Merancang Kuesioner

Bilson Simamora, 18 Januari 2018

SEBAGAI warga negara Indonesia yang cinta tanah air, bagaimana sikap anda terhadap kampanye ‘Aku Cinta Produk-produk Indonesia?”  Apabila pertanyaan ini diajukan, sebagian besar responden akan menyatakan sikap positif.  Padahal, kenyataannya penduduk Indonesia, cenderung bersifat import-minded, terutama kalangan mampu.

Pertanyaannya, kalau memang penduduk Indonesia cenderung import-minded, kenapa sebagian besar responden memberikan sikap positif? Jawabannya, dengan kalimat pendahuluan ‘sebagai warna negara yang baik’, pertanyaan di atas bersifat menggiring.  Di dalamnya terkandung pesan moral dan patriotisme.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan formal secara tertulis yang ditujukan untuk memperoleh informasi dari responden.  Sebagai instrumen, kualitas kuesioner tergantung pada seberapa baik kuesioner tersebut memenuhi fungsi dasarnya, yaitu mengumpulkan informasi.  Oleh karena itu, kualitas kuesioner tergantung pada seberapa baik kualitas data yang diperoleh.

Untuk memperoleh kuesioner yang berkualitas, ada lima aspek yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Apa yang mau ditanyakan?
  2. Bagaimana bentuk pertanyaan?
  3. Bagaimana membuat kalimat tanya yang efektif?
  4. Bagaimana membuat urutan-urutan pertanyaan?
  5. Bagaimana mengetes kebaikan kuesioner?

Apa Yang Mau Ditanyakan?

Apa yang mau ditanyakan’ tergantung pada data atau informasi apa yang dicari.  Menurut Maholtra (2012), ada tiga jenis informasi yang bisa diperoleh melalui kuesioner.  Pertama, informasi dasar, yaitu informasi yang berkaitan langsung dengan masalah riset.  Misalnya, kita ingin meneliti kepuasan nasabah terhadap Bank Lippo.  Informasi dasarnya adalah semua informasi yang berkaitan dengan kepuasan tersebut.

Kedua, informasi klasifikasi.  Informasi ini terdiri dari karakteristik demografi dan sosial ekonomi responden.  Informasi ini dapat digunakan untuk menggambarkan profil responden, dapat pula berfungsi sebagai variabel moderating (VM) ataupun variabel extrogenous (VE). Misalkan,   kita ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan kepuasan nasabah pria dan wanita terhadap Bank Lippo, maka informasi ‘jenis kelamin’, berfungsi sebagai VE.

Informasi ketiga dalam kuesiner adalah informasi identifikasi.  Informasi ini menyangkut nama, alamat, nomor telepon, nomor e-mail atau apa saja, yang bisa dihubungi.  Informasi ini perlu untuk riset yang perlu di-follow up. Misalnya, kalau kita menerapkan longitudinal design, di mana pengambilan data dilakukan berulangkali dari subjek yang sama, maka informasi identifikasi diperlukan.  Informasi ini juga diperlukan apabila objektifitas data sangat penting.  Artinya, apabila dalam riset kebenaran data perlu dibuktikan dengan menghubungi kembali responden untuk konfirmasi.

Adakalanya informasi identifikasi tidak disertakan.  Pertama, kalau informasi bersifat rahasia, di mana untuk alasan keamanan, informasi identifikasi tidak disertakan.  Informasi ini juga tidak disertakan untuk informasi yang sensitif. Misalnya, untuk riset seks pra-nikah di antara para remaja, informasi identifikasi paling mungkin disertakan.  Ketiga, perlu diingat bahwa bagi sebagian responden, informasi identifikasi dapat mengganggu privacy.  Untuk situasi demikian, kerjasama responden lebih sulit diperoleh.  Kemungkinan lainnya, responden tidak memberikan informasi yang objektif.

Struktur Pertanyaan

Berdasarkan strukturnya, pertanyaan-pertanyaan kuesioner dapat dibedakan menjadi pertanyaan terstruktur dan pertanyaan tidak terstruktur.

Pertanyaan Tidak Terstuktur.  Pertanyaan tidak terstuktur, yang disebut juga pertanyaan terbuka, adalah bentuk pertanya-an, di mana responden bebas memberikan jawaban. Contoh:

  1. Berapa umur anda?
  2. Apa pendapat anda tentang pemilik Harley Davidson yang sangat fanatik dengan merek Harley Davidson?
  3. Bagaimana sikap anda tertahap Jatayu?
  4. Faktor-faktor apa yang anda dipertimbangkan dalam memilih salon?

