Last updated on June 2, 2026 by Bilson Simamora
Daftar Isi
- Pendahuluan
- Model Psikologi Harga
- Charm Price
- Price preciseness
- Compromise dan Decoy Effect
- Price Anchoring
- Visualization
- Ringkasan Taktik Visual
- Kombinasi Taktik
- Taktik yang Kontradiktif
- Apakah Konsumen yang Terpengaruh Harga Psikologis Irasional?
Pendahuluan
Tactical price management dapat dilakukan berdasarkan psikologi harga dan adaptasi harga (yang mencakup geographical pricing, price discounts and allowances, promotional pricing, differentiated pricing/dinamika harga, dan product-mix pricing).
Model Psikologi Harga
Respon psikologis terhadap harga terjadi dengan dua cara, yaitu secara kognitif (cognitive response) dan secara tidak sadar (unconscious response) (Levrini & Jeffman Dos Santos, 2021). Sebenarnya psikologi mencakup aspek-aspek kognisi, emosi, dan alam bawah sadar. Namun, berkenaan dengan bagaimana konsumen merespon harga secara psikologis, para ahli mengartikan psikologi sebagai respon bawah sadar (unconscious response) pada harga, sedangkan respon kognitif dinyatakan sebagai persepsi harga, seperti dijelaskan di sini. Psikologi harga pada artikel ini mengikuti tradisi penamaan ini.

Gambar 1. Model Psikologi Harga
Seperti ditampilkan pada Gambar 1, praktek-praktek yang biasanya dilakukan untuk menstimulasi respon bawah sadar konsumen adalah charm price, price preciseness, compositional price, price decoy, price anchoring dan price visualization.
Charm Price
Charm price disebut juga odd pricing atau 99 ending price. Dua istilah terakhir bisa digunakan di Indonesia karena dengan mata uang rupiah, misalnya Rp 1899 dan Rp 99.999). Namun, untuk tujuan sama, harga juga bisa ditulis Rp 1900 (instead of 1899) dan Rp 99.900 (instead of Rp 99.999), namun tidak bisa dikatakan lagi sebagai harga ganjil (odd pricing) atau harga berakhiran 99 (99 ending price). Kalau di USA, penulisan harga $ 1.99 adalah lumrah karena uang terkecil mereka adalah 1 cent atau $ 0.01. Karena itu, istilah paling tepat digunakan di Indonesia adalah charm price, karena mencakup harga ganjil dan harga genap untuk tujuan yang sama.

Gambar 2. Contoh-contoh Charm Price, Rounded Price dan Price Preciseness
Kenapa charm price berpengaruh?
- Terkesan lebih murah karena konsumen membaca dari sebelah kiri, yang membuat harga terkesan lebih murah. Misalnya: Rp 19900 terkesan lebih murah dari Rp 20000, padahal selisihnya dapat diabaikan (hanya Rp 100).
- Terkesan bahwa harga produk sudah didiskon. Misalnya, Rp 19900 adalah harga diskon dari Rp 20000.
Frase “terkesan lebih murah” dan “terkesan sudah didiskon” menyatakan bahwa kedua alasan di atas hanya “kesan” (impression) dan bukan hasil pemikiran logis konsumen.
Price preciseness
Harga-harga tidak bulat adalah dimaksudkan untuk membentuk persepsi keakuratan harga. Harga yang akurat adalah harga yang dihasilkan oleh perhitungan cermat. Sebenarnya konsumen tidak mengetahui apakah harga dihitung secara cermat atau tidak. Mereka hanya dapat menilai dari bagaimana harga itu ditampilkan, apakah presisi (price preciseness) (misalnya Rp 124.750,78) ataukah bulat (rounded price) (misalnya Rp 125.000.00). Secara logika, apabila perhitungan dilakukan dengan cermat, harga akhir adalah tidak bulat. Namun, secara logika, tidak berarti bahwa harga yang tidak bulat pasti dihitung dengan cermat. Psikologi harga memang tidak menggunakan logika, akan tetapi respon otomatis atau pemikiran di bawah sadar. Secara tidak sadar (unconscious) muncul respon bahwa harga tidak bulat lebih akurat.
