Bisakah Penulis Pemula Tembus Jurnal Internasional Bereputasi? Bisa. Ini Tipsnya.

Pertama-tama saya ceritakan dulu pengalaman menulis artikel internasional. Tahun 2015 saya memulainya dengan harapan memiliki artikel untuk pengusulan kenaikan jenjang jabatan akademik (JJA) dari lektor kepala ke guru besar. Tulisan pertama berjudul, “Bought to be Rebuilt: How Indonesian Bikers Co-Produce Value through Brand Cammouflage.” Jadulnya bagus, tetapi karena tidak berpengalaman, saya terjebak oleh jurnal Scopus predator terkenal sejagat bernama International Journal of Business and Economic Research dari India. Saat artikel saya pakai  untuk mengurus kenaikan  JJA tahun 2016, reviewer menolak dan saya gagal. Sialnya lagi, teori yang saya usulkan “Brand Cammouflage” di artikel itu tak dikutip seorang penulis pun hingga saat ini. Malah jurnalnya sudah ‘koit’. Artikel itu tidak layak pula digunakan untuk pengurusan berikutnya karena syarat-syarat ke GB memiliki aspek pencitraan, selain syarat-syarat dasar yang harus dipenuhi. Masak calon GB menggunakan jurnal predator? Apa kata dunia? Sejak kegagalan itulah saya berusaha menarget jurnal internasional secara benar.

Tahun 2018 saya membuat penelitian berjudul “The Quest for Consumer Decision Maturity”, melibatkan 350 responden, 14 konstruk, dan 40 item pertanyaan. Hasilnya saya kirim ke berbagai jurnal internasional bereputasi dan hasilnya? Ditolak puluhan kali. Apa yang salah? Rata-rata penolakan beralasan, “Your topic is interesting but lack of language quality and article organization.”

Bagian pertama, lack of language quality, memang betul karena bahasa Inggris saya pas-pasan. Organizing article, apa itu? Belakangan saya tahu itu menyangkut format atau susunan unsur-unsur artikel, gaya penulisan daftar pustaka, jumlah kata atau panjangnya artikel, dan kata kunci. Akhirnya saya sadar juga bahwa asumsi bahwa ‘pihak jurnal akan menerima artikel yang penuh kekurangan asal topiknya menarik’ adalah salah. Jurnal-jurnal internasional bereputasi umumnya menyukai artikel yang minim dari kesalahan, apalagi yang siap tayang. Ibarat kata, mereka tidak mau repot mengurusi satu artikel yang kualitas penulisannya parah sebab artikel yang antri banyak.

Setelah belajar dari penolakan dan mencermati tulisan-tulisan orang lain tentang bagaimana menerbitkan artikel pada jurnal internasional bereputasi, akhirnya artikel saya terbit tahun 2020 di jurnal bereputasi sedang International Review of Management and Marketing. Selanjutnya, artikel-artikel yang saya tulis berdasarkan penelitian tahun 2018, pada tahun 2021, terpublikasi empat artikel pada jurnal bereputasi sedang (terindeks DOAJ, Copernicus, Ebsco), dua artikel di jurnal Sinta 2, dan tiga artikel di jurnal bereputasi tinggi (Scopus, Web of Science). Posisi saya adalah penulis tunggal di semua artikel, kecuali pada satu artikel Scopus penulisnya ada dua dengan saya sebagai penulis utama. Artinya, sejak 2020, saya sudah on the track dalam penulisan  artikel internasional. Saya sudah memahami kualitas artikel dan mampu menarget jurnal tertentu sesuai kualitasnya. Uraian berikut ini adalah hasil proses belajar yang saya peroleh selama ini.

Tulisan Berorientasi pada Jurnal

Ada dua orientasi pada publikasi artikel internasional, yaitu pada artikel atau jurnal. Berorientasi pada artikel artinya kita fokus menyiapkan materi dan kurang memperhatikan kebutuhan jurnal. Awalnya saya menggunakan pendekatan ini dan hasilnya adalah ditolak puluhan kali.

