Fenomena sebagai Latar Belakang Penelitian

Fenomena bukanlah masalah penelitian, akan tetapi gejala (symptoms) atau kenyataan yang mengindikasikan adanya masalah yang perlu diteliti.  Jadi, penjualan yang rendah, banyaknya konsumen yang tidak puas, masa pakai produk yang singkat dan lain-lain, adalah fenomena, bukan masalah penelitian. Sama seperti dalam ilmu kedokteran, panas yang naik-turun, timbulnya bintik-bintik merah pada kulit, hemoglobin yang turun drastis, bukanlah penyakit, melainkan gejala penyakit demam berdarah.

Fenomena yang Menimbulkan Keingintahuan

Keingintahuan atau keraguan atas fenomena bisa dijadikan latarbelakang apabila belum ada jawaban atas kenapa fenomena itu terjadi. Keingintahuan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pertanyaan. Dengan kata lain tujuan penelitian adalah menjawab pertanyaan atau keingintahuan dimaksud.  Agar memiliki kontribusi yang besar, penelitian demikian perlu mencari fenomena yang baru atau jarang dibahas.

Contoh 1

Cryptocurrency adalah uang elektronik yang sudah diterima sebagai salah satu alat penyimpan nilai dan pertukaran yang sudah diterima diterima di berbagai negara saat ini. Sebagian kalangan sudah menggunakan alat tukar ini sebagai tujuan investasi dan alat tukar. Namun, belum diketahui respon masyarakat Indonesia tentang cryptocurrency saat ini. Fenomena inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Contoh 2

Arwana adalah ikan asal Kalimantan yang memiliki nilai estetika dan nilai spritual bagi sebagian kalangan. Nilai estetika dan spritual antar ikan arwana tidak sama satu sama lain. Pertanyaannya, tergantung apa saja nilai estetika dan spritual arwana? Pertanyaan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

Ikan Arwana

Fenomena yang diharapkan berbeda dari kenyataan

Latar belakang sebuah penelitian bisa berupa adanya  kesenjangan antara sesuatu yang diharapkan (das sollen) dengan kenyataan (das sain), yang menimbulkan pertanyaan ‘mengapa demikian’ atau ‘apa sebabnya demikian’.  Titik berangkatnya adalah logika, argumen atau teori yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau prinsip, yang disebut premis mayor. Premis mayor tersebut dibandingkan dengan premis minor, yaitu fakta tentang objek yang diteliti. Perbandingan tersebut menghasilkan harapan. Apabila harapan sama berbeda dari kenyataan, terjadilah kesenjangan penelitian. Contoh:

  1. Premis mayor: Konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai konsumen (ustomer value) yang lebih tinggi.
  2. Premis minor: Nilai produk X lebih tinggi dari dua saingan terdekatnya, yaitu produk H dan Y.
  3. Harapan (das sollen): Penjualan produk X lebih tinggi dari produk H dan Y.
  4. Kenyataan (das sain): Penjualan produk X lebih rendah dari produk H dan Y.

Berdasarkan kesenjangan antara harapan (poin 3) dan kenyataan (poin 4), dalam bentuk sangat ringkas, penulisan latar belakang masalah adalah sebagai berikut:

Menurut Kotler dan Keller (2016), dalam mengambil keputusan, konsumen memilih produk merek yang memberikan nilai tertinggi. Woodruf (1997) serta Sinha dan DeSarbo (1998) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah perbandingan antara kualitas produk dengan harga yang dibayarkan konsumen.

Berdasarkan  review yang dilakukan oleh tabloid MotorPlus, dengan skor akhir 254, produk X unggul dibanding dua pesaing terdekatnya, yaitu produk H (skor 239) dan produk Y (skor 243), namun penjualannya dalam dua tahun terakhir (12.000 unit), kalah dibanding merek H (37.000 unit) dan merek Y (48.000 unit). Fenomena ini berbeda dari teori yang menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang memberikan nilai tertinggi. Kesenjangan inilah yang melatarbelakangi penelitian ini.

image_pdfKlik to Download or Printimage_print
Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.