Pertanyaan terbuka baik kalau diarahkan pada suatu topik.  Responden dapat distimulasi untuk memberikan jawaban seluas-luasnya, sehingga menambah pemahaman peneliti tentang topik itu. Dengan pemahaman tersebut, peneliti dapat merancang pertanyaan terstruktur untuk penelitian yang lebih mendalam.  Oleh karena itu, pertanyaan tidak terstruktur paling cocok untuk riset eksploratori.

Bentuk pertanyaan ini juga cocok untuk responden dari kalangan berpendidikan, yang mampu menuangkan gagasan secara baik.

Karena responden bebas memberikan jawaban, dengan pertanyaan tidak terstruktur, jawaban responden juga tidak terstruktur.  Akibatnya data sulit diolah, apalagi untuk analisis kuantitatif.  Itulah kelemahan bentuk pertanyaan ini.

Pertanyaan Terstruktur.  Pertanyaan terstruktur adalah bentuk pertanyaan di mana alternatif jawaban sudah tersedia. Responden tinggal memilih mana jawaban paling sesuai bagi dirinya.  Kesempatan responden memberikan jawaban di luar pilihan jawaban yang tersedia tertutup.  Oleh karena itu, pertanyaan terstruktur juga disebut pertanyaan tertutup.

Seperti ditampilkan pada Tabel 2, jenis-jenis pertanyaan terstruktur terdiri dari dikotomis, pilihan berganda, skala Likert, diferensi semantik dan checklist.  Bentuk pertanyaan terstruktur menguntungkan karena mudah diisi dan hasilnya mudah diolah.

Karena responden tidak memiliki kebebasan memberikan jawaban, kelemahan pertama pertanyaan terstruktur adalah keterbatasan alternatif jawaban.  Kemampuan periset untuk menggali informasi.

tergantung pada tingkat presisi pilihan jawaban yang tersedia.  Lihat pertanyaan berikut:

Apakah anda puas terhadap Lion Air?  a.  YA   b.  TIDAK

Pertanyaan di atas hanya memberikan pilihan YA atau TIDAK, sehingga responden yang berada pada posisi netral, sangat puas atau pun sangat tidak puas, tidak memiliki  alternatif jawaban.  Akibatnya ada dua kemungkinan.  Pertama, responden tidak memberikan jawaban. Kedua, responden memberikan jawaban, akan tetapi jawaban itu tidak menggambarkan respon sebenarnya.

Untuk mengatasinya, pilihan jawaban perlu dibuat sekaya mungkin. Semakin kaya pilihan jawaban, semakin akurat hasil yang diperoleh.  Hasil yang diperoleh pada pertanyaan di bawah ini, jelas lebih akurat dibanding pertanyaan di atas.

 Apakah anda puas terhadap Lion Air?

  1. Sangat tidak puas
  2. Tidak puas
  3. Netral
  4. Puas
  5. Sangat puas

Perlu disadari bahwa sekaya apa pun pilihan jawaban, peneliti tidak dapat menjamin memperoleh jawaban sebenarnya.  Kalau merasa pilihan jawaban belum memadai, peneliti dapat memberikan kesempatan bagi responden untuk memberikan jawaban terbuka sebagai tambahan pada alternatif jawaban yang tersedia.  Akhirnya, pertanyaan tidak lagi murni tertutup, akan tetapi semi-tertutup ataupun semi-terbuka, seperti contoh berikut:Apa pekerjaan anda?

Masalah kedua pertanyaan terstruktur adalah bias posisi.  Terdapat kecenderungan bahwa responden tidak memberikan perhatian sama untuk semua alternatif jawaban.  Jawaban yang posisinya pertama, seperti ‘lokasi’ pada pertanyaan di bawah ini, paling banyak memperoleh perhatian.  Sebaliknya, ‘suasana dalam toko’, paling sedikit memperoleh perhatian.

Untuk mengatasi bias posisi, peneliti dapat melakukan pengacakan, sehingga setiap alternatif jawaban memiliki peluang yang sama untuk muncul pada setiap posisi. Dengan demikian, faktor ‘lokasi’ tidak selalu menempati posisi pertama, bisa juga kedua, ketiga dan seterusnya, sesuai hasil pengacakan.  Demikian pula alternatif jawaban lainnya.

Kelemahan ketiga adalah bias jalan tengah.  Kebanyakan orang merasa lebih nyaman untuk bersikap netral, tidak ekstrim kiri atau ekstrim kanan.  Akibatnya, jawaban-jawaban responden cenderung mengumpul di tengah.  Pertanyaan di bawah ini memiliki kemungkinan bias jalan tengah.