Secara praktis, penggunaan harga-harga tidak bulat semakin mungkin dilakukan karena semakin banyak konsumen yang menggunakan transaksi keuangan elektronik (QRIS, emoney, kartu debet, transfer), yang tidak memerlukan “kembalian” sebagaimana dalam transaksi kas.
Harga-harga tidak bulat (price preciseness) dimaksudkan untuk:
- Mencegah terbentuknya specific price level, sehingga perubahan level harga pada range yang diingat konsumen tidak terdeteksi. Konsumen lebih ingat pada angka bulat dari pada tidak bulat. Perhatikan Makarizo T1 Techno Nature Equalizer Shampoo 180 mL. Kalau harganya berubah dari Rp 51.144 menjadi 57.244 akan sulit terdeteksi karena harga terbaru masih pada kelas yang sama 50-ribuan. Ingatan konsumen akan sebuah harga adalah sesuai urutan dari angka sebelah kiri. Kalau harga berubah dari Rp 51.144 menjadi Rp 61.144, maka kelas produk itu akan berpindah ke kelas 60-ribuan karena angka 5 (paling kiri) telah berubah menjadi 6. Sepanjang angka 5 tidak berubah, maka konsumen akan sulit mendeteksi kenaikan harga.
Bagaimana kalau perusahaan memotong harga? Gunakanlah angka genap agar konsumen mudah menghitung besarnya potongan harga, misalnya: Dulu Rp 52.000 sekarang Rp 42.000. Jangan gunakan angka tidak bulat untuk menunjukkan pemotongan harga karena potongan harga sulit dihitung, misalnya: Dulu Rp 51.144, sekarang Rp 42.315.
- Meningkatkan persepsi keakuratan harga (perceived price preciseness) karena sampai angka kecil pun (misalnya Rp 4 pada harga Rp 144) masih diperhitungkan).
Konsumen umumnya menentukan pilihan dengan membandingkan pilihan-pilihan produk yang tersedia. Karena itu, apabila tujuan kita adalah konsumen membandingkan harga sebuah produk dengan harga produk lain dari merek yang sama atau berbeda, maka harga perlu dibuat bulat (rounded). Persepsi keakuratan harga diharapkan memengaruhi kepercayaan konsumen bahwa harga yang ditetapkan itu adalah yang sebenarnya.
Compromise dan Decoy Effect
Walaupun bukan satu-satunya faktor yang dipertimbangkan, konsumen umumnya melakukan perbandingan harga sebelum menentukan pilihan. Penjual mengetahui perilaku tersebut. Untuk memenangkan pilihan, menurut (Gina) Cui et al., 2021), ada dua pengondisian yang dilakukan yang menghasilkan compromise effect dan decoy effect.
Compromise Effect
Compromise effect adalah kecenderungan konsumen tidak memilik pilihan ekstrim, yaitu harga paling rendah atau paling tinggi. Misalnya, dari daftar varian Toyota Fortuner pada Tabel 1, yang paling laris adalah 2.8 VRZ 4×2 AT, seperti diberitakan di sini.
Tabel 1. Varian Toyota Fortuner tahun 2024
| Varian | Harga |
| 2.4 G MT | Rp 582,2 Juta |
| 2.4 G AT | Rp 600,2 Juta |
| 2.7 SRZ | Rp 623,4 Juta |
| 2.7 SRZ GR Aeropackage | Rp 632,8 Juta |
| 2.8 VRZ 4×2 AT | Rp 650,1 Juta |
| 2.8 VRZ 4×2 AT TSS | Rp 666 Juta |
| 2.8 VRZ 4×2 AT TSS GR Aeropackage | Rp 676,6 Juta |
| 2.8 VRZ 4×4 AT | Rp 756,3 Juta |
Decoy Effect
Decoy effect adalah meningkatnya peluang pembelian suatu alternatif dengan menawarkan pilihan kurang menarik. DECOY (umpan) adalah pilihan yang ditawar, di mana perbandingan harga dan fitur bersifat asimetris (artinya harga DECOY mendekati, tetapi fiturnya jauh di bawah TARGET) agar opsi premium (TARGET) terlihat sangat menguntungkan.
