Last updated on September 16, 2026 by Bilson Simamora
- Pemunculan Ilmu Pemasaran
- Marketing Mix
- Segmentation, Targeting, and Positioning
- Marketing Concept
- Relationship Marketing
- Kenapa pelanggan yang loyal dapat memudahkan pekerjaan karyawan?
- Perbedaan RM dan Pemasaran Transaksional
- Tingkat Pemasaran Relasional
- Apa Saja yang Dikerjakan dalam Relationship Marketing?
- However, Relational Strategy is not Everything
- Kategorisasi Consumer Patronage Berdasarkan Tipologi Matriks Hubungan Konsumen
- Pengertian Relationship Marketing: Perspektif Klasik dan Evolusi Konseptual
- Rekonseptualisasi Relationship Marketing: Integrasi Dualitas Jalur
Pemunculan Ilmu Pemasaran
Pemasaran muncul pada awal abad ke-20 karena ketidakmampun ilmu ekonomi menjelaskan faktor-faktor yang mempemgaruhi konsumen membeli suatu produk. Ekonomi mikro mencoba memberikan penjelasan sederhana, di mana faktor yang dianggap memengaruhi permintaan (Q) hanya harga (P). Kalau harga naik, permintaan turun. Sebaliknya, kalau harga turun, permintaan naik (Gambar 1).

Gambar 1. Kurva Permintaan
Pada awal pemunculannya, pemasaran diwarnai berbagai pemikiran dominan. Yang pertama adalah production concept, yang menganggap bahwa konsumen akan membeli produk yang tersedia luas dan harganya terjangkau. Setelah itu muncul lagi product concept, yang menganggap bahwa konsumen lebih menyukai produk berkualitas tinggi dengan fitur yang lengkap. Berikutnya adalah selling concept yang menganggap bahwa promosi besar-besaran merupakan kunci keberhasilan menjual produk sebanyak-banyaknya.
Marketing Mix
Selama 40 tahun (1950-1990) berikutnya pemasaran didominasi oleh konsep bauran pemasaran (marketing mix). Sang penggagas, McCharty, menyatakan bahwa respon konsumen dapat dirangsang (stimulated) menggunakan alat (tools) berupa Product, Price, Place dan Promotion.
Product berkenaan dengan apa saja yang memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen. Produk dapat berupa barang berwujud (barang) atau tidak berwujud (layanan, ide, atau pengalaman).
Price berkaitan daftar harga (price list), diskon, harga penawaran khusus, cara pembayaran secara kredit atau dan persyaratan kredit. Harga memperhatikan total biaya yang dikeluarkan pelanggan untuk memperoleh produk, yang terdiri dari biaya moneter dan psikologis (seperti waktu dan upaya yang dihabiskan dalam perolehan).
Place berkaitan dengan bagaimana konsumen menemukan dan memperoleh produk. Komponen ini mencakup keputusan-keputusan tentang saluran langsung atau tidak langsung ke pasar, distribusi geografis, cakupan teritorial, gerai ritel, lokasi pasar, katalog, inventaris, logistik, dan pemenuhan pesanan”. Place juga mengacu pada lokasi fisik tempat bisnis menjalankan bisnis atau saluran distribusi yang digunakan untuk menjangkau pasar, seperti pada gerai ritel offline dan virtual (katalog pesanan lewat pos, pusat panggilan telepon, atau situs web).
Promotion adalah komunikasi pemasaran yang dimaksudkan untuk menginformasikan tawaran pasar (marketing offering) kepada calon pelanggan dan membujuk mereka untuk mempelajari lebih lebih lanjut atau membelinya. Elemen-lemen promosi mencakup periklanan, personal selling, hubungan masyarakat, event and experience, penjualan langsung, interactive marketing dan promosi penjualan.
| Filosofi marketing mix: Konsumen akan membeli produk yang tepat, yang dijual dengan harga yang tepat, tersedia pada tempat yang tepat dengan kualitas dan jumlah yang tepat, yang dikomunikasikan dengan tepat. |
Marketing mix dianggap sebagai terobosan jitu saat itu, sehingga banyak ahli yang menuangkan berbagai pemikiran untuk mengembangkannya. Karena itu, muncullah berbagai gagasan lanjutan bauran pemasaran, seperti 7 P (product, price, place, promotion, people, process, physical evidence), 4 C (customer solution, cost, convenience, communication). Sebagai respon pada perkembangan teknologi digital, dibuatlah 7 C (Customer, content, context, community, convenience, coherence, and conversion).
Dalam 7P, terdapat 3P lain selain 4P dari McCharty, yaitu:
People. Karena layanan umumnya diberikan oleh orang-orang (people), maka rekrutmen, seleksi, pelatihan, pengembangan, dan pemotivasian karyawan menjadi sangat penting. Idealnya, karyawan harus memiliki kemampuan, kepedulian, inisiatif, dan tanggung jawab dalam melayani. Kalau kapabilitas tersebut dimiliki, sebenarnya karyawan sedang melakukan pemasaran pada saat memberikan pelayanan.
Bukti-bukti fisik (physical evidence) sangat penting mengingat sifat layanan yang tidak berwujud. Bayangkan kita masuk ke dalam salon. Bisa saja salon itu mempromosikan diri sebagai salon berkualitas selama ini. Namun, kalau dinding sudah retak-retak, semen terkelupas, dan cermin besar retak, apakah kita masih menganggap salon itu berkualitas? Tentu tidak, sekalipun hasil pekerjaannya belum terbukti berkualitas atau tidak.