Untuk mengatasi bias posisi, peneliti dapat melakukan pengacakan, sehingga setiap alternatif jawaban memiliki peluang yang sama untuk muncul pada setiap posisi. Dengan demikian, faktor ‘lokasi’ tidak selalu menempati posisi pertama, bisa juga kedua, ketiga dan seterusnya, sesuai hasil pengacakan.  Demikian pula alternatif jawaban lainnya.

Kelemahan ketiga adalah bias jalan tengah.  Kebanyakan orang merasa lebih nyaman untuk bersikap netral, tidak ekstrim kiri atau ekstrim kanan.  Akibatnya, jawaban-jawaban responden cenderung mengumpul di tengah.  Pertanyaan di bawah ini memiliki kemungkinan bias jalan tengah.

Untuk mengatasi bias jalan tengah, peneliti dapat menghilangkan jawaban netral.  Namun, cara ini pun mengandung resiko.  Bagaimana kalau sebenarnya responden memiliki jawaban netral atau di tengah?

Pemilihan Kata-kata

Pemilihan kata-kata perlu diperhatikan dalam membuat pertanyaan.  Untuk membuat pertanyaan yang baik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) buat isu yang jelas, (2) gunakan kata-kata biasa, (3) gunakan kata-kata yang tidak bercabang, (4) hindari pertanyaan yang menggiring, (5) hindari alternatif tidak langsung, (6) hindari asumsi tidak langsung, (7) hindari estimasi dan generalisasi dan (8) gunakan pertanyaan positif dan negatif.

Isu harus jelas.  Sebelum membuat pertanyaan, harus jelas dulu apa yang mau ditanya.  Jangan buat responden bertanya balik, seperti maksudnya apa, yang kapan, yang mana, oleh siapa dan seterusnya.

Perhatikan pertanyaan berikut: “Sampho apa yang anda gunakan?”  Walaupun pertanyaan ini kelihatan baik, tetapi mengandung maksud tidak jelas.  Pertama, sampho yang dimaksud apakah yang terakhir dipakai atau paling sering dikapai?  Kedua, yang dimaksud dengan ‘sampho apa’, apakah merek (Sunsilk, Rejoice, Emeron dan lain-lain), ataukah kategori produk (lidah buaya, urang-aring, rumput lain dan lain-lain)?  Seandainya pertanyaan dirubah: “Sebutkan merek sampho yang terakhir anda pakai keramas”, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak muncul.

Menggunakan Kata-kata Biasa.  Gunakanlah kata-kata biasa yang dipahami responden.  Hindari jargon-jargon yang hanya dimengerti kalangan terbatas sedapat mungkin.  Perhatikan pertanyaan berikut: “Bagaimana pendapat anda tentang  promosi above the line pasta gigi Pepsodent?”  Pada pertanyaan ini, istilah above the line menjadi masalah. Istilah yang maksudnya promosi lewat media massa ini tidak dikenal dalam dunia akademis, hanya pada dunia periklanan. Dalam pertanyaan berikut: “Dengan harga sekarang ini, apakah Sosro sudah memberikan value bagi konsumen?”, kata value menjadi masalah. Lain halnya kalau pertanyaan sebagai berikut: “Apakah  harga Sosro sebanding dengan kualitasnya?”.

 Gunakan Kata-kata Tidak Bercabang.  Kata-kata yang digunakan harus memiliki satu arti, jangan mendua.  Artinya, sedapat mungkin kita harus mengusahakan agar kata-kata yang digunakan membutuhkan penafsiran.  Kalau arti kata-kata tergantung pada penafsiran, besar sekali peluang perbedaan arti pada konsumen.

Untuk pertanyaannya, kata ‘berapa kali’ dapat diterjemahkan berbeda-beda.  Lihat kondisi berikut ini. Satu gelas diminum dua kali dalam waktu berbeda, apakah itu minum kopinya dua kali?  Joni dua kali minum kopi setiap hari, yaitu pagi dan petang. Lalu, setiap minum kopi Joni minum tiga gelas.  Apakah itu sama dengan Roni yang minum setengah gelas setiap pagi dan petang?