Contoh:
Seorang konsumen sedang menimbang-nimbang untuk membeli sepatu lari. Penjual menyediakan tiga opsi di toko:
- Opsi A: (Standar): Sepatu plat non-karbon seharga 1.200.000.
- Opsi B (DECOY/Umpan): Sepatu plat karbon tipe standar seharga 1.900.000.
- Opsi C (TARGET): Sepatu plat karbon tipe premium seharga 2.300.000.
Di sini, Opsi B bertindak sebagai DECOY yang didominasi secara asimetris. Harganya dibuat mendekati Opsi C (hanya selisih Rp400.000), namun fiturnya jauh di bawah Opsi C (hanya tipe standar, bukan premium). Keberadaan Opsi B membuat konsumen merasa rugi jika membeli tipe standar, sehingga secara psikologis mereka langsung terdorong untuk beralih mengambil Opsi C (TARGET) yang terasa jauh lebih bernilai manfaat.
Price Anchoring
Price anchoring adalah bias kognitif di mana individu dipengaruhi denga kuat oleh harga, yang dikesankan sebagai nilai awal (“jangkar”) produk. Nilai awal ini, meskipun tidak relevan, memengaruhi penilaian selanjutnya tentang nilai.
Praktek-praktek price anchoring adalah berupa:
- suatu produk awalnya disajikan dengan harga tinggi, meskipun kemudian didiskon, konsumen mungkin masih menganggapnya sebagai tawaran yang bagus, karena harga awal yang tinggi berfungsi sebagai jangkar.
- Diskon psikologis juga termasuk price anchoring. Bias ini memengaruhi strategi penetapan harga, negosiasi, dan keputusan keuangan, karena jangkar dapat secara tidak sadar membentuk persepsi tentang kewajaran dan nilai.
- Memajang produk lebih terjangkau di samping produk model mewah dapat membuat produk terjangkau sebagai pilihan yang bernilai manfaat dengan harga lebih murah. Praktek ini mirip dengan decoy effect. Bedanya, pada decoy effect, pembeli dalam posisi menimbang-nimbang alternatif favorit. Pada praktek ini, konsumen belum memiliki alternatif favorit.
Visualization
Penampilan viual harga berpengaruh pada respon konsumen (Kolenda, 2023). Berikut ini adalah arahan tentang penampilan visual harga:
- Gunakan font kecil dan tipis: Misalnya: RP 39000, bukan Rp 39000.
- Jangan gunakan titik pada angka RP 39000, bukan Rp 39.000
- Tempatkan pada posisi yang dekat dengan kata-kata rendah, kecil, murah, yang sebenarnya tidak membahas harga itu. Pada contoh di bawah ini harga diposisikan dengan kata “ringan”. Pada iklan bunga plastik di bawah ini, kedekatan posisi antara ‘harga’ dan kata ‘ringan’ menimbulkan asosiasi tidak sadar bahwa harga Rp 35000 adalah ringan.

- Gunakan k untuk mewakili 000, misalnya Rp 39k, bukan Rp 39000.
- Kalau mungkin, hilangkan tanda mata uang, misalnya 39k, bukan Rp 39k
Ringkasan Taktik Visual
| Elemen Visual | Gaya yang Salah (Memicu Kesan Mahal) | Gaya yang Benar (Memicu Kesan Murah) |
| Ukuran & Ketebalan Font | Rp 39.000 (Besar & Tebal) | Rp 39000 (kecil dan tipis) |
| Penyertaan Tanda Baca | Rp 39.000 | Rp 39000 (tanpa titik) |
| Simbol Mata Uang | Rp 39k | 39k (hilangkan simbol jika memungkinkan) |
| Asosiasi Kata | Disandingkan dengan kata “Kuat/Berat” | Disandingkan dengan kata “Ringan/Kecil” |
Konteks Penerapan
Setiap taktik dalam psikologi harga memiliki karakteristik unik, yang menghasilkan bias kognitif yang berbeda di dalam benak konsumen. Oleh karena itu, efektivitas sebuah taktik sangat bergantung pada ketepatan konteks penggunaannya. Perusahaan tidak bisa secara acak menerapkan suatu taktik tanpa mempertimbangkan jenis produk, tujuan strategis bisnis, dan kondisi psikologis target pasar yang dituju.