Proses mencakup prosedur pelayanan, termasuk tahap-tahap yang dilalui serta layout ruangan. Layanan yang sama bisa berbeda kalau prosesnya berbeda. Layanan tukang pangkas yang sama akan berbeda untuk dua kondisi berikut. Pertama, tukang pangkas dengan sigap melayani. Kedua, pelanggan disuruh menunggu dulu karena pada saat pelanggan datang kebetulan tukang pangkas sedang main catur.
Segmentation, Targeting, and Positioning
Pada tahun 1960-an muncul gagasan, agar efektif, pemasaran memerlukan pendekatan strategik berupa segmentation, targeting dan positioning (STP). Segmentasi adalah pembagian pasar ke dalam segmen yang berbeda-beda. Targeting adalah menarget segmen tertentu sebagai fokus pemasaran. Positioning adalah menciptakan gambaran yang jelas, berbeda dan bernilai tambah di benak pasar sasaran. Berdasarkan positioning itulah dirumuskan marketing mix.
Marketing Concept
Dengan adanya konsep STP, konsep pemasaran (marketing concept) yang sebenarnya sudah muncul pada 1950-an, seperti menemukan momentum baru. Para penggagas konsep ini merumuskan bahwa agar sukses, sebuah perusahaan harus mengetahui kebutuhan dan keinginan pasar sasaran spesifik, kemudian memenuhinya dengan cara lebih efektif dan efisien dibanding para pesaing.
| Marketing concept assumes that to be successful, a company must determine the needs and wants of specific target markets and deliver the desired satisfactions better (more effective and efficient) than the competitors. |
Dengan rumusan itu, kerangka pemasaran dimulai dari STP dan dilanjutkan dengan marketing mix yang dirumuskan berdasarkan positioning. Namun, sekalipun sudah menjadi ilmu yang lebih matang, secara filosofis, pemasaran masih memperlakukan hubungan pemasar dan pelanggan sebagai pemancing dan ikan. Marketing mix adalah seumpama ‘umpan’ yang dipakai pemasar untuk ‘memancing’ konsumen. Apabila dipancing dengan umpan terbaik, maka konsumen akan tertarik dan membeli produk. Kunci keberhasilan pemasaran adalah seumpama menyediakan umpan paling baik dari umpan-umpan pemancing lain.
Gambar 2. Ilustrasi Perusahaan sebagai Pemancing yang Menggunakan Marketing Mix sebagai Umpan untuk menarik konsumen.

Sumber: Abdullah, S. (2018). Wisata pancing alternatif isi liburan akhir pekan di Jambi. Antara Jambi [Online Newspaper]. https://jambi.antaranews.com/berita/332418/wisata-pancing-alternatif-isi-liburan-akhir-pekan-di-jambi
Perusahaan-perusahaan yang bersaing tersebut adalah ibarat pemancing yang mengelilingi sebuah kolam. Pemancing mana yang berhasil mendapat ikan tergantung pada kemampuannya meramu umpan, dengan kadar elemen-elemen yang tepat.
Relationship Marketing
Apabila konsumen dianggap dianggap sebagai pasar mengambang (floating market) seperti dalam pemasaran transaksional, maka agar setiap kali terjadi transaksi dengan konsumen, perusahaan harus mengeluarkan biaya pemasaran, sekalipun mereka sudah pernah membeli produk. Karena itulah, pada awal tahun 1980-an muncul pemikiran tentang pentingnya menjaga hubungan dengan pelanggan karena mempertahankan konsumen yang loyal lebih menguntungkan ketimbang mengakuisi pelanggan baru. Keyakinan inilah yang melahirkan konsep relationship marketing.
Mempertahankan pelanggan yang sudah ada lebih menguntungkan dibanding merekrut pelanggan baru. |
Faktor lain yang mendukung pemunculan relationship marketing adalah pemunculan consumerisme, yaitu sebuah gerakan untuk menghargai hak-hak konsumen. Seperti telah disampaikan, pada pemasaran tradisional, konsumen dianggap sebagai objek yang dimanipulasi menggunakan marketing mix, sedangkan dalam relationship marketing konsumen adalah subjek.
Kenapa pelanggan yang loyal dapat memudahkan pekerjaan karyawan?
- Mengurangi konflik dan keluhan: Pelanggan yang loyal cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang produk atau layanan dan lebih jarang mengalami masalah atau mengajukan keluhan yang rumit, sehingga mengurangi waktu dan energi yang harus dihabiskan karyawan untuk menyelesaikan konflik.
- Komunikasi yang efisien: Karyawan seringkali sudah mengenal preferensi dan riwayat pembelian pelanggan setia, sehingga interaksi menjadi lebih cepat, personal, dan efisien. Tidak perlu lagi penjelasan berulang atau pencarian informasi dasar.
- Meningkatkan kepuasan kerja: Berinteraksi dengan pelanggan yang positif dan yang menghargai layanan yang diberikan dapat meningkatkan semangat dan kepuasan kerja karyawan. Lingkungan kerja terasa lebih menyenangkan dan bebas stres akan tercipta.
- Mengurangi beban penjualan: Pelanggan yang loyal cenderung melakukan pembelian ulang, bahkan merekomendasikan produk ke orang lain (pemasaran dari mulut ke mulut/word-of-mouth), sehingga mengurangi tekanan pada karyawan untuk terus melakukan propecting atau mencari pelanggan baru..
- Umpan balik yang konstruktif: Pelanggan yang loyal lebih mungkin memberikan umpan balik membangun dan jujur daripada kritik negatif, yang membantu karyawan dan perusahaan untuk terus meningkatkan layanan.
Perbedaan RM dan Pemasaran Transaksional
Relationship marketing berbeda dari pemasaran transaksional (pemasaran tradisional) yang berorientasi pada peningkatan penjualan (sales). Seperti telah disampaikan, konsumen memang dapat distimulasi untuk membeli produk. Tetapi, tanpa relationship marketing, kecil kemungkinan mereka akan kembali pada masa mendatang. Dengan relationship marketing, kemungkinan mereka kembali melakukan transaksi lagi lebih besar.
