Semua tentang Siapa Saya Ini?

DAFTAR ISI

  1. Siapa Saya?
  2. Sense-of-Self
  3. Konsep Diri (Self-Concept)
  4. Self-Concept: Multiple or single?
  5. Inner-Self dan Outer-Self
    1. Inner Self
    2. Outer Self
  6. Kesenjangan inner self dan outer self
  7. Identitas diri (self-identity)
  8. Citra Diri  (Self-Image)
  9. Citra diri vs. identitas diri: Mana yang lebih kuat?

Siapa Saya?

Pertanyaan “siapa saya?” berasal dari kesadaran diri bahwa saya ini adalah seseorang (disebut sense-of-self atau self-awareness).  Pendefinisian “who am I” dijelaskan dalam berbagai konsep yang berhubungan erat, yaitu:

  1. Sense-of-self.
  2. Self-recognition.
  3. Konsep diri (self-concept).
  4. Inner Self .
  5. Identitas diri (self-identity).
  6. Identitas personal (personal identity).
  7. Identitas sosial (sosial identity).
  8. Citra diri (self-image).

Berikut ini dijelaskan satu per satu.


Sense-of-Self

Kesadaran diri (sense of self)  adalah pemahaman sadar (consciuous understanding) dan persepsi seseorang tentang identitas, pemikiran, perasaan dan pengalaman dirinya. Menurut para ahli, kesadaran diri sudah mulai muncul sejak bayi berusia 6 bulan sampai 12 bulan, namun tentu tingkatannya masih dangkal, baru sekedar menyadari keberadaan dirinya.

Lebih lanjut, pada usia 12 sampai 24 bulan terbentuk self-recognition, yaitu kesadaran bahwa ada  saya, ada orang lain. Maksudnya, dengan self-recognition, muncul kesadaran akan  keberadaan diri sebagai seseorang (separate self) di tengah keberadaan orang lain (Kilroy, 2021). Pada usia ini, biasanya anak sudah mengenal wajahnya bila bercermin bersama orang lain dan sudah merespon bila namanya dipanggil. Konsep diri dan pembentukan identitas diri muncul pada masa remaja. Setelah dewasa sense-of-self terus berubah sesuai dengan pengalaman, hubungan dan perkembangan diri.


Konsep Diri (Self-Concept)

Konsep diri  adalah keseluruhan gambaran seseorang tentang dirinya berdasarkan keyakinan, nilai, dan sikap tentang dirinya, termasuk karakteristik fisik, sifat-sifat, kekuatan, kelemahan, dan keunikan dirinya. Dalam bahasa Inggris kalimatnya adalah:

“Self-concept is the sum of an individual’s beliefs, perceptions, and thoughts about themselves, which form their personal identity.”

Konsep diri adalah seluruh keyakinan, persepsi, dan perasaan individu tentang dirinya, yang mencakup berbagai dimensi seperti aspek fisik, sosial, dan emosional yang diketahui individu tentang dirinya.

Konsep diri muncul dari dialog internal diri kita. Kalimat kuncinya adalah:

“Siapa saya menurut saya” (who am I to myself).

Karena dibentuk berdasarkan keyakinan sendiri, konsep diri belum tentu akurat.

Menurut Solomon (2020), dalam merumuskan konsep diri, ada lima aspek yang terlibat, yaitu sumber-sumber konsep diri , valensi (negativity, positivity) atau arah konsep diri, dominasi sebuah konsep, dan kestabilan konsep diri dari waktu ke waktu dan akurasi.

  1. Sumber, dinamakan juga atribut-atribut atau trait,  berkaitan dengan bahan pembentuk konsep diri, meliputi faktor internal (misalnya: trait kepribadian, kecerdasan, kondisi fisik) dan faktor eksternal (misalnya: keturunan siapa saya atau saya anak siapa, saya bergaul dengan siapa, saya tinggal di mana).
  2. Valensi, berkaitan dengan arah atribut-atribut atau trait dimaksud, apakah positif, netral ataukah negatif.
  3. Dominasi, berkaitan dengan kekuatan relatif sebuah atribut diri dibanding yang lain (misalnya “Saya kreatif” mungkin lebih kuat dari “Saya pengertian”). Bobot atribut tidak sama, ada yang lebih kuat, ada yang lebih lemah. Atribut Susi Susanti sebagai pemenang  medali emas pertama Indonesia, sangat dominan.
  4. Kestabilan, berkaitan dengan apakah konsep diri bertahan dari waktu ke waktu untuk tidak berubah? Atribut konsep diri dapat berubah sejalan dengan perubahan waktu.
  5. Akurasi, berkaitan dengan apakah konsep diri sesuai kenyataan?  Karena didasarkan pada penilaian sendiri, konsep diri bisa faktual (akurat) dan subjektif. Penilaian subjektif berpotensi menimbulkan bias (tidak akurat). Konsep diri yang sehat adalah yang akurat dan berimbang antara kekuatan dan kelemahan. Terlalu fokus pada kelebihan atau pada kekurangan adalah akan menghasilkan konsep diri yang tidak sehat.