| Bias kognitif adalah kesalahan sistematis dalam berpikir yang terjadi ketika otak manusia mencoba menyederhanakan informasi yang kompleks. Otak manusia setiap hari dibombardir oleh jutaan informasi. Untuk menghemat energi, otak membuat “jalan pintas mental” (disebut heuristik). Jalan pintas ini sering kali berguna agar kita bisa mengambil keputusan dengan cepat. Namun, jalan pintas ini terkadang melompat ke kesimpulan yang salah. Itulah yang disebut bias kognitif. Heuristik adalah penyederhanaan proses menentukan pilihan berdasarkan pengalaman sendiri atau orang lain. Setiap orang memiliki cara sendiri. Orang yang sudah berpengalaman membeli durian punya cara tersendiri dan sederhana untuk menentukan durian bagus atau tidak. Ada yang mencium aroma, mengetuk-ngetuk atau memeriksa retakan pada kulit durian. Cara tersendiri dan sederhana untuk menentukan pilihan itulah yang disebut heuristik. |
Sebagai contoh, konsumen yang sedang berbelanja pakaian secara impulsif akan merespons harga dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan saat mereka sedang membeli perangkat medis untuk rumah sakit. Kegagalan dalam menyelaraskan taktik harga dengan konteks ini tidak hanya menurunkan konversi penjualan, tetapi juga berisiko merusak citra merek (brand image) di mata konsumen.
Lebih jauh lagi, dalam praktik bisnis riil, konteks yang dihadapi perusahaan sering kali tumpang tindih. Hal ini memungkinkan manajemen untuk menerapkan kombinasi taktik sekaligus (tactical bundling) guna memperkuat efek psikologis—seperti memadukan penetapan harga jangkar (anchoring) dengan penulisan visual yang tipis (price visualization) dan akhiran angka sembilan (charm price).
Untuk mempermudah analisis dan pengambilan keputusan strategis, tabel di bawah ini merangkum peta konteks yang paling optimal untuk menerapkan masing-masing taktik psikologi harga:
| Taktik Harga | Konteks Produk yang Tepat | Tujuan Utama Bisnis | Kondisi Psikologis Konsumen | Contoh Riil di Pasar |
| Charm Price (Akhiran .900 / .999 / k) | Produk konsumsi harian, fashion, makanan, dan belanja impulsif (low involvement). | Meningkatkan volume penjualan secara cepat dengan kesan murah. | Konsumen memproses harga secara emosional dan fokus pada angka paling kiri (left-digit effect). | Baju kaos seharga Rp99.900 atau kopi kekinian 29k. |
| Price Preciseness (Angka Presisi) | Produk teknis, obat herbal, jasa profesional, B2B, atau barang koleksi bernilai tinggi. | Membangun reputasi, kejujuran, keakuratan biaya, dan kepercayaan (trust). | Konsumen berpikir kognitif/rasional dan mengasumsikan harga dihitung berdasarkan kalkulasi biaya riil. | Laptop bisnis seharga Rp14.875.000 atau biaya servis mesin Rp643.500. |
| Compromise Effect (Pilihan Tengah) | Menu restoran, paket langganan aplikasi/SaaS, elektronik, atau ukuran minuman. | Mengarahkan mayoritas konsumen membeli produk dengan margin keuntungan menengah. | Konsumen ingin menghindari risiko (takut barang terlalu jelek atau terlalu mahal) sehingga memilih opsi paling “aman”. | Paket internet: Basic Rp50k, Medium Rp120k, Premium Rp250k. Konsumen memilih Medium. |
