Self-Determination Theory

Secara harfiah, Self-Determination Theory (SDT) dapat diterjemahkan sebagai teori penentuan nasib sendiri. SDT adalah kerangka psikologis yang menjelaskan motivasi dan kepribadian manusia. Teori ini digagas Ryan dan Deci di tengah munculnya kekhawatiran tentang peranan motivasi intrinsik pada 1980-an.

SDT menekankan pentingnya motivasi intrinsik dan pemenuhan tiga kebutuhan psikologis dasar (autonomy, competence, and relatedness), yang memainkan peran penting dalam menentukan gaya regulasi motivasi seseorang. Ketiga kebutuhan ini adalah pendorong utama yang memengaruhi kemandirian motivasi (seperti motivasi intrinsik) atau keterkontrolan motivasi oleh faktor-faktor eksternal (seperti dalam motivasi eksternal).

Gambar 1. Tiga Kebutuhan Dasar Psikologis yang Memengeruhi Self-Determination

  • Autonomy: Ketika seseorang merasa tindakannya adalah pilihan bebas mereka sendiri, bukan paksaan dari luar, mereka akan lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai dan tujuan di balik tindakan tersebut.
  • Competency: Ketika seseorang merasa mampu secara efektif melakukan sebuah tugas, mereka akan lebih termotivasi untuk terus melakukannya, bahkan jika awalnya motivasinya ekstrinsik. Persepsi kompetensi dapat membantu seseorang mendorong menginternalisasi motivasi eksternal.
  • Relatedness: Ketika seseorang merasa terhubung dengan dan didukung oleh orang lain, mereka akan lebih terbuka untuk menerima dan menginternalisasi nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang-orang lain tersebut.

SDT fokus pada self-determination dalam pencapaian suatu tujuan, yaitu penetapan tujuan dan perjuangan untuk mencapainya berdasarkan kemauan dan motivasi pribadi. Ada orang yang memiliki determinasi tinggi, ada yang rendah, malah ada yang tidak punya motivasi sama sekali. Gambar di bawah ini memperlihatkan tiga kategori motivasi berdasarkan determinasi diri, yaitu tidak ada motivasi sama sekali (amotivation), motivasi eksternal (external motivation) dan motivasi internal (internal motivation).

Determinasi adalah tekad yang kuat dan teguh untuk mencapai tujuan tertentu, bahkan ketika menghadapi kesulitan dan kemunduran (pencapaian tujuan). Dalam psikologi, tekad dianggap sebagai emosi dan sifat kepribadian yang kuat, yang memotivasi bertahan untuk bertahan, beradaptasi, dan akhirnya berhasil.

SDT fokus pada self-determination dalam pencapaian suatu tujuan, yaitu penetapan tujuan dan perjuangan untuk mencapainya berdasarkan kemauan dan motivasi pribadi. Untuk lebih jelasnya,  determinasi diri adalah kemampuan individu untuk merealisasikan pencapaian tujuan yang ditentukannya sendiri. Self-detemined menumbuhkan motivasi intrinsik, pencapaian yang optimal, dan kesejahteraan psikologis. Pada Gambar 1, determinasi diri (self-detemination) terjadi secara penuh kalau seseorang memiliki motivasi intrinsik. Determinasi diri tidak ada apabila seseorang berada dalam amotivation. Dalam extrinsic motivation ada juga determinasi diri, tetapi tidak setinggi pada intrinsic motivation.

Gambar 2. SDT Framework

Dalam SDT, regulasi (regulation) berbicara tentang bagaimana memotivasi dan mengatur perilaku seseorang untuk mencapai.

Apa yang dimaksud dengan mengatur perilaku? Bila mau menurunkan berat badan, maka seseorang perlu mengatur atau mengendalikan gaya hidup (misalnya mengatur pola makan dan berolah raga secara teratur). Nah, siapa yang mengendalikan pengaturan itu? Diri sendiri ataukah faktor eksternal. Hu

Ada enam “gaya regulasi” (regulation styles) menurut SDT.