Tabel 1. Contoh-contoh Keyakinan Diri sebagai Atribut Konsep Diri

Contoh-contoh atribut positif:

“Saya cerdas.”
“Saya baik .
“Saya kompeten.”
“Saya pendengar yang baik ”
“Saya mampu mengahadapi tantangan.”
“Saya kreatif .”
“Saya bertanggung jawab.”
“Saya jujur .”
“Saya mandiri.”
“Saya berpikiran terbuka.”
“Saya sabar.”
“Saya berorientasi pada detail.”
“Saya berempati pada perasaan orang lain.”
“Saya optimis.”

Contoh-contoh atribut netral:

“Saya berkacamata,”
“Saya suka warna biru,”
“Saya bekerja sebagai akuntan.”
“Saya suka makanan yang manis”

Catatan: Atribut-atribut ini bisa menjadi positif atau negatif tergantung pada interpretasi dan konteksnya, tetapi secara intrinsik tidak bermuatan emosi kuat.

Contoh-contoh atribut negatif:

“Saya bodoh.”
“Saya selalu bernasib sial.”
“Saya tidak menarik bagi lawan jenis.”
“Saya orang miskin.”
“Saya sulit bergaul.”
“Saya berasal dari keluarga dengan garis keturunan terkutuk.”

Self-Concept: Multiple or single?

Apakah konsep diri banyak ataukah satu? Seperti telah disampaikan, konsep diri  didefinisikan sebagai keseluruhan gambaran seseorang tentang dirinya berdasarkan keyakinan, nilai, dan sikap tentang dirinya, termasuk karakteristik fisik, sifat-sifat, kekuatan, kelemahan, dan keunikan dirinya. Ini adalah definisi awal tentang konsep diri. Secara tidak langsung, frase “keseluruhan gambaran seseorang tentang dirinya” menyatakan bahwa konsep diri adalah tunggal (single self-concept).  Tetapi, dalam perkembangannya, para ahli menganggap konsep diri sebagai entitas ganda (multiple self-concept) (Solomon, 2018).

Untuk memahami konsep diri ganda, kita bisa menggunakan pemikiran Wallace (2019) bahwa atribut-atribut konsep diri adalah saling berhubungan dalam satu jejaring. Misalkan, Gambar 1 berikut ini adalah atribut-atribut yang dimiliki oleh Jo Simamora.

Gambar 1. Atribut-atribut Diri Bilson Simamora

Kita sulit membuat satu rumusan konsep diri berdasarkan semua atribut-atribut atau sifat-sifat yang kita miliki. Menurut Wallace (2019), dalam membangun konsep diri, kita mengelompokkan atribut-atribut yang saling berkaitan. Ia menggunakan konsep clustering untuk pengelompokan dimaksud. Clustering yang dilakukan Jo Simamora menghasilkan enam konsep diri (Tabel 2). Melalui clustering itulah dapat dimengerti bahwa konsep diri adalah ganda (multiple), bukan tunggal (single).

Tabel 2. Pengembangan Konsep Diri berdasarkan Atribut-Atribut Diri

No.AtributKonsep diri
1Seorang suami (netral)Saya adalah seorang suami, ayah tiga anak, yang sayang pada keluarga
Ayah tiga anak (netral)
Sayang keluarga (positif)
2Pekerja keras (positif)Saya adalah pekerja keras yang rajin dan menghargai waktu
Rajin (positif)
Menghargai waktu (positif)
3Suka bertukang (positif)Saya adalah orang yang suka bertukang dan kreatif
Kreatif (positif)
4Orang Batak (netral)Saya adalah orang Batak asal Sumatera Utara yang tinggal di Bekasi
Berasal dari Sumatera Utara (netral)
Tinggal di Bekasi (netral)
5Berbadan pendek (negatif)Saya adalah laki-laki berbadan pendek dengan wajah tidak menarik, tetapi berotot dan maskulin
Wajah tidak menarik (negatif)
Berotot (positif)
Maskulin (positif)
Laki-laki (netral)
6Suka motor (netral)Saya adalah orang yang suka motor dan menjelajah tempat-tempat baru
Suka menjelajah tempat-tempat baru (netral)

Dari Tabel 2 terlihat bahwa konsep diri dapat tersusun atas:

  1. Atribut-atribut positif saja, misalnya konsep diri nomor dua, yang disusun berdasarkan atribut-atribut:
    • Pekerja keras (positif).
    • Rajin (positif)
    • Menghargai waktu (positif)
  2. Atribut-atribut netral saja, misalnya konsep diri nomor empat, yang disusun berdasarkan atribut-atribut:
    • Orang Batak (netral)
    • Berasal dari Sumatera Utara (netral)
    • Tinggal di Bekasi (netral)
  3. Atribut-atribut positif, netral dan negatif sekaligus, misalnya konsep diri nomor 5, yang dibentuk menggunakan atribut-atribut:
    • Berbadan pendek (negatif)
    • Wajah tidak menarik (negatif)
    • Laki-laki (netral)
    • Berotot (positif)
    • Maskulin (positif)
  4. Atribut-atibut negatif saja (tidak ada contoh dalam Tabel 2), misalnya:
    • Saya orang miskin (negatif).
    • Saya dijauhi keluarga (negatif).
    • Saya ditakdirkan hidup melarat (negatif)

Apabila valensi atribut-atribut yang digunakan seragam, maka konsep diri yang dihasilkan, apakah positif, netral dan negatif, dapat disimpulkan dari valensi atribut-atribut yang digunakan. Apabila valensi atribut-atribut yang digunakan tidak searah (no. 1 dan no. 5), maka valensi konsep diri tidak dapat disimpulkan.