| Decoy Effect (Pilihan Umpan) | Bioskop (popcorn), tiket konser, paket bundling produk, atau upgrade fasilitas premium. | Meningkatkan nilai transaksi rata-rata (upselling) ke opsi yang paling mahal (Target). | Konsumen merasa rugi jika tidak mengambil opsi premium karena selisih harga dengan opsi umpan sangat sedikit. | Popcorn: Small Rp35k, Medium Rp65k (Decoy), Large Rp70k (Target). Konsumen memilih Large. |
| Price Visualization (Ukuran font, tata letak, warna) | Semua jenis produk, terutama pada label harga fisik, menu restoran, iklan digital, dan e-commerce. | Mengurangi beban mental konsumen saat melihat harga (reducing price pain). | Konsumen mengasosiasikan ukuran fisik tulisan dengan besaran nilai uang (conceptual size congruence). | Menulis harga diskon dengan font kecil, tipis, tanpa titik (Rp 150000) agar terlihat lebih ringan/murah. |
| Price Anchoring (Harga Jangkar) | Negosiasi mobil bekas, produk diskon e-commerce, atau peluncuran gadget baru. | Menetapkan standar nilai yang tinggi di awal agar harga asli terlihat sebagai keuntungan besar. | Konsumen tidak tahu nilai asli barang dan menggunakan informasi harga pertama yang dilihat sebagai titik acuan penilaian. | Strategi coret harga: Rp500.000 menjadi Rp199.000. Angka 500k menjadi jangkarnya. |
Kombinasi Taktik
Dalam praktik bisnis riil, perusahaan jarang sekali hanya menggunakan satu taktik psikologi harga secara tunggal. Ketika sebuah produk memenuhi lebih dari satu konteks, kombinasi taktik (tactical bundling) justru akan memperkuat efek psikologis di benak konsumen dan melipatgandakan konversi penjualan.
Berikut adalah contoh kombinasi taktik yang paling sering digunakan di industri:
Kombinasi di E-Commerce (Paling Populer)
- Taktik yang Digunakan: Price Anchoring + Charm Price + Price Visualization
- Cara Kerja:
- Perusahaan memasang harga coret tinggi sebagai Anchoring (Rp300.000).
- Harga baru diubah menggunakan Charm Price dengan akhiran angka sembilan (Rp149.900).
- Secara Price Visualization, tulisan angka Rp149.900 dicetak dengan ukuran font yang jauh lebih kecil dan tipis daripada harga jangkarnya.
- Hasil: Konsumen merasa mendapatkan diskon besar (Anchor), harga terlihat sangat murah (Charm), dan beban mental melihat angka menjadi ringan (Visualization).
Kombinasi di Layanan Langganan / Aplikasi (software as service, SaaS)
- Taktik yang Digunakan: Decoy Effect (atau Compromise Effect) + Charm Price
- Cara Kerja:
- Perusahaan menyediakan tiga pilihan paket langganan aplikasi untuk memicu Decoy Effect agar konsumen memilih paket paling mahal.
- Namun, alih-alih menuliskan harga pas (seperti Rp50.000, Rp90.000, Rp100.000), semua angka di setiap paket diubah menggunakan Charm Price (menjadi Rp49.000, Rp89.000, dan Rp99.000).
- Hasil: Konsumen tidak hanya terdorong memilih paket tertinggi karena jebakan decoy, tetapi juga merasa harga paket tersebut lebih murah karena efek bias angka kiri (left-digit bias).
Kombinasi di Industri Kuliner / Restoran
- Taktik yang Digunakan: Compromise Effect + Price Visualization
- Cara Kerja:
- Restoran menyediakan menu kopi dalam tiga ukuran: Small, Medium, dan Large untuk memicu Compromise Effect (agar konsumen mengambil ukuran Medium yang paling aman).
