Latar Belakang Masalah Penelitian Akademik

Foto: Seorang Pemotor dan Motornya dengan Latar Belakang Gunung Dempo, Lahat, Sumatera Selatan [Dipakai sebagai Pemanis].

Bilson Simamora, First Published: 14 September 2018

Setiap penelitian akademis dimulai dari latar belakang masalah. Banyak penelitian selama ini belum didasarkan pada latarbelakang yang baik. Sebenarnya apakah latar belakang penelitian itu dan bagaimana menuliskannya? Berikut ini diberikan penjelasannya.

Latar belakang tesis berisikan alasan kenapa (why) penelitian dilakukan.  Alasan tersebut bisa berupa  keadaan belum tahu dan keraguan yang menimbulkan keingintahuan (curiosity), perbedaan antara keadaan yang diharapkan dan kenyataan, dan kekurangan penelitian dan teori saat ini.  Di bawah diberikan beberapa contoh. Harap diingat bahwa contoh-contoh latarbelakang masalah yang disajikan adalah dalam versi sangat ringkas.

Fenomena sebagai Latar Belakang

Fenomena bukanlah masalah penelitian, akan tetapi gejala (symptoms) atau kenyataan yang mengindikasikan adanya masalah yang perlu diteliti.  Jadi, penjualan yang rendah, banyaknya konsumen yang tidak puas, masa pakai produk yang singkat dan lain-lain, adalah fenomena, bukan masalah penelitian. Sama seperti dalam ilmu kedokteran, panas yang naik-turun, timbulnya bintik-bintik merah pada kulit, hemoglobin yang turun drastis, bukanlah penyakit, melainkan gejala penyakit demam berdarah.

Fenomena yang Menimbulkan Keingintahuan

Keingintahuan atau keraguan atas fenomena bisa dijadikan latarbelakang apabila belum ada jawaban atas kenapa fenomena itu terjadi. Keingintahuan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pertanyaan. Dengan kata lain tujuan penelitian adalah menjawab pertanyaan atau keingintahuan dimaksud.  Agar memiliki kontribusi yang besar, penelitian demikian perlu mencari fenomena yang baru atau jarang dibahas.

Contoh 1

Cryptocurrency adalah uang elektronik yang sudah diterima sebagai salah satu alat penyimpan nilai dan pertukaran yang sudah diterima diterima di berbagai negara saat ini. Sebagian kalangan sudah menggunakan alat tukar ini sebagai tujuan investasi dan alat tukar. Namun, belum diketahui respon masyarakat Indonesia tentang cryptocurrency saat ini. Fenomena inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Contoh 2

Arwana adalah ikan asal Kalimantan yang memiliki nilai estetika dan nilai spritual bagi sebagian kalangan. Nilai estetika dan spritual antar ikan arwana tidak sama satu sama lain. Pertanyaannya, tergantung apa saja nilai estetika dan spritual arwana? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Ikan Arwana

Fenomena yang diharapkan berbeda dari kenyataan

Latar belakang sebuah penelitian bisa berupa adanya  kesenjangan antara sesuatu yang diharapkan (das sollen) dengan kenyataan (das sain), yang menimbulkan pertanyaan ‘mengapa demikian’ atau ‘apa sebabnya demikian’.  Titik berangkatnya adalah logika, argumen atau teori yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau prinsip, yang disebut premis mayor. Premis mayor tersebut dibandingkan dengan premis minor, yaitu fakta tentang objek yang diteliti. Perbandingan tersebut menghasilkan harapan. Apabila harapan sama berbeda dari kenyataan, terjadilah kesenjangan penelitian. Contoh:

  1. Premis mayor: Konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai konsumen (ustomer value) yang lebih tinggi.
  2. Premis minor: Nilai produk X lebih tinggi dari dua saingan terdekatnya, yaitu produk H dan Y.
  3. Harapan (das sollen): Penjualan produk X lebih tinggi dari produk H dan Y.
  4. Kenyataan (das sain): Penjualan produk X lebih rendah dari produk H dan Y.