  1. Non-regulation mengacu pada keadaan tidak memiliki motivasi sama sekali untuk melakukan tugas atau perilaku tertentu. Ketiadaan motivasi (amotivation) biasanya disebabkan oleh:
    • Individu tidak memiliki tujuan, sasaran, atau niat untuk terlibat dalam aktivitas.
    • Tidak melihat bahwa aktivitas menghasilkan sesuatu yang bernilai (see no worthwhile consequences of an activity)
    • Individu merasa tidak mampu (lack of competence) melakukan atau tidak bisa menentukan keterlibatan dirinya dalam suatu aktivitas (lack of control) (misalnya dihambat).
  2. External regulation adalah bentuk motivasi ekstrinsik yang paling tidak otonom dan paling terkendali oleh pihak eksternal, di mana seseorang melakukan suatu tugas  semata-mata untuk mencari imbalan atau menghindari hukuman eksternal, bukan karena menilai bahwa tugas itu penting. Misalnya, seorang remaja pergi kursus bahasa Inggris hanya karena takut hukuman orang tua kalau dirinya tidak pergi, bukan karena kursus itu penting.

Ciri-ciri perilaku ini adalah:

    • Individu merasa alasan melakukan perilaku adalah sumber eksternal. Mereka bertindak bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena keharusan.
    • Perilaku diatur oleh faktor-faktor eksternal, seperti janji imbalan atau ancaman hukuman, yang membuat individu merasa tertekan untuk mematuhinya.
    • Karena dikendalikan oleh faktor-faktor di luar dirinya, otonomi  individu rendah atau tidak ada sama sekali.
    • Individu akan berhenti apabila imbalan sudah diperoleh atau tidak lagi menarik atau hukuman telah dihindari, ditiadakan atau dianggap tidak lagi menakutkan.

“Kalimat kunci: I do the behavior to get the reward and to avoid punishment.

  1. Introjected regulation adalah jenis motivasi ekstrinsik di mana seseorang melakukan tugas untuk memenuhi tekanan internal, tugas itu kewajiban, atau menghindari perasaan bersalah atau rasa malu kalau tidak melakukan tugas. Misalnya, seorang mahasiswa mempersiapkan dan melakukan presentasi untuk menghindari rasa malu pada teman kelompok, bukan karena menilai presentasi itu sebagai hal penting.

Kalimat kuncinya adalah:

I want to do it because it is important thing to do.”

  1. Identified regulation adalah bentuk motivasi ekstrinsik, di mana seseorang menghargai suatu perilaku dan mengidentifikasi dirinya (aktivitas berkaitan dengan definisi diri ‘siapa saya’) dengan perilaku itu dan menganggapnya penting secara pribadi. Motivasi ekstrinsik dalam bentuk ini sudah lebih otonom karena orang yang memiliki telah terlibat dalam sebuah aktivitas secara sukarela, bukan lagi karena tekanan atau imbalan, melainkan karena mereka percaya pada nilai dari hasilnya. Kenapa masih disebut ekstrinsic motivation? Alasannya: Dalam melakukan aktivitas, individu memang menghargai hasil intrinsik aktivitas yang dilakukannya, tetapi sebenarnya tidak menikmati aktivitas tersebut.

Seorang mahasiswa mengikuti mata kuliah Perilaku Konsumen dengan serius agar dapat nilai A, karena nilai A penting untuk meningkatkan IPK, yang penting untuk melamar pekerjaan. Pada sisi lain, si mahasiswa menganggap bahwa dia harus mempelajari mata kuliah tersebut karena identitasnya sebagai mahasiswa jurusan pemasaran, namun sebenarnya tidak menikmati mata kuliah tersebut.

Kalimat kuncinya adalah:

  • “I want to do it because it is important thing to do and I I should do it because of who am I.”
  1. Integrated regulation adalah bentuk motivasi ekstrinsik yang paling otonom dan terinternalisasi sepenuhnya. Motivasi ini terbentuk ketika tujuan eksternal (external goals) telah terasimilasi sepenuhnya ke dalam nilai-nilai dan tujuan seseorang, sehingga individu tergerak sendiri melakukan perilaku atau tidak merasa terpaksa untuk melakukannya.

“I do the activity because the goals are now become part of my own goals.”

  1. Intrinsic regulation. Pada tahap ini, individu meregulasi diri sendiri dan menganggap  aktivitas sebagai  yang kesenangan.

“I do the activity be because I enjoy it.”