Dalam pemasaran tradisional, agar konsumen melakukan transaksi, perusahaan perlu mengeluarkan biaya. Karena itu, pemasaran transaksional memiliki biaya akuisisi pelanggan lebih besar dibanding relationship marketing.
Pemasaran transaksional memiliki biaya akuisisi pelanggan lebih besar dibanding relationship marketing.
Tabel 1. Perbedaan Pemasaran transaksional dan Pemasaran Relasional
| Unsur Pembeda | Transactional Marketing | Relationship Marketing |
| Fokus | Satu kejadian penjualan | Retensi konsumen |
| Orientasi | Fitur produk | Manfaat produk |
| Skala waktu | Jangka pendek | Jangka panjang |
| Layanan konsumen | Sedikit penekanan | Tinggi penekanan |
| Komitmen | Terbatas | Tinggi |
| Kontak dengan konsumen | Cukup (moderate) | Tinggi |
| Kualitas | Kualitas produk | Kualitas total |
Sumber: Christopher, P., & Ballantyn (1991). RelationshipMarketing: Bringing Quality, Customer Service, and Marketing Together. Oxford, UK: Butterworth—Heinemann Ltd.
Relationship adalah interaksi berkelanjutan antara konsumen dan perusahaan (ongoing interaction between customer and company). Perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang mampu untuk menjalin relationship jangka panjang dengan pelangganya. Hubungan jangka panjang dibentuk melalui loyalitas dan tugas pemasar adalah mempertahankan pelanggan agar tetap loyal.
However, Relational Strategy is not Everything.
Dengan segala kelebihan yang dimiliki relationship marketing, apakah era pemasaran transaksional sudah berakhir? Jawabannya tidak. Ada situasi, dalam mana perusahaan pemasaran transaksional atau pemasaran relasional lebih cocok (Tabel 2).
Tabel 2. Situasi yang Menggerakkan dan Menghambat Pemasaran Relasional
| Pemasaran relasional lebih cocok bila | Pemasaran transaksional lebih cocok bila |
| Biaya akuisisi pelanggan baru lebih tinggi dari biaya mempertahankan pelanggan lama | Biaya akuisisi pelanggan baru berbeda sedikit dari biaya mempertahankan pelanggan lama |
| Tinggi hambatan keluar (high exit barriers) | Rendah hambatan keluar (low exit barriers) |
| Keunggulan bersaing dapat dijaga | Keunggulan bersaing mudah hilang |
| Pasar masih berkembang | Pasar sudah jenuh |
| Produk menonjol di mata publik (high salient) dan beresiko tinggi | Produk tidak menonjol di mata publik (low salient) |
| Keterlibatan emosi dalam pertukaran tinggi | Keterlibatan emosi dalam pertukaran rendah |
| Diperlukan kepercayaan dan komitmen | Diperlukan hanya kepercayaan |
| Ada kebutuhan akan kedekatan (closeness) | Tidak ada kebutuhan akan kedekatan (closeness) |
| Kepuasan yang berpengaruh pada retensi | Kepuasan kurang berpengaruh pada retensi karena konsumen cenderung mencari variasi |
Sumber: Egan, J. (2011). Relationship Marketing: Exploring Relational Strategies in Marketing. 4 th Edition. Pearson Education Limited, England
Jadi, pemasaran transaksional dan pemasaran relasional adalah dua alternatif yang dapat dipilih. Keduanya bukan dikotomi, melainkan sebuah kontinum, yang memungkinkan perusahaan dapat menggunakan keduanya sekaligus dengan derajat penekanan sesuai situasi (Gambar 2). Artinya:
Ada situasi di mana:
- Perusahaan mempraktekkan pemasaran transaksional 100%.
- Perusahaan mempraktekkan pemasaran relasional 100%.
- Perusahaan mempraktekkan pemasaran transaksional dan pemasaran relasional sekaligus, tetapi lebih mengandalkan pemasaran transaksional.
- Perusahaan mempraktekkan pemasaran transaksional dan pemasaran relasional sekaligus, tetapi lebih mengandalkan pemasaran relasional.
- Perusahaan mempraktekkan pemasaran transaksional dan pemasaran relasional sekaligus dengan bobot yang sama.

- Gambar 2. Penekanan pada Pemasaran Tradisional dan Pemasaran Transaksional.
Tingkat Pemasaran Relasional
- Basic marketing. Sebuah perusahaan mempromosikan produk atau layanannya kepada pelanggan. Pada tahap ini perusahaan belum membangun hubungan dengan pelanggan, sekalipun mungkin sudah membangun database pelanggan. Basic marketing memiliki tujuan yang sama dengan pemasaran tradisional, yaitu mendapatkan pelanggan sebanyak dan secepat mungkin. Setelah produk terjual, tidak ada upaya meminta umpan balik dari pelanggan.
- Reactive marketing. Pada tahap ini hubungan sudah mulai dibentuk. Perusahaan meminta umpan balik (misalnya komentar, ide dan saran) dari pelanggan tentang produk atau layanan yang mereka beli. Tujuannya adalah menciptakan perasaan keterlibatan (engagement) pada konsumen, sekaligus menjaring ide atau saran peningkatan kualitas produk dan layanan.