Inner Self, Ideal Self, Outer Self, dan Fake Self

inner self secara luas dipahami sebagai konsep diri yang paling otentik atau sejati. Istilah ini merujuk pada inti kesadaran diri yang mencakup nilai-nilai, keyakinan, kepribadian, dan emosi yang terdalam, yang membentuk siapa diri Anda sesungguhnya.

a. Inner-Self

Inner self adalah konsep diri yang paling otentik atau sejati. Inner self mencakup nilai-nilai, keyakinan, kepribadian dan emosi yang terdalam, yang membentuk siapa diri kita sesungguhnya. Inner self tersimpan dalam gudang bawah sadar dari pikiran, ingatan, emosi, dan aspek lain dari pikiran,yang tersimpan di bawah alam sadar (subconscious) kita. Seperti diukatakan Cuncic (2023):

“The inner self is the subconscious repository of your thoughts, memories, emotions, and other aspects of your mind that make up who you are.”

Bagian ini berkaitan dengan kesehatan fisik, mental dan spiritual. Inner self berisikan aspek-aspek diri seperti seperti perasaan, intuisi, nilai, keyakinan, kepribadian, pikiran, emosi, fantasi, spiritualitas, keinginan, dan tujuan, yang bersifat pribadi (tidak kita komunikasikan), tidak kita tampakkan pada publik atau hanya kita bagikan kepada orang-orang tertentu. Sebenarnya, inilah identitas yang asli atau tidak dibuat-buat, tidak seperti outer self sebagai identitas diri yang sengaja dibentuk. Pernyataan singkat Collins English Dictionary (n.d.) tentang inner self : “A person’s true or internal mind, soul, or nature.” Meditasi dapat digunakan untuk menemukan atau menyeimbangkan aspek-aspek inner self.

Kenapa inner self dianggap sebagai konsep diri paling otentik? Jawabnya:
  • Berada di balik topeng sosialInner self adalah siapa diri kita sesungguhnya, berbeda dari peran sosial, harapan, dan penampilan luar yang penuh sandiwara.
  • Fondasi bagi keputusanInner self membantu kita membuat keputusan yang selaras dengan nilai-nilai dan keyakinan inti kita, sehingga tindakan yang terasa tepat.

Contohnya, sebuah perusahaan asuransi menawarkan polis asuransi  dengan premi enam juta rupiah setahun pada para karyawan sebuah kantor. Nilai pertanggungan adalah 70 juta rupiah kalau dirawat di rumah sakit dan 300 juta rupiah kalau meninggal dalam masa berlaku polis. Karena penawaran dilakukan secara kolektif, perusahaan asuransi tidak melakukan penelitian untuk menentukan layak-tidaknya karyawan membeli polis. Seorang karyawan berencana melakukan operasi tahun depan dengan biaya 60 juta rupiah. Namun, atas nama kejujuran karyawan menolak membeli polis karena menurutnya asuransi adalah menanggung resiko. Kalau peluang kejadian 100%, maka itu bukan resiko, tetapi kepastian. Dari contoh ini, sifat jujur adalah atribut inner self yang bersangkutan.

  • Sumber keaslian. Mengenal dan terhubung dengan inner self merupakan kunci untuk hidup otentik, yaitu hidup dengan integritas dan selaras dengan diri sejati Anda.

Pertanyaannya, kenapa inner self tidak tampak pada orang lain? Ada beberapa  kemungkinan jawabannya:

  1. Kita merasa tidak perlu menampilkan inner self. Sebagai contoh, seorang kaya merasa tidak perlu memamerkan kekayaannya di depan umum.
  2. Kita merasa inner self sebagai sesuatu yang bersifat privat atau rahasia. Misalnya, seorang merasa orientasi seks tidak normal yang dimilikinya adalah rahasia. Diri yang kita tidak ditampilkan dinamakan hidden self.
  3. Kita tidak menampilkan inner self untuk suatu tujuan.  Ceritanya di sekolah swasta uang SPP ditentukan berdasarkan tingkat ekonomi orang tua. Pernah dengar olok-olok ini? “Saat mendaftar datang seperti pembantu (maaf, bukan merendahkan), saat terima raport datang seperti toko emas berjalan”. Maksudnya, agar anaknya dikenakan SPP lebih rendah, ibu-ibu datang dengan penampilan seperti orang miskin. Saat terima raport, ibu-ibu tampil ‘wah’ (reminder: tidak semua ibu seperti itu).

Terakhir, inner self adalah diri yang utuh dan tidak dipengaruhi ekspektasi eksternal. Mencari dan memahami inner self adalah proses penting dalam penemuan diri dan pengembangan pribadi.

b. Ideal Self

Ideal self adalah gambaran  diri yang kita cita-citakan atau ingin kita capai. Menurut psikolog Carl Rogers, ideal self adalah versi diri yang sempurna dan sering kali dibentuk oleh harapan sosial atau cita-cita pribadi. 