Berorientasi pada jurnal artinya kita mencari jurnal terlebih dahulu, lalu menyiapkan artikel sesuai kebutuhan jurnal itu. Kedua pendekatan dapat digunakan, namun menurut pengalaman saya, berorientasi pada jurnal lebih efektif karena dengan demikian, kita mengetahui keinginan mereka untuk kemudian dipenuhi atau dilampaui. Aspek-aspek jurnal yang perlu diketahui adalah kualitas jurnal, topik, judul, kualitas bahasa, format, jumlah kata, susunan artikel, jumlah dan asal penulis, penulisan pustaka, dan orisinalitas. Selain itu, ada hal lainnya, yang tidak dinyatakan langsung oleh jurnal tetapi bermanfaat, yaitu jumlah responden,  teknik analisis data, dan pelaporan revisi artikel.

Kualitas Jurnal

Makin berkualitas sebuah jurnal semakin banyak penulis yang mengirim tulisan ke jurnal itu dan semakin kecil rasio antara artikel yang diterima dan ditolak. Cara paling cepat mengetahui kualitas jurnal adalah mengeceknya di www.beallist.net. Apabila terdapat pada daftar Beall sebagai jurnal predator atau pembajak (hijacker), jurnal atau publisher-nya dipastikan tidak diakui bereputasi tinggi oleh Dikti, sekalipun terindeks oleh Scopus. Kadang-kadang reviewer memberi kelonggaran dengan meminta bukti review artikel (yang benar dan bukan abal-abal) sekalipun jurnal atau publisher terindikasi atau dicurigai sebagai predator. Namun, hal ini tidak berlaku bagi hijacked journals. Untuk jurnal bereputasi sedang, saya sarankan pembaca menarget jurnal internasional terakreditasi Sinta karena aman dari masalah ini.

Apabila jurnal dan publisher-nya tidak ada dalam daftar Beall, cek lagi artikel-artikel yang ada di dalamnya dalam hal: Apakah berkualitas tinggi? Apakah format semua artikel sama dan bebas dari kesalahan fatal? Apakah jumlah artikel sekali terbit masuk akal? Apakah ada di daftar diskontinu dari Scopus? Apakah editor benar atau asal tulis nama?  Apakah topiknya sapu jagat (tidak fokus dan terima topik apa saja)? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk memastikan reputasi jurnal, apakah aman ataukah meragukan.

Hindari jurnal yang mengirimkan undangan lewat spam, menjanjikan keputusan acceptance dalam waktu singkat (misalnya tiga hari). Pengecekan tidak diperlukan kalau publisher sudah diakui, seperti Elsevier, Springer, MDPI, Frontiers, Wiley and Sons, Emerald, perguruan tinggi, dan publisher dalam negeri penerbit jurnal terakreditasi Dikti.

Setelah dipastikan jurnal target adalah non-predator dan bukan pembajak (hijacked journal), selanjutnya cek pengindeks jurnal. Dikti memberikan peringkat jurnal sebagai berikut (mulai dari tertinggi): (1) jurnal internasional bereputasi dan berfaktor dampak (terindeks Scopus dan Web of Science), (2) jurnal bereputasi tinggi (terindeks Scopus, Web of Science, Microsoft Academic Search, Sinta 1, namun  belum memiliki faktor dampak atau sudah memiliki tetapi rendah, misalnya SJR<0.10), (3) jurnal Sinta 2, (4) jurnal terindek oleh pengideks internasional yang diakui (DOAJ, Ebsco, Copernicus, Sinta 3 dan Sinta 4), (5) jurnal internasional (terindeks Google Scholar, Sinta 5, Sinta 6), dan (6) jurnal nasional (belum terakreditasi). Nah, kita sebagai penulis dapat menarget kategori jurnal berdasarkan kualitas artikel kita. Yang perlu diingat, semakin berkualitas sebuah jurnal, pesaingan semakin sulit.

