Dari Latar Belakang, Masalah Pokok Penelitian ke Pertanyaan Penelitian

Bilson Simamora, first published: 19 September 2018.

Seperti telah disampaikan di sini,  latar belakang adalah uraian yang memperjelas masalah penelitian. Maksudnya, latar belakang masalah disusun untuk menyatakan adanya masalah yang perlu diteliti, yang disebut masalah pokok, masalah utama (main problem) atau masalah penelitian (research problem) saja.  Ketiganya istilah ini memiliki arti yang sama, namun ada tradisi di berbagai perguruan tinggi untuk menggunakan istilah tertentu saja. Tetapi, ada juga perguruan tinggi yang membebaskan mahasiswa menggunakan istilah mana saja.  Dalam tulisan ini digunakan istilah ‘masalah pokok penelitian’. Masalah pokok penelitian menjadi dasar untuk menurunkan atau menjabarkan pertanyaan-pertanyaan penelitian (research questions).

Dalam penulisannya, masalah pokok penelitian dibuat setelah latar belakang penelitian dalam sebuah sub-bab khusus.  Kemampuan menulis peneliti perpengaruh dalam perumusan ini. Adakalanya diperlukan riset pendahuluan untuk memperjelas masalah pokok penelitian.

Pertanyaan penelitian merupakan penjabaran masalah pokok penelitian ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik. Teori sangat bermanfaat dalam penjabaran ini. Pola berpikir yang digunakan adalah deduktif, yaitu membuat berbagai pertanyaan penelitian dari satu masalah pokok.

Dari Latar Belakang ke Masalah Penelitian

Adakalanya dalam latarbelakang masalah penelitian tercermin jelas, pada kala lain belum jelas. Di bawah ini disajikan latar belakang masalah dan masalah penelitian yang sudah jelas.

Masalah Penelitian Tercemin Jelas dalam Latar Belakang

Contoh 1

Latar Belakang Masalah

Cryptocurrency adalah uang elektronik yang sudah diterima sebagai salah satu alat penyimpan nilai dan pertukaran yang sudah diterima diterima di berbagai negara saat ini. Sebagian kalangan sudah menggunakan alat tukar ini sebagai tujuan investasi dan alat tukar. Namun, belum diketahui respon masyarakat Indonesia tentang cryptocurrency saat ini. Fenomena inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Masalah Pokok Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah penelitian adalah bagaimana respon masyarakat Indonesia terhadap cryptocurrencry.

Pertanyaan Penelitian

Untuk menjabarkan masalah pokok penelitian di atas, mari kita fokus pada konsep respon. Ada berbagai model yang menggambarkan respon terhadap suatu stimuli, seperti AIDA (attention, interest, desire, action), AIDCA (attention, interest, desire, conviction, action), hierarchy of effect model (awareness,  knowledge, liking, preference, conviction, action) dan adoption model (awareness, interest, evaluation, trial, adoption).

Dalam penelitian ini, model yang paling cocok adalah hierarchy of effect model karena menyangkut pembelajaran untuk objek high involvement seperti crypto currency.  Karena itu, pertanyaan penelitian adalah:

  1. Bagaimana kesadaran (awareness) terhadap crypto cusrrency?
  2. Bagaimana pengetahuan (knowledge) terhadap crypto currency?
  3. Bagaimana kesukaan (liking) terhadap crypto currency?
  4. Bagaimana preferensi (preference) terhadap crypto currency?
  5. Bagaimana keyakinan (conviction) terhadap crypto currency?
  6. Bagaimana aksi  (action) penggunaan crypto currency?
Pertanyaan Penelitian

Ada berbagai versi tentang istilah yang digunakan, bisa masalah penelitian, bisa pula ‘pertanyaan penelitian’.  Pada tulisan ini kita pakai pertanyaan penelitian.

Pertanyaan penelitian merupakan penjabaran masalah pokok penelitian ke dalam pertanyaan-pertanyaan yang lebih spesifik. Teori sangat bermanfaat dalam penjabaran ini. Pola berpikir yang digunakan adalah deduktif, yaitu membuat berbagai pertanyaan penelitian dari satu masalah pokok.

Contoh 2

Latar Belakang

Arwana adalah ikan asal Kalimantan yang memiliki nilai estetika dan nilai spritual bagi sebagian kalangan. Nilai estetika dan spritual antar ikan arwana tidak sama satu sama lain. Pertanyaannya, apa saja yang memengaruhi nilai estetika dan spritual arwana? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas masalah penelitian adalah faktor-faktor apa saja yang memengaruhi nilai (estetika dan spritual) ikan arwana?