Berdasarkan kesenjangan antara harapan (poin 3) dan kenyataan (poin 4), dalam bentuk sangat ringkas, penulisan latar belakang masalah adalah sebagai berikut:

Menurut Kotler dan Keller (2016), dalam mengambil keputusan, konsumen memilih produk merek yang memberikan nilai tertinggi. Woodruf (1997) serta Sinha dan DeSarbo (1998) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah perbandingan antara kualitas produk dengan harga yang dibayarkan konsumen.

Berdasarkan  review yang dilakukan oleh tabloid MotorPlus, dengan skor akhir 254, produk X unggul dibanding dua pesaing terdekatnya, yaitu produk H (skor 239) dan produk Y (skor 243), namun penjualannya dalam dua tahun terakhir (12.000 unit), kalah dibanding merek H (37.000 unit) dan merek Y (48.000 unit). Fenomena ini berbeda dari teori yang menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai tertinggi. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Kesenjangan Penelitian (Research Gap) sebagai Latar Belakang

Perbedaan Konteks Penelitian

Sudah ada sejumlah penelitian sebelumnya, namun peneliti ingin melakukan penelitian yang sama (model penelitian sama) dengan konteks yang berbeda, seperti di bawah ini.

Dalam penelitian mereka di Amerika Serikat, Muniz dan O’Guin (2001) menemukan bahwa komunitas merek sepeda motor Harley Davidson Owners Group (HOG) dibentuk oleh para pemuja merek (brand adorers), yaitu konsumen yang memiliki loyalitas sangat tinggi pada merek itu. Schembri (2008) memperoleh temuan yang sama dalam studinya terhadap komunitas motor besar HOG chapter Australia. Pertanyaannya, bagaimana dengan di Indonesia, apakah komunitas merek Harley Davidson juga dibentuk oleh anggota-anggotanya juga yang memiliki loyalitas sangat tinggi pada merek itu?

Hasil Penelitian Terdahulu yang Berbeda-beda

Sudah ada sejumlah penelitian sebelumnya namun hasilnya berbeda satu sama lain. Peneliti melakukan penelitian kembali dengan konteks yang sama atau berbeda dengan maksud melakukan perbandingan dengan penelitian-penelitian terdahulu.

Contoh

Dalam studi pada kalangan konsumen individu dan rumah tangga di Malaysia, Lau (2010) menemukan adanyaan efek positif keberagamaan (religiosity) pada konsumsi bertanggung jawab sosial (socially responsible consumption). Namun, pada studinya di Belanda, Graafland (2017) menemukan hasil yang berbeda, di mana keberagamaan tidak berpengaruh pada permintaan pada produk-produk bertanggung jawab sosial. Pertanyaannya, bagaimana dengan di Indonesia? Apakah keberagamaan berpengaruh pada perilaku konsumsi bertanggung jawab sosial? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Kekurangan Penelitian Terdahulu sebagai Kesenjangan

Ranah Penelitian yang Belum Diteliti.

Kesenjangan penelitian dapat berupa ranah penelitian (konstruk) yang belum diteliti. Untuk menemukan kesenjangan penelitian demikian, peneliti perlu menginventarisasi penelitian-penelitian terdahulu selengkap mungkin sampai ditemukan ranah yang belum diteliti.

Contoh

Keyakinan atas nilai simbolik maupun fungsional yang dapat diperoleh melalui kastemisasi  dapat disejajarkan dengan keyakinan (beliefs) dalam Theory-of-Reasoned Action dari Fishbein dan Azjen (1975) dalam Chang (1998).  Menurut Bagozzi dan Dholakia (2002), keyakinan baru mencakup faktor kognitif dari perilaku. Sesungguhnya selain oleh faktor kognitif, perilaku juga dimotivasi oleh aspek afektif. Untuk perilaku di masa depan, aspek afektif tersebut adalah antisipasi emosi (Perugini dan Bagozzi 2001; Baumeister, Vosh, Dewall,  dan Zhang, 2007).  Oleh karena itu, selain harapan keluaran simbolik dan harapan fungsional, antisipasi emosi perlu juga dikaitkan dengan kastemisasi produk di masa depan. Inilah syarat keempat.

