Balik Modal: Sukses atau Gagal?

Dengan Self-Regulatory Theory, Higgins (1997) menjawab pertanyaan itu dengan baik. Ia memulai penjelasan dengan hedonic theory yang mengatakan bahwa manusia cenderung mencari kesenangan (pleasure) dan menjauhi kesusahan (pain). Dalam membuat keputusan tentang tugas atau pekerjaan di masa depan, potensi pleasure dan pain menjadi pemicu motivasi seseorang dengan harapan bila sukses ia akan mengalami pleasure dan bila gagal yang akan mendapat pain.  Dengan keterbatasan yang dimilikinya, seseorang akan menerapkan orientasi strategik (makna konsep strategic dapat dibaca di sini) untuk memperoleh pleasure atau menghindari pain.

Orientasi strategic dimulai dari penetapan tujuan. Ada dua pendekatan dalam proses ini. Pertama adalah pendekatan strategic (strategic approach) yang ditandai oleh penetapan tujuan berupa keadaan ideal (ideal state) yang lebih yang lebih tinggi dari keadaan saat ini (current state). Contohnya, seperti dijelaskan dalam artikel ini, seorang mahasiswa yang ranking-nya menengah (mediocre) bermaksud masuk ranking lima besar agar mendapat beasiswa. Apabila tercapai (memperoleh kenaikan atau ‘gain’, dia akan merasa senang. Namun, bila tetap pada ranking saat ini atau tidak mengalami kenaikan ranking (no gain), dia akan merasa kecewa. Dengan kata lain, dalam strategic approach, sukses hanya kalau terjadi gain dan no gain adalah gagal.

Ilustrasi Strategic Approach

Pendekatan kedua adalah strategic avoidance. Dalam gambaran persaingan antara mahasiswa tadi, mereka yang ada dalam ranking lima tertinggi akan berusaha mempertahankan posisi saat ini (current state) dan jangan sampai keluar dari lima besar dan kehilangan mahasiswa. Bila itu terjadi mereka akan kecewa. Dengan demikian, seseorang yang berada dalam posisi ini akan berusaha mencegah penurunan peringkat (avoidance motivation). Bagi mereka, sukses adalah dapat mempertahankan keadaan (posisi) saat ini (no loss) dan gagal adalah bila terjadi penurunan (loss), seperti diilustrasikan berikut ini.

Penetapan tujuan mencari pleasure melalui strategic approach untuk mencapainya dinamakan promotion focus. Pada sisi lain, tujuan menghindari pain melalui strategic avoidance disebut prevention focus. Kedua fokus ini menggunakan strategi berbeda untuk mencapai tujuan. Promotion focus akan menggunakan cara terbaik untuk mencapai keadaan ideal yang diinginkan, sedangkan prevention focus akan menghindari kesalahan tidak perlu agar keadaan saat ini (current state) tidak menurun (no loss). Selain itu, umumnya promotion focus memiliki motivasi lebih tinggi dibanding prevention focus.

Apakah seseorang bisa promotion focus dan prevention focus sekaligus? Ada dua pandangan tentang jawaban pertanyaan ini. Satu pandangan mengatakan bahwa dengan keterbatasan sumberdaya yang dimilikinya, individu akan memilih salah satu fokus saja. Pandangan kedua menyatakan individu bisa  fokus pada promotion dan prevention sekaligus, walaupun mungkin fokus pada salah satu lebih dominan dibanding pada yang lain.

Para ahli umumnya sepakat bahwa kecenderungan promotion focus atau prevention focus bisa terjadi secara kronis, terutama apabila sudah mendarah daging atau menjadi bagian dari kepribadian. Namun, kecenderungan tersebut bisa juga situasional, seperti ilustrasi perjuangan mahasiswa terkait ranking di atas.

Apa jawaban atas judul tulisan ini? Berdasarkan uraian di atas, balik modal adalah gagal bagi promotion focus dan sukses bagi prevention focus.

Referensi

Higgins, E. T. (1997). Beyond pleasure and pain. American Psychologist, 52(12), 1280–1300. https://doi.org/10.1037/0003-066X.52.12.1280

 

Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.