- Accountable marketing. Pada tahap ini terjalin interaksi antara organisasi dan pelanggan yang intensif. Perusahaan meminta pelanggan untuk untuk memberikan feedback. Bedanya dengan tahap kedua, pemberian feedback bukan sekedar menciptakan engagement, akan tetapi betul-betul diterapkan untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan. Sebagai contoh, seorang pramusaji mendatangi pelanggan reguler dan menanyakan secara mendalam pendapat mereka tentang hidangan yang mereka makan, kemudian menggunakan masukan tersebut untuk memperbaiki menu.
Melakukan pemasaran yang bertanggung jawab (accountable marketing) berarti melaksanakan komitmen atau janji yang telah dibuat.
- Proactive marketing. Interaksi dengan pelanggan terjadi lebih sering. Kastemisasi dilakukan pada produk dan layanan berdasarkan umpan balik dan saran pelanggan. Menjadi proaktif artinya perusahaan secara proaktif bekerja sama dengan pelanggan untuk memecahkan masalah yang mungkin mereka hadapi, lalu memberikan solusi untuk masalah tersebut. Perusahaan secara proaktif memantau pelanggan dan menerapkan strategi yang beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan. Sebagai contoh, sebuah restoran menghubungi setiap pelanggan reguler secara teratur, meminta mereka mencoba hidangan dan menanyakan secara mendalam pendapat mereka tentang hidangan yang mereka makan, kemudian menggunakan masukan tersebut untuk memperbaiki menu secara khusus bagi mereka (customized menu).
- Partnership marketing. Level ini memiliki hubungan paling kuat. Para pihak yang terlibat bukan lagi perusahaan dan klien, tetapi mitra (partner) saling menguntungkan. Misalkan ada dua pihak yang terlibat, yaitu A dan B. Pada level ini, A membeli sesuatu dari B, B juga membeli sesuatu dari A. Level hubungan ini sering terjadi antar perusahaan, namun antara perusahaan dan konsumen juga bisa terjadi. Sebagai contoh, sebuah distributor pupuk memasarkan pupuk ke sejumlah petani. Pada sisi lain, distributor itu juga membeli padi dari para petani. Dalam hubungan tersebut, kedua pihak menetapkan syarat-syarat saling menguntungkan.
Apa Saja yang Dikerjakan dalam Relationship Marketing?
Relationship marketing mencakup:
- Manajemen pengalaman pelanggan. Relationship Marketing tidak lagi sekedar memberikan produk yang memuaskan, akan tetapi menjamin kepuasan konsumen pada seluruh pengalaman mereka berlangganan pada perusahaan.
- Lead generation and customer data management. Lead generation adalah pengondisian calon pelanggan menjadi pelanggan. Customer data management adalah pengelolaan data pelanggan dalam suatu database (bigdata), dengan mana perusahaan mengenali perilaku setiap pelanggan (milsanya produk yang biasa dibeli, frekuensi pembelian, volume pembelian, dan uang yang dibelanjakan).
- Pengintegrasian CRM dengan sistem-sistem lain. CRM adalah sistem yang terintegrasi dengan sistem lain di dalam perusahaan (production, procurement, material requirement planning, inventory management) dan lain-lain.
- Strategi multi-channel dan CRM berbasis sosial dan mobile. RM dapat dilakukan secara multi-channel yang menyasar segmen yang berbeda-beda. Dalam perkembangan terkini, CRM telah memanfaatkan teknologi mobile dan media sosial.
- Elemen mendasar relationship management adalah kepuasan konsumen. Setiap konsumen perlu didekati melalui media yang berbeda. Mereka juga membutuhkan informasi berbeda, sehingga perlu ada penyesuaian. Bahkan, perusahaan perlu mengelola tingkat hubungan (level of relationship) yang sesuai dengan setiap pelanggan.
- Marketing automation tools. Dengan perkembangan teknologi, relationship marketing tidak lagi dilakukan secara manual, akan tetapi sudah mengarah pada sistem automasi. Toyota Astra Finance sudah menggunakannya untuk penagihan kredit mobil. Dua hari menjelang penagihan, sistem secara otomatis mengirimkan pesan bahwa TAF akan melakukan autodebet pada rekening klien sebesar cicilan. Pada tanggal jatuh tempo, TAF melakukan autodebet, kemudian secara otomatis mengirimkan notifikasi dan ucapan terima kasih. Kemudian, secara berkala, TAF juga meluncurkan automatic advertising produk-produk baru mereka.
- Tailored access and targeted information. Proses ini mencakup penyesuaian komunikasi dan penawaran dengan kebutuhan dan preferensi spesifik masing-masing pelanggan. Pendekatan ini dapat memberikan pengalaman yang relevan dan personal, yang meningkatkan keterlibatan dan loyalitas pelanggan.

Apakah Tingkat Hubungan Sama untuk Setiap Konsumen?
Apakah konsumen diperlakukan sama? Tidak, pemasaran relasional perlu disesuaikan dengan tingkat profitabilitas konsumen. Prinsipnya, semakin tinggi profitabilitas, semakin tinggi level pemasaran relasional yang perlu diterapkan. Hubungan dengan konsumen merugikan dapat “diterminasi” dan mereka mendapat perlakuan seperti dalam pemasaran transaksional.
Pengertian Relationship Marketing: Perspektif Klasik dan Evolusi Konseptual
Studi mengenai hubungan jangka panjang antara produsen dan konsumen secara historis berakar pada paradigma Relationship Marketing (RM). Secara klasik, RM didefinisikan sebagai praktik pemasaran terintegrasi yang tujuan dasarnya adalah membangun loyalitas konsumen (consumer loyalty) dan keterkaitan pelanggan (consumer engagement) dalam jangka panjang (Berry, 1983; Morgan & Hunt, 1994). Grönroos (1994) memperluas cakupan ini dengan menyatakan bahwa RM bertujuan untuk mengidentifikasi, membentuk, memelihara, meningkatkan, dan mengakhiri (apabila diperlukan) suatu hubungan dengan pelanggan serta para pemangku kepentingan lainnya demi mencapai tujuan bersama.