Apakah ketiga studi sebelumnya telah memenuhi syarat-syarat yang diuraikan di atas? Syarat pertama dipenuhi oleh Schembri (2008) dan Schau et al. (2009). Kedua penelitian ini dilakukan pada anggota-anggota komunitas merek. Penelitian Katz dan Schau (2005) belum memenuhi syarat ini.

Dari sisi nilai yang dihasilkan, dua penelitian, yakni Katz dan Sugiyama (2005; dan Schembri (2008) memberi perhatian pada keluaran simbolis (Tabel 1.2). Satu penelitian lagi, yakni Schatz et al. (2009) tidak menjelaskan nilai kastemisasi yang diperoleh. Malahan, apabila diperhatikan pada Tabel 1.1, kastemisasi-kastemisasi produk dalam Schau et al. (2009) juga menghasilkan keluaran fungsional, khususnya pada McAlexander et al. (2002) serta kedua contoh kastemisasi yang diteliti Schau et al. (2009) (Tabel 1.1).  Namun, dari kesimpulannya, secara tidak langsung Schau et al. (2009) menyatakan bahwa nilai yang dihasilkan kastemisasi produk adalah nilai simbolis, yakni status sosial.  Inilah kesenjangan pertama.

Tabel 1.2.  Ringkasan Evaluasi atas Studi-studi  tentang Kastemiasi Produk
STUDI DILAKUKAN DALAM KONTEKS KOMUNITAS  

KELUARAN KASTEMISASI

MENGHUBUNGKAN  SECARA EMPIRIS PARTISIPASI INDIVIDU DALAM KOMUNITAS DENGAN KELUARAN YANG DIHARAPKAN MENGHUBUNGKAN SECARA EMPIRIS KELUARAN YANG DIHARAPKAN ANTISIPASI EMOSI DENGAN KEPUTUSAN KASTEMISASI PRODUK
FUNGSIONAL SIMBOLIK
FUNGSIONAL SIMBOLIK FUNGSIONAL SIMBOLIK ANTISIPASI EMOSI
Muniz dan O’Guin (2001) YA TIDAK YA TIDAK YA TIDAK YA TIDAK
Katz dan Sugiyama (2005) TIDAK TIDAK YA TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK
Sechembri (2008) YA TIDAK YA TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK
Schau et al. (2009) YA TIDAK YA TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK
Sorensen (2016) YA YA YA TIDAK YA YA YA TIDAK
Penelitian ini YA YA YA YA YA YA YA YA

Dua kesenjangan lain pada ketiga penelitian terdahulu adalah (Tabel 1.2):

  1. Belum ada penelitian yang menghubungkan secara empiris keluaran kastemisasi (fungsional dan simbolik) yang diharapkan dengan partisipasi individu dalam komunitas merek produk.
  2. Belum ada penelitian yang menghubungkan secara empiris keluaran fungsional dan simbolik yang diharapkan serta antisipasi emosi positif dengan intensi kastemisasi produk.

Dengan kedua kesenjangan tersebut, penelitian-penelitian tentang kastemisasi produk saat ini belum mampu menjelaskan kenapa konsumen sepeda motor menghilangkan merek dan penanda merek sepeda motornya. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Metoda Penelitian Terdahulu yang Tidak Sesuai

Metoda dimaksud dapat berupa desain, teknik pengambilan sampel dan teknik analisis data. Apabila metoda penelitian-penelitian terdahulu memiliki kelemahan, kita dapat menjadikan kelemahan tersebut sebagai latar belakang masalah penelitian.