Ideal self adalah konsep berorientasi masa depan atau mewakili visi siapa di kemudian hari, bukan siapa Anda saat ini. Ini adalah gambaran dari diri Anda yang paling diinginkan, yang mencakup tujuan, ambisi, dan impian yang ingin anda capai. Selengkapnya, fungsi ideal self adalah:

  1. Gambar masa depan yang diinginkan: Ideal self adalah gambaran yang samar-samar namun kuat tentang masa depan yang diinginkan, yang ditarik dari impian, fantasi, nilai, dan filosofi hidup Anda.
  2. Panduan untuk pertumbuhan: Dengan memvisualisasikan diri Anda yang ideal, Anda menciptakan peta jalan untuk menuntun Anda dari posisi Anda saat ini menuju tujuan masa depan Anda.
  3. Penggerak perubahan: Ideal self adalah sumber motivasi intrinsik dan penggerak utama untuk perubahan yang disengaja. Ini mendorong Anda untuk membuat pilihan yang mendukung aspirasi jangka panjang Anda.
  4. Sumber harapan: Ideal self berfungsi sebagai rumah bagi harapan, tujuan, dan impian. Kejelasan tentang visi ini memicu motivasi dan tindakan terfokus untuk mencapai keadaan diri. yang baru.

Bagaimana kalau actual self berbeda dari ideal self? Kesenjangan (incongruence) yang terlalu jauh antara actual self dan ideal self dapat menyebabkan:

  • Kecemasan dan depresi: Terus-menerus membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis dapat memicu perasaan “tidak pernah cukup”. Jika ideal self terasa jauh dari jangkauan, individu bisa merasa putus asa, yang dapat memicu kecemasan dan depresi.
  • Munculnya rasa rendahnya harga diri: Bila ideal self terlalu tinggi dan inevidu merasa tidak mampu mencapainya, rasa percaya diri dan harga diri dapat tergerus. 
  • Perasaan gagal dan malu: Individu mungkin merasa gagal karena tak bisa memenuhi ekspektasi dirinya sendiri. Kesenjangan ini dapat menimbulkan rasa malu dan ketidakpuasan, yang kemudian membuat mereka takut pada kegagalan di masa depan.
  • Perfeksionisme dan sabotase diri: Seseorang mungkin menjadi sangat perfeksionis dalam upaya untuk memenuhi ideal self, tetapi pada saat yang sama, ia bisa melakukan sabotase diri karena keyakinan yang mendalam bahwa ia tidak akan pernah bisa mencapainya.
  • Pengaruh media sosial: Kesenjangan ini sering kali diperburuk oleh media sosial, di mana individu terus-menerus membandingkan kehidupan nyata mereka (actual self) dengan versi kehidupan orang lain yang dianggap ideal (ideal self)
  • Kecemasan dan depresi: Terus-menerus membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis dapat memicu perasaan “tidak pernah cukup”. Jika ideal self terasa jauh dari jangkauan, individu bisa merasa putus asa, yang dapat memicu kecemasan dan depresi.
  • Rendahnya harga diri: Merasa tidak mampu mencapai versi diri yang ideal dapat mengikis rasa percaya diri dan harga diri. Perasaan tidak berharga ini bisa menjadi penghalang besar bagi pertumbuhan pribadi.

c. Outer-Self

Outer self adalah citra diri kita di mata public. Dalam membentuk outer self, kita dapat  memilih sumber-sumber yang berharga, yang dapat dijadikan sebagai sumber idenditas diri (diharapkan disaksikan dan dihargai orang lain), seperti penampilan diri (rambut, pakaian, jam tangan, jaket, sepatu dan lain-lain), sikap, ucapan, prestasi dan lain-lain. Outer self berfungsi seperti “cangkang” yang melindungi serta mendukung posisi dan peranan kita (social roles) dalam masyarakat.

Outer self dibentuk oleh faktor-faktor eksternal, seperti penampilan fisik, peran sosial, pekerjaan, dan harta benda. Istilah ini adalah lawan langsung dari inner self, yang merupakan diri sejati atau inti dari kesadaran.

d. False self

False self atau diri yang menyimpang merupakan citra yang dikembangkan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan memenuhi harapan orang lain, terkadang sampai mengorbankan diri sejati.  False self adalah mekanisme pertahanan diri dari ancaman penolakan orang lain. False self dibentuk  ketika individu merasa bahwa diri mereka tidak diterima bila menampilkan diri sebenarnya (actual self).

Contoh-contoh false self:

Contoh 1: Anak yang berprestasi sempurna.

