Keterbatasan Analisis Faktor

Walaupun tampak canggih, analisis faktor bukan segalanya. Teknik ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan.  Keterbatasan utama adalah tingginya subjektifitas dalam penentuan jumlah faktor, interpretasi setiap faktor dan  pemilihan rotasi.

Keterbatasan lainnya, tidak ada kriteria untuk menyatakan bahwa hasil analisis faktor betul-betul sah.  Hasil KMO dan Barlett’s test saja bisa bertolak belakang.  Pada sebuah kasus, bisa saja nilai KMO di bawah 0,500, akan tetapi nilai Barlett’s test signifikan.

Batas nilai KMO sendiri tak lepas dari kelemahan. Apa bedanya 0,499 dan 0,500? Tetapi, dengan kekurangan hanya 0,001, sebuah analisis faktor yang nilai KMO-nya 0,499, menurut uji ini, sudah pasti dinyatakan tidak layak.

Jalan keluarnya, kalau ukurannya besar, misalnya 150 orang, coba membagi sampel ke dalam tiga subgrup, yang ukuran masing-masing 50 orang dan anggotanya dipilih secara acak.  Lalu, lakukan analisis faktor pada masing-masing grup.  Kalau hasil masing-masing subgrup sama, bolehlah kita yakin bahwa analisis faktor yang kita lakukan akurat.