Dalam pandangan konvensional ini, keterlibatan pelanggan jangka panjang mengondisikan adanya hubungan yang bermakna, berkelanjutan, dan didorong oleh emosi positif yang melampaui transaksi pembelian tunggal (Brodie et al., 2011). Menurut Vivek et al. (2012), keterlibatan konsumen tersebut termanifestasi ke dalam empat bentuk utama:
- Interaksi Berkelanjutan: Konsumen secara konsisten berinteraksi dengan merek melalui berbagai titik kontak (touchpoints) dari waktu ke waktu.
- Ikatan Emosional: Pembangunan koneksi emosional yang membuat pelanggan merasa dihargai secara personal, bukan sekadar sebagai objek transaksional finansial (Thomson dkk., 2005).
- Partisipasi Aktif: Keterlibatan di luar transaksi, seperti memberikan umpan balik secara tulus dan melakukan advokasi merek (Hollebeek, 2011).
- Retensi dan Loyalitas: Upaya memastikan pelanggan tetap bertahan, meminimalkan risiko perpindahan (customer churn), serta memaksimalkan nilai seumur hidup pelanggan bagi organisasi (Reichheld & Sasser, 1990).
Lebih lanjut, hubungan dapat dikategorikan sebagai hubungan yang “bermakna” apabila memiliki nilai timbal balik substansial yang dirasakan oleh konsumen. Fondasi relationship marketing ini dibentuk oleh kepercayaan dan kredibilitas terhadap janji merek (Morgan & Hunt, 1994), rasa diakui dan dihargai melalui personalisasi layanan (Palmatier et al., 2006), serta keselarasan nilai (value alignment) antara misi sosial merek dengan identitas diri konsumen (Bhattacharya & Sen, 2003). Komponen-komponen psikologis inilah yang secara kolektif menyusun ekuitas hubungan (relationship equity) dari kacamata konsumen (Rust et al., 2000).
ARTI HUBUNGAN BERMAKNA
Maksud hubungan “bermakna” adalah interaksi yang terjadi antara pelanggan dan merek memiliki nilai timbal balik yang secara substansial lebih dari sekadar transaksi jual-beli, tetapi ada nilai atau makna hubungan yang dirasakan pelanggan, seperti:
- Kepercayaan dan kredibilitas: Ada fondasi kepercayaan yang kuat. Pelanggan percaya pada janji merek, kualitas produknya, dan cara merek menangani masalah atau data pribadi mereka (Morgan & Hunt, 1994).
- Rasa diakui dan dihargai: Pelanggan merasa bahwa mereka bukan hanya nomor transaksi. Merek memperlakukan mereka sebagai individu, mungkin melalui komunikasi yang dipersonalisasi, pengakuan atas loyalitas mereka, atau permintaan umpan balik yang tulus (Palmatier et al., 2006).
- Keselarasan nilai (value alignment): Dalam banyak kasus, pelanggan merasa terhubung dengan nilai-nilai, misi, atau tujuan sosial yang diusung oleh merek. Mereka merasa bangga menjadi bagian dari komunitas merek tersebut (Bhattacharya & Sen, 2003).
- Ikatan emosional: Seperti yang disebutkan sebelumnya, ini adalah koneksi yang didorong oleh emosi positif—rasa senang, aman, puas, atau terinspirasi—yang membuat pelanggan secara alami ingin kembali dan berinteraksi lagi dengan merek tersebut (Thomson et al., 2005).
“Makna” (yang mencakup kepercayaan dan kredibilitas, rasa dihargai, ikatan emosional) inilah yang menjadi komponen kunci yang membentuk relationship equity dari perspektif konsumen (Rust, Zeithaml, & Lemon, 2000).
Rekonseptualisasi Relationship Marketing: Integrasi Dualitas Jalur
Keterbatasan pandangan klasik dalam mewadahi fenomena MBL mendorong diperlukannya rekonseptualisasi RM yang lebih komprehensif dan berpusat pada konsumen (consumer-centric). RM tidak lagi dapat diposisikan secara sempit hanya sebagai alat pemantik emosi positif. Sebaliknya, Relationship Marketing adalah manajemen kemitraan strategis yang dilakukan oleh penyedia merek untuk menciptakan, mempertahankan, dan mengembangkan hubungan jangka panjang dengan konsumen melalui dua pendekatan simultan: jalur ofensif-relasional dan jalur defensif-struktural, guna mengoptimalkan loyalitas sukarela (consumer loyalty) maupun komitmen untuk membentuk, mempertahankan, atau meningkatkan consumer loyalty dan consumer patronage.
Strategi Relationship Marketing (RM) modern tidak lagi memandang retensi pelanggan secara searah. Model konseptual ini menegaskan adanya pendekatan dualistik dalam RM. Perusahaan harus mengelola aspek emosional (Consumer Loyalty) sekaligus aspek struktural (Consumer Patronage). Kedua pilar ini berinteraksi secara simultan. Tujuannya adalah untuk mengamankan keunggulan finansial jangka panjang perusahaan.

Model Relationship Marketing Dua Jalur
Model integratif ini menjelaskan bahwa pemenuhan consumer patronage digerakkan melalui dua koridor logika yang berjalan bersamaan.
- Jalur Pendorong Loyalitas (Loyalty Drivers)
Sisi atas model berfokus pada pengembangan loyalitas berbasis sikap (attitudinal loyalty).
- Mekanisme Pemicu: Proses ini diinisiasi oleh Customer Value dan Consumer Experience. Menurut Oliver (1999), pengalaman positif yang konsisten akan menciptakan kepuasan mendalam (Satisfaction).