Contoh 1

Dalam menganalisis perkembangan preferensi pilihan responden terhadap calon pemimpin pemerintahan, para ahli selama ini membandingkan hasil dari dua atau lebih penelitian orang atau lembaga berbeda, yang dilakukan pada waktu yang berbeda. Pendekatan ini dapat diterima apabila sampel yang digunakan penelitian yang berbeda tersebut sama-sama mewakili populasi dan instrumen yang digunakan juga sama.  Namun, pada survai-survai selama ini tidak terdapat jaminan bahwa kedua syarat ini dipenuhi karena lembaga yang melakukannya tidak pernah menjelaskan karakteristik responden dan menunjukkan instrumen penelitian yang dipakai.  Jadi, untuk mengetahui tingkat keterpilihan (preferensi) seorang kepala daerah, diperlukan penelitian dengan desain longitudinal, dengan mana dilakukan pengumpulan data pada dua atau lebih titik waktu untuk responden yang sama. Keperluan itulah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Contoh 2

Kebanyakan penelitian selama ini menggunakan model Theory of Planned Behavior (Azjen, 1980) dalam memprediksi perilaku melalui sikap. Menurut Perugini dan Bagozzi (2001), model ini kurang akurat karena belum memperhitungkan antisipasi emosi konsumen. Diperlukan model yang lebih baik, yaitu model of goal-directed behavior (MGB) dari Perugini dan Bagozzi (2001) untuk memprediksi perilaku konsumen. Keperluan itulah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Teori sebagai Latar Belakang

Keingintahuan (Curiosity) berbasis Teori

Teori dapat dijadikan sebagai latar belakang penelitian. Tujuan penelitian adalah mengonfirmasi maupun memperkaya teori.

Contoh 1

Keller (2013) menyatakan bahwa semakin kuat merek, dalam promosinya, merek tersebut harus memberi penekanan yang lebih kuat pada nilai emosional daripada nilai utilitarian.  Sebaliknya, merek baru atau merek yang belum kuat harus memberi penekanan pada nilai utilitarian daripada nilai emosional.  Pertanyaannya, benarkah iklan produk baru yang memberi penekanan pada nilai fungsional lebih efektif dibanding yang memberi tekanan pada nilai emosional? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Contoh 2

Endorser adalah seseorang atau sekelompok orang yang citranya digunakan untuk mengangkat citra suatu merek (KOtler dan Keller, 2016). Misalnya, artis Agnes Monica dipakai sebagai endorser mobil DFSK Glory 580. Sirgy (2001) menyatakan bahwa keberhasilan endorser ditentukan oleh kesesuaian (congruence) antara citra dirinya dengan citra merek yang di-endorse.  Pertanyaannya, apakah citra Agnes Monica sesuai dengan Citra DFSK Glory 580? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi masalah penelitian ini.

Agnes Monica sebagai Endorser DFSK Glory 580

Kesenjangan Teoritis

Kesenjangan teoritis adalah sebuah teori yang belum pernah diungkap atau diusulkan. Agar mampu menghasilkan teori baru, maka peneliti perlu mempelajari teori utama dan bagian-bagiannya sampai ditemukan teori baru. Penelitian yang dilakukan untuk mengonfirmasi teori baru disebut riset dasar (grounded research) dan umumnya dilakukan mahasiswa doktoral.

Contoh:

Emotion  is  central  component  of  consumer  behavior. This  concept,  that  is  borrowed  from psychology, is now widely and applied studied in marketing. Two major approaches used by marketing researchers are, first, behavior causes emotions and second, emotions cause behavior. In the second approach, marketing researchers study anticipated emotions of the actors and their consequences on the actors’ behavior. The interesting question, how is anticipated emotion of others on the actor’s behavior? This the question that motivates this research that is purposed to formulate and confirm the theory of anticipated emotions of others.

Ada masukan? Silakan kirim.