  • Inner self: Donda adalah  anak yang kreatif yang suka seni dan musik, namun merasa cemas jika tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.
  • False self: Orang tuanya hanya memberikan pujian dan kasih sayang saat Donda berprestasi secara akademis. Untuk mendapatkan persetujuan itu, Donda menciptakan false self yang sempurna dengan nilai-nilai akademik yang bagus dan mendapat penghargaan sebagai anak berpretasi.
  • Konflik: Setelah dewasa, Donda memperoleh kesuksesan finansial. Tetapi, di  balik kesuksesan finansial  itu,Donda merasa “kosong dan hampa” karena tidak pernah mengejar hasrat otentiknya.
Contoh 2: Gabri adalah suami yang selalu menyenangkan
  • Inner self: Gabri sebenarnya memiliki banyak kebutuhan, keinginan, dan keterbatasan pribadi.
  • False self: Untuk mempertahankan hubungan dan menghindari konflik dengan istri, Gabri menjadi pasangan  yang selalu menyenangkan istrinya.  Ia selalu setuju dengan istrinya, menekan aspirasi, dan mengorbankan kebutuhan pribadi demi isrinyanya.
  • Konflik: Keinginan dan kebutuhan  yang selalu ditekan akhirnya menumpu dan Gabri mengalami depresi. Ketika ia mencoba mengekspresikan perasaan, istrinya terkejut dan berkata: “Kamu kesambet apa? Selama ini kamu tidak pernah terlihat seperti ini”, lalu muncullah konflik yang lebih besar.
Contoh 3: Tokoh publik
  • Inner self: Andi adalah politisi yang peragu dan mudah merasa cemas. Ia tidak selalu yakin dengan semua kebijakan yang ia dukung.
  • False self: Di depan publik, Andi menampilkan diri sebagai orang yang berkharisma, percaya diri, dan tegas,dan teguh dengan keyakinan politiknya.
  • Konflik: Di balik layar, Andi merasa sangat tertekan dan ketakutan bila “kelemahan” dirinya terungkap. Andi tidak bisa membangun hubungan yang tulus dengan orang-orang di sekitarnya karena ia tidak pernah menunjukkan jati diri. 
Contoh 3: Tokoh publik
  • Inner self: Seorang politisi yang memiliki keraguan diri dan rasa cemas. Ia tidak selalu yakin dengan semua kebijakan yang ia dukung.
  • False self: Di depan publik, ia menampilkan citra yang karismatik, percaya diri, dan tegas, selalu memegang teguh keyakinan politiknya.
  • Konflik: Di balik layar, ia merasa sangat tertekan dan ketakutan akan terungkapnya “kelemahan” yang ia rasakan. Ia tidak bisa membangun hubungan yang tulus dengan orang-orang di sekitarnya karena ia tidak pernah menunjukkan diri aslinya. Hal ini dapat berujung pada kelelahan ekstrem dan penyalahgunaan zat untuk mengatasi tekanan.

Berikut ini adalah dampak psikologis false self bila dominan dalam diri seseorang:

  • Perasaan hampa dan mati rasa. Individu merasa tidak terhubung dengan emosi mereka yang sebenarnya dan menjalani hidup dengan perasaan kosong di dalam.
  • Kecemasan kronis. Individu terus-menerus cemas akan terungkapnya diri palsu mereka, yang dapat memicu ketakutan, rasa bersalah, dan kecemasan sosial.
  • Hubungan yang tidak otentik. Hubungan yang dibangun berdasarkan false self akan terasa dangkal. Individu dengan false self yang dominan akan kesulitan membentuk ikatan yang tulus dan bermakna dengan orang lain.
  • Kehilangan spontanitas dan kreativitas. Karena selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, individu menjadi tidak bisa mengekspresikan diri secara spontan. Mereka menjadi tidak orisinal dan kehilangan kreativitas mereka yang sebenarnya.
  • Rendahnya harga diri. Meskipun berhasil membangun citra diri yang sukses, individu tersebut tidak merasa bangga secara mendalam karena keberhasilan itu tidak berasal dari diri sejati mereka. 

c. Kesenjangan inner self dan outer self

Inner self dan outer self bisa berbeda, bahkan konflik. Konflik antara inner self (diri otentik dan mendalam) dan outer self (diri yang ditampilkan ke publik) dapat menyebabkan ketegangan psikologis. Seseorang akan merasa tidak nyaman, cemas, dan terpisah dari diri sendiri menjadi orang lain). Ketegangan ini menimbulkan masalah yang lebih besar, seperti depresi, kelelahan emosional (burnout), dan rendahnya harga diri.