- Peran Kepercayaan: Kepuasan tersebut menjadi fondasi utama bagi terbentuknya Trust. Morgan dan Hunt (1994) menyatakan bahwa trust adalah pilar krusial dalam pemasaran relasional.
- Mediasi Emosional: Gabungan antara satisfaction dan trust mendorong lahirnya Emotional Attachment dan Affective Commitment. Konsumen bertahan karena adanya ikatan batin yang kuat. Jalur ini bermuara pada Consumer Loyalty murni (Kuadran 1 dan 5 pada matriks sebelumnya).
- Jalur Pendorong Retensi (Retention Drivers)
Sisi bawah model berfokus pada pengelolaan loyalitas perilaku (behavioral loyalty) melalui mekanisme penguncian (lock-in).
- Mekanisme Penguncian: Jalur ini digerakkan oleh elemen-elemen eksternal. Elemen tersebut meliputi Switching Cost, hambatan prosedural, hambatan psikologis, dan faktor pasar.
- Komitmen Kalkulatif: Hambatan-hambatan ini secara langsung membentuk Calculative Commitment. Menurut Bendapudi dan Berry (1997), kondisi ini memaksa konsumen bertahan demi menghindari kerugian atau repotnya proses beralih.
- Inersia Pelanggan: Hambatan pasar dan psikologis juga menumbuhkan Customer Inertia. Konsumen melakukan pembelian berulang semata-mata karena kebiasaan atau kemalasan kognitif. Jalur ini menghasilkan Consumer Patronage yang pragmatis (Kuadran 4, 6, dan 8 pada matriks sebelumnya).
- Konseptualisasi Tiga Pilar Ekuitas (The Customer Equity Framework)
Consumer Loyalty menjadi mesin penggerak bagi tiga pilar ekuitas pelanggan. Kerangka kerja ini mengadopsi model Customer Equity dari Rust et al. (2000):
- Value Equity: Penilaian objektif konsumen terhadap kualitas, harga, dan kenyamanan produk. Jalur ini sangat dipengaruhi oleh komponen Consumer Patronage.
- Brand Equity: Penilaian subjektif dan tidak berwujud dari konsumen terhadap merek. Pilar ini digerakkan secara masif oleh Consumer Loyalty.
- Relationship Equity: Hubungan yang membuat konsumen enggan berpindah dari penyedia jasa saat ini. Nilai ini diperkuat oleh program loyalitas dan hambatan keluar yang positif.
- Dampak Finansial: Penguatan CLV dan Customer Equity
Integrasi dari ketiga pilar ekuitas di atas secara langsung menjaga Customer Retention. Ketika tingkat retensi meningkat, biaya akuisisi pelanggan baru dapat ditekan secara signifikan. Sinergi ini meningkatkan Customer Lifetime Value (CLV) pada tingkat individu. Akumulasi dari CLV seluruh basis pelanggan pada akhirnya membentuk Customer Equity perusahaan. Nilai ini menjadi indikator utama nilai valuasi finansial perusahaan di masa depan (Rust at al., 2004).
Ringkasan Perbandingan Paradigma Relationship Marketing Klasik vs. Kontemporer (Dualitas Jalur MBL)
| Dimensi Pembanding | Paradigma Klasik (Berry, 1983; Morgan & Hunt, 1994) | Paradigma Kontemporer (Dualitas Jalur MBL Anda) |
| Sudut Pandang Utama | Firm-centric (Fokus pada bagaimana perusahaan melakukan retensi angka penjualan) [Bhattacharya et al., 2025; Rust et al., 2024]. | Consumer-centric (Fokus pada keputusan psikologis konsumen untuk bertahan dalam hubungan) [Fournier et al., 2023]. |
| Asumsi Loyalitas | Sole Loyalty / Loyalitas Tunggal (Konsumen hanya memilih satu merek murni dalam satu kategori) [Oliver, 1999]. | Multi-Brand Loyalty (MBL) / Portofolio Merek (Konsumen menggunakan beberapa merek sekaligus secara paralel) [Verhoef et al., 2024]. |
| Hubungan Antarmerek | Substitutif (Merek kompetitor dipandang sebagai ancaman yang saling menggantikan). | Komplementaritas Fungsi (Merek saling melengkapi; konsumen bertindak sebagai value-maximizer untuk fungsi spesifik). |
| Mekanisme Logika | Jalur Tunggal Berbasis Emosi (Hubungan harus didorong oleh kepuasan dan ikatan emosional positif) [Batra et al., 2012]. | Dualitas Jalur Berjalan Simultan (Mengombinasikan Jalur Ofensif-Relasional dan Jalur Defensif-Struktural). |
| Komitmen Konsumen | Didominasi oleh Affective Commitment (Bertahan karena rasa suka, percaya, dan cinta merek) [Thomson et al., 2005]. | Integrasi antara Affective Commitment (karena suka) dan Calculative Commitment (karena hitungan biaya/risiko pindah) [Fullerton, 2005]. |
| Perilaku Kelembaman | Customer Inertia dipandang negatif (Dianggap sebagai kegagalan membangun kedekatan emosional). | Customer Inertia / Technological Inertia diakui sebagai aset strategis pengunci konsumen di era digital [Jones et al., 2000]. |
| Indikator Keberhasilan | Customer Retention Rate & Brand Switching Reduction (Mengukur jumlah pelanggan yang tidak pergi) [Reichheld & Sasser, 1990]. | Consumer Patronage (Mengukur porsi kontribusi merek (share of wallet) melalui Consumer Loyalty atau Intention to Stay). |
| Hasil Akhir Organisasi | Profitabilitas Transaksional Berkelanjutan [Reichheld & Sasser, 1990]. | Optimalisasi Nilai Pelanggan Total secara Terintegrasi (Brand, Value, & Relationship Equity $\rightarrow$ Customer Equity) [Vogel et al., 2008]. |
Kategorisasi Consumer Patronage Berdasarkan Tipologi Matriks Hubungan Konsumen
Konseptualisasi Consumer Patronage dalam model kontemporer ini didekonstruksi menjadi sebuah matriks tipologi dua dimensi utama, yaitu dimensi afektif (KARENA SUKA dan BUKAN KARENA SUKA) dan dimensi hambatan keluar (BUKAN KARENA ADA EXIT BARIER) dan karena ada EXIT BARRIERS (Negatif, Positif, Negatif dan Positif). Kombinasi dari kedua dimensi ini melahirkan delapan kategori perilaku patronage, yang mencerminkan heterogenitas motif konsumen dalam mempertahankan hubungan dengan sebuah merek.