Pertanyaan Penelitian

Untuk menjabarkan masalah pokok di atas, tentu kita tidak memiliki teori. Karena itu, untuk menyusun pertanyaan penelitian, kita perlu melakukan riset pendahuluan berupa studi terhadap literatur terkait arwana (media cetak, video, hasil penelitian terdahulu) maupun wawancara terhadap kolektor dan penjual ikan arwana.

Berdasarkan riset pendahuluan tersebut, diperoleh lima faktor  yang memengaruhi harga (nilai) ikan arwana, yaitu: (1) warna, (2) jenis, (3) ukuran, (4) usia,  dan (5) sumber (habitat asli ataukah penangkaran). Dengan demikian, pertanyaan penelitian adalah:

  1. Bagaimana pengaruh warna terhadap nilai (estetika dan spritual) ikan arwana?
  2. Bagaimana pengaruh jenis (spesies) terhadap nilai (estetika dan spritual) ikan arwana?
  3. Bagaimana pengaruh ukuran terhadap nilai (estetika dan spritual) ikan arwana?
  4. Bagaimana pengaruh usia terhadap nilai (estetika dan spritual) ikan arwana?
  5. Bagaimana pengaruh sumber (habitat asli ataukah penangkaran) terhadap nilai (estetika dan spritual) ikan arwana?

Masalah Penelitian Belum Jelas dalam Latar Belakang

Apabila latar belakang masalah penelitian adalah adanya kesenjangan antara harapan (das sollen) dan kenyataan (das sain), maka masalah penelitian belum jelas. Mari kita lihat contoh latar belakang yang diberikan di sini.

  1. Premis mayor: Konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai konsumen (ustomer value) yang lebih tinggi.
  2. Premis minor: Nilai produk X lebih tinggi dari dua saingan terdekatnya, yaitu produk H dan Y.
  3. Harapan (das sollen): Penjualan produk X lebih tinggi dari produk H dan Y.
  4. Kenyataan (das sain): Penjualan produk X lebih rendah dari produk H dan Y.

Menurut Kotler dan Keller (2016), dalam mengambil keputusan, konsumen memilih produk merek yang memberikan nilai tertinggi. Woodruf (1997) serta Sinha dan DeSarbo (1998) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah perbandingan antara kualitas produk dengan harga yang dibayarkan konsumen.

Berdasarkan  review yang dilakukan oleh tabloid MotorPlus, dengan skor akhir 254, produk X unggul dibanding dua pesaing terdekatnya, yaitu produk H (skor 239) dan produk Y (skor 243), namun penjualannya dalam dua tahun terakhir (12.000 unit), kalah dibanding merek H (37.000 unit) dan merek Y (48.000 unit). Fenomena ini berbeda dari teori yang menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai tertinggi. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Masalah Penelitian

Masalah penelitian dimaksudkan untuk menjawab kenapa terjadi kesenjangan antara harapan (das sollen) dan kenyataan (das sain). Tidak mudah untuk mengetahui apa penyebab kesenjangan itu. Langkah pertama yang dilakukan peneliti adalah menginventrasisasi faktor-faktor penyebab yang mungkin. Dalam proses identifikasi ini peneliti dapat melakukan riset pendahuluan (preliminary research).  Dalam risetterapan (applied research), diskusi dengan pengambil keputusan (pihak perusahaan), bahkan dengan ahli (expert) tentang bidang yang diteliti, juga diperlukan.

Hasil riset riset pendahuluan kemungkinan sangat beragam atau bervariasi. Peneliti perlu meng-konseptualisasi hasil riset pendahuluan tersebut menjadi faktor-faktor penyebab kesenjangan yang mungkin. Dalam proses ini kemampuan teoritis dan pengalaman peneliti sangat berpengaruh.

Kembali ke lakarbelakang masalah di atas, kenapa merek X yang memiliki nilai tertinggi justru memperoleh penjualan terendah?

Setelah melalui riset pendahuluan berupa wawancara dengan konsumen dan pengamat industri, ditemukan bahwa rendahnya penjualan disebabkan oleh rendahnya penerimaan merek, sedangkan penerimaan merek yang rendah disebabkan oleh:

  1. Merek Xkurang membanggakan.
  2. Harga jual kembali rendah.
  3. Spare-part mahal,  langka dan lama baru tersedia.
  4. Gaya (style) merek X buruk.
  5. Bengkel resmi merek X sedikit.
  6. Produk merek X sering diskontinu.

