SWOT Analysis

Analisis situasi tidak sekedar membuat gagasan (insight) tentang gambaran lingkungan internal maupun eksternal, akan tetapi, yang lebih penting adalah membuat  kesimpulan tentang kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman. Berdasarkan faktor-faktor tersebut perusahaan dapat merumuskan strategi bisnis.

Menurut Valentin (2001), untuk menentukan mana kekuatan, kelemahan, kesempatan maupun ancaman adalah sederhana: cukup perhatikan apakah aspek yang dinilai diinginkan (favorable) atau tidak diinginkan (unfavorable), lalu apakah sumbernya internal ataukah eksternal. Lihat Gambar 3.4.  Hanya saja, menurut Bloodgood dan Bauerschmidt (2002), faktor-faktor strengths dan weaknesses harus dibandingkan dengan pesaing.

Selanjutnya, faktor-faktor tersebut perlu diringkas, seperti format yang ditampilkan pada Tabel 3.4. Setelah itu, dirumuskanlah strategi, seperti ditampilkan pada Tabel 3.5.  Sebagai contoh, mari kita berandai-andai tentang situasi yang bakal dihadapi sepeda motor KTM Duke, sepeda motor asal Austria, yang berencana masuk memenetrasi pasar Indonesia.  Lihat kasus kecil yang disajikan berikut ini.

Akankah KTM Duke Sukses di Indonesia

Salah satu motor yang paling ditunggu kehadirannya di Indonesia adalah KTM Duke. Dengan desain supermoto dan rangka teralis, motor ini menawarkan tampilan yang pastinya bakal sangat mencolok di jalanan. Tapi, pertanyaannya, apakah motor ini bakal sukses di pasar Indonesia?

Kita bahas dulu faktor-faktor penghambat laju penjualan motor ini di Indonesia. Masalah terbesar Bajaj dalam menjual motor ini adalah kurangnya jaringan 3S Bajaj. Dengan melihat posisinya yang berada di kategori entry level sport, maka bermain volume menjadi keharusan. Tapi, dengan mindset pasar di level ini yang cenderung tidak mau repot dan menjadikan motor sebagai alat transportasi harian, jaringan 3S mutlak diperlukan untuk bersaing di pasar ini.

Masalah kedua adalah mindset nilai jual motor seken Bajaj yang jatuh. Melihat desainnya, maka pembeli potensial motor ini adalah anak muda, dimana cukup banyak proporsinya yang masih duduk di bangku sekolah atau di bangku kuliah. Motor milik mereka sebagian besar masih dibelikan oleh orang tua yang tentu saja cukup berpengaruh dalam pemilihan motor. Nah mindset motor seken Bajaj jatuh ini bakal sangat menghalangi persetujuan orang tua membelikan motor KTM Duke.

Masalah berikutnya adalah harga. Di India, motor ini (varian 200 cc) dibanderol dengan harga 125 ribu rupee yang setara dengan 21 juta rupiah. Maka, kemungkinan banderol motor ini di atas 25 juta cukup besar. Maka, pasar motor ini semakin sempit, karena kemungkinan konsumen terbesar motor ini berasal dari golongan anak muda yang sudah bekerja yang cukup mapan sehingga sanggup membeli motor ini.

Lalu, apa faktor yang bisa menjadi keunggulan  motor ini? Desain. Tidak perlu banyak kata untuk menjelaskannya, cukup melihat gambarnya saja sudah sangat jelas.

Tapi, apakah desain ini sanggup mengalahkan faktor-faktor penghambat di atas? Rasanya berat. Melihat kelas pasarnya yang harus bermain volume tapi banyak tuntutan selain teknis motor, Bajaj bakal kesulitan bersaing. Tapi bukan berarti bahwa KTM Duke bakal gagal total, saya rasa tetap laris, tapi jangan dibandingkan dengan penjualan V-ixion, Mega Pro, atau  Byson. Mungkin lebih tepat dibandingkan dengan pasar Tiger atau Scorpio.

Kalau saya malah merekomendasikan Bajaj memasukkan KTM Duke 250. Banderol harga jadi lebih tinggi, tapi konsumen di level ini tidak terlalu mempermasalahkan 3S (bukannya benar-benar tidak peduli, tapi asal spare part bisa dibeli di kota besar tanpa inden terlalu lama). Selain itu, margin profit bisa lebih besar sehingga tidak perlu bermain volume. Contoh saja strategi Kawasaki dengan Ninja 250R. Tapi tentu saja dengan banderol harga yang wajar. Di bawah 33 juta bakal mantap. Tapi perlu segera masuk, jangan sampai kalah cepat dari GW250. Kalau baru masuk pasca GW250, ya repot (sumber: untaianmakna.wordpress.com).

Berdasakan faktor-faktor SWOT yang ditampilkan pada Tabel 3.4 kita dapat merumuskan berbagai strategi, seperti ditampilkan pada Tabel 3.5 Tentu perumusan strategi SO, WO, ST dan WT memerlukan kreatifitas dan pengalaman.  Pemilihan strategi SO, WO, ST dan WT telah dijelaskan pada PAT I.

Dari strategi-strategi yang dirumuskan pada Tabel 3.5, mana yang dipilih, apakah satu, beberapa ataukah semua strategi? Jawabannya tergantung pada sasaran yang ditentukan perusahaan serta evaluasi atas kelayakan (feasibility) setiap strategi.

Antara Kesempatan dan Ancaman

Bagi Walker, Boyd, Mullins, dan Larreche (2003), setiap tren,   dapat menghasilkan kesempatan bagi sebagian pelaku bisnis dan menjadi ancaman bagi pelaku bisnis lain. Pemanasan global dapat memberikan kesempatan pada produk-produk yang bersahabat lingkungan, seperti sepeda.