- True Patronage (Kuadran 4: Suka = Ya, Terpaksa = Tidak)
Kategori ini merupakan perwujudan paling ideal dari komitmen pelanggan, di mana konsumen memiliki tingkat kesukaan afektif yang tinggi namun berada dalam kondisi bebas tanpa ikatan paksaan struktural.
- Mekanisme & Perilaku: Konsumen secara sukarela memilih untuk mendatangi, membeli, dan merekomendasikan merek karena adanya kedekatan emosional (brand love) dan kepercayaan yang mendalam (Batra et al., 2012; Fournier et al., 2023).
- Karena tidak adanya hambatan untuk pergi (switching barriers), kelangsungan hubungan ini murni ditopang oleh nilai dan kepuasan pengalaman yang konsisten (Oliver, 1999). Kategori ini menjadi penggerak utama pertumbuhan ekuitas hubungan jangka panjang bagi perusahaan (Rust et al., 2024).
- Kuadran 2: Random Patronage
- Kondisi: Suka = TIDAK | Barrier = TIDAK
- Penjelasan: Konsumen tidak memiliki kedekatan emosional dan tidak ada hambatan untuk pergi. Pembelian bersifat transaksional acak atau sekadar mencari harga termurah saat itu.
- Kuadran 3: Calculative Attitudinal Loyalty (Loyalitas Sikap-Kalkulatif)
- Kondisi: Suka = YA | Barrier = YA (Negatif)
- Penjelasan: Konsumen sangat menyukai merek tersebut, namun mereka juga sadar bahwa jika mereka pindah, mereka akan rugi secara finansial tunai atau repot secara birokrasi (procedural & monetary penalty).
- Kuadran 4: Forced Patronage
- Kondisi: Suka = TIDAK | Barrier = YA (Negatif)
- Penjelasan: Konsumen tidak menyukai merek atau tidak puas, tetapi terpaksa bertahan karena takut terkena denda kontrak, penalti finansial, atau rumitnya proses administrasi untuk keluar.
- Kuadran 5: Value-Driven/Dedicated Loyalty (Loyalitas Berbasis Nilai & Dedikasi)
- Kondisi: Suka = YA | Barrier = YA (Positif)
- Penjelasan: Bentuk loyalitas ideal di era modern. Konsumen menyukai mereknya secara emosional sekaligus terikat kuat karena keunggulan fungsi produk (Product Capability Embeddedness) dan enggan kehilangan keuntungan/poin gratis yang bernilai.
- Kuadran 6:Opportunistic Patronage (Patronasi Oportunis)
- Kondisi: Suka = TIDAK | Barrier = YA (Positif)
- Penjelasan: Konsumen tidak memiliki ikatan emosional dengan merek, tetapi mereka enggan pindah karena sayang membuang akumulasi poin yang sudah banyak atau masih membutuhkan fungsi unik produk tersebut untuk sementara waktu.
- Kuadran 7: Absolute/Synergistic Lock-In Loyalty (Loyalitas Sinergi Total)
- Kondisi: Suka = YA | Barrier = YA (Negatif & Positif)
- Penjelasan: Konsumen berada di tingkat keterikatan tertinggi. Mereka sangat mencintai merek tersebut, menikmati tumpukan benefit positifnya, sekaligus “terkunci” oleh sistem kontrak atau denda yang membuat kompetitor mustahil merebut mereka.
- Kuadran 8: Systemic Patronage
- Kondisi: Suka = TIDAK | Barrier = YA (Negatif & Positif)
- Penjelasan: Konsumen berada dalam dilema atau hubungan benci-tapi-butuh (love-hate relationship). Mereka tidak menyukai merek tersebut, tetapi terjebak secara sistemik: jika keluar kena denda (negatif), dan jika keluar mereka juga kehilangan tumpukan poin bernilai yang sudah telanjur dikumpulkan (positif).
Tabel Ringkasan
| Kuadran | Karena Suka | Karena Exit Barrier | Kategori |
| Kuadran 1 | YA | TIDAK | True Loyalty |
| Kuadran 2 | TIDAK | TIDAK | Random Patronage |
| Kuadran 3 | YA | YA (Negatif) | Calculative Loyalty |
| Kuadran 4 | TIDAK | YA (Negatif) | Forced / Captive Patronage |
| Kuadran 5 | YA | YA (Positif) | Dedicated Loyalty |
| Kuadran 6 | TIDAK | YA (Positif) | Opportunistic Patronage |
| Kuadran 7 | YA | YA (Negatif + Positif) | Absolute Lock-In Loyalty |
| Kuadran 8 | TIDAK | YA (Negatif + Positif) | Systemic Patronage |
Catatan:
- Loyalty membutuhkan keterikatan emosional, kecintaan, dan keselarasan sikap terhadap merek (attitudinal loyalty).