- Di dalam buku menu, harga-harga tersebut ditulis menggunakan Price Visualization yang ekstrem: tanpa simbol mata uang “Rp”, tanpa tanda titik, dan menggunakan font kecil (misal hanya ditulis: S 25 | M 35 | L 45).
- Hasil: Konsumen memilih porsi Medium untuk menghindari risiko, sekaligus tidak merasa “sakit” saat memesan karena hilangnya simbol uang yang biasanya mengingatkan mereka pada pengeluaran.
Taktik yang Kontradiktif
Para pemasar perlu memahami kombinasi taktik yang berhasil sama pentingnya dengan memahami taktik yang kontradiktif. Taktik kontradiktif terjadi ketika perusahaan menggabungkan tatik dengan taktik lain atau strategi, yang memicu bias kognitif yang saling bertolak belakang. Akibatnya, otak konsumen mengalami kebingungan (cognitive dissonance), yang menurunkan kepercayaan (trust) dan membatalkan niat pembelian.
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai pasangan taktik yang kontradiktif dan tidak boleh digabungkan:
1. Charm Price vs Price Preciseness (Emosional vs Rasional)
Ini adalah kontradiksi taktik yang sering terjadi .
- Akar Masalah: Charm Price (akhiran .999 atau .900) bekerja pada sistem otak emosional yang menginginkan kesan murah dan cepat (low involvement). Sebaliknya, Price Preciseness (angka acak/presisi seperti Rp14.872.500) bekerja pada sistem kognitif rasional yang mencari keakuratan, keahlian, dan kejujuran.
- Efek Kontradiksi: Jika Anda menjual produk bernilai tinggi atau jasa profesional (misal: operasi medis atau konsultasi hukum) dengan harga Rp24.999.900, akhiran “.900” akan merusak kredibilitas harga tersebut. Konsumen akan merasa harga tersebut adalah hasil manipulasi pemasaran, bukan kalkulasi biaya yang jujur.
- Aturan Baku: Gunakan harga presisi untuk produk yang butuh tingkat kepercayaan tinggi, dan gunakan charm price untuk produk pemenuhan hasrat/belanja impulsif.
2. Decoy Effect vs Price Anchoring Berlebihan (Fokus Nilai vs Fokus Diskon)
- Akar Masalah: Decoy Effect bertujuan mengarahkan konsumen memilih produk paling mahal (Target) dengan cara membandingkan nilai (value) antar tiga opsi. Sementara Price Anchoring (harga coret) bertujuan membuat harga terlihat murah dibanding harga jangkar di awal.
- Efek Kontradiksi: Jika pada struktur tiga opsi Decoy Effect Anda juga menerapkan diskon coret (anchoring) yang terlalu agresif pada semua opsi, fokus konsumen akan pecah. Konsumen tidak lagi membandingkan fitur asimetris antar-produk, melainkan sibuk mencari produk mana yang memiliki persentase diskon paling besar. Efek umpan dari decoy akan menjadi tidak berguna karena komparasi rasionalnya rusak.
3. Price Visualization Minimalis vs Detail Rincian Biaya (Sederhana vs Kompleks): Taktik vs strategi transparansi harga (price transparency).
- Akar Masalah: Taktik Price Visualization menyarankan untuk membuang semua elemen visual yang membuat harga terlihat “berat”, seperti menghilangkan simbol mata uang, tanda titik, atau menulis angka dengan font kecil tipis (contoh di menu restoran: Pasta 45). Namun, ada taktik lain bernama Cost Transparency (Transparansi Biaya) yang justru menarik konsumen dengan menjabarkan komponen harga secara detail.
- Efek Kontradiksi: Menggabungkan keduanya pada ruang iklan yang sama akan membingungkan konsumen. Di satu sisi perusahaan ingin harga terlihat ringkas dan tidak memicu beban mental (visualisasi minimalis), namun di sisi lain menampilkan rincian biaya (Pajak, Biaya Layanan, Biaya Pengemasan). Ketika visualisasi yang ringkas tiba-tiba diikuti oleh rincian yang rumit, konsumen akan merasa dibohongi (hidden fees).
