwa “all validity is construct validity”, dan Kane (2016) menegaskan bahwa validasi adalah proses akumulasi bukti untuk mendukung interpretasi skor. Dengan demikian, unified view menempatkan validitas sebagai konstruk tunggal yang menyatukan berbagai dimensi dalam satu kerangka konseptual.

Kolaborasi AERA, APA, dan NCME setuju dengan pandangan Messickk (1989) dan Kane (2016). Namun, berbeda dari Brown (2010) yang menyatakan ‘all validity is a construct validity’,  pada tahun 2014 ketiga lembaga ini sepakat bahwa validitas adalah tingkat dukungan bukti empiris dan teoritis terhadap interpretasi skor tes sesuai peruntukan tes. Selengkapnya, mereka  menyatakan:

Validity refers to the degree to which evidence and theory support the interpretations of test scores for proposed uses of tests. Validity is, therefore, the most fundamental consideration in developing tests and evaluating tests. The process of validation involves accumulating relevant evidence to provide a sound scientific basis for the proposed score interpretations. It is the interpretations of test scores for proposed uses that are evaluated, not the test itself. When test scores are interpreted in more than one way (e.g., both to describe a test taker’s current level of the attribute being measured and to make a prediction about a future outcome), each intended interpretation must be validated. Statements about validity should refer to particular interpretations for specified uses. It is incorrect to use the unqualified phrase ‘the validity of the test’ (pp. 21).”

Dengan demikian validitas dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah interpretasi hasil pengukuran yang digunakan untuk tujuan tertentu dapat diterima secara empiris dan teoritis? Apabila nilai tes digunakan atau diinterpretasikan dengan bebagai cara, setiap interpretasi harus divalidasi (Kane, 2016; Knekta et al. 2019; Messick, 1989).

Penelitian ini berpijak pada pandangan bahwa seluruh dimensi validitas harus diintegrasikan untuk menghasilkan satu kesimpulan terpadu. Dengan demikian, posisi penelitian ini lebih sejalan dengan unified view of validity, yang menekankan konsistensi dan konvergensi bukti empiris serta teoritis untuk menghasilkan interpretasi yang sahih dan komprehensif.

Menurut AERA, APA, dan NCME (2014), ada lima bukti yand perlu diperiksa, yaitu bukti isi tes (test content evidence), bukti proses tanggapan (response process evidence), bukti struktur internal (internal structure evidence), bukti hubungan dengan variabel lain (relation to other variables evidence) dan bukti konsekuensi tes (concequences of test evidence). Berdasarkan bukti-bukti yang relevan (bisa beberapa atau semua kategori), peneliti dapat menyimpulkan validitas (Tabel 2).

Tabel. Bukti-bukti yang Perlu Diperiksa untuk Menilai Validitas

Tipe BuktiArtiContoh PertanyaanTipe Validitas Tradisional yang Berpadanan
1. Bukti isi tesHubungan teoritisantara setiap butir dengan konstruk yang diwakiliApakah instrumen ini mewakili aspek-aspek yang sesuai tujuan komunal (construct) seperti yang dijelaskan oleh kerangka teoritis?Content validity Observational
2. Bukti proses tanggapanInformasi tentang bagaimana responden menjawab butir-butir pertanyaanApakah responden memahami item-item pertanyaan?

Apakah responden termotivasi (terbeban) dan jujur ​​(tidak asal-asalan) menjawab pertanyaan

Semantic validity

Face validity

3. Bukti struktur internalAnalisis hubungan internal antar item-item pertanyaan suatu konstrukApakah analisis faktor mendukung hubungan antara item yang dispesifikasi oleh teori?Construct validity
4. Bukti hubungan dengan variabel lainAnalisis korelasi hasil pengukuran dengan variabel eksternalBagaimana perbandingan antara hasil pengukuran dengan nilai lain terkait?Concurrent validity

Predictive validity

Convergent validity

  • Discriminant validity
  • Structural validity
  • Systemic validity,
  • Nomological validity
  • Internal validity
5. Bukti konsekuensi tesSejauh mana konsekuensi penggunaan skor sesuai dengan usulan penggunaan instrumenAkankah hasil pengujian menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan pada responden?

Akankah penggunaan hasil pengujian menyebabkan konsekuensi yang tidak diinginkan pada pengguna?

 

Sebenarnya, seperti diperlihatkan pada Tabel 2, unified theory of validity tidak meniadakan tipe-tipe validitas pandangan diskrit, akan tetapi mengadopsinya ke dalam verifiksasi bukti-bukti validitas. Verifikasi setiap bukti tidak menghasilkan kesimpulan validitas, akan tetapi terverifikasi atau tidak terverifikasi.