Contoh 1: Karyawan yang Selalu Menyetujui.
  • Inner self: Andi adalah seorang karyawan yang sangat menghargai kejujuran dan keberanian untuk berbicara, namun juga cenderung pemalu dan takut akan konfrontasi.
  • Outer self: Di kantor, Andi selalu setuju dengan semua ide dan keputusan atasan dan kolega, bahkan ketika ia memiliki keraguan atau pendapat yang berbeda. Ia dikenal sebagai sosok yang “mudah diatur” dan “bisa diajak kerja sama”.
  • Konflik: Ketidakselarasan antara nilai-nilai kejujuran (inner self) dengan tindakan penurut (outer self) menyebabkan stres dan perasaan bersalah. Ia merasa tidak jujur pada dirinya sendiri dan akhirnya merasa tidak dihargai, yang memicu kelelahan emosional.
Contoh 3: Seseorang yang menyembunyikan identitas asli.
  • Inner self: Guman sadar bahwa dirinya memiliki orientasi seksualnya yang berbeda, namun ia dibesarkan di lingkungan yang tidak toleran.
  • Outer self: Guman terpaksa “berakting” sebagai orang normal di depan umum, termasuk dalam pergaulan atau saat menjalin hubungan romantis.
  • Konflik: Perbedaan antara identitas seksual yang sebenarnya (inner self) dan identitas yang ditampilkan (outer self) menyebabkan tekanan yang besar dan penderitaan emosional. Guman mengalami disonansi dan kesulitan membangun hubungan yang otentik karena ia tidak bisa sepenuhnya menjadi dirinya sendiri.
Dampak Psikologis
  • Kelelahan emosional: Berpura-pura menjadi orang yang berbeda di depan umum menguras energi mental dan emosional. Terkurasnya energi mental dan emosional ini pada akhirnya bisa menyebabkan kelelahan kronis dan burnout.
  • Perasaan hampa: Meskipun tampak sukses atau bahagia di mata orang lain, individu yang tidak selaras dengan diri sejati mereka sering kali merasa kosong atau hampa di dalam.
  • Kecemasan dan depresi: Ketegangan akibat perbedaan ini dapat memicu kecemasan, kegelisahan, dan bahkan depresi. Semakin besar kesenjangannya, semakin besar pula penderitaan yang dirasakan.
  • Kerja sama dan hubungan yang tegang: Hubungan dengan orang lain bisa terasa dangkal atau tidak otentik karena didasarkan pada persona yang palsu. Hal ini menyebabkan kurangnya dukungan emosional yang tulus dan dapat memperburuk perasaan kesepian.
  • Penurunan harga diri: Ketika nilai-nilai yang dijunjung tinggi di dalam hati tidak tercermin dalam tindakan sehari-hari, hal ini dapat menurunkan rasa harga diri dan kepercayaan diri.
  • Mencari “jalan keluar” yang merusak: Beberapa orang mungkin mencari pelarian dari penderitaan psikologis ini melalui kebiasaan yang tidak sehat, seperti penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan.

Tabel 3. Ringkasan Konsep Diri yang Dipengaruhi Orang Lain

Konsep DiriKarakteristikHubungan dengan Inner Self
Outer SelfTerlihat oleh orang lain, fleksibel, dibentuk oleh peran sosial dan lingkungan.Sebuah topeng atau cangkang yang kita gunakan di depan publik, yang mungkin tidak selalu selaras dengan inner self.
False SelfDikembangkan untuk mencari persetujuan orang lain atau melindungi diri dari penolakan.Mengkhianati inner self dan bisa menyebabkan perasaan kekosongan atau ketidakpuasan.
Ideal SelfGambaran diri yang ingin dicapai, sering kali dipengaruhi oleh cita-cita atau tekanan sosial.Meskipun bisa menjadi motivasi yang sehat, jarak yang terlalu jauh dari inner self bisa memicu kecemasan.
Konsep diri mencakup inner self, outer self, ideal self dan fake self, namun konsep diri adalah dinamis dan tidak semua orang memiliki keempat komponen tersebut. Berikut adalah beberapa alasan mengapa konsep diri seseorang mungkin tidak mencakup atau tidak menyadari keempat komponen ini secara bersamaan:
1. Perkembangan konsep diri yang berbeda:
  • Anak-anak memiliki pemahaman diri yang sederhana dan terpusat konsep diri yang terlihat (outer self) dan mengembangkan nilai-nilai intrinsik (inner self).
  • Remaja sibuk mengeksplorasi identitas membandingkan real self dan ideal self.
  • Beberapa orang mungkin tidak pernah mengembangkan pemahaman yang kuat tentang inner self mereka yang otentik karena berbagai alasan.
2. Dominasi Satu Komponen
  • Dominasi outer self: Seseorang mungkin memberikan  pada penampilan luar, peran sosial, dan bagaimana orang lain memandangnya mungkin kurang menyadari inner self-nya.
  • Dominasi fake self: Individu yang selalu berusaha memenuhi harapan orang lain mungkin memiliki fake self yang sangat berkembang, tetapi inner self mereka menjadi tersembunyi dan tidak terakses. Dalam kasus yang ekstrem, psikoanalis Alice Miller bahkan menyarankan bahwa beberapa orang mungkin tidak memiliki true self yang terbentuk di balik false self.