Topik

Setiap jurnal memiliki topik yang diinginkan. Kita dapat membacanya pada deskripsi jurnalnya. Selain memeriksa deskripsi itu, ada baiknya kita memeriksa judul-judul artikel yang terdapat pada arsip untuk mengetahui topik-topik popular pada jurnal itu. Kita harus yakin bahwa topik yang kita pilih baru, menarik, relevan, dan up-to-date, dan yang lebih penting, akan dirujuk oleh banyak penulis. Perlu pula diketahui artikel yang diterima, seperti artikel riset, artikel review, dan artikel singkat yang disebut opinion letter atau brief communication (2000 sampai 3000 kata).

Judul

Judul adalah pintu pertama yang menandai menarik-tidaknya artikel kita. Seperti dikatakan oleh leader-driven primacy theory (Carlson et al., 2006), aspek-aspek lain artikel akan terangkat atau lebih mengesankan kalau judul menarik. Judul yang baik itu begini. Pertama, tidak generik seperti ini: “The influence of consumer satisfaction on consumer loyalty”, tetapi unik seperti ini: “In the name of love: How Significant Others’ Anticipated Emotions Influence Behavioral Intention.” Kedua, berbeda (difference) dari yang lain, sekalipun topiknya sama. Ketiga, tidak terlalu panjang atau maksimal 10 kata, tidak termasuk kata penghubung (as, toward, on, from, in) dan modals (the atau a) tidak. Keempat, mencerminkan keseluruhan isi artikel.

Kualitas Bahasa

Kualitas bahasa merupakan aspek krusial. Bagi jurnal kelas atas aspek ini merupakan “the must”. Mereka tidak mau repot dengan artikel berbahasa Inggris buruk atau pas-pasan. Mau mereka, dari segi bahasa, artikel sudah jadi. Namun, ada juga sedikit jurnal yang mau membantu perbaikan bahasa dengan atau tanpa bayaran. Namun, sekalipun dibantu, syarat dasar harus dipenuhi, yaitu tulisan enak dibaca, kalau tidak, jangan harap diberi kesempatan revisi. Jangan sampai tulisan ‘hard to understand‘ dan  membuat reviewer frustasi, lalu mengusulkan “reject submission” pada editor, padahal materinya bagus. Ini yang sering saya alami selama proses belajar.

Apabila kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, penulis bisa menggunakan penerjemah dan proofreader atas hubungan personal maupun professional. Namun, pilihan lain masih ada, yaitu menggunakan Google Translate, Grammarly, dan Proofreader online yang tersedia gratis maupun berbayar. Cara menggunakannya dapat dilihat pada video Youtube ini (silakan di-klik) dengan bahan latihan pada artikel ini (monggo di-klik). Cara ini yang saya gunakan. Hasilnya adalah artikel sembilan saya terpublikasi pada periode Januari sampai Juli 2021, seperti disampaikan di atas.

Apabila menggunakan Grammarly (versi gratis ataupun premium), usahakan agar tulisan anda memperoleh skor minimal 99. Sedangkan dengan proofreader online (misalnya paperrater.com), usahakan dapat skor minimal 90 (kategori A). Saran saya menurut pengalaman, raih skor 94 atau lebih tinggi agar peluang diterima semakin besar.

Format, Susunan, dan Jumlah Kata

Kebanyakan jurnal sudah membuat ketentuan tentang tentang format, susunan, dan jumlah kata. Yang dimaksud dengan format adalah lay-out atau penampilan artikel. Apabila sudah disediakan, sesuaikanlah artikel dengan template jurnal.

Setiap jurnal memiliki unsur-unsur artikel dengan metoda penomoran sendiri. Ada yang lengkap seperti ini: Title, Abstract, Introduction, Literature Review, Methods, Result, Discussion, Limitation and Direction for Further Research, Implications, Conclusion, Acknowledgment, Reference, dan Appendix (opsional). Ada pula yang tidak selengkap itu, misalnya: Title, Abstract, Introduction, Method, Result and Discussion, Acknowledgement (opsional), References, Appendix (opsional). Poinnya adalah ikuti susunan unsur-unsur jurnal, jangan dilebihi dan dikurangi.

Banyak jurnal yang membuat ketentuan tentang jumlah kata maksimal, misalnya 5000, 6000, 7000, 10.000, sampai 12.000 kata. Ada baiknya ketentuan ini diikuti. Kalaupun kurang atau lebih, jangan terlalu besar penyimpangannya.