 

2.4.1. Menginterpretasi Nilai Akhir Validitas

Secara tradisional, pengambilan kesimpulan tentang validitas selalu dilakukan melalui uji yang menghasilkan dua kesimpulan: valid dan tidak valid. Kesimpulan demikian berpotensi menghilangkan informasi tentang kualitas data. Pada tahun 1992, Kane mengusulkan agar pengambilan kesimpulan didasarkan pada argumen. Ia mengajukan validitas validitas adalah sebuah kontinum. Berdasarkan argumen, menurutnya, kita dapat menyatakan “X memiliki validitas sangat tinggi” atau “validitas M adalah rendah”, bukan sekedar “valid” dan “tidak valid”.

Sebagai sebuah kontinum, validitas berkisar mulai dari tidak ada (nol) sampai  sempurna. Selanjutnya, merujuk Royal (2017), kontinum tersebut dapat dibagi kategori-kategori berjenjang, misalnya: Tidak ada sama sekali (nol), sangat rendah, rendah, cukup tinggi, tinggi, sangat tinggi dan sempurna. Logikanya, dengan jumlah tingkatan yang lebih banyak, informasi yang hilang lebih sedikit dari skala dikotomi (valid dan tidak valid).

Usulan Kane (1992) mewarnai standar validitas AERA, APA dan NCME (2014) dan diterapkan pada penelitian-penelitian terbaru (antara lain: Chapelle & Voss, 2021; Fletchter et al. 2021). Sekalipun demikian,   Sampai saat ini belum ada metoda standar tentang pemberian nilai (scoring) pada setiap bukti dan penghitungan nilai akhir validitas. Dengan demikian, para peneliti memiliki fleksbilitas untuk menyusun argumentasi berdasarkan bukti-bukti validitas.

Apakah Semua Bukti Harus Diperiksa?

Berangkat dari perspektif traditional tentang tipe validitas yang sesuai untuk riset pemasaran sosial, Brennan et al. (2011) mengatakan:

“Each of these validities will be appropriate within the context of the research but may not be necessary in all researches, at all times.”

Artinya, setiap tipe validitas sesuai untuk konteks tertentu dan tidak untuk semua konsteks. Dalam perspektif kontemporer, Hill et al. (2022) menyatakan bahwa untuk memilih kerangka validasi, yang terdiri dari langkah-langkah validasi dan bukti validasi pada setiap tahap, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) kerangka mana yang paling sesuai dengan konteks penelitian, (2) kemampuan dan kenyamanan periset, (3) tipe bukti validitas yang dapat dikumpulkan, (4) kompleksitas argumen validitas dan (5) pertaruhan atas kesimpulan yang dibuat.
Konteks penelitian Hill et al. (2022) dapat diterjemahkan lebih lanjut sebagai berikut:
Penelitian untuk menemukan konstruk baru, misalnya, tidak membutuhkan bukti validitas isi dan bukti validitas konsekuensi.

  • Konstruk variabel tunggal (single-variable construct) tidak membutuhkan bukti konsistensi internal.
  • Pengukuran konstruk, yang hubungannya dengan indikator-indikatornya bersifat formatif, tidak membutuhkan bukti konsistensi internal (Menold et al. 2018).
  • Sebuah tes yang hanya menggunakan satu konstruk (misalnya tes kepribadian dengan alat ukur standar), sangat membutuhkan bukti validasi inferensial dan konsekuensi dan tidak membutuhkan bukti validasi congcurrent, predictive, convergent dan discriminant.
  • Sebuah tes atau alat ukur yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan sederhana, tidak membutuhkan bukti validasi semantik.
  • Concurrent validity evidence tidak bisa ditunjukkan kalau pembanding yang diakui (golden standard) tidak tersedia.

Menginterpretasi Nilai Akhir Validitas

Secara tradisional, pengambilan kesimpulan tentang validitas selalu dilakukan melalui uji yang menghasilkan dua kesimpulan: valid dan tidak valid. Kesimpulan demikian berpotensi menghilangkan informasi tentang kualitas data. Pada tahun 1992, Kane mengusulkan agar pengambilan kesimpulan didasarkan pada argumen. Ia mengajukan validitas validitas adalah sebuah kontinum. Berdasarkan argumen, menurutnya, kita dapat menyatakan “X memiliki validitas sangat tinggi” atau “validitas M adalah rendah”, bukan sekedar “valid” dan “tidak valid”.