Question and answer:

  1. Apakah intrinsic motivation bisa berubah menjadi extrinsic motivation?

Jawab:

Ya, bisa, tetapi tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui overjustification effect, yaitu ketika imbalan eksternal diberikan untuk suatu kegiatan yang sudah dinikmati secara intrinsik, motivasi intrinsik seseorang untuk melakukan kegiatan tersebut bisa menurun karena:

    • Pergeseran fokus: Seseorang mulai mengaitkan alasan mereka melakukan kegiatan tersebut dengan imbalan eksternal, bukan lagi kenikmatan dari kegiatan itu sendiri.
    • Kehilangan otonomi: Kegiatan tersebut terasa kurang seperti pilihan bebas dan lebih seperti tugas yang dikendalikan oleh faktor luar.

Contoh:

    • Seorang anak suka melukis hanya karena memang senang melukis (motivasi intrinsik).
    • Orang tuanya mulai memberinya uang setiap kali ia melukis (motivasi ekstrinsik).
    • Seiring waktu, anak tersebut bisa kehilangan minat pada melukis dan hanya melukis untuk mendapatkan uang. Jika imbalan dihentikan, ia mungkin berhenti melukis sama sekali (amotivation).
  1. Apakah intrinsic motivation bisa berubah menjadi extrinsic amotivation?

Jawab:

Ya, perubahan  amotivasi menjadi motivasi ekstrinsik adalah hal yang sangat wajar. Amotivasi adalah kondisi di mana seseorang sama sekali tidak memiliki niat atau dorongan untuk bertindak. Namun, jika kondisi eksternal berubah, individu tersebut bisa mulai mengadopsi regulasi ekstrinsik. Kondisi eksternal dimaksud adalah:

    • Perubahan lingkungan sosial. Lingkungan sosial, seperti sekolah atau tempat kerja, dapat mulai memberikan dorongan atau insentif eksternal yang sebelumnya tidak ada.
    • Pemenuhan kebutuhan dasar. Jika kebutuhan psikologis dasar seseorang—otonomi, kompetensi, dan keterhubungan—mulai terpenuhi, mereka akan lebih terbuka untuk menginternalisasi regulasi ekstrinsik.
      • Meningkatkan kompetensi: Jika seseorang yang merasa tidak kompeten dalam suatu tugas mulai mendapatkan keberhasilan kecil dan umpan balik positif, perasaan tidak berdaya (helplessness) mereka dapat berkurang. Ini memungkinkan mereka untuk merespons dorongan eksternal seperti pujian atau penghargaan.
      • Membangun keterhubungan: Keterlibatan dengan orang lain yang peduli dan suportif dapat memberikan motivasi awal. Jika seseorang merasa terhubung dengan seorang guru atau mentor, mereka mungkin mulai menanggapi permintaan atau harapan mereka.
      • Meningkatkan otonomi: Memberikan pilihan, bahkan pilihan kecil, dapat mulai mengikis rasa tidak berdaya dan meningkatkan kesediaan seseorang untuk bertindak atas insentif eksternal.
  1. Apakah extrinsic motivation bisa berubah menjadi amotivation?

Jawabnya YA, pada konteks:

a. Ketika hadiah atau hukuman eksternal dihilangkan.

    • Contoh: Seorang karyawan yang termotivasi oleh bonus besar (eksternal regulation) tiba-tiba mendapati bahwa perusahaan menghapus program bonus tersebut. Jika karyawan tersebut tidak pernah menginternalisasi nilai dari pekerjaannya, mereka akan kehilangan satu-satunya alasan untuk berkinerja baik dan bisa menjadi amotivasi.
    • Penjelasan: Motivasi ekstrinsik yang paling terkontrol sangat bergantung pada imbalan dan hukuman eksternal. Ketika sumber-sumber ini hilang, tidak ada lagi alasan bagi individu untuk bertindak.

b. Ketika gagal menunjukkan kompetensi.

Contoh: Seorang siswa termotivasi untuk mendapatkan nilai bagus (introjected regulation untuk menghindari rasa malu), tetapi mereka terus-menerus gagal dalam ujian meskipun sudah mencoba.

    1. Penjelasan: Perasaan kompetensi mereka terhambat karena kegagalan yang berulang. Mereka mulai percaya bahwa tidak ada hubungan antara upaya mereka dan hasilnya. Perasaan tidak berdaya (helplessness) ini dapat mengikis motivasi apa pun, mengubahnya menjadi amotivasi.

c. Bila aspek kemandirian (otonomi) sangat terhambat.