Pada sisi lain, tren ini juga menjadi ancaman bagi produk-produk yang tidak bersahabat lingkungan, seperti sepeda motor dua tak.  Kenaikan harga minyak bumi, sebagai sebuah tren, juga menjadi kesempatan bisnis bagi produk-produk penghemat pemakaian bahan bakar pada kendaraan bermotor, bahan bakar nabati dan produk-produk tanpa bahan bakar, seperti sepeda (Kasus 3.2).

Ketergantungan yang semakin besar pada bahan bakar nabati menyebabkan alokasi sumberdaya pertanian yang semakin besar untuk menghasilkannya, sehingga alokasi untuk memproduksi bahan pangan berkurang.  Bahan pangan yang berkurang pada satu sisi dan populasi dunia yang terus bertumbuh, merupakan dua tren yang menyebabkan kenaikan harga bahan pangan. Dengan sendirinya, kenaikan ini menjadi kesempatan bagi usaha pertanian pangan.

 

Tabel 3.7.  Contoh Dampak Lingkungan Makro terhadap Perilaku Konsumen

KASUS 3.2
Naiknya Harga BBM Picu Pembelian Sepeda
BISMARCK, ND, MINGGU –  Akibat kenaikan harga bahan bakar minyak global, sementara di AS harga bahan bakar minyak mencapai 4 dolar AS atau sekitar Rp 36.000 per  galon (3.8 liter), jumlah pembelian sepeda dan reparasi sepeda di Bismarck, North Dakota, meningkat.

Warga di pinggiran kota besar mulai mengeluarkan sepeda dari gudang atau membeli sepeda baru untuk menghadapi kenaikan harga BBM tersebut.

“Setiap orang yang datang ke toko selalu berbicara tentang harga BBM,” ujar Barry Dahl, pemilik toko Barry’s Bikes di Bismarck. Dia telah menjual lebih dari 50 sepeda pada April dan Januari lalu di atas target penjualannya.

Joyce McCusker, guru dari Hemdon, Virginia, baru pertama kali memiliki sepeda yang dibelinya bulan lalu.  Dia naik sepeda ke kantor yang jarak dari rumahnya sekitar 12,6 km. Dia menggunakan mobil untuk menjemput anaknya. “Saya masih menggunakan bahan bakar fosil,” ujarnya. Target saya, dalam dua tahun, adalah mengendarai dua jenis kendaraan itu sepanjang tahun ini.

Fed Clements, Direktur Eksekutif Asosiasi Pedagang Sepeda Nasional di Costa Mesa, California, menyebutkan, setiap tahun sekitar 18 juta sepeda terjual pada beberapa tahun terakhir dengan jumlah transaksi mencapai 6 milyar dolar AS (sekitar 5,4 trilyun). Tahun ini jumlah tersebut meningkat pesat.

“Sekarang orang lebih sering bersepeda. Alasannya beragam, di antaranya meningkatnya harga BBM,” ujar Bill Nesper, juru bicara Liga Sepeda AS yang berbasis di Washington DC. “Jumlah telepon yang kami terima meningkat. Mereka menanyakan tips bagaimana menggunakan sepeda untuk kerja bolak-balik dari pinggiran kota.”

Liga sepeda AS pekan ini mempromosikan gerakan “Pekan Bike to Work” pada Jumat (16/5). Nesper berharap tercapai rekor dalam jumlah orang bersepeda.

Mark Krenz (48), warga Bismarck, saat ini berlatih untuk menyiapkan diri bersepeda ke kantor dari desanya yang agak berbukit-bukit. “Sekarang setiap orang berbicara tentang bagaimana menghemat bahan bakar,” ujarnya. (AP/ISW).

Sumber: Kompas, 14 Mei 2008

Tren selalu ada.  Komponen-komponen lingkungan makro yang telah dibahas pada modul II menghasilkan tren makro yang patut dianalisis untuk mengetahui kesempatan-kesempatan pasar, selain ancaman bisnis yang datang dari lingkungan.

Pertanyaannya, perusahaan apa saja yang patut mencermati perkembangan lingkungan makro?             Apakah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) perlu dicermati Bank Tabungan Negara? Bank ini tentu tidak memiliki hubungan langsung dengan BBM, kecuali memiliki debitur yang bergerak di bidang perminyakan. Namun, saat harga BBM dunia mencapai US $100 per barrel, bank ini tentu perlu melakukan analisis.  Soalnya, apabila kenaikan harga BBM terlalu tinggi, beban subsidi pemerintah terlalu besar. Untuk menguranginya, pemerintah terpaksa menaikkan bahan bakar minyak, walaupun dilakukan secara selektif.

Kenaikan harga BBM akan diikuti oleh inflasi, yang berdampak negatif terhadap konsumen dengan dua cara. Pertama, dengan harga-harga yang semakin mahal daya beli konsumen semakin rendah.  Kedua, untuk menekankan inflasi pemerintah lewat Bank Indonesia (BI) menaikkan suku pinjaman antar bank. Kenaikan ini memicu kenaikan suku bungan pinjaman konsumen, misalnya suku bunga kredit perumahan.  Kenaikan ini menyulitkan pembayan konsumen, sehingga tunggakan meningkat. Peningkatan tunggakan akan mengurangi likuiditas bank.  Jadi, logikanya BTN perlu mengantisipasi kenaikan harga BBM walaupun tidak termasuk dalam komponen biayanya.