Jumlah dan Asal Penulis

Artikel dengan multi-author lebih berpeluang dibanding single-author. Tidak diketahui faktor-faktor penyebabnya, tetapi dugaannya adalah, pertama, artikel multi-author lebih berkualitas dibanding karena pemampuan menulis dua atau lebih penulis lebih tinggi dibanding satu penulis. Kedua, tulisan dengan dua atau lebih penulis lebih rapi dibanding satu penulis karena pengecekan dilakukan lebih banyak orang. Ketiga, artikel  dengan dua atau lebih penulis lebih dipercaya dibanding satu penulis karena berbohong secara grup lebih sulit dibanding berbohong sendirian.

Tulisan multi-author semakin disukai apabila: (1) kontribusi masing-masing penulis jelas dan dirinci dalam cover letter atau submission system, (2) para penulis berasal dari perguruan tinggi yang berbeda, dan tiga (3) para penulis berasal dari negara berbeda. Tulisan multi-author tidak disukai kalau terindikasi adanya satu atau beberapa nama yang hanya menumpang (do nothing or no contributions).

Penulisan Referensi

Penulisan referensi merupakan faktor penting bagi sebuah jurnal yang benar (bukan abal-abal atau predator) dan berpengaruh bagi diterima atau ditolaknya sebuah artikel. Ikuti ketentuan jurnal tentang penulisan referensi, misalnya APA, Chicago, MLA, IEE, Anglia, Vancouver, dan lain-lain. Peluang diterimanya artikel semakin rendah apabila, pertama, terjadi miss antara body reference dan reference list. Misalnya, Simamora (2021) ada di badan tulisan tetapi tidak ditemukan dalam daftar pustaka. Sebaliknya, ada di daftar pustaka tetapi tidak ada di badan tulisan, juga harus dihindari. Kedua, terdapat kesalahan-kesalahan dalam penulisan daftar pustaka.  Ketiga, referensi yang dipakai kebanyakan sudah uzur. Usahakanlah agar mayoritas referensi berumur lima tahun atau kurang. Apabila referensi demikian mencapai 80%, misalnya, peluang diterima lebih besar. Keempat, referensi yang digunakan kebanyakan berupa buku, bukan jurnal. Usahakan mengutamakan referensi jurnal dari pada buku. Kalaupun ada buku, usahakan buku terbaru dan porsinya tidak lebih dari 10%.

Penulisan referensi disaran dengan sangat agar menggunakan Mendeley, Zotero, End Note, atau aplikasi lainnya. Penggunaan aplikasi dapat menghindari penulis dari kesalahan penulisan dan miss yang dijelaskan di atas. Lagi pula, apabila editor mendeteksi penggunaan aplikasi dalam penulisan referensi, peluang artikel diterima selangkah lebih maju. Baiknya lagi, kalau ditolak oleh jurnal sasaran, penggunaan aplikasi memudahkan kita untuk merevisi gaya penulisan refensi apabila kita mengirim ke jurnal yang lain yang menggunakan gaya penulisan berbeda, dengan hanya men-setting ulang pilihan gaya penulisan pada aplikasi.

Orisinalitas

Jurnal non-predator umumnya memeriksa plagirisme sebelum memutuskan penerimaan artikel. Sofware yang biasanya digunakan untuk maksud ini adalah Turnitin, iThenticate, Grammarly, dan Plagiarism Checker. Pastikan artikel anda bebas plagiarism atau memenuhi ketentuan jurnal tentang similarity (misalnya maksimal, 10%, 12%, 15%, 20%). Semakin rendah similarity, peluang artikel diterima semakin besar. Ada baiknya, waktu mengirim artikel, penulis menyertakan bukti tes similarity. Ini yang saya lakukan sejak tahun 2020. Saya menyarankan agar anda menggunakan Turnitin karena software ini, walaupun paling ‘saklek’, paling dipercaya dan paling banyak digunakan. Lagi pula software ini dapat dibeli di toko online (Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shoope, dan lain-lain). Disebut paling ‘saklek‘ karena dalam Turnitin empat kata berurutan, kalau sama, sudah dianggap similarity. Misalnya, kita tulis ‘product is anything that can be used for life‘, tulisan lain berbunyi ‘product is anything that can be offered to the market, maka kata-kata ‘product is anything can be’ yang sama di kedua kalimat sudah masuk kategori ‘similarity.