Identitas diri (self-identity)
Kalau konsep diri adalah siapa saya di mata saya (who am I to myself), maka identitas diri muncul dari proses refleksi diri yang berkelanjutan dan negosiasi dengan orang lain (self-identity emerges from an ongoing process of self-reflection and negotiation with others).
Kata negosiasi dengan orang lain tidak merujuk pada proses tawar-menawar formal seperti dalam bisnis, melainkan sebuah proses interaksi timbal balik yang terjadi secara berkelanjutan. Proses ini melibatkan saling memberi dan menerima dalam percakapan verbal dan non-verbal untuk mencapai kesepakatan informal tentang “siapa diri kita” dalam suatu hubungan atau kelompok.
Pembentukan identitas diri diperlukan agar kita dapat membangun pemahaman yang utuh, koheren, dan otentik tentang diri sendiri agar bisa berfungsi dengan baik dalam kehidupan
Karena itulah, menurut Abrahamse (2019), identitas diri normalnya dibentuk melalui sumber-sumber yang positif, dominan dan stabil.
Pertanyaan: Dari empat kategori konsep diri (inner self, outer self, ideal self dan false self), maka yang kita jadikan sebagai sumber identitas diri?
Jawab: Kita tidak menjadikan hanya salah satu dari empat kategori tersebut sebagai identitas diri. Identitas diri adalah hasil dari integrasi dan interaksi yang kompleks antar atribut-atribut konsep diri, yang  bisa bersumber dari inner selfouter self,  dan fake self secara berimbang. Ideal self adalah diri masa depan (saya seorang dokter), sehingga kalau pun dipakai sebagai sumber identitas diri, paling-paling dapat menunjukkan peluang menjadi diri ideal (misalnya: calon dokter).
Apa yang dimaksud dengan integrasi dan interaksi yang kompleks antar atribut-atribut konsep diri pada jawaban di atas?
Jawab: Untuk memahami, lihat Gambar 20, ada 20 atribut diri Bilson Simamora. Kemudian, dengan clastering dihasilkan enam konsep diri (Table 2). Keenamnya tidak statis. Bilson Simamora bisa menggabung atribut-atribut diri untuk membentuk konsep diri yang relevan sesuai dengan tujuan dan kelompok sosial pada siapa konsep diri tersebut ditampilkan.

Lagi pula, identitas diri adalah konsep ganda. Kita menampilkan konsep diri berbeda dalam lingkungan sosial yang berbeda. Kita ambil contoh identitas diri Agus.

  • Pada lingkungan keluarga istrinya, identitas diri Agus: “Saya baik dan penyayang.” (positif).
  • Pada lingkungan Jakmania, identitas Agus: “Saya adalah fan berat Persija.”
  • Pada lingkungan pekerjaan, identitas Agus: “Saya adalah orang yang kreatif, inovatif, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.”

Dari contoh-contoh itu terlihat bahwa identitas diri Agus bisa banyak (multiple). Masing-masing identitas dipakai lingkungan sosial yang berbeda.

Identitas Sosial dan Personal (Social Identity)

Identitas sosial adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan lingkungan sosial di mana individu bergabung atau dari mana ia berasal, misalnya: “Saya adalah fans Liverpool”.  Identitas personal adalah bagian identitas diri yang membedakan diri kita dengan orang lain, misalnya “Saya kreatif dan inovatif.”

Citra Diri  ( Self-Image)

Adalah gambaran seseorang tentang siapa dirinya berdasarkan keyakinan individu tentang dirinya dan  gambaran orang lain tentang siapa dirinya (Schiffman & Kanuk, 2012). Citra diri dibentuk berdasarkan identitas diri (self-image) dan citra diri kita dimata publik (public image). Public image dapat kita peroleh melalui:

  • Pernyataan langsung, misalnya: “Postur tubuhmu sudah OK, tapi power kurang” (pelatih senam kepada muridnya), “Kamu ini orangnya malas” (ibu kepada anaknya).
  • Tidak dinyatakan secara langsung, tetapi melalui sikap dan perlakuan orang lain kenapa kita.

Jadi,  citra diri dirumuskan berdasarkan identitas diri (self-identity) dan public image, seperti dituliskan dalam penyataan matematika berikut:

Self-image = f (self-identity, public image).

Dibaca: citra diri adalah fungsi identitas diri dan citra publik.

Arti: citra diri adalah didasarkan pada identitas diri, masukan orang lain, sikap dan perlakuan orang lain (public image).

Public Image vs. Self-Identity: Mana yang lebih kuat membentuk citra diri?

Secara ekstrim ada dua kemungkinan:

1. Self-Identity lebih kuat.

Citra diri akan sama dengan identitas diri kalau, pertama, individu sangat yakin tentang identitas dirinya dan mengabaikan masukan dan kesan yang dia tangkap dari orang lain tentang dirinya.  Kedua, citra diri akan sama dengan identitas diri kalau masukan dan kesan yang dia tangkap dari orang lain sama dengan identitas diri.  Apabila masukan dan kesan orang lain  berbeda dari identitas dirin dan dianggap penting (berharga), maka individu  akan merevisi identitas dirinya.

2. Public Image lebih kuat.

Citra diri akan berbeda dari identitas diri kalau, pertama,  kalau masukan dan kesan yang dia tangkap dari orang lain sama berbeda dari identitas diri. Kedua, individu  tidak yakin tentang identitas dirinya dan menggunakan masukan dan kesan yang dia tangkap dari orang lain tentang dirinya.

Relevansi Self-Image dalam Pemasaran

Konsep self-image sangat relevan dalam pemasaran karena ia adalah inti dari bagaimana konsumen membuat keputusan pembelian. Pemasar yang memahami self-image dapat menciptakan strategi yang selaras dengan persepsi diri konsumen, yang pada akhirnya dapat mendorong pembelian, meningkatkan loyalitas, dan membangun ikatan emosional dengan merek.