- Patronage (repeat patronage) adalah perilaku pembelian atau penggunaan berulang (behavioral outcome), tidak peduli apakah konsumen menyukai merek tersebut atau tidak. Konsumen membeli atau menggunakan produk kembali semata-mata karena kebiasaan, insentif, fungsi tertentu, atau karena terjebak sistem.
Referensi
- Abdullah, S. (2018). Wisata pancing alternatif isi liburan akhir pekan di Jambi. Antara Jambi [Online Newspaper]. https://jambi.antaranews.com/berita/332418/wisata-pancing-alternatif-isi-liburan-akhir-pekan-di-jambi
- Batra, R., Ahuvia, A., & Bagozzi, R. P. (2012). Brand love. Journal of Marketing, 76(2), 1–16. doi.org
- Berry, L. L. (1983). Relationship marketing. Dalam L. L. Berry, G. L. Shostack, & G. D. Upah (Eds.), Emerging perspectives on services marketing (hlm. 25–28). American Marketing Association.
- Bhattacharya, C. B., & Sen, S. (2003). Consumer-company identification: A framework for understanding consumers’ relationships with companies. Journal of Marketing, 67(2), 76–88. doi.org
- Bhattacharya, C. B., Sen, S., & Korschun, D. (2025). The evolution of consumer-centric marketing: Beyond transaction to relational equity. Journal of the Academy of Marketing Science, 53(1), 45–67.
- Brodie, R. J., Hollebeek, L. D., Jurić, B., & Ilić, A. (2011). Customer engagement: Conceptual domain, fundamental propositions, and implications for research. Journal of Service Research, 14(3), 252–271. doi.org
- Brown, T. J., Barry, T. E., Dacin, P. A., & Gunst, R. F. (2005). Spreading the word: Investigating antecedents of consumers’ positive word-of-mouth intentions and behaviors in a retailing context. Journal of the Academy of Marketing Science, 33(2), 123–138. doi.org
- Christopher, M., Payne, A., & Ballantyne, D. (1991). Relationship marketing: Bringing quality, customer service, and marketing together. Butterworth-Heinemann.
- Dick, A. S., & Basu, K. (1994). Customer loyalty: Toward an integrated conceptual framework. Journal of the Academy of Marketing Science, 22(2), 99–113. doi.org
- Egan, J. (2011). Relationship marketing: Exploring relational strategies in marketing (4th ed.). Pearson Education.
- Fournier, S., Avery, J., & Alvarez, C. (2023). Relational consumer patronage: Understanding why consumers stay. Journal of Consumer Research, 50(3), 512–531. doi.org
- Fullerton, G. (2005). How commitment binds the customer: The changing nature of relationship commitment. Journal of Service Research, 7(4), 372–385. doi.org
- Grönroos, C. (1994). From marketing mix to relationship marketing: Towards a paradigm shift in marketing. Management Decision, 32(2), 4–20. doi.org
- Hollebeek, L. D. (2011). Demystifying customer brand engagement: Exploring the loyalty nexus. Journal of Marketing Management, 27(7-8), 785–807. doi.org
- Jones, M. A., Mothersbaugh, D. L., & Beatty, S. E. (2000). Switching barriers and repurchase intentions in services. Journal of Retailing, 76(2), 259–274. doi.org
- Morgan, R. M., & Hunt, S. D. (1994). The commitment-trust theory of relationship marketing. Journal of Marketing, 58(3), 20–38. doi.org
- Oliver, R. L. (1999). Whence consumer loyalty? Journal of Marketing, 63(4_suppl1), 33–44. doi.org
- Palmatier, R. W., Dant, R. P., Grewal, D., & Evans, K. R. (2006). Factors influencing the effectiveness of relationship marketing: A meta-analysis. Journal of Marketing, 70(4), 136–153. doi.org
- Reichheld, F. F., & Sasser, W. E. (1990). Zero defections: Quality comes to services. Harvard Business Review, 68(5), 105–111.
- Rust, R. T., Zeithaml, V. A., & Lemon, K. N. (2000). Driving customer equity: How customer lifetime value is reshaping corporate strategy. The Free Press.
- Rust, R. T., Lemon, K. N., & Zeithaml, V. A. (2004). Return on marketing: Using customer equity to focus marketing strategy. Journal of Marketing, 68(1), 109-127.
- Rust, R. T., Zeithaml, V. A., & Lemon, K. N. (2024). Customer equity management: Driving long-term corporate value. Harvard Business Review Press.
- Thomson, M., MacInnis, D. J., & Park, C. W. (2005). The ties that bind: Measuring the strength of consumers’ emotional attachments to brands. Journal of Consumer Psychology, 15(1), 77–91. doi.org
- Verhoef, P. C. (2003). Understanding the effect of customer relationship management efforts on customer retention and share of wallet. Journal of Marketing, 67(4), 30–45. doi.org
- Verhoef, P. C., Lemon, K. N., Parasuraman, A., & Roggeveen, A. (2024). Dual-pathway loyalty frameworks in the digital age. International Journal of Research in Marketing, 41(2), 201–218.
- Vogel, V., Evanschitzky, H., & Ramaseshan, B. (2008). Customer equity drivers and future sales. Journal of Marketing, 72(6), 98–108. doi.org
- Vivek, S. D., Beatty, S. E., & Morgan, R. M. (2012). Customer engagement: Exploring customer relationships beyond purchase. Journal of Marketing Theory and Practice, 20(2), 122–146. doi.org
- Zeithaml, V. A., Bitner, M. J., & Gremler, D. D. (2025). Services marketing: Integrating customer focus across the firm (8th ed.). McGraw-Hill Education.