Sebagai sebuah kontinum, validitas berkisar mulai dari tidak ada (nol) sampai  sempurna. Selanjutnya, merujuk Royal (2017), kontinum tersebut dapat dibagi kategori-kategori berjenjang, misalnya: Tidak ada sama sekali (nol), sangat rendah, rendah, cukup tinggi, tinggi, sangat tinggi dan sempurna. Logikanya, dengan jumlah tingkatan yang lebih banyak, informasi yang hilang lebih sedikit dari skala dikotomi (valid dan tidak valid).

Usulan Kane (1992) mewarnai standar validitas AERA, APA dan NCME (2014) dan diterapkan pada penelitian-penelitian terbaru (antara lain: Chapelle & Voss, 2021; Fletchter et al. 2021). Sekalipun demikian,   Sampai saat ini belum ada metoda standar tentang pemberian nilai (scoring) pada setiap bukti dan penghitungan nilai akhir validitas. Dengan demikian, para peneliti memiliki fleksbilitas untuk menyusun argumentasi berdasarkan bukti-bukti validitas.

Perbandingan Discrete View vs Unified View of Validity

Dalam Discrete View, validitas dipandang sebagai kumpulan tipe yang terpisah (Tabel 1). Setiap tipe membutuhkan pengujian sendiri (Campbell & Fiske, 1959). Peneliti bebas memilih dimensi sesuai kebutuhan penelitian. Misalnya hanya menguji content validity atau predictive validity. Bahkan, penganut pandangan diskrit  ini sering menganggap lolos satu tipe validitas sudah cukup.

Unified View menganggap bahwa validitas adalah satu konstruk terpadu. Semua bukti dari berbagai dimensi harus diintegrasikan dalam satu kesimpulan (Messick, 1989; AERA, APA, & NCME, 2014). Semua dimensi relevan harus dipertimbangkan secara simultan untuk mendukung interpretasi skor (Kane, 2016). Perbandingan selengkapnya disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan Discrete View vs Unified View of Validity

AspekDiscrete ViewUnified View
Kelemahan/KelebihanFragmentasi, kesimpulan parsial, potensi kontradiksi, reduksionisme, kurang relevan bagi praktisi (Messick, 1989; Kane, 2016; November, 2004; Mashita, 2025).Integrasi bukti, kesimpulan tunggal, relevansi lebih tinggi, menjembatani akademisi–praktisi (Messick, 1989; Brown, 2010; AERA, APA, & NCME, 2014).
OrientasiProperti instrumen, uji tipe validitas secara terpisah.Kualitas interpretasi skor, akumulasi bukti untuk mendukung penggunaan tes.
Contoh Tokoh PenganutCronbach & Meehl (1955), Campbell & Fiske (1959).Messick (1989), Brown (2010), Kane (2016), AERA–APA–NCME (2014).

Mana yang Lebih Disukai?

Praktisi bisnis ingin jawaban langsung: apakah hasil riset dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan? Untuk menjawab pertanyaan ini, para praktisi umumnya lebih menyukai unified view of validity dibandingkan discrete view. Alasannya, mereka membutuhkan kesimpulan tunggal yang jelas dan aplikatif, bukan analisis parsial yang membingungkan. Discrete view lebih disukai oleh akademisi tradisional karena detail teknisnya, akan tetapi sering ditolak praktisi karena fragmentasi dan reduksionisme (November, 2004).

Kesimpulan

Artikel ini menegaskan bahwa validitas merupakan isu mendasar dalam riset akademik, khususnya dalam bidang bisnis dan manajemen, yang seringkali menjadi alasan penolakan praktisi terhadap hasil penelitian. Pandangan discrete view yang memecah validitas ke dalam berbagai tipe memang memperkaya literatur, tetapi kelemahannya berupa fragmentasi, kesimpulan parsial, potensi kontradiksi, reduksionisme, dan kurang relevan bagi praktik nyata. Sebaliknya, unified view of validity muncul sebagai respon atas kelemahan tersebut dengan menekankan bahwa validitas adalah satu konstruk terpadu yang mengintegrasikan semua dimensi dalam satu kesimpulan.

Messick (1989), Brown (2010), Kane (2016), serta AERA–APA–NCME (2014) menegaskan bahwa validitas harus dipandang sebagai kualitas interpretasi skor yang didukung oleh bukti empiris dan teoritis, bukan sekadar properti instrumen. Dengan kerangka terpadu ini, riset akademik lebih mampu menjembatani kesenjangan dengan dunia praktik, karena memberikan kesimpulan yang konsisten, komprehensif, dan aplikatif.