Apabila setelah diperiksa selama proses menulis bahwa similarity terlalu tinggi, anda masih punya kesempatan untuk merubah kalimat-kalimat yang similar menurunkannya. Bantuan proofreader profesional gunakan saja kalau mungkin. Saya sendiri menggunakan fasilitas gratis dari paraphrase-online selama ini. Aplikasi online dapat mengubah kalimat secara drastis. Namun, penulis memerlukan kehati-hatian dalam menanggapi hasil aplikasi ini karena kata-kata atau kalimat pengganti yang diusulkan sering kali tidak sesuai dengan maksud kita sebenarnya.

Jumlah Responden

Untuk artikel yang disusun berdasarkan hasil survai, semakin banyak jumlah responden, semakin bagus artikel dan peluang diterima semakin tinggi. Walaupun tidak dinyatakan terang-terangan oleh jurnal, namun jumlah responden yang banyak (misalnya 300 orang atau lebih) dapat menjadi selling poin sebuah artikel.

Teknik Analisis

Teknik analisis sebenarnya tergantung pada tujuan dan desain penelitian. Khusus untuk penelitian kuantitatif yang berusaha membuktikan hubungan struktural antar variabel, penggunaan structural equation modelling (SEM) lebih disukai dibanding regresi  linier sederhana atau berganda. Kemudian, untuk uji validitas, penggunaan SEM adalah standar. Belum pernah saya temukan artikel internasional yang menggunakan koefisien korelasi product moment, seperti dianjurkan banyak penulis buku dan digunakan oleh mahasiswa di Indonesia. Saya membahas topik ini secara khusus  di sini. Silakan disimak kalau perlu.

Pelaporan Revisi Artikel

Apabila artikel sudah lolos deks review, tahap selanjutnya adalah peer review atau blind review.  Setelah di-review, hasilnya ada empat kemungkinan, yaitu accept submission, minor revision, major revision, dan reject submission. Apabila editor memutuskan minor atau major review, penulis perlu merespon semua pertanyaan dan saran reviewer, selain melakukan self-correction lanjutan yang dianggap perlu. Penulis perlu membuktikan telah merevisi artikel sebagai respon atas pernyataan atau saran reviewer dengan cara, pertama, membuat tabel perubahan (table of amendments) dengan atau tanpa permintaan editor. Dengan jalan ini reviewer dapat mengetahui bahwa penulis telah merespon hasil review dengan serius. Kalau hanya mengirimkan artikel terevisi (revised article), reviewer tidak selalu ingat saran dan pertanyaan yang pernah diberikan, sehingga tidak tahu pada bagian mana dan apa perbaikan yang telah dibuat penulis. Kedua, penulis melampirkan indikasi perubahan artikel yang diperoleh dari fasilitas comparing files (original versus revised) yang terdapat pada Word. Tujuannya adalah menunjukkan perubahan yang telah dibuat. Ketiga, dalam tabel perubahan, gunakanlah bahasa yang sopan apabila penulis tidak setuju pada saran atau pertanyaan reviewer dan tidak melakukan revisi.

Penutup

Kemampuan menulis artikel internasional merupakan hasil proses pembelajaran. Penolakan berkali-kali oleh jurnal merupakan bagian dari proses belajar. Setelah mampu pun proses belajar tidak pernah berhenti. Tidak ada jaminan bahwa artikel kita pasti diterima. Yang dapat kita lakukan adalah memperbesar peluang diterimanya artikel.

Referensi

Carlson, K. A., Meloy, M. G., & Russo, J. E. (2006). Leader‐driven primacy: Using attribute order to affect consumer choice. Journal of Consumer Research, 32(4), 513–518. https://doi.org/10.1086/500481

Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.