    • Contoh: Seorang seniman (identified regulation: “I am an artist”) merasa bahwa semua kebebasan kreatif mereka diambil alih oleh klien. Setiap detail dikendalikan klien dan mereka tidak punya pilihan.
    • Penjelasan: Dalam kasus ini, rasa frustrasi yang parah karena kebutuhan otonomi yang terenggut dapat membuat seniman merasa tindakan mereka tidak lagi berarti. Mereka mungkin kehilangan semua motivasi, baik ekstrinsik maupun intrinsik, dan menjadi amotivasi.

d. Ketika relatedness gagal.

    •  Seorang pemain sepak bola bergabung dengan tim karena ia ingin mendapat pengakuan dan dukungan dari pelatih dan rekan satu timnya (introjected regulation). Namun, ia justru merasa diasingkan dan dikritik.
    • Penjelasan: Frustrasi terhadap kebutuhan akan keterhubungan (relatedness) dapat membuat individu merasa terisolasi dan ditolak apabila dijauhi (diasingkan). Perasaan ini dapat merusak semua motivasi dan menyebabkan individu menarik diri, yang berujung pada amotivasi.
  1. Apakah amotivation bisa berubah menjadi intrinsic motivation?

Jawabnya YA

Amotivasi pada akhirnya dapat berubah menjadi motivasi intrinsik, tetapi prosesnya tidak langsung. Perubahan ini adalah transformasi perlahan melalui berbagai tahapan motivasi ekstrinsik pada kontinum SDT (Gambar 2), yang sangat dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan psikologis dasar seseorang: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.

Proses transisi dari amotivasi ke motivasi intrinsik

Perubahan ini adalah proses bertahap, bukan lompatan mendadak. Seseorang akan berpindah dari amotivasi ke intrinsik melalui tahapan regulasi ekstrinsik

1. Dari Amotivasi ke Regulasi Eksternal

Seseorang yang merasa tidak berdaya (amotivated) mungkin pada awalnya hanya akan merespons insentif atau tekanan eksternal.

Contoh: Seorang siswa yang merasa tidak ada gunanya belajar mungkin mulai mengerjakan tugas hanya untuk menghindari hukuman dari orang tua.

2. Dari Regulasi Eksternal ke Regulasi Terintrojeksi: 

Jika seseorang mulai internalisasi tekanan eksternal sebagai sumber motivasi, mereka akan bergerak ke regulasi introjeksi.

Contoh: Siswa tersebut kemudian mulai belajar bukan hanya karena takut dihukum, tetapi karena mereka merasa bersalah atau malu jika mendapat nilai jelek.

3. Dari Regulasi Terintrojeksi ke Regulasi Teridentifikasi 

Dengan dukungan lingkungan yang positif dan pemenuhan kebutuhan psikologis dasar, individu mulai melihat nilai pribadi dari perilaku tersebut, meskipun mereka mungkin masih tidak menikmatinya.

Contoh: Siswa mulai menyadari bahwa menguasai pelajaran itu penting untuk meraih cita-citanya di masa depan. Mereka tidak menikmati prosesnya, tetapi menganggapnya berharga.

4. Dari Regulasi Teridentifikasi ke Regulasi Terintegrasi

Seiring waktu, nilai dari perilaku tersebut menjadi bagian yang utuh dari identitas diri seseorang. Mereka tidak lagi merasakan konflik internal dan perilakunya konsisten dengan nilai-nilai mereka.

Contoh: Siswa sekarang melihat diri mereka sebagai “orang yang peduli dengan pendidikan”. Belajar menjadi tindakan yang selaras dengan identitas mereka.

5. Dari Regulasi Terintegrasi ke Motivasi Intrinsik

Ketika seseorang benar-benar menguasai kegiatan dan mulai menemukan kenikmatan, minat, atau kepuasan yang melekat di dalamnya, motivasi bisa menjadi intrinsik.

Contoh: Setelah menguasai konsep-konsep matematika yang sulit, siswa mulai menikmati tantangan memecahkan masalah yang kompleks. Kesenangan dari proses itu sendiri menjadi dorongan utama.

  1. Apakah amotivation bisa berubah menjadi extrinsic motivation?

Ya, amotivasi dapat berubah menjadi motivasi ekstrinsik. Amotivasi adalah ketiadaan sama sekali niat atau keinginan untuk bertindak. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik melibatkan keterlibatan dalam suatu aktivitas untuk hasil yang dapat dipisahkan, seperti penghargaan atau untuk menghindari hukuman.