- Compromise Effect vs Strategi Harga Premium (Pilihan Aman vs Eksklusivitas)
- Akar Masalah: Compromise Effect bekerja karena konsumen ingin mencari jalan tengah yang “aman” (tidak terlalu murah/jelek, tidak terlalu mahal). Sebaliknya, untuk produk mewah (luxury) ysng mengandalkan bias status sosial, konsumen justru mencari opsi yang paling mahal untuk menunjukkan eksklusivitas.
- Efek Kontradiksi: Jika sebuah merek mewah (seperti tas desainer atau supercar) mengeluarkan tiga lini produk untuk memicu compromise effect agar konsumen membeli varian tengah, praktek ini justru akan menurunkan nilai merek tersebut. Konsumen barang mewah tidak mencari kompromi atau keamanan; mereka mencari ekstremitas (paling mahal/terbatas). Menyediakan opsi “jalan tengah” justru menurunkan gengsi produk di mata kolektor.
Apakah Konsumen yang Terpengaruh Harga Psikologis Irasional?
Seperti telah disampaikan, psikologi harga menyebabkan bias kognitif. Namun, bukan berarti konsumen yang terpengaruh harga psikologis bersifat irasional. Menurut Thomas (2013), pada saat mengekspos harga psikologis, konsumen juga melakukan proses kognitif secara tidak sadar (unconscious) atau secara otomatis, namun tidak mendalam. Kenapa tidak mendalam? Konsumen melakukan penyederhanaan prosedur (heuristic) seperti telah dijelaskan. Penyederhanaan tersebut berpotensi menyebabkan bias.
Proses kognitif singkat tersebut menghasilkan emosi (misalnya suka, tidak suka) secaras pontan, yang dinamakan Thomas (2013) sebagai perasaan kognitif. Menurutnya, cognitive feeling adalah emosi yang bersifat sementara, yang kita alami waktu berjumpa dengan suatu stimuli. Setelah perjumpaan berlalu, perasaan (emosi) itu juga berlalu. Untuk memahaminya, bayangkan anda melihat anak kecil yang cute di sebuah mal. Pada saat perjumpaan anda merasa “suka” dan mungkin berkata: “Cute banget nih anak, menggemaskan.” Perasaan itu tidak berlangsung lama dan akan berlalu setelah perjumpaan dengan anak itu berlalu. Seperti itulah perasaan kita saat berjumpa dengan harga-harga psikologis. Seperti dikatakan Thomas (2013):
“Unlike emotional states such as sadness or anger that can last for a long time, cognitive feelings are transient. That is, cognitive feelings last for less than fraction of a second and often escape conscious attention” (page 142).
Cognitive feeling hanya kita alami saat perjumpaan dengan harga produk dan hilang apabila perhatian kita tersita oleh stimuli lain. Namun, perasaan sesaat itu bisa mempengaruhi keinginan membeli produk.
Referensi
- (Gina) Cui, Y., (Sam) Kim, S., & Kim, J. (2021). Impact of preciseness of price presentation on the magnitude of compromise and decoy effects. Journal of Business Research, 132, 641–652. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2020.10.017
- Kolenda, N. (2023). The Psychology of Pricing: Which Digits? How High? Should it be Rounded? A Checklist of Pricing Tactics. https://cdn.prod.website-files.com/6455268783d6938b9451ea80/65b401f4481c7b409888959b_Psychology%20of%20Pricing.pdf
- Levrini, G. R. D., & Jeffman Dos Santos, M. (2021). The Influence of Price on Purchase Intentions: Comparative Study between Cognitive, Sensory, and Neurophysiological Experiments. Behavioral Sciences, 11(2), 16. https://doi.org/10.3390/bs11020016
- Thomas, M. (2013). Commentary on behavioral price research: The role of subjective experiences in price cognition. AMS Review, 3(3), 141–145. https://doi.org/10.1007/s13162-013-0044-y