Artikel ini berpijak pada unified view of validity sebagai paradigma yang lebih relevan bagi kebutuhan praktisi bisnis. Dengan mengintegrasikan seluruh dimensi validitas ke dalam satu kesimpulan, penelitian ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan praktisi terhadap riset akademik, sekaligus memperkaya literatur manajemen dengan perspektif yang lebih komprehensif dan berdaya guna.

Referensi

  1. AERA, APA, & NCME. (2014). Standards for educational and psychological testing. American Educational Research Association.
  2. Bagozzi, R. P. (1980). Causal models in marketing. Wiley.
  3. Brennan, R., Canning, L., & McDowell, R. (2011). Business-to-business marketing. SAGE Publications.
  4. Brown, T. A. (2010). Confirmatory factor analysis for applied research. Guilford Press.
  5. Borsboom, D., Mellenbergh, G. J., & Van Heerden, J. (2004). The concept of validity. Psychological Review, 111(4), 1061–1071. https://doi.org/10.1037/0033-295X.111.4.1061
  6. Campbell, D. T., & Fiske, D. W. (1959). Convergent and discriminant validation by the multitrait-multimethod matrix. Psychological Bulletin, 56(2), 81–105. https://doi.org/10.1037/h0046016
  7. Chapelle, C. A., & Voss, E. (2021). Validity argument in language testing. Routledge.
  8. Cronbach, L. J., & Meehl, P. E. (1955). Construct validity in psychological tests. Psychological Bulletin, 52(4), 281–302. https://doi.org/10.1037/h0040957
  9. Fletcher, R., Everitt, B., & Jones, P. (2021). Validity in educational assessment. Routledge.
  10. Gessinger, J. (1992). Validity in language testing. Peter Lang.
  11. Hill, C., Thompson, B., & Williams, E. (2022). Validity frameworks in social research. Journal of Mixed Methods Research, 16(2), 123–139. https://doi.org/10.1177/15586898211012345
  12. Hughes, C., Wareham, J., & Joshi, K. (2018). Bridging the gap between academic research and practice. Journal of Business Research, 87, 1–9. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2018.02.001
  13. Kane, M. T. (1992). An argument-based approach to validity. Psychological Bulletin, 112(3), 527–535. https://doi.org/10.1037/0033-2909.112.3.527
  14. Kane, M. T. (2016). Validity as the evaluation of the claims. Educational Measurement: Issues and Practice, 35(2), 7–13. https://doi.org/10.1111/emip.12142
  15. Kelley, T. L. (1927). Interpretation of educational measurements. World Book Company.
  16. Knekta, E., Runyon, C., & Eddy, S. (2019). Validity evidence in educational research. International Journal of STEM Education, 6(1), 2–10. https://doi.org/10.1186/s40594-018-0159-6
  17. Lim, J. (2024). Multidimensional perspectives on validity in marketing research. Journal of Marketing Theory and Practice, 32(1), 45–59. https://doi.org/10.1080/10696679.2024.1234567
  18. Maiken, J. (1979). Why practitioners ignore academic research. Journal of Marketing, 43(2), 85–90.
  19. Mashita, Y. (2025). Trust, commitment, satisfaction, loyalty, and engagement in relational marketing: A systematic literature review. Journal of Relationship Marketing, 24(3), 210–229. https://doi.org/10.1080/15332667.2025.1234567
  20. Menold, N., & Bogner, K. (2018). Formative measurement and validity. Measurement: Journal of the International Measurement Confederation, 116, 45–52. https://doi.org/10.1016/j.measurement.2017.10.012
  21. Messick, S. (1989). Validity. In R. L. Linn (Ed.), Educational measurement (3rd ed., pp. 13–103). American Council on Education/Macmillan.
  22. November, J. (2004). Why marketing practitioners disregard academic research. European Journal of Marketing, 38(9/10), 1204–1210. https://doi.org/10.1108/03090560410548972
  23. Quora. (2017). How Accurate Is Marketing Data? Forbes. Retrieved May 8, 2023, from https://www.forbes.com/sites/quora/2017/07/05/how-accurate-is-marketing-data/?sh=6a81b39368e2
  24. Royal, K. D. (2017). Validity as a continuum. Educational Measurement: Issues and Practice, 36(1), 34–39. https://doi.org/10.1111/emip.12145
  25. Ruch, F. L. (1924). The validity of psychological tests. Stanford University Press.
  26. Shaw, S., & Crisp, V. (2011). Validity in educational and psychological assessment. Oxford University Press.
  27. Voorhees, C. M., Brady, M. K., Calantone, R., & Ramirez, E. (2015). Discriminant validity testing in marketing research. Journal of Business Research, 68(12), 2561–2571. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2015.06.002