Kembali ke pertanyaan, apa masalah pokok penelitian? Dari hasil penelitian pendahuluan disusun kerangka berpikir seperti di bawah ini.m  Kalau gambar tidak muncul klik link ini.

Kerangka PemikiranCara berpikir yang digunakan adalah induktif, yaitu merumuskan masalah pokok dari berbagai masalah yang teridentifikasi (dalam contoh ini ada enam masalah yang terindentifikasi).  Induksi adalah cara mempelajari sesuatu, yang bertolak dari berbagai peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Purwadarminta, 2006).  Dalam induksi, digunakan cara berpikir untuk menarik sebuah kesimpulan  umum dari berbagai kasus yang bersifat individual dan spesifik. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (Suriasumantri,  2005).

Dengan cara berpikir induktif, faktor-faktor penyebab dapat dikelompokkan ke dalam dua variabel besar. Pertama, yaitu nilai emosional, yang mencakup: merek X kurang membanggakan (no. 1) dan gaya (style) merek X buruk) (no. 4). Kedua, persepsi resiko (perceived risik), yang mencakup: harga jual kembali rendah (no. 2), sparepart mahal, langka dan lama baru tersedia (no. 3), bengkel merek X sedikit (no. 5) dan produk merek S ering diskontinu (no. 6).  Dengan demikian, masalah pokok penelitian adalah efek nilai emosional dan persepsi resiko terhadap penerimaan merek X.  Pada beberapa perguruan tinggi, pernyataan masalah pokok penelitian ini diikuti oleh pernyataan tentang tujuan umum penelitian, yang pada contoh ini adalah untuk mengetahui bagaimana efek nilai emosional dan persepsi resiko merek X terhadap penerimaan merek X.  Pada berbagai perguruan tinggi, tujuan umum ini tidak disebutkan.

Pertanyaan Penelitian

Untuk menjabarkan masalah pokok penelitian di atas ke dalam pertanyaan-pernyataan penelitian spesifik, diperlukan bantuan teori atau logika. Pada kasus ini ada dua variabel yang memengaruhi ‘penerimaan merek’, yaitu nilai emosional dan persepsi resiko. Menurut Aaker (1991), nilai emosional mencakup internal (rasa suka terhadap merek atau liking the brand ) dan eksternal (self-expression).  Sedangkan persepsi resiko dalam Schiffman dan Kanuk (2012) mencakup:

  • Resiko fungsional (functional risk), yaitu resiko tidak berfungsinya produk seperti yang diharapkan. Resiko ini dapat diabaikan karena secara teknis merek S lebih baik dibanding H dan Y.
  • Physical risk, yaitu resiko produk mencelakai secara fisik. Resiko ini dapat diabaikan karena tidak ditemukan pada riset pendahuluan.
  • Financial risk, yaitu resiko kehilangan uang karena produk tidak berfungsi seperti diharapkan. Dapat ditambahkan  bahwa resiko ini juga mencakup merosot nilai sisa produk dengan cepat.
  • Social risk, yaitu resiko keputusan pembelian kita dipertanyakan orang lain.
  • Pychological risk, resiko berupa kebimbangan apakah kita membuat keputusan yang tepat.
  • Time risk, resiko waktu hilang untuk melakukan pembelian. Dapat ditambahkan time risk dalam pemakaian juga mencakup hilangnya waktu pemakaian barang akibat menunggu selesainya perbaikan.

Berdasarkan penjabaran tersebut, maka pertanyaan penelitian adalah:

  1. Bagaimana pengaruh manfaat liking the brand terhadap penerimaan merek?
  2. Bagaimana pengaruh  manfaat self-expression terhadap penerimaan merek?
  3. Bagaimana pengaruh financial risk berupa pemerosotan nilai sisa terhadap penerimaan merek?
  4. Bagaimana pengaruh financial risk berupa harga sparepart terhadap penerimaan merek?
  5. Bagaimana pengaruh resiko sosial (social risk) terhadap penerimaan merek?
  6. Bagaimana pengaruh resiko psikologis (psychological risk) terkait product discontinu terhadap penerimaan merek?
  7. Bagaimana pengaruh resiko waktu (time risk) terkait dengan perbaikan kerusakan?