Untuk jawaban, kata ‘tidak pernah’ jelas artinya.  Yang membutuhkan penafsiran adalah jarang, sering, selalu.  Yang dimaksud jarang itu bagaimana?  Apa beda ‘sering’ dan ‘selalu’

Kalau tetap menggunakan pertanyaan tertutup, pertanyaan di atas dapat dirubah menjadi:

Jangan Menggiring Pembaca. Mari kita perhatikan lagi pertanyaan yang mengawali bab ini: “SEBAGAI warga negara Indonesia yang cinta tanah air, bagaimana sikap anda terhadap kampanye ‘Aku Cinta Produk-produk Indonesia?”  Dengan penyebutan ‘warga negara yang baik’, pertanyaan ini sudah menggiring pembaca untuk memberikan sikap positif.

Di bawah ini ada dua contoh lagi:

  • Bagaimana sikap anda terhadap rumah sakit Meditya yang fasilitasnya sangat lengkap dan pelayanannya baik? Sulit responden untuk memberikan jawaban ‘tidak suka’ pada pertanyaan ini karena terkesan melawan kelaziman.  Siapa yang tidak suka pada rumah sakit yang memiliki fasilitas sangat lengkap dan pelayanannya baik? Pertanyaan di atas sebenarnya cukup dengan: “Bagaimana sikap anda terhadap rumah sakit Meditya?”
  • Di antara mobil-mobil penumpang sekelas Kijang, merek apa yang paling ingin anda beli? Pertanyaan ini juga tidak adil. Penyebutan merek Kijang membentuk kesan seolah-olah Kijanglah standar mutu pada kelasnya.

Hindari Alternatif Tidak Langsung.  Perhatikan pertanyaan berikut: “Kalau berangkat ke tempat tempat kerja, apakah anda lebih suka naik bus?” Dengan adanya kata-kata ‘lebih suka’, pertanyaan ini mengandung makna membandingkan.  Kalau  memiliki kenderaan sendiri, responden dapat melakukan perbandingan antara naik kenderaan sendiri dan naik bus. Tetapi, kalau bus menjadi alat transportasi satu-satunya ke kantor, bagaimana responden melakukan perbandingan? Oleh karena itu, pertanyaan di atas harusnya begini: “Kalau memiliki mobil pribadi, mana yang lebih anda sukai, pakai mobil ataukah naik bus saat berangkat ke tempat kerja?

Hindari Amsumsi Tidak Langsung.  Perhatikan pertanyaan berikut ini:  “Apakah anda puas terhadap layanan Citibank yang berkualitas?”   Pertanyaan mengandung asumsi bahwa layanan Citibank berkualitas.  Agar bebar dari asumsi itu, sebaiknya pertanyaannya adalah: “Apakah anda puas terhadap layanan Citibank?”

Menghindari Generalisasi dan Estimasi.  Pertanyaan harus spesifik, tidak umum.  Selain itu, perlu pula dihindari perkerjaan tambahan pada responden untuk menjawab pertanyaan.

  • Pertanyaan terlalu umum: “Bagaimana persepsi anda terhadap Garuda Indonesia?” Walaupun tidak salah, karena sangat umum, pertanyaan ini mengundang jawaban yang sangat mungkin melebar.  Mestinya, pertanyaan diarahkan pada aspek tertentu dari Garuda Indonesia agar pertanyaan lebih spesifik dan jawaban tidak melebar ke mana-mana.  Misalnya: “Bagaimana persepsi anda terhadap waktu keberangkatan pesawat Garuda Indonesia?”
  • Pertanyaan yang mengandung estimasi: “Berapa pendapatan per kapita keluarga anda per tahun?”  Dengan pertanyaan ini, peneliti memberikan pekerjaan tambahan kepada responden, sebab mereka harus melakukan estimasi. Pertama, responden harus menghitung pendapatan per tahun dulu.  Kalau sudah ketemu, lalu hasilnya dibagi jumlah anggota keluarga. Barulah didapat pendapatan perkapita.  Dari pada merepotkan responden, lebih baik peneliti menanyakan pendapatan keluarga per tahun serta jumlah anggota keluarga. Pendapatan per kapita per tahun dapat dihitung sendiri oleh peneliti.

Menggunakan Pernyataan Positif dan Negatif.  Respon lebih mungkin diperoleh dengan arah pertanyaan positif maupun negatif, terutama untuk penelitian sikap.

  • Pertanyaan positif: “Bagaimana sikap anda terhadap perilaku merokok?”
  • Pertanyaan negatif: “Bagaimana sikap anda terhadap perilaku tidak merokok?”

Kedua bentuk pertanyaan ini akan menghasilkan informasi yang sama, yaitu sikap terhadap perilaku merokok. Maholtra menganjurkan agar setengah kuesioner menggunakan pernyataan atau pertanyaan  negatif, setengah lagi menggunakan pernyataan atau pertanyaan positif.