Berikut adalah beberapa aspek relevansi self-image dalam pemasaran:
  1. Keselarasan self-image dan merek (self-congruity)
Teori keselarasan diri menyatakan bahwa konsumen cenderung memilih merek yang citranya konsisten dengan self-image mereka, baik itu actual self-image maupun ideal self-image.
    • Contoh actual self-image: Seorang individu yang memandang dirinya sebagai orang yang sadar lingkungan cenderung akan membeli produk dari merek yang berkomitmen pada keberlanjutan.
    • Contoh ideal self-image: Seseorang yang mengidamkan gaya hidup mewah mungkin membeli produk bermerek yang mahal untuk merasa lebih dekat dengan versi dirinya yang ideal tersebut.
    • Dampak: Keselarasan ini dapat menciptakan ikatan emosional dan loyalitas merek yang kuat.
  1. Memengaruhi berbagai tahapan keputusan pembelian
    Self-image memengaruhi seluruh proses pengambilan keputusan konsumen, mulai dari pengenalan masalah hingga perilaku pascapembelian.
    • Pengenalan kebutuhan: Seseorang mungkin menyadari kebutuhan untuk membeli produk tertentu karena ia melihat adanya kesenjangan antara actual self-image dan ideal self-image-nya. Misalnya, seseorang yang merasa kurang percaya diri dengan penampilannya mungkin termotivasi untuk membeli pakaian baru.
    • Evaluasi pilihan: Konsumen akan membandingkan produk alternatif berdasarkan seberapa baik mereka mencerminkan self-image mereka.
    • Keputusan pembelian: Pada akhirnya, konsumen memilih merek yang paling selaras dengan identitas mereka.
  2. Pengembangan strategi pemasaran.
Memahami self-image konsumen memungkinkan pemasar untuk merancang strategi yang lebih efektif:
  • Segmentasi pasar: Pemasar dapat mengelompokkan konsumen berdasarkan bagaimana mereka memandang diri mereka dan mempersonalisasi pesan pemasaran agar lebih relevan bagi setiap segmen.
  • Iklan dan pengembangan pesan: Iklan yang sukses sering kali tidak hanya menyoroti fitur produk, tetapi juga mengaitkannya dengan aspirasi atau identitas konsumen. Misalnya, iklan mobil yang berfokus pada kebebasan dan petualangan menargetkan individu yang memandang diri mereka sebagai orang yang bebas atau berjiwa petualang.
  • Pembentukan citra merek: Pemasar dapat secara strategis membentuk citra merek yang konsisten dengan aspirasi self-image audiens target mereka. Ini termasuk penggunaan testimoni, visual, dan narasi merek yang tepat.
  1. Pemasaran kompensatori.
Dalam beberapa kasus, orang membeli produk untuk menutupi perasaan ketidakcukupan atau mengatasi ancaman terhadap harga diri mereka (compensatory purchasing).
    • Contoh: Seseorang yang merasa tidak aman dengan kecerdasannya mungkin membeli produk teknologi premium untuk mengimbangi perasaan tersebut, bahkan jika produk tersebut tidak benar-benar diperlukan.
    • Pendekatan pemasaran: Pemasar harus berhati-hati dalam menggunakan pendekatan ini, karena pesan iklan yang terlalu eksplisit dapat secara tidak sengaja menyoroti ketidakamanan tersebut dan berpotensi mengurangi efek kompensasi.

Kesimpulannya, elf-image adalah konsep yang sangat penting bagi pemasar untuk memahami motivasi konsumen, memprediksi perilaku pembelian, dan membangun hubungan merek yang langgeng.

Penutup

Konsep diri, identitas diri, identitas personal, identitas sosial dan citra diri adalah konsep yang dinamis dan saling terkait erat. Semua konsep menjelaskan “siapa saya”, yang mencakup aspek yang bersifat privat maupun terbuka. Identitas diri (termasuk identitas sosial dan identitas personal) adalah aspek diri yang bersifat terbuka. Pengalaman dan respon orang lain yang kita peroleh melalui komunikasi simbolik dapat dapat kita gunakan untuk merevisi konsep diri dan identitas diri.

Referensi

  1. Abrahamse, W. (2019). Eating Sustainably. In Encouraging Pro-Environmental Behaviour (pp. 113–132). Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-811359-2.00008-1
  2. Anderson, C., Hildreth, J. A. D., & Howland, L. (2015). Is the desire for status a fundamental human motive? A review of the empirical literature. Psychological Bulletin, 141(3), 574–601. https://doi.org/10.1037/a0038781
  3. Collins Inglish Dictionary. (n.d.). Inner self. Collins [Online English Dictionary]. Retrieved November 22, 2023, from https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/inner-self.
  4. Cuncic, A. (2023, October 23). What Is the Meaning of the “Inner Self”? [Educational Website]. Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/tension-between-inner-self-and-outer-self-4171297
  5. Schiffman, L. G., & Kanuk, W. (2012). Consumer Behavior. Pearson Prentice-Hall.
  6. Solomon, M. R. (2018). Consumer Behavior: Buying, Having, and Being (12th ed.). Pearson.
  7. Wallace, K. (2019). The Network Self: Relation, Process, and Personal Identity (1st ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9780429022548