Pencitraan: Baik atau Buruk?

Dalam komunikasi sehari-hari kata ‘pencitraan’ memiliki konotasi negatif. Umumnya kata ini dialamatkan pada tokoh publik yang mempublikasikan sesuatu terkait dirinya yang tujuannya semata-mata adalah memperkuat citra dirinya dan tanpa makna positif bagi publik. Benarkah demikian?

Sebagai mahluk sosial, sebenarnya setiap pribadi adalah budak citra diri (self-image slave). Hari demi hari kita berjuang untuk membentuk, menjaga, memperbaiki, atau memperkuat citra diri yang kita inginkan. Bahkan, ada orang bersedia mati demi harga diri, salah satu komponen dalam citra diri. Hanya kalau hidup sendiri seperti Tarzan manusia tidak memerlukan citra diri.

Dalam kehidupan sosial apapun kegiatan yang dilakukan, yang tidak lepas dari pengawasan orang lain, kita lakukan dalam koridor citra diri. Awalnya setiap orang, sadar atau tidak, merumuskan siapa dirinya. Rumusan ini disebut konsep diri (self-concept). Kemudian, menurut symbolic interactionism theory, dalam interaksi sosial, konsep diri ini dikomunikasikan ke publik melalui simbol-simbol atau sesuatu yang bermakna simbolik. Itulah yang disebut pencitraan. Kemudian, individu membaca respon terhadap simbol-simbol yang diluncurkan lalu menyimpulkan siapa dirinya. Kesimpulan inilah yang disebut citra diri (self-image).

Citra diri bisa sama atau berbeda dari konsep diri. Ini contoh yang berbeda. Seorang mahasiswa yang sering memperoleh nilai D dipandang oleh teman-temannya sebagai mahasiswa bodoh (self-mage). Tetapi, mahasiswa yang bersangkutan menganggap dirinya mampu (self-concept), namun karena harus bekerja untuk membiaya kuliah, dirinya kurang waktu belajar. Untuk membuktikan konsep diri itu, dia berusaha memperoleh nilai A yang secara simbolis menyatakan dia mahasiswa mampu.

Dimensi citra ada tiga. Pertama, konten atau sumber, menyangkut apa yang digunakan seseorang sebagai sumber citra diri? Jawabannya bisa daya tarik fisik, prestasi, afiliasi dengan orang-orang hebat, keturunan, kekuasan atau kedudukan, kekayaan, pendidikan, kecerdasan, penghargaan, kebaikan atau kombinasi beberapa sumber sekaligus. Dimensi yang kedua adalah intensitas, stabilitas, dan akurasi. Intensitas menyangkut porsi konten atau sumber-sumber yang digunakan. Stabilitas bekaitan dengan konten memiliki porsi yang tetap dari waktu ke waktu. Akurasi menyatakan apakah konten yang digunakan sesuai dengan kenyataan. Misalnya, kalau konten yang digunakan adalah prestasi, benarkah yang bersangkutan berprestasi menurut publik? Positivity atau negativity berkaitan dengan apakah individu melihat konten secara positif. Bila ya, itu yang dinamakan penghargaan diri (self-esteem). Kalau tidak, itu yang dinamakan negative self-views. Orang yang menganggap dirinya tidak berguna atau selalu gagal termasuk memiliki pandangan ini. Banyak yang akhirnya bunuh diri.

Seseorang bisa memiliki lebih dari citra diri, di mana setiap citra diri diaktifkan pada lingkungan sosial yang berbeda.

Media sosial merupakan ajang pembentukan citra diri. Umumnya citra diri yang ditampilkan di media sosial berbeda dibanding di dunia nyata. Di media sosial umumnya orang-orang lebih cantik atau ganteng karena umumnya menampilkan foto-foto terbaik. Bahkan, untuk memperoleh foto yang menarik banyak yang melakukan pengeditan terlebih dahulu. Ciri lainnya adalah: lebih muda, lebih kaya, dan lebih gaul.

Jadi, apakah pencitraan buruk? Tidak juga kalau seseorang menggunakan konten yang tepat, tidak berubah dari waktu ke waktu (stabil), akurat, dan memandang diri secara positif. Pencitraan menjadi negatif kalau kontennya tidak sesuai, tidak akurat, berubah-ubah, atau mengandung negative self-views.

Referensi

Solomon, M.R. (2019). Consumer Behavior: Buying, Having, and Being. 13-th Edition. Pearson Education.

 

Posted